Mengkritisi Hadits tentang Pelarangan Gambar dalam Islam

TIDAK bisa dipungkiri, bahwa umat Islam kontemporer khususnya, yang memiliki keahlian melukis (gambar) banyak dipengaruhi oleh pandangan para ulama fiqih yang berpegang pada larangan pembuatan gambar, khususnya gambar makhluk hidup (tashwir). Beberapa hadits yang sering dijadikan “amunisi” oleh para ulama fiqih mengenai masalah ini–walaupun kenyataannya bahwa di dalam Al-Qur’an kita tidak bisa menemukan bekal yang cukup untuk memastikan bahwa gambar memang dilarang atau diharamkan–menimbulkan rintangan bagi para seniman Muslim untuk berkarya membuat gambar manusia maupun binatang. Eksesnya, timbul karya-karya seniman Muslim yang beku, kaku, kering dan cenderung jauh dari kemiripan alam atau sebagian terpaksa mengalihkan kemampuannya ke motif-motif dekoratif bercorak floral dan abstrak, sebagian yang lain lagi memilih menggarap melulu kaligrafi. Tak jarang, malah ada sebagian lagi kaum Muslim yang lantas mengabaikan seni hingga membencinya. Akibat lain yang ditimbulkan, yakni karya-karya umat Islam menjadi kian miskin dan tidak mampu mengejar ketertinggalannya dengan umat lain. Padahal hampir semua orang tahu bagaimana kekayaan seni dalam peradaban Islam di masa lalu.

Masalah pelarangan gambar ini juga tak pernah luput dipaparkan di berbagai buku yang mengupas tentang halal-haram dalam Islam. Sayangnya, argumen-argumen yang diajukan itu-itu juga, cenderung mengancam dan menakut-nakuti, tak ada gagasan yang baru maupun pendalaman independen dan ini sering menjadi momok menakutkan bagi sebagian seniman Muslim. Saya coba kemukakan dua hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Pertama, hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah.saw bersabda, “Malaikat (rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang berisi gambar-gambar (shurah) dan anjing.”

An-Nawawi yang berhaluan Syafi’i mengikuti jalur asy-Syaukani bahwa gambar (tashwir) yang melukiskan (shurah) makhluk hidup dilarang keras, karena itu merupakan dosa berat, karena gambar itu menyerupai ciptaan Tuhan. Anehnya, ia membolehkan pembuatan gambar pepohonan atau gunung-gunung yang notabene adalah ciptaan Tuhan. Padahal ketika Allah.swt menantang hamba-hamba-Nya yang ingkar, Dia menantang mereka untuk menciptakan sebutir biji gandum. Nah, seandainya alasan pelarangan An-Nawawi terletak pada kemiripan dengan ciptaan Tuhan, maka semestinya ia mengatakan bahwa segala ciptaan Tuhan itu tidak boleh digambar, tak peduli apakah itu pepohonan atau gunung-gunung. Kita bisa saja beranggapan bahwa An-Nawawi (saat itu) belum mampu menangkap esensi hadits ini dan belum memperoleh alasan yang kuat dan logis bagi pelarangan gambar ketika ia mengatakan bahwa gambar itu menyerupai ciptaan Allah.

Sedangkan mengenai malaikat rahmat, ini malah semakin tidak rasional lagi. Jika memang lantaran gambar dan anjing (dianggap kotor) lalu malaikat rahmat enggan memasuki suatu rumah, kenapa tidak dijatuhkan pula kepada sesuatu yang lain yang dianggap lebih kotor, semisal kucing atau babi yang lebih tidak bersih makanannya? Perbedaan antara gambar dengan babi pun begitu jauh sekali. Jika memang harus demikian, maka kita bisa membuat sebuah konklusi ekstrem, bahwa malaikat rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar dengan tidak peduli pemiliknya seorang mukmin dan ia justru akan memasuki rumah yang di dalamnya tidak ada gambar dan patung meski pemiliknya seorang kafir yang jahat. Ini cukup mengherankan sekali, terutama jika kita menengok firman Allah bahwa “rahmat-Ku meliputi segalanya” (QS. Al-A’raf [7]: 156).

Dalam masalah ini, kita mesti bersikap liberal dan kritis, yakni harus dilihat dulu, gambar yang bersangkutan itu gambar apa? Jika menyangkut sesuatu yang kotor, tidak pantas dipandang, membahayakan aqidah dan memperlemah keyakinan keberagamaan kita, barangkali inilah yang menjadi alasan kuat pelarangan akan hadits tadi. Bisa pula, malaikat rahmat di sini merupakan metafor (seseorang yang hendak membawa kabar gembira). Misalkan, seorang rekan yang hendak menawarkan bisnis kepada kita (ini adalah rahmat!), namun karena di dalam rumah kita banyak gambar-gambar dan sesuatu yang tidak sedap dipandang, bisa jadi rekan kita tadi akan menangkap kesan buruk dan ‘kabur’ tidak jadi menawarkan bisnisnya dan kita kehilangan ‘rahmat’ itu. Bukankah manusia itu cenderung menyukai keindahan? Bukankah Allah juga menyukai keindahan karena Ia adalah “Jamil”? Bisa jadi ini maksud hadits di atas.

