Just a Memory…

Dikirim Ruang Pengakuan pada 21 Juli, 2008 oleh esensi

Kau masih ingat aku, si pendosa ini?
Ah, seperti dulu
Kau hanya diam tersipu
Tentu Kau ingat pula bagaimana awal perjumpaan kita…
Lalu…

Saya, Jum’at & Dialog Imajiner

Dikirim Refleksi pada 18 Juli, 2008 oleh esensi

SEPERTI biasa, hari Jum’at tadi, saya sholat Jum’at di Gedung Serbaguna bernama Pusat Dakwah Islam (Pusda’i) Bandung, jaraknya sekitar 500 meter dari tempat saya bekerja. Seperti biasa pula, saya dapati pemandangan tipikal pra-sholat Jum’at di hampir semua tempat pelataran mesjid, yakni selain berjubelnya jamaah yang hendak sholat, berjubel pula pengemis yang “mengadu nasib” berharap akan uluran tangan dari jamaah yang datang. Sebuah pemandangan paradoks saya pikir. Entah di kota besar atau di kota kelahiran saya Cianjur, tiada Jum’atan tanpa hadirnya para pengemis. Yah, barangkali memang harus begitu skenario Tuhan, untuk sekedar menguji sampai mana kapasitas altruisme orang-orang yang dilebihkan hartanya.

Kebetulan, saya mengantongi dua keping 500. Saya berniat memberikannya kepada yang benar-benar pantas menerimanya. Saya tidak ingin uang ini jatuh kepada orang yang sebetulnya masih memiliki kekuatan fisik dan masih mampu mencari rezeki sebagai mana orang pada umumnya, namun berpura-pura mengemis. Saya perhatikan baik-baik, dan geleng-geleng kepala. Nenek-nenek yang sudah ringkih, ibu-ibu lemah yang menggendong bayi, kakek-kakek yang sudah tak lengkap lagi kedua tangannya, ada juga yang tidak lagi memiliki kedua kaki. Semuanya pantas untuk diberi. Ditambah lagi tempat mereka menanti “uluran tangan” amatlah berdekatan. Bingung saya. Kalau saya memberikan kepada yang satu, tentu yang lainnya akan melihat dengan mata nanar, mengiba, atau mungkin bergumam dalam hati, “dia dikasih kok saya enggak?”. Serba salah. Ya sudah, yang penting saya niatnya cuma ingin memberi. Target dua orang. Masing-masing 500. Lha wong cuma itu uang yang kebetulan saya bawa. Gimana lagi ceritanya, Riss?

Seputar Kesalahan dalam Berdo’a ~ Refleksi Kenapa Do’a Jarang Terkabul

Dikirim Perspektif pada 8 Juli, 2008 oleh esensi

.

Note: Poin-poin dibawah ini amatlah subjektif-plus hasil pengamatan dan pengalaman pribadi. Jika bermanfaat, silakan ambil. Jika dirasa ada yang rancu, silakan direkonstruksi. Jika ada yang salah atau cacat logika, silakan disanggah.

Dan postingan ini amat terbuka untuk kritik.

Salam :mrgreen:

::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::

1. Biasanya diawali dengan keluhan, “Ya Tuhan, apa salah dan dosaku hingga Engkau timpakan aku cobaan seperti ini?”. Duile, ini kayak sinetron aja :mrgreen: Contohnya ketika kita ditimpa sakit, semisal sakit migrein atau sakit gigi, biasanya kalimat seperti itu yang sering keluar. Padahal memang dosa-dosa kita menumpuk nggak karu-karuan kan :lol: Apa lagi nih? Lanjut saja klik disini, kalau masih berminat…

Apa & Bagaimana Respon Anda Jika Tuhan…

Dikirim Sekedar Tanya pada 2 Juli, 2008 oleh esensi

BEBERAPA hari terakhir saya blogwalking, saya mencermati makin banyak saja postingan yang (menurut saya, semakin berat dicerna dan dipikirkan) seputar Tuhan. Entah itu mengenai sifat-sifat-Nya, kehendak-Nya, hingga yang paling krusial; mempertanyakan eksistensi-Nya. Namun dikarenakan saya bukan seorang yang memiliki kualifikasi sebagai polemikus ulung, maka di postingan kali ini saya hanya menyodorkan beberapa pertanyaan saja seputar Tuhan dipandang dari kehendak-Nya. Saya serius ingin mengetahui jawaban-jawaban dari Anda dengan sebenar-benarnya, meski postingan ini saya masukkan ke dalam kategori “Sekedar Tanya”. Postingan ini tidak tertutup bagi para atheis dan agnostik, tapi lebih khusus bagi para theis yang kritis, lebih khusus lagi umat muslim.

