Tentang (Apa-Bagaimana Itu) Wanita (Ideal), Sebuah Sudut Pandang Eksklusif Laki-Laki

Posted in Perspektif dengan kaitan (tags) , , , , , on 7 Februari, 2010 by frozen

.

PROLOG

KAMIS tengah malam, tepatnya 4 Februari 2010, benar-benar di malam buta, di saat semua makhluk normal sudah wira-wiri di alam mimpi, saya dibangunkan oleh dering ringtone; ya, saya ditelefon seseorang, perempuan, nocturnal. Karena kebetulan saya tidak merasa tidur saya keganggu atau apa, dan toh saya juga tidak merasa berat membuka mata, saya sahut saja itu telefon, dan menerima ajakan ngobrol seperti biasa. O iya, sekedar trivia, biar pun ini perempuan kata-kata dan tulisan-tulisannya kerap membikin sebagian besar laki-laki bergidik hilang nyali, ternyata, ia memiliki suara yang, bening, feminin, dan lembut didengar. Berani taruhan, siapapun yang pernah ditelfon perempuan bernama Pitoresmi Pujiningsih pasti bakal sepakat secara aklamatif dengan pernyataan saya kalau saya tanya perihal suaranya yang ngangenin itu. Trust me.

Oke, lanjut. Di tengah-tengah pembicaraan, dengan suaranya yang “benar-benar-perempuan” itu, dia tiba-tiba menanyakan suatu yang hal menarik yang membuat saya bangun dan duduk, “Ris… menurut elu, wanita itu apa, atau bagaimana wanita yang sebenarnya, menurut pendapat lu?”. Terus terang saya lupa-lupa ingat bagaimana redaksi kalimatnya waktu itu, tapi kurang lebih seperti itu. Saya waktu itu sengaja tidak menjawab pertanyaannya babar-blas, dan sempat memberi balasan, “nanti saja lah kalau lagi mood ditulis di blog”, secara di blog saya bisa menuangkan opini lebih detail. Bisa saja waktu itu saya kemukakan langsung pendapat saya ngalor-ngidul atas pertanyaannya itu, tapi kalau saya yang jadi talkative, itu berarti saya bakal kehilangan sebagian momen untuk mendengarkan suaranya yang melodius dan tranquilized itu lebih lama.

.
.
.
WANITA, SEBUAH KRITERIA ABSOLUT

Jujur, ini sebetulnya tema yang paling saya—dan mungkin juga sebagian besar laki-laki—minati; perihal apa-bagaimana wanita dalam perspektif kaum adam. Jika selama ini laki-laki kerap dibikin jengah dengan suara-suara menyebalkan yang kerap berseliweran perihal patokan-patokan apa dan bagaimana itu Pri-a Se-ja-ti, sekarang waktunya alih adegan; sosok adam, berorasi tentang apa bagaimana itu Wa-ni-ta I-de-al! (huah! biar dunia ini adil!)

Nah, seperti yang bisa Anda baca, satu kata ekstrim pada sub tema di atas; ABSOLUT. Dan seperti yang kita kenal, sesuatu yang absolut, atau yang mutlak, itu biasanya terejawantah dalam sesuatu hal yang bentuknya tunggal. Artinya, dalam konteks ini, ka-mu yang cewek-cewek, mesti mengakui betapa baiknya kaum adam, yang (biasanya) tidak banyak neko-neko menyodorkan standar ketika ditanya persepsinya tentang “how a woman should be“. Beneran. Kaum adam itu makhluk yang didesain sebagai makhluk pragmatis dalam semua hal yang berkaitan dengan ukuran. Beda dengan cewek-cewek yang kadang suka seenak udel membuat daftar kriteria pria sejati, seperti: (harus) macho, kaya, tampan, mapan, tinggi, dewasa, perut six-pack, penyayang, penyabar, perhatian, pengertian, mau mendengarkan, setia, pemberani, suka tantangan, cerdas, jago membuat wanita tertawa, menarik, berkepribadian, supel, humoris, pandai membuat kejutan, dan sederet list lainnya yang kelewat idealis sekaligus utopis untuk ada semuanya dalam satu sosok pria, walaupun memang sah-sah saja.