Di sisi lain, kita bisa memberikan ‘counter’ hadits tentang perkara malaikat rahmat ini dengan hadits lain yang disampaikan Bukhari dengan otoritas Anas yang mengatakan, “A’isyah memiliki sebuah karpet bergambar yang dipakai untuk menutupi samping rumahnya. Maka Nabi.saw berkata, ‘Singkirkan karpet itu dari hadapanku, karena gambar-gambar itu (tashawwiruhu) muncul dalam pikiranku waktu aku shalat.’” Ini adalah hadits yang paling berguna, bahkan komprehensif! Coba kita renungkan sejenak, kebanyakan pikiran kita dalam shalat kerap terganggu dengan hal-hal abstrak ketimbang gara-gara gambar. Ini menyiratkan, bahwa sesuatu yang berdampak negatif, mengganggu ibadah, adalah selayaknya dijauhkan. Jadi, bukan perkara objeknya yang mesti dipermasalahkan.

Kedua, hadits yang mengatakan bahwa, “Orang yang akan mendapat siksaan yang paling pedih di Hari Kiamat adalah orang-orang yang membuat gambar dan patung (al-mushawwirun).”

Untuk hadits yang satu ini pun, kita harus lebih kritis lagi. Ath-Thabari menafsirkan, bahwa hadits ini berhubungan dengan sesuatu yang secara sadar disembah di samping Allah yang menjadikannya seorang kafir. Sehingga hukuman bagi orang-orang yang membuatnya sungguh berat, karena ciptaan mereka dijadikan sembahan. Maka, mereka disuruh untuk menghidupkan apa yang mereka buat. Ini lantaran apa yang mereka buat dianggap sebagai Tuhan yang bisa mendengar, melihat, memberi, menghidupkan dan mematikan. Kita bisa berasumsi, bahwa maksud Rasulullah melarang pembuatan gambar dan khususnya patung, adalah agar umatnya yang masih hijau dalam ketauhidan, tidak kembali lagi kepada sikap jahiliyah. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa orang-orang musyrik diancam dosa paling besar.

Syaikh Muhammad ‘Abduh, ulama Islam terkemuka al-Azhar, menyatakan pendapatnya mengenai hal pembuatan gambar ini. “Hadits ini berasal dari masa ketika sifat jahiliyah masih hidup. Pada waktu itu, penggambaran dipakai untuk dua tujuan; yakni untuk kepuasan dan untuk mendapatkan berkah dari orang yang digambarkan dalam suatu gambar. Tujuan pertama tidak disukai dalam agama kita, sedangkan yang kedua dibuang jauh-jauh dalam Islam, karena membuka jalan kepada polytheisme. Kita tidak bisa seenaknya menggeneralisir bahwa setiap gambar (atau patung) mesti akan disembah, sebab jika demikian halnya, saya pun dapat mengatakan, bahwa lidah juga dapat berbohong. Akan tetapi, apakah karena hal itu, lalu lidah harus dikunci meskipun kita tahu bahwa lidah juga dapat mengatakan kebenaran? Pendeknya, saya yakin, bahwa hukum Islam tidak pernah melarang suatu hal yang bermanfaat bagi pengetahuan.”

Demikianlah kita ketahui bagaimana di zaman dulu rupa-rupa gambar menghias di permadani, istana-istana dan buku-buku. Islam sangat mendukung lapangan seni untuk memperkaya dan menguatkan kebudayaan yang dimilikinya. Selama masih berada dalam koridor kepatutan dalam Islam, seniman Muslim bisa mengerahkan kemampuan dan talenta yang dimilikinya sebebas mungkin tanpa ada rasa tertekan, apalagi sampai terlintas dalam pikiran atau sengaja untuk menandingi ciptaan Tuhan dengan penuh kesombongan. Jika seorang manusia hanya diberi bakat melukis dan justru dari sana bisa meraih penghidupan, apakah logis kita memaksanya untuk beralih pekerjaan gara-gara ucapan para ulama fiqih yang membawa-bawa hadits di atas? Jika Allah memang melaknat tukang gambar, lantas bagaimana nasib mereka-mereka yang pernah menggambar binatang atau orang yang memang hanya memiliki kemampuan menggambar? Maka, segala hal harus disesuaikan dengan konteks. Kaum fuqaha ekstrem nampaknya tidak mau tahu tentang perubahan lingkungan, situasi dan kondisi, waktu dan tempat, dan tidak ada keberanian untuk mencoba melakukan kajian banding yang mandiri terhadap sumber-sumber masalah pelarangan gambar ini, sehingga cenderung konservatif.