***

Taruhlah Anda adalah seorang yang percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ibadah tidak pernah Anda tinggalkan. Anda pun mengamalkan berbagai amalan shalih. Anda senantiasa menjaga diri dari berbagai dosa. Dan selebihnya, Anda menjalani hidup normal sebagaimana biasanya. Hingga suatu hari, ketika Anda pulang (dari kuliah atau kerja, misalnya), Anda mendapati bahwa Ayah Anda tewas dibunuh oleh para perampok dengan dimutilasi. Ibu Anda juga menjadi sasaran dengan cara dibakar hidup-hidup. Adik Anda yang perempuan dan masih belia diperkosa ramai-ramai dan dibunuh pula. Adik Anda (atau putera Anda) yang laki-laki yang baru duduk di kelas 2 SD disodomi dan dihabisi dengan golok.

Pertanyaannya…; Gila nih postingan! Nggak kira-kira! Apa pertanyaannya, Ris?!

Kenyang; Refleksi Hukum Gossen & Pola Makan Rasulullah

Dikirim Refleksi pada 26 Juni, 2008 oleh esensi

SAYA dibikin kaget setengah mati ketika suatu hari menemukan postingan yang menuliskan bahwa bid’ah pertama yang muncul pasca Rasulullah.saw wafat adalah, kenyang. Saya bengong, dan berpikir, benar juga, bahwa tingkah-polah yang semestinya patut diberi label bid’ah adalah yang berkaitan dengan nilai-nilai hidup (sosial). Selama ini saya menganggap bid’ah itu sebatas mengada-adakan sesuatu yang baru dalam konteks formalisme ibadah, eh, ndilalah tidak selamanya seperti itu. Masih penasaran, saya cari sumber-sumber yang lain, dan benar, statement tersebut diriwayatkan oleh Aisyah.ra.

Lalu apa yang membikin saya kaget? Ya… saya kaget tak lain sebab itulah tingkah-polah saya sehari-hari, nggak pernah puas kalau belum kenyang. Ya kenyang dalam soal makan, ya kenyang dalam soal kerakusan. Malu saya jadinya.

Mulailah otak saya bekerja, muter-muter nyari jawaban, pasti ini ada relevansinya dengan keseharian hidup Rasulullah.saw. Dan, eureka! Saya ingat betapa setiap menyantap makanan, Rasulullah berhenti ketika kenikmatan saat menyantap dirasakannya. Begitu pula ketika meneguk air, beliau berhenti manakala kesegaran yang begitu menggoda memenuhi kerongkongannya. Tidak seperti saya yang tancep makan terus sampai habis-bis-bis nggak tersisa, dan tidak berhenti kalau belum bersendawa. Edan! Silakan klik disini untuk meneruskan membaca…

Sebuah Gugatan Ahmadiyah, Berusaha Merubah Sudut Pandang

Dikirim Rekomendasi Buku pada 12 Juni, 2008 oleh esensi

cover bshp

Judul :
Bukan Sekedar Hitam Putih - Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah
Penulis : M.A Suryawan
Penerbit : Azzahra Publishing
Cetakan : I, Januari 2006 (Revisi)
Tebal : xxx + 236 hlm; 20,5×14,5 cm