So, apa, atau bagaimana, seorang wanita itu seharusnya, di mata seorang saya? Cukup, saaatu hal saja, yang tidak bisa ditawar-tawar, yakniii~… *druuuum dumdumdum dumdumdumdumdum…~* (suara genderang ditabuh) *crassh~* dia mesti pintar MEMASAK.

.
.
.
PARSIALITAS (PERGESERAN) PERAN GENDER, SEBUAH PERTANYAAN

Semenjak R.A. Kartini memugar paradigma misoginis masyarakat tentang perempuan kurang lebih satu seperempat abad silam, dengan mengeluarkan para perempuan dari jurang keterbelakangan dan kebodohan lantaran hak untuk bisa ikut mengenyam pendidikan masih mengalami penindasan, perempuan, secara gradual mengalami kemerdekaan dari berbagai pengekangan, dan mencapai kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan yang sebelumnya hanya didapat kaum laki-laki, bahkan aaaammat jauh melampaui. Dan sekarang, kita bisa melihat betapa tidak sedikitnya dominasi perempuan di berbagai ranah non-domestik, yang notabene sekian lama dipegang kaum laki-laki.

Di sinilah muncul sebuah enigma yang harus dipecahkan dan dijelaskan secara argumentatif oleh para perempuan, yakni, ketika, semua kemajuan itu telah dicapai, bagaimana mungkin, ada satu hal penting yang fundamental mengalami ketertinggalan, tidak ikut mengalami kemajuan, regresif, dan yang ada, malah mengalami penurunan amat drastis. Apakah? Yakni, jumlah perempuan yang bisa memasak.

Degradasi yang mencengangkan ini patut menjadi PR besar bagi para perempuan (perempuan yang masuk dalam vonis tadi maksud saya), sebab, ini berkaitan dengan kodrat yang tak boleh tergerus zaman. Perempuan mau revolusi peran, oke, silakan, namun jangan sampai melupakan stempel apa yang inheren dalam dirinya. Perhatikanlah laki-laki, yang ayo-ayo saja belajar bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan perempuan, seperti mencuci, menyetrika, menjahit, sampai memasak, namun dengan tetap tak melupakan peran kuncinya sebagai laki-laki. Mencuci pakaian oke, tapi tetap mau naik ke atas genteng jika atap bocor atau ada listrik internal yang rusak. Menyetrika ayo, tapi masih tetap mencari penghidupan buat keluarga. Berkreasi dengan berbagai masakan sendiri juga fine, tapi tetap tak lupa dengan perannya dalam melindungi. Perempuan? “Oh, sorry ya, aku ini kan wanita karir, jadi gak bisa melakukan pekerjaan pembantu seperti masak-memasak itu duong, bisa rusak nanti kulit tanganku yang indah ini“.

Aihh…! Mantab nian! Let us men standing ovation to those miserable women! Tepuk tangan yang meriah pula untuk pembelokan semangat Kartini yang secara mengagetkan bermutasi menjadi feminisme yang kebablasan. Tak perlu bukti statistik apalagi sensus, secara aksioma sudah bisa disimpulkan, betapa perempuan yang sejak zaman Kartini semuanya pintar memasak, kini di era milenium nyaris semuanya buta memasak.

Mari lihat fenomena nyatanya di sekitar. Di setiap trotoar, sepanjang radius 1 kilometer, seluruh pedagang yang dagangannya melibatkan aksi masak-memasak, menggoreng, dan segala yang berkaitan dengan konsumsi perut, hampir semuanya dilakukan oleh… kaum adam. Ke manakah perempuan?

Bukti masih kurang kuat? Oke, kita para lelaki, bisa melakukan sidak dengan menanyakan hal ini secara acak kepada setiap perempuan, baik yang dikenal maupun yang tidak.

Hai, ukhti, uni, mbak, nona, jeng, ses, neng… hafal… aneka sambal? Bisa kasih referensinya dong, langkah-langkah buat bikin sambal korek itu gimana, atau sambal goreng krecek, atau sambal bajak, sambal serai, sambal kentang, sambal godog, sambal goreng ati, atau sambal kecicang? O iya, pasti tau juga kan, resep-resep jenis gorengan kering macam… kroket, perkedel jagung, apollo, bakwan tahu-tauge, atau pastel kentang. A, terakhir, ca sawi, itu gimana? Juga ca kangkung, ca engkol, rendang, garang asem, bothok mlanding, gudeg, urab singkong, pepes ikan, pepes tempe, gulai pakis, sate tahu. Hm? Gimana? Halo? Mbak? Jeng? Heeee? Lha kok pingsaaaan???