Jadi, kita melihatnya dari sisi apa sesuatu itu digunakan. Jika gambar (dan patung) hanya sekedar dijadikan hiasan dan tak ada kekaguman berlebih dan justru mengantarkan kita pada ingatan Pencipta segala pencipta, nampaknya Islam tidak terlalu mempermasalahkan. Lihat saja firman Allah surah As-Saba’ ayat 13 yang mengisahkan para jin membuatkan untuk Nabi Sulaiman.as gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung (tamatsil). Jika kita masih konservatif atau bersikap ekstrem, kita akan menganggap bahwa Nabi Sulaiman.as mengajarkan kemusyrikan, dan ini adalah lucu sekali karena tak pernah ada laporan yang meriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman.as khawatir bahwa patung-patung dapat merusak agama. Gambar (dan patung) itu sendiri sebetulnya bukanlah faktor utama penyebab kerusakan agama, kelemahan akal itulah yang mengubah patung-patung itu menjadi berhala yang disembah. Lemahnya akal, menyebabkan munculnya imaji atau khayalan, bahwa Tuhan bersemayam dalam objek-objek itu dan objek lain seperti sumber kehidupan. Karena patung memiliki aura mistis, lantas disembah. Matahari memancarkan cahaya, lantas disembah. Api memberikan panas, lantas disembah juga. Akal manusia seakan-akan semakin merosot. Itu sebabnya Allah.swt mengutus Nabi Muhammad.saw dengan tugas merekonstruksi akal manusia yang dekaden dan mengakhiri paganisme dalam segala bentuknya, karena hal itu merupakan fakta dari kemerosotan akhlak dan jiwa. Maka, ketika umat beliau masa itu sudah menunjukkan kecenderungan ke arah yang benar, Nabi memperlonggar ikatan mengenai masalah gambar dan patung ini. Amatlah sulit Islam goyah karena gambar atau hancur gara-gara patung, kecuali karena kekerdilan berpikir para pemeluknya.

Zaman sekarang, gambar tidak lagi memberikan efek negatif dahsyat menuju kekufuran. Malah bermunculan hal-hal lain yang lebih membahayakan tauhid. Maka, amatlah ironis jika perkara gambar masih diperselisihkan urgensi dan akibatnya sedangkan di sisi lain masalah-masalah yang berkaitan muamalah masih begitu banyak yang terbengkalai dan masih banyak masalah di sana-sini yang belum terselesaikan lantaran berbenturan dengan konteks kekinian yang menuntut adanya pembaruan.

Pembuatan gambar-gambar atau patung merupakan salah satu bidang seni yang bisa mempertinggi kualitas jiwa, mengembangkan kecerdasan, dan juga merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa diabaikan begitu saja di masa kini. Tak pernah terdengar suara yang mengatakan bahwa Islam bertentangan dengan hal yang meninggikan jiwa dan mengembangkan kecerdasan, ataupun keinginan manusia untuk bergerak menuju perkembangan (kebudayaan dan peradaban). Bukankah Allah menciptakan manusia lalu menyempurnakannya? (QS. Al-A’la ayat 2). Untuk mencapai kesempurnaan itu, kita harus bergerak, tentunya dengan menghancurkan kejumudan dan stagnasi yang ada.

Bisa dibayangkan, seandainya Negara Islam impian para fundamentalis ekstrem itu berhasil berdiri dengan keharusan mengikuti berbagai syariatnya tanpa melihat situasi kekinian, selain akan timbul hipokrisi umat, kemampuan dan bakat para seniman (Muslim khususnya), akan ter-amputasi hanya karena beberapa cuil hadits pelarangan gambar makhluk hidup tadi, akan menjadikan kemampuan mereka mandul dan tidak bisa lagi bebas berkarya. Dan ini merupakan mimpi buruk menuju regresi. []

Cianjur, 10 Desember 2007

36 Tanggapan ke “Mengkritisi Hadits tentang Pelarangan Gambar dalam Islam”

  1. Seandainya agama dipahami dengan akal maka mengusap khuf adalah dibawah khuf (telapak kaki), bukan diatas khuf (punggung kaki) :)