PREFACE
Berawal ketika saya masih duduk di bangku SMA, kira-kira pertengahan 2005, masalah Ahmadiyah saat itu sedang santer-santernya diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik. Surut beberapa waktu, lalu mencuat kembali akhir 2007, hingga sekarang. Awalnya, sebagai seorang yang merasa keyakinan (iman-islam)-nya paling benar, saya pun sempat ikut dalam golongan mayoritas (yang dalam istilah MUI; “Islam pada umumnya”), yakni ikut (ikutan) menganggap dan men-cap bahwa golongan minoritas Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Namun pada akhirnya saya menyadari, bahwa budaya ikut-ikutan memvonis suatu perkara tanpa mengetahui benar duduk perkaranya itu sendiri, bukanlah esensi dari ajaran Al-Qur’an. Beberapa gagasan Islam Liberal yang saya anut, diantaranya adalah berpikir kritis dalam memandang suatu masalah dan bersikap inklusif, membuat saya mencoba untuk mencari literatur yang sanggup memberi jawaban yang objektif, komprehensif, memuaskan sekaligus mencerahkan atas perkara pemahaman Ahmadiyah.

Merujuk pada artikel-artikel di media cetak dan elektronik, jujur enggan saya lakukan, tak lain karena semuanya lebih berisi tudingan miring dan kata-kata kebencian. Maka media internet-lah yang menjadi rujukan. Namun saya kecele, ternyata di sini lebih parah lagi. Ketika saya mencoba mengetikkan keyword “Ahmadiyah”, “Ajaran Ahmadiyah”, “Mirza Ghulam Ahmad” dan berbagai kata yang berhubungan dengannya, Google dan Yahoo menyajikan kepada saya daftar situs-situs dan blog yang reviewnya sanggup membikin seluruh darah naik ke kepala. Nada-nada kasar, fitnah, umpatan, dan sarkasme tersebar di berbagai postingan. Dari situs-situs sekelas Hidayatullah.com, Swaramuslim, Eramuslim, sampai ke situs-situs dan blog yang tak jelas spesialisasi tulisannya. Sampai-sampai saya bertanya, tak adakah satu saja yang netral? Apakah tidak ada orang-per-orang yang miris hatinya melihat mesjid dibakar, rumah-rumah penduduk Ahmadiyah dirusak, dan berbagai aksi intervensi lainnya terhadap kebebasan dan berkeyakinan? Mungkin pada saat itu saya belum menemukannya saja, yang jelas, suatu hari di sebuah milis, saya mendapatkan link ke sebuah web, yang berisi kumpulan artikel Islam, dan dua e-book gratis yang saya cari-cari, dan isinya lebih dari apa yang saya inginkan. Satu diantaranya adalah berjudul Bukan Sekedar Hitam Putih - Sebuah Gugatan Ahmadiyah (Cetakan 2005 sebelum revisi), yang ditulis oleh seorang anggota Jema’at Ahmadiyah. …Selengkapnya…

Easy Come, Easy Go

Dikirim Refleksi pada 20 Mei, 2008 oleh esensi

“Benar kan apa kataku!”
“Apanya?”
“Kalau semuanya bakalan berlalu begitu saja, seperti yang kukatakan kemarin”
“Mengenai?”
“Bahwa semua berita-berita dan kontroversi yang kemarin terjadi itu, pada akhirnya akan tenggelam juga”
“O, yang itu…”
“Ya. Kau lihat saja, dari Ayat-Ayat Cinta, Fitna, UU-ITE, Roy Suryo, SMS Merah, bah! semuanya hanya menjadi objek pembicaraan temporer yang hilang seketika. Dan sekarang kita dibuat ikut berbising ria tentang wacana Kebangkitan Nasional, padahal baru kemarin fenomena Ahmadiyah mencuat, lalu mereda kembali. Eh, ndilalah sekarang kita punya bahan debat lagi bersamaan dengan munculnya kebijakan BBM.”
“Lantas, siapa sebenarnya yang kau kritik?”
“…?”
“Sudahlah, toh itu hak-hak mereka yang mau meramaikan suasana berkenaan kondisi temporer yang terjadi di sekeliling. Orang mau heboh soal UU-ITE kek, mau saling adu argumen hingga saling bunuh perihal Ahmadiyah kek, pro-kontra ini-itu lah, atau ikut berkoar soal BBM lah, toh itu hak-hak mereka sendiri untuk bersuara. Lagipula, bukankah kau sendiri ikut-ikutan berbising ria melihat kondisi real di sekeliling kita yang seperti kau katakan itu? Bercerminlah dulu sebelum beranggapan tentang orang lain, kawan”
“Iya, tapi apa guna membicarakan hal-hal yang toh pada akhirnya hanya berujung pada idiom ‘easy come easy go’, heh?”
“Lho? Bukankah yang kau keluhkan juga pada akhirnya bakal tenggelam dan hilang dengan sendirinya?”
“…”
“Memang betul apa yang kau katakan, tapi biarlah itu terjadi seperti apa adanya, laah… Yang penting, kita lihat saja apa yang akan menjadi bahan berbising ria seperti yang kau sebut setelah masalah BBM ini”
“Ah, pledoiku malah jadi ambruk begini…”
“Hei, kau tidak salah menyuarakan opini seperti itu, sebab…”
“Sebab…? Sebab apa?”
“Sebab… toh uringanmu itu pada akhirnya bakal ‘easy go’ juga. Hmm?”
“Sialan!”
“Haha…” ***