.
.
.
BAB ARGUMEN

Saya mulai harus memadatkan luapan-luapan pandangan saya di bagian ini. Saya buka dari sudut urgensi.

1. Perlukah, Wanita di Zaman Sekarang, Pintar Memasak?

Tidak seperti sebagian laki-laki yang kurang reaktif menerima perempuan dalam pigura pertanyaan di atas, saya, tidak akan kenal ampun, saya pasti memberi satu opsi ekstrem; WA-JIB!

See, bukan jawaban kurang stamina seperti, “perlu deh kayaknya”, atau keras tapi kurang ketegasan, “harus lah…”, atau malah yang fatalis, “Yaa… gue sih nerima keadaan dia apa adanya, asal dia penyayang, pengertian, udah, cukup buat gue, soal masak gampang lah, gue juga bisa kok ngegantiin, lagian kasian kan, kalau dia mesti capek tiap hari”.

Oh, begitukah? Kalau begitu izinkan saya menyodorkan fakta-fakta pahit yang semestinya menjadi lampu kuning buat kaum hawa yang tak pernah akrab dengan wajan dan alat penggorengan. Tahukah Anda, bahwa ketidakcakapan seorang perempuan/istri dalam memasak paling berpotensi memicu keretakan hubungan, atau bahkan perceraian dalam rumah tangga? Jangan dulu angkat tangan interupsi apalagi buka mulut, biarkan saya selesai dulu.

Ketika seorang perempuan yang sudah menjadi istri tidak memiliki keahlian memasak, maka biasanya dia akan menyerahkan otoritas penting berkenaan hal primitif paling utama bagi suami dan anak yang seharusnya dipegang olehnya itu, ke-pa-da orang lain; pembantu, dan individu lain di luar rumah.

.
.
.
Saya sering makan di warteg secara nomadik, dan bukan sesuatu yang mengagetkan, apabila saya mendapati obrolan impromtu para bapak-bapak seperti berikut ini:

“Teu boga kaeucreug jadi pamajikan teh. Nanaonan ku urang dikawin ari teu boga kagableg nyieun dahareun? Anger wee, teu keur ngora teu geus kolot, teu basa can kawin teu geus kawin, lumpat deui ka warteg mun dek dahar teh!” (Jadi istri kok tak bisa apa-apa. Buat apa aku nikahi kalau ternyata tak sekalipun becus bikin makanan? Tidak waktu bujangan tidak sudah tua seperti ini, tidak waktu sebelum nikah atau sudah nikah, tetap saja, balik lagi ke warteg kalau mau makan!)

Ditimpali oleh yang lain.

“Euh, kitu oge pamajikan kuring, Kang. Asa teu boga pangabisa pisan, waenya unggal isuk teh sangu goreng deui, sangu goreng deui, bari jeung eweuh ngeunah-ngeunahna deuih!” (Lah, gitu juga bini saya, Kang. Seperti tak punya kecakapan apapun. Masa’, tiap pagi nasi goreng lagi nasi goreng lagi, sambil gak ada enak-enaknya pula!)

“Na urang, pamajikan teh meni asa males, mun nyieun dahareun teh moal jauh tina nyeplok endog deui nyeplok endog deui, atawa goreng tempe biasa. Balik gawe eta deui eta deui. Geus males ngomongana ge” (Lha saya, punya bini malas, kalau bikin makanan gak akan jauh dari telur ceplok lagi telur ceplok lagi, atau tempe goreng biasa. Pulang kerja itu lagi itu lagi. Sudah bosan sendiri saya bilanginnya).

Saya menyimak semua tutur jujur para suami tersebut dengan miris. Nada-nada kekecewaan lebih saya tangkap ketimbang muatan kesal dan jengkelnya. Dan saya biasa mempercepat laju makan lalu beranjak, sebelum riuh obrolan kian memanas di antara gaduh suara garpu-sendok yang membentur-bentur piring itu mengikis nafsu makan saya.

.
.
.
Mimpi buruk kedua, impresi minus dan represi tak langsung, dari mertua.

Jangan tanya saya soal ini. Iklan-iklan kecap dan bumbu masak di televisi banyak yang mengafirmasi fakta ini, yang tak lain sebetulnya merupakan sindiran tajam bagi para wanita.