    “An-Nawawi yang berhaluan Syafi’i mengikuti jalur asy-Syaukani bahwa gambar (tashwir) yang melukiskan (shurah) makhluk hidup dilarang keras, karena itu merupakan dosa berat, karena gambar itu menyerupai ciptaan Tuhan. Anehnya, ia membolehkan pembuatan gambar pepohonan atau gunung-gunung yang notabene adalah ciptaan Tuhan. Padahal ketika Allah.swt menantang hamba-hamba-Nya yang ingkar, Dia menantang mereka untuk menciptakan sebutir biji gandum. Nah, seandainya alasan pelarangan An-Nawawi terletak pada kemiripan dengan ciptaan Tuhan, maka semestinya ia mengatakan bahwa segala ciptaan Tuhan itu tidak boleh digambar, tak peduli apakah itu pepohonan atau gunung-gunung. Kita bisa saja beranggapan bahwa An-Nawawi (saat itu) belum mampu menangkap esensi hadits ini dan belum memperoleh alasan yang kuat dan logis bagi pelarangan gambar ketika ia mengatakan bahwa gambar itu menyerupai ciptaan Allah.”

    Perkataan diatas .. anda perhatikan lagi haditsnya dan keterangan anda sendiri, yang dimaksud dilarang adalah gambar bernyawa yang mempunyai ruh dan bisa bergerak sesuai kemauannya. sedang pohon dan gunung lain halnya dengan manusia dan hewan. :)
    Kemudian perumpaan dengan biji gandum, ALLAH tidak memerintahkan untuk gambarkan sebuah biji gandum, tapi ALLAH memerintahkan untuk menciptakan sebuah biji gandum yang sebenarnya .. :)

    Telaah dulu dalam-dalam. kemudian , hendaklah akal kita kita bawa kepada suatu pemahaman yang sesuai wahyu, apabila akal kita bertentangan dengan wahyu yang shahih, dimana hadits tersebut memang shahih, maka kita wajib mengimani (meyakininya) dan mengamalkannya, dan tidak menakwail-nakwil sehingga membuat penolakan dan pembenaran menurut hawa nafsu anda.
    dan apabila hadits tersebut tidak sesuai dengan akal anda apakah hadits tersebut anda tolak ..?? :) Bagaimana dengan apabila ada ayat Al Qur’an tidak sesuai dengan akal anda seperti masalah wajibnya berhijab, apakah anda mengatakan realita kontemporer seperti jaman ini dan tidak perlu berhijab, atau hanya sunnah saja berhijab itu, apakah anda berarti menolak ayat-ayat al qur’an ?

    jika anda menolak Al Qur’an dan hadits yang shahih berarti mengingkari apa yang di katakan dan diperbuat Rasulullah :) , jadi apa yang tersisa dengan keislaman anda yang berikrar tiada sesembahan yang berhak di sembah selain ALLAH dan Muhammad adalah Rasul ALLAH.

    Saya nasehatkan, apabila suatu ayat/ hadits tidak sesuai dengan akal kita, bisa jadi akal kita yang belum menemukan pemahaman yang benar tentang ayat tersebut, maka dari itu marilah kita kembalikan pemahaman kita yang benar kepada pemahaman para salafush shalih.

    Dan kita tidak boleh menakwil-nakwil dengan akal kita, karena para sahabat tidak pernah bertanya bahwa “apakah malaikat juga masuk kepada rumah orang-orang kafir ?” atau bertanya “bukannya gambar kotoran juga tidak boleh karena lebih kotor ?” mereka adalah seorang muslim, tang taslim dan berserah diri dan tidak bertanya seperti anda, mereka adalah orang-orang yang sami’na wa ‘athokna, dan mereka tidak menentang perkataan Rasulullah.

    Sedang di jaman nabi Sulaiman, apakah dijelaskan patung2xnya itu patung apa?

    Rasulullah selalu melarang sesuatu hal yang terkadang kita belum mengetahui kenapa hal ini dilarang, kenapa ? hal ini untuk mencegah timbulnya kemudhorotan yang lebih besar. Kenapa dilarang membuat patung ? sebelum jaman nabi Nuh ada orang yang membuat patung orang-orang sholeh, pada generasi mereka mereka tidak menyembahnya, tetapi setelah beberapa kurun generasi, mereka menyembahnya, nah hal seperti inilah yang berusaha di cegah oleh Rasulullah, selain itu patung juga di pakai tempat bermukim syaithan dan JIN.

    Mimpi buruk bagi generasi umat ini adalah apabila seluruh umat sudah tidak ada lagi yang menegakkan kebenaran sesuai dengan pemahaman para salafush shalih, tidak menegakkan agama dengan benar, dan tidak memisahkan antara yang haq dan bathil.

    Allohu’alam ..

    @decon
    Apa Anda ini lupa kalau manusia itu adalah homo sapiens, alias jenis makhluk hidup yang bisa berfikir dan tertarik untuk selalu bertanya dan bertanya? Saya