[]
Bandung, 20 Mei 2008 (10:02 AM)

Sin…

Dikirim Ruang Pengakuan pada 12 Mei, 2008 oleh esensi

Setiap kali kupandang satu kata (yang selalu membuatku bergidik) itu; “sin“…
ingatanku selalu saja melayang
pada sesosok manusia keparat
seorang yang amat kukenal
yang kerapkali membikin aku muak
dan benar-benar ingin membunuhnya
melenyapkannya hingga tak berbekas! lantaran…
daftar dosa-dosanya memang sudah begitu berjibun
bermilyar lembar kertas tak sanggup memuatnya
berjuta pena pun bisa keburu habis menuliskannya
…namun apa daya
sebab,
sosok keparat itu…
adalah aku sendiri!

[]

Paris van Java
12052008 on 23.18 PM

Bagaimana Imanmu Hari Ini?

Dikirim Refleksi pada 11 Mei, 2008 oleh esensi

“A, aa… apa?!”
Ya, bagaimana kabar imanmu hari ini?
“…”
Kenapa diam?
“imanku…? ha…, hari ini?”
Ya
“ss…stagnan”
Apa?!
“Ah, tidak… Malahan… anjlok…”
Ha?
“Duh…, kenapa salammu pagi ini begitu menusuk, kawan…?”
Lho? Bukankah lebih baik ketimbang ’selamat pagi’, ‘apa kabar’, ‘good morning’, atau ‘hei, bla, bla, bla…’, khan?
“Pertanyaanmu itu… membikin aku malu, sekaligus mati kutu,tahu!”
Hmpp…! Hh…huahahahaaahaaahaaha!!!!
“…”
[]

Bandung, 12 Mei 2008
when the dawn came…

Mana yang Anda Pilih?

Dikirim Sekedar Tanya pada 6 Mei, 2008 oleh esensi

Dikarenakan satu dan lain hal, postingan kali ini pendek saja. Seandainya Anda harus memilih diantara dua pilihan di bawah ini, mana yang akan Anda pilih?

1. Hidup bertetangga (berdampingan) dengan orang-orang yang berbeda pemahaman, aliran dan keyakinan, namun mereka memiliki sikap yang empatik, altruistik, tepa selira, ramah dan lebih mementingkan moral (akhlak) ketimbang label akidah.

ATAU

2. Hidup bertetangga (berdampingan) dengan orang-orang se-agama, sekeyakinan, sealiran, namun mereka memiliki sikap ekstrim, senang menghujat, memfitnah, mengobarkan kebencian, mengklaim diri paling benar sedang yang lain adalah salah dan sesat, kafir, dan wajib dibunuh! Lebih suka menyibukkan diri dengan mengurusi orang lain yang beda paham ketimbang mengakselerasi dan merekonstruksi akhlaknya sendiri.

Jawaban ditulis dalam komentar dengan menuliskan nomor pilihan, disertai alasan dan argumen personal. Saya sendiri sudah memiliki jawaban pilihan, yang nantinya akan saya kemukakan pula kepada khalayak.