Hmm… masakan mantu kita memang selalu luar biasa ya…” — diucapkan si ibu mertua ketika bertandang ke rumah puteranya, dan berakhir dengan ending adegan semua anggota keluarga tertawa lepas.

Anda bisa membalik statemen pujian tersebut ke arah yang berlawanan, dan nikmati imajinasi yang tak enak itu di kepala Anda. Dan Anda, para perempuan, tentulah hafal benar, bahwa konflik yang paling selalu dihindari selama perkawinan adalah, konfrontasi dengan mertua, bukan demikian? Berangkat dari spekulasi inilah, sebab mengapa di atas tadi saya menyebut frasa “miserable woman“. Sayalah yang kasihan, jika wanita-wanita yang seharusnya terlihat sempurna di mata suaminya itu malah menjadi bulan-bulanan cibiran mertua hanya karena satu hal, tidak bisa masak. Dan perlu dicatat tebal-tebal, bahwa ekspektasi terakhir yang dimiliki para ibu mertua dari pihak suami, hanya satu, menantu yang bisa menghidangkan kebutuhan konsumsi anak dan cucunya kelak sebaik mungkin, itu sebabnya kenapa kadang sampai ada mertua yang tidak mau kompromi jika menantunya tak pandai memasak.

Dan, mimpi buruk ketiga, ketika rutinitas masak diestafetkan kepada… pembantu, maka di antara sekian kemungkinan, akan bergulir satu kemungkinan paling dominan, yakni suami pulang kerja, merindukan masakan pembantu. Ini sangat rawan sekali. Dan akan lebih berbahaya lagi, jika kebetulan pembantu yang diserahi tugas memasak tersebut masih muda dan energik, maka akan terbuka kemungkinan yang, jauh lebih mengerikan lagi. Saya tak akan memberi banyak penjabaran berkenaan hal ini. Saya yakin imajinasi Anda, khususnya para pembaca yang perempuan, sudah bekerja lebih dulu sebelum saya melebarkan keterangan. Tapi saya juga tak akan setengah-setengah untuk membuat Anda tidak bisa tidur tenang sejak Anda membaca postingan ini.

Bayangkan, jika kelak, di tempat kerja pasangan atau suami Anda, ada perempuan lain yang menawari masakan hasil kreasinya. Lalu bayangkan lagi, jika suami Anda kemudian secara sukarela memberi pernyataan, “Kamu pinter masak juga ya, nggak seperti istriku [...]“. Jika sudah sampai pada titik tersebut, bersiap-siaplah untuk menghadapi badai rumah tangga dalam waktu yang tak lama lagi.

Jika Anda sebagai perempuan, seperti yang dikatakan dalam sebuah jurnal psikologi, mempunyai jiwa kompetitif, tak mau kalah dari perempuan lain, maka Anda sudah bisa merasakan bagaimana rasanya jika kejadian tersebut terjadi di masa depan selama perkawinan Anda. Dan itu, contoh tadi, belum diperluas dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih buruk lagi. You know what these are like.

.
.
.
2. CITRA KESEMPURNAAN

Terdengar non-sense, jika membahas kesempurnaan di dunia yang tak sempurna ini? Buat saya tidak selalu demikian, selama kesempurnaan itu hanya terbentuk dalam persepsi. Lalu apa hubungannya kesempurnaan dengan memasak?

Selama ini, saya mempunyai kriteria yang jauh lebih ekstrim dalam menilai perempuan. Jika selama ini orang mengenal istilah 3-B, Bobot, Bibit, Bebet, yang biasanya laki-laki tak banyak ambil pusing tapi perempuan tidak, maka saya memiliki kriteria lain yang lebih high dan tak kenal tawar-menawar, 5-B! Brain, Beauty, Behaviour, Belief and Bodyshape!

Kriteria-kriteria tersebut dibaca verbatim, bukan konotatif. Tapi kemudian, saya mikir, Brain-Beauty-Bodyshape itu terlampau niskala, cepat sekali tergerus usia. Mau tak mau saya harus mempertimbangkan, apa kiranya satu hal yang merangkum ketiga komponen ini, dan dua yang lainnya. Dan seketika saya pun dicerahkan, bahwa perempuan yang jago memasaklah yang mewakili semua kriteria bidadari di atas.