Salam,

[Bandung, 7 Mei 2008, 6:42 AM]

Saya & (Pameran) Buku Islam

Dikirim Perspektif pada 29 April, 2008 oleh esensi

Pagi tadi saya jalan-jalan ke Landmark Convention Hall, yang beralamat di Jl. Braga 129 Bandung, dimana hari ini–terhitung tanggal 29 April hingga 5 Mei 2008–adalah hari pertama dibukanya Islamic Book Fair 2008. Tak ada yang membikin saya ‘ngiler’ setiap ada pameran-pameran buku seperti ini, selain kata-kata yang terpampang jelas di berbagai spanduk yang malang melintang di beberapa jalan Bandung; “Pameran Buku Terbesar dan Terlengkap di Jawa Barat!”. Saya yang biasanya emoh keluar rumah, entah kenapa selalu saja “tersihir” dengan kata-kata semi-hiperbol di atas, dan ngeloyor pergi ke Braga, dengan membawa sedikit harapan mudah-mudahan ada buku-buku Islam yang aktual dan benar-benar bagus dibaca di hari pertama ini, sekalian cuci mata—sudah beberapa bulan terakhir ini saya tidak memelototi ribuan buku yang terjajar memenuhi rak-rak. Namun saya kecele (sekaligus dongkol), sebab ternyata buku-buku yang dipamerkan, ternyata tak ada beda dengan Book Fair Agustus 2007 silam. Lebih membuat saya kecewa lagi, buku-buku yang saya incar dan saya harapkan ada, nyatanya malah banyak yang tidak ada. Apanya yang terbesar dan terlengkap? Terlebih stand Serambi dan Mizan yang saya harapkan pula hadir “buku-buku cerdasnya”, ternyata hanya kebanyakan malah memajangkan buku-buku literal biasa (dan banyak dikerubuti orang-orang yang lebih condong tertarik dengan buku-buku yang “asal” best-seller). Akhirnya saya malah jadi be-te sendiri. Muter-muter seluruh isi ruangan, menjelajah dari satu stand ke stand lain, buka-buka halaman buku yang kebetulan tidak dibungkus, lalu menyimpannya kembali ke rak, tapi beli tidak, hhh… tidak ada buku yang mampu menarik minat saya… (padahal aslinya tidak punya uang—sedang bokek di akhir bulan, tekorrr, belum gajian).

Tapi adalah suatu “ketololan” namanya, jika mengunjungi pameran buku akbar semacam IBF 2008 ini, seorang pengunjung (saya maksudnya), tidak menemukan satu-pun buku yang dicari, atau setidaknya menemukan buku yang membuat kita tertarik untuk dimiliki. Dan memang…, buku buruan saya selama ini, ada, walau hanya beberapa saja. Diantaranya adalah sebuah buku novel filsafat yang selama ini saya cari, “Dunia Sophie” karangan Jostein Gaarder. Namun saya hanya bisa memelototi label harganya saja, lantaran masih cukup mahal bagi “musafir” seukuran saya (meski tahu berapa besar harga setelah diskonnya). Saya simpan lagi buku tersebut di rak (juga di memori saya, bahwa kalau sudah gajian, pokoknya harus langsung beli buku ini!). Lalu ngeloyor lagi. O iya, sebelumnya saya mencari buku tebal karya seorang penyair sekaligus cendekiawan dan ahli sufisme kenamaan, Martin Lings, yang berjudul “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik”, yang langsung dikomentari pula oleh seorang intelektual yang juga sahabat dari guru Martin Lings sendiri, Frithjof Schuon, yakni Titus Burckhardt. Saya memang belum satu-pun membaca karya-karya Lings, namun melihat salah satu “guru” saya, Charles Le Gai Eaton, mengagumi Schuon, Titus, dan terlebih Lings, saya percaya kalau narasi-narasi yang dipaparkan oleh Lings dalam buku fenomenalnya ini lebih “menggetarkan” saya akan sirah Nabi. Satu diantara buku-buku tentang sejarah Nabi Muhammad.saw yang saya kagumi, adalah karya Karen Armstrong terbitan Mizan. Hanya saja, sependapat dengan Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat), bahwa biografi Nabi yang ditulis Karen masih belum memberikan “suatu hal” yang lain, lebih tajam dianggap oleh Kang Jalal bahwa Karen Armstrong kurang kritis dalam menggali sumber-sumber riwayat kehidupan Nabi. Baca selebihnya »

Muslimkah Saya?

Dikirim Ruang Pengakuan pada 8 April, 2008 oleh esensi

I
Muslimkah saya?
Sebab, syahadat sebagai tiket utama masuk ke jalan raya Islam
yang saya ikrarkan,
hanya sebatas retorika
.
bibir saya berucap tiada Tuhan selain Allah
tapi hati saya berteriak, kalau saya ini (sekali lagi), menuhankan perut
jiwa saya menjerit bahwa saya ini (sekali lagi), hanya menuhankan nafsu!
Tunggu…, “Allah”…?!
Siapa itu Allah?
Saya tidak kenal Dia
sebab, yang saya dapat di setiap mimbar dan majlis taklim
hanyalah sorga, sorga dan sorga
lalu, bidadari perawan, bidadari perawan dan bidadari perawan
Siapa itu Allah?
Saya tidak kenal Dia
sebab, yang saya peroleh di setiap mimbar dan majlis taklim
hanyalah gembar-gembor pahala
lalu beribu gambaran siksa dan neraka
serta klaim kebenaran bahwa yang haq adalah aliran ini
sedangkan aliran itu dan anu, adalah salah dan sesat
.
bibir saya berucap bahwa Muhammad itu utusan Allah
rasul pamungkas yang mesti ditiru-diteladani
tapi tingkah-polah saya jauh dari teladan Nabi
jiwa saya berontak,
“(malu) aku jadi umat Rasulullah…”
.
Maka, muslimkah saya? Baca Selengkapnya…

Beragama = Keseimbangan Akal & Iman

Dikirim Refleksi pada 7 April, 2008 oleh esensi

SENIN tanggal 6 April 2008 malam kemarin, setelah ba’da Isya’ dan hendak tidur, saya berencana bangun pukul 23.30-an karena ada satu urusan tertentu. Menjelang tidur, dalam hati saya berdo’a agar Allah berkenan membangunkan saya pada jam yang saya rencanakan. Sempat terbersit dalam hati untuk menggunakan HP sebagai alarm kalau-kalau saya kebablasan tidur. Namun entah mengapa, saat itu saya lebih memilih untuk tidak menggunakan HP (HP-nya saya tinggal di suatu tempat, tidak saya bawa). Saya malah berpikir, “Ah, kalau Allah menghendaki, apa sih yang tidak mungkin? Tanpa bantuan alarm-pun, saya pasti bakal dibangunkan oleh Allah, seperti hari-hari biasanya (walaupun hari-hari biasanya sambil tetap memasang alarm memang). Ya, benar, saya serahkan saja deh semuanya pada Allah, tak mau saya terus bergantung pada alarm, sebab memakai alarm atau tidak, toh tetap saja saya dibangunkan oleh Allah. Ya sudah, percaya saja lah. Bismillahirrahmaanirrahiim…”. Saya pun terlelap.

Namun tanpa saya sangka, saya bangun pukul 01.30 dinihari, berarti lewat 2 jam dari jam bangun yang direncanakan! Betapa kagetnya saya. Namun syukurlah, ternyata urusan saya tidak mengalami masalah meski saya terlambat bangun. Meski, tentu saja dalam hati saya masih merasa dongkol, dan ada sedikit rasa marah. Hati kecil saya sempat protes kepada Allah, “Saya sudah mempercayakan dan memasrahkan semuanya pada-Mu Ya Rabb, kok ya masih tega-teganya Engkau membangunkanku sebegitu telat?!”. Langsung saya ke ruangan dimana HP saya, saya tinggal. Betapa terkejutnya saya ketika di layar begitu banyak daftar miscall dan SMS yang masuk, terlebih lagi ketika saya lihat ­time-nya, semuanya masuk antara pukul 23.30 sampai 00.15! Itu berarti tepat dengan rencana jam bangun saya! Sejenak saya berpikir, andai saja saya menyimpan HP saya di saku sebelum tidur tadi, pasti saya akan terbangun oleh nada dering dan nada SMS yang masuk, belum lagi kalau saya mengaktifkan alarm, belum ditambah lagi dengan memohon kepada Allah, berarti saya punya 3 backing alternatif yang bisa membuat saya bangun tepat jam segitu. Baca selebihnya »

Akhirnya Kutemukan tuhan(ku)!