Brain

Dunia saat ini sudah terlampau aneh. Perempuan mengalami inklinasi tajam dalam hal paradigma. Perempuan disebut pintar jika ahli dalam hal keuangan, unggul dalam hal akademik, memiliki keahlian manajerial, komunikasi, organisasi hingga beragam bahasa manca, namun menomor-urut-sekian-kan, atau bahkan nyata-nyata meminggirkan, ke-ah-li-an me-ma-sak, yang jelas-jelas merupakan domain eksklusifnya. Ini yang saya maksud dengan parsialitas atau ketimpangan peran gender, bahwa terjadi ke-tidak-kaaffah-an dalam mengisi dan melakoni peran.

Brain, lambang pemakaian otak yang optimal, alias kecerdasan, buat saya lebih terletak pada kepakaran diri mengkonversi berbagai hal menjadi sesuatu yang memiliki nilai-nilai manfaat secara riil. Bumbu, merica, garam, kecap manis, ketumbar, bawang daun, asam, gula merah, lada, cabe rawit, cuka, di tangan seorang perempuan yang ahli memasak, semua bahan-bahan mentah tadi, akan disulap menjadi sesuatu yang luar biasa menyedapkan. Di area inilah kreatifitas keperempuanannya itu diuji. Dan itu manifestasi Brain!

Perempuan yang suka memasak tidak akan tertinggal dalam arus berita-berita yang faktual. Misalnya, karena sering berurusan dengan daging, maka ia akan selalu tahu informasi yang up-to-date, seperti fenomena virus X dalam daging jeroan yang mulai menjadi epidemi, sehingga dia tak akan lagi menjadikan daging tersebut dalam sajian menu utamanya. Atau setidaknya dia akan lebih selektif, bahan-bahan makanan mana saja yang disebut dunia kedokteran mutakhir adalah membahayakan, sehingga keputusan meramu masakannya yang dengan penuh selektivitas tersebut akan berdampak positif bagi kesehatan suami dan anaknya. Ia tahu harus masak apa dalam tren sekarang ketika hidup dikelilingi sengkarut penyakit yang datangnya dari pola dan menu makan yang keliru. Itu bagi saya adalah sebuah bentuk kecerdasan!

Perempuan yang pandai memasak, akan pandai pula menangkap mood siapapun orang di sekitarnya. Ketika suami pulang kerja marah-marah karena ada suatu masalah di tempat kerja, dia akan membuatkan masakan kilat yang sesuai dengan keadaan, dan akan melakukan persuasi yang lembut.

Sudah…, marah-marahnya disimpen dulu, coba cicipi masakan/minumanku ini, kali emosimu bisa reda“. Dan sang suami pun mencoba, walau sedikit ketus dan ogah-ogahan. Dan ketika rasa masakan/minuman istimewa murni buatan istrinya itu menyelimuti lidah, perlahan-lahan senyum akan mengembang di bibir, “Seperti biasa, masakan/minuman yang kamu buat selalu enak, makasih ya, Sayang…”

See, lupa si suami dengan emosinya. Itu kecerdasan.

Mertua sakit, si perempuan akan dengan tanggap membuatkan sup spesial. Sang mertua dilegakan batinnya karena ada menantu yang memberinya penghiburan, terlebih si menantu membawakan masakan buah tangannya sendiri, makin giranglah mertua, apalagi jika masakan yang disantapnya lezat bukan main, kian merasa beruntunglah ia memiliki menantu yang pandai memasak, dan lupalah ia dengan sakitnya. Dan itulah kecerdasan.

Beauty

“Kecantikan yang sejati itu kecantikan yang natur”, kata seorang mahasiswi, yang juga kebetulan berparas jelita. Natur… Ah, benar sekali, betapa sekarang ini sulit sekali menjumpai perempuan yang wajahnya sedap dipandang namun tanpa ada sapuan bedak atau balutan make-up. Dan saya menggerutu, dua tahun tinggal di Tanah Parahyangan Bandung ini saya tidak lagi mudah menemukan mojang priangan yang demikian. Puji syukur kepada Tuhan, saya memiliki pemaknaan lain.