Dikirim Ruang Pengakuan pada 31 Maret, 2008 oleh esensi

Akhirnya…!
Akhirnya kutemukan siapa tuhan(ku)!
ternyata tuhanku itu perut!
ternyata tuhanku syahwat!
ternyata tuhanku nafsu!
ha… haha…
ddha..ha…haaa…!!! ***
.
.
.
.
[Sayup-sayup kudengar suara tanya yang begitu lembut,"Pernahkah engkau melihat orang yang menuhankan nafsunya...?," Ah... bukankah itu suara Jatsiyah di ayat 23...?] … Bungkam! ***

[kutulis ketika langit berderai air mata
menghunjam, menusuk bumi...
menusuk... jiwa...
]

[Bandung, 31 Maret 2008, menjelang Ashar]

The Passion of The Christ; Sebuah Cermin

Dikirim Refleksi pada 21 Maret, 2008 oleh esensi

Bioskop TransTV pukul 21.00 malam tadi, kembali menayangkan the great film garapan Mel Gibson; The Passion of The Christ, sebagai peringatan hari raya Paskah yang jatuh tanggal 21 Maret, yang diputar 2 jam penuh tanpa jeda iklan. Itu adalah kali kedua saya menonton film yang–jujur saya akui–amat menyentuh, dan, pantas mampu mempertebal iman umat kristiani di seluruh dunia yang melihatnya.
.
Menonton The Passion, yang notabene 100% menyangkut teologi kristen, alih-alih malah membuat saya mensubstitusikan tokoh Yesus dengan Nabi Muhammad.saw. Jika film ini menggambarkan 18 jam terakhir kehidupan Yesus, pikiran saya malah terlempar jauh memikirkan bagaimana “derita” seorang Nabi Muhammad.saw diperlakukan oleh orang2 kafir Quraisy selama 23 tahun pasca pernyataan diri sebagai nabi; dilempari batu, berkali-kali hendak dibunuh, dikhianati, hidupnya memprihatinkan, dan lain-lain (padahal beliau adalah kekasih Allah). Belum lagi jika kita membuka sejarah nabi-nabi yang dibunuh umatnya dengan keji, semua itu justru malah menjadi keuntungan spirituil bagi saya. Intinya, film ini malah menjadi cermin bagi saya sebagai umat muslim; yakni bagaimana apresiasi saya terhadap penderitaan seorang panutan umat muslim sedunia; Rasulullah.saw. Dan, bukankah kita sering mengeluh ketika terserang penyakit atau ditimpa kesusahan dan penderitaan dalam hidup? Lain lagi, film ini menjadikan saya sedikit mengerti mengapa banyak diantara saudara kita yang mempercayai Yesus sebagai “anak Allah” (beragama kristiani) yang membuat saya makin sadar akan pentingnya bersikap inklusif (yang namanya iman ‘kan sifatnya privat dan tidak berhak diintervensi siapapun).
.
Menonton The Passion, yang notabene nyaris 100% tak ada kaitannya dengan Islam, malah membuat saya mampu bercermin (ketika dirundung susah/sakit); bahwa masih banyak di luar sana orang-orang yang nasibnya lebih buruk ketimbang nasib saya, dan saya masih beruntung dibanding mereka, subhanallah…
.
Dan…well, kepada Mel Gibson, saya begitu salut dengan Anda yang rela membiayai pembuatan film ini sendiri (yang konon mencapai 75 juta US$) yang mana ide film ini dipikirkan selama 12 tahun hidupnya demi memperkenalkan apa yang ia imani sebagai fakta sejarah. Dan saya ucapkan pula terima kasih atas filmnya yang ternyata tidak hanya berdampak sebatas kepada umat-umat kristiani, tapi juga saya pribadi selaku umat muslim. Nah, bagaimana dengan Anda, kawan2 blogsphere?
.