Lihatlah, mereka para perempuan yang sering berhadapan dengan panas asap wajan, perhatikan ketika belasan titik keringat di kening itu menitik dan bertunas, kemudian perlahan menuruni pelipis dan lekuk pipinya yang semi-cembung, lalu menggantung di dagunya yang menggemaskan itu. Di situlah saya melihat kecantikan berpendar. Ya, keseriusan paras dipadu ketekunan, cekatan tangan dan respon seketika ketika lidah mencicipi setetes kuah yang telah dibuat, lalu kedua bola bening matanya berputar, berpikir, apa yang kurang. Benar-benar sebuah dedikasi diri yang penuh meski sekedar urusan menghasilkan masakan. Di situlah aura keanggunan terpancar.

Behaviour

Saya membaca sepotong jurnal psikologi di sebuah situs, beberapa minggu lalu, bahwa salah satu perbedaan antara Wanita dengan Cewek adalah; Wanita, selalu mencoba resep masakan baru dua kali seminggu; sedangkan Cewek, selalu ke salon dua kali seminggu. See? Dan ini sebabnya di postingan ini saya tak konsisten menggunakan istilah, ada yang perempuan, ada yang cewek, ada yang wanita. Dan dikotomi tersebut saya buat dengan alasan semacam itu.

So, ada perbedaan, antara perempuan yang hanya ta-u masak, bi-sa masak, bi-a-sa masak, dan blank sama sekali soal masak. Dan tentu, yang masuk kategori seleksi yang saya patok, adalah perempuan yang pintar, ahli, jago dalam memasak, yang mana skill atau kecakapan memasak tersebut hanya bisa dibentuk seiring panjangnya perjalanan pengalaman. Ada syarat pem-bi-a-sa-an di situ. Practice makes perfect, kata orang, jadi kalau hanya sekedar omong doang, megang katel pun enam bulan sekali, ya lucu, kalau ingin disebut sebagai perempuan yang bisa masak. Kecuali kalau masak ecek-ecek seperti nyeplok telor, masak mie, menjerang air, yaa… okelah, kita kasih predikat, “calon istri menyedihkan”.

Nah, lucunya, adalah ketika saya iseng melakukan kuesioner secara random ke beberapa teman saya yang perempuan, entah itu via SMS atau bertanya langsung; “Eh, hobi atau kebiasaan kamu yang paling sering dilakukan (sebagai perempuan), apa sih?“. Anda para laki-laki, khususnya kawan-kawan blogger yang usianya tak jauh dari saya, coba dengan iseng bertanya demikian kepada empat atau lima teman Anda yang perempuan, sekarang ini juga, lalu simak apa yang bakal mereka jawab. Saya berani taruhan segelas es cendol rasa nangka atau semangkuk baso wira-wiri kalau Anda kapan-kapan berkunjung ke Bandung dan kebetulan bertemu saya; kata “memasak” bisa dipastikan tak akan keluar dari bibir manis para perempuan itu sebagai satu-satunya opsi. Yang paling menyedihkan adalah ketika hampir kebanyakan dari perempuan itu menjawab, “Apa ya… Nggak ada“, atau, “Nggak tau ah…“. Benar-benar tidak punya prinsip.

Padahal dari Behaviour memasak inilah, Brain akan didapat. Seiring lamanya pengalaman melakukan suatu kebiasaan, keahlian akan kebiasaan itu akan kian menajam, yang pada gilirannya menjadi sesuatu yang “without thinking” lagi. Memasak ratusan menu tak lagi menggunakan kalkulasi ini itu; garemnya segini, eh, kebanyakan, lho kok kurang asin, tambahin lagi, kok jadi aneh, dst dsb dll dllaj; melainkan lebih menggunakan intuisi yang akurat layaknya seorang chef master yang selalu pas menaburkan bumbu-bumbunya di seluruh lipatan dan lapisan makanan.

Belief

Perempuan yang benar-benar memaknai sebuah proses memasak, akan memandang tugas memasak sebagai media jihad. Ia memahami betul sabda agung Rasulullah Muhammad.saw, bahwa medan jihad perempuan yang sebenarnya itu adalah di dalam rumah, dan dapur sebagai tempat berkreasi mereka-cipta aneka masakan yang bernilai gizi dan menyehatkan, adalah tempat yang paling tepat untuk dijadikan ladang amal.

Bayangkan sumringahnya suami sebelum berangkat kerja, ketika ia oleh istri tercintanya dihidangkan menu sarapan yang bercita-rasa istimewa meski bumbunya masih sama seperti hari kemarin. Lalu si suami berangkat kerja dengan penuh semangat, dengan perasaan bangga meluap-luap karena punya istri yang bisa dibanggakan kepada siapapun. Secara tak sadar si suami memanjatkan puji syukur, karena telah dikaruniai istri yang bisa memasak. Semua urusan pekerjaan ditangani dengan baik, karena moodnya selalu dijadikan dalam keadaan yang baik, apalagi kalau ke tempat kerja ia membawa bekal makan buatan istrinya, makin kangenlah ia untuk segera pulang dan bertemu istri. Dan ketika pulang dari kerja, dari awal membuka pintu, dia akan berteriak manja, “Saaayaaang… Kamu masak makanan apa sore ini~”. Ambooi… Sakinah, mawaddah, wa rahmah ever after.

Dan bayangkan, bagaimana nilai keahlian memasak tersebut dalam pandangan anaknya. Si anak hanya tahu yang namanya masakan sebenar-benar masakan itu adalah masakan bikinan ibunya, yang selalu aneh-aneh tapi rasanya gurih dan susah dilupakan. Terbentuklah sikap non-konsumtif dalam diri si anak, ia tidak akan terlampau sering jajan, karena baginya makanan itu cukup yang dihasilkan oleh tangan ibunya saja, yang ia yakin selalu menyehatkan.

Lihat begitu dahsyatnya multiplier dari kecakapan memasak seorang perempuan, yang amat begitu positif dan senada dengan banyak esensi ayat Al-Qur’an; menumbuhkan kasih sayang, mencipta rasa syukur, pola hidup hemat, dan hidup sehat sebagai bentuk upaya menyayangi diri. Sebuah sikap yang jenius, karena tidak sebatas bisa mengaji-membaca Qur’an saja, tetapi seratus langkah lebih jauh, yakni membumikan (makna) ayat-ayat kitab suci agamanya.

BodyShape

Untuk bagian ini, saya tidak akan berpanjang kata. Satu hal saja. Bahwa entah kenapa, perempuan yang jago dan suka memasak itu, terlihat SEKSI!

.
.
.
3. Pertanyaannya, WHY?

Saya paham, apapun alasan di balik pemilihan kriteria memasak ini, seperti yang sudah saya kemukakan pada poin-poin di atas, tentu masih satu pertanyaan alasan di balik alasan; motif paling awal. Oke.

Hukum Kelangkaan.

Tak ada seorang normal pun yang memungkiri, bahwa semakin langka sesuatu, maka sesuatu itu akan semakin diminati, dianggap lebih bernilai, dan akan dicari, atau bahkan di titik ekstrem, diperebutkan. Sekarang saya mendapati fakta kelangkaan itu ada dalam skill memasak. Perempuan cantik, cerdas, kaya, terkenal, seksi, ah itu sih sudah biasa, karena perempuan seperti itu ada di mana-mana, dan jumlahnya cukup banyak. Tapi jumlah perempuan yang jenius dalam memasak? Hohohoo… mari bertanya pada rumput yang bergoyang™.

Nah, karena minornya jumlah perempuan yang bi-sa dan ahli memasak inilah, yang membuat saya tertarik dengan tipe perempuan seperti itu, entah saya tidak tahu bagaimana dengan opini kaum adam yang lain. Yang jelas, entah kenapa, perempuan yang sama sekali tidak bisa masak itu, rasanya seperti bukan perempuan saja. Atau kalau saya mau bikin katastrofi, perempuan yang nggak bisa masak itu bukan perempuan sejati.

.
.
.
CATATAN PRA PENUTUP: KAUM HAWA DALAM BINGKAI TIPE/KATEGORISASI

Well, karena tak mau tanggung-tanggung, dan saya memang cenderung mendewakan skill memasak ini, maka sebelum menutup tulisan ini, saya buat sekalian kategori-kategori spesifiknya, yang jelas dibuat sesuka saya, di mana garis kategori itu ditarik dari satu titik; perempuan (dilihat) dari kecakapannya soal memasak.