Bandung, 22 Maret 2008 [04:07 AM]

Kemana… Manusia Indonesia?

Dikirim Refleksi pada 17 Maret, 2008 oleh esensi

ketika para TKW kita dianiaya dan pulang tinggal mayat
ketika bocah SD terpaksa gantung diri lantaran tak sanggup bayar SPP
ketika seorang ibu hamil terpaksa meregang nyawa gara-gara tiga hari tidak makan

kemana… manusia Indonesia,
yang katanya empatik
dan altruistik…?
kemana… orang-orang kaya di negeri ini?
jangan-jangan…
mereka tidak punya televisi di rumah?
tidak punya koran?
tidak bisa melihat, dan mendengar berita-berita nasib orang setanah airnya?
kemana… orang-orang yang katanya mengaku umat Muhammad.saw?
terlebih mereka-mereka yang hobi mendengungkan kata khilafah,
terutama mereka-mereka yang katanya golongan ahlus-sunah,
yang katanya selalu khawatir kalau-kalau tetangganya kelaparan
dan hidup susah?
kemana pula… para bapak-bapak pemimpin,
yang setiap lima tahun sekali selalu membuat langit negeri ini bising dengan janji-janji?


bunuh diri
sarjana nganggur
tak ada perawatan lantaran miskin meski punya askeskin
nasi aking
terpaksa nyolong makanan
dituduh sesat
disiksa dan diperkosa majikan di negeri unta
kelangkaan BBM
harga kedelai melangit
gulung tikar

…catatan sejarah negeri kita sudah terlalu kelam dan busuk, bung…
kemana manusia Indonesia?
apakah yang peduli masih itu-itu juga?
kemana para manusia HAM,
ulama,
dan intelektual?

jika begini terus, aku manut perkataan mbahku, cari lagi Bapak Pembangunan yang kemarin berkemas pulang…
jika begini terus, aku mengangguk pengakuan para pluralis, orang muslim kaya negeri ini banyak yang kalah dengan non-muslim macam Bill Gates…
jika begini terus, aku setuju para golput; “bubarkan negeri ini…”


nah,
jika tak ada lagi yang mendengar
lantas pada kemana manusia Indonesia?
sebab…
yang terdengar hanyalah tinggal suara Ebiet…

***

Bandung, 17 Maret 2008
Aris Susanto

Mengkritisi Hadits tentang Pelarangan Gambar dalam Islam

Dikirim Perspektif pada 16 Februari, 2008 oleh esensi

TIDAK bisa dipungkiri, bahwa umat Islam kontemporer khususnya, yang memiliki keahlian melukis (gambar) banyak dipengaruhi oleh pandangan para ulama fiqih yang berpegang pada larangan pembuatan gambar, khususnya gambar makhluk hidup (tashwir). Beberapa hadits yang sering dijadikan “amunisi” oleh para ulama fiqih mengenai masalah ini–walaupun kenyataannya bahwa di dalam Al-Qur’an kita tidak bisa menemukan bekal yang cukup untuk memastikan bahwa gambar memang dilarang atau diharamkan–menimbulkan rintangan bagi para seniman Muslim untuk berkarya membuat gambar manusia maupun binatang. Eksesnya, timbul karya-karya seniman Muslim yang beku, kaku, kering dan cenderung jauh dari kemiripan alam atau sebagian terpaksa mengalihkan kemampuannya ke motif-motif dekoratif bercorak floral dan abstrak, sebagian yang lain lagi memilih menggarap melulu kaligrafi. Tak jarang, malah ada sebagian lagi kaum Muslim yang lantas mengabaikan seni hingga membencinya. Akibat lain yang ditimbulkan, yakni karya-karya umat Islam menjadi kian miskin dan tidak mampu mengejar ketertinggalannya dengan umat lain. Padahal hampir semua orang tahu bagaimana kekayaan seni dalam peradaban Islam di masa lalu. Baca selebihnya »