1. Mereka, yang bisa, jago, dan suka masak
Ini tipe yang ideal. Lebih ideal lagi apabila poin 5-B berpadu dengan skill ini, makin high-lah value mereka sebagai perempuan, dan pantas menyandang predikat wanita ideal. Dan yang masuk kategori ini, untuk sekedar menyebut beberapa nama yang familiar, di antaranya adalah: Farah Quinn, Rima Melati Adams, dan Riezka Rahmatiana. Huah! Pasti asik banget kalau punya istri seperti mereka. Ibaratnya, kalau kita cinta uang, kita punya mesin uangnya sendiri. Nah, kita menyenangi aneka ragam masakan, tapi kita punya tangan yang ahli dalam memasak itu sendiri. Ibarat kata lain, seperti kita ditanya, ingin roti, apa ingin pembuat rotinya sekalian?

2. Mereka yang bisa masak, tetapi kadang suka malas, apalagi masak masakan level tinggi
Ini tipe perempuan medioker. Saya sendiri jadi malas untuk komentar apapun.

3. Mereka yang sebetulnya tidak suka memasak, tapi punya kemauan untuk belajar bisa
Ini tipe yang mendingan. Pokoknya masih layak untuk diberikan apresiasi. Jenis perempuan seperti ini biasanya, ketika di akhir perjuangannya belajar memasak, akan mendapati bahwa memasak itu ternyata hal yang menyenangkan.

4. Mereka yang tidak suka memasak, tidak bisa memasak, malas pula untuk belajarnya
Ini tipe paling parah, tipe perempuan pada umumnya™. Nah, kebanyakan cewe ABG jaman sekarang, yang model-model begini nih. Jika stagnasi seperti ini terus dibiarkan, bisa dipastikan sepuluh tahun ke depan Indonesia benar-benar bakal mengalami masa depan suram, karena ranah kuliner tak lagi dikuasai kaum perempuan.

5. Mereka yang tidak suka memasak, tidak bisa memasak, malas belajar masak, tapi paling hobi kalau makan
Kalau ini sih tipe paling menyedihkan dari yang menyedihkan. Tingkat kronis lah parahnya. Dan para cowok disarankan jangan sampai punya pacar yang tidak membanggakan model gini, bisa terkuras habis nanti anggaran pribadi.

.
.
.
EPILOG

Jadi demikian, saudara-saudara setanah-air, wanita yang “wanita”, di mata saya pribadi. Dus, sudah jelas panjang-lebar nilai setara mutiara apa saja yang ada pada perempuan yang lihai dalam masak-memasak. Di samping sifatnya yang urgen, ada sekian banyak benefit yang ada pada perempuan yang pakar dalam bidang memasak, terutama dari sisi tren dan ekonomi. Dan sekali lagi, dari sisi kebanggaan.

Seorang teman perempuan satu alumni SMP, saya tanyai perihal ini. Dan dia menjawab dengan tanggap, “Still a must, karena (perkara memasak) ini jadi hal perekat hubungan keluarga, baik dengan suami, mertua, maupun anak. Cewek yang bisa masak biasanya lebih disayang mertua daripada cewek yang pinter cari duit”. Jawaban yang datang dari perempuan sendiri. Dan tentu, akan menjadi profit, jika kecakapan memasak seorang perempuan itu menjadi sumber pemasukan baru, sudah pintar masak, pintar pula mencari uang dari kepintarannya.

Yah, begitulah. Dan saya juga tak mau kompromi mengenai hal ini.

Terakhir, saya tak ambil pusing, jika ada komentar sinis atas postingan ini, semisal; “Apa sih lu, rese’ banget jadi cowok, biarin dong, cewek mau bisa masak atau enggak, emang lu siapa, sok banget ngomentarin”, atau komentar lain yang lebih pedas yang sebetulnya merupakan bentuk kerendah-dirian karena tidak punya kapabilitas memasak dalam ukuran-ukuran tertentu.

PS: Kira-kira medio 2010 nanti, kalau memungkinkan, saya akan menjadwalkan diri mengunjungi beberapa blogger perempuan kenalan yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan kota kelahiran saya sendiri, Cianjur. Khusus yang Jakarta, destinasi utama adalah, jelas, menyatroni kost-an seorang Pitoresmi Pujiningsih. Biar saya evaluasi sejauh mana keperempuanannya itu, apakah hanya mumtaz di area wacana dan suara, tapi memble di bagian memasak? Dan juga blogger perempuan yang lain. Kita akan lihat nanti.

[]
Bandung, 7 Februari 2010 | 07.18 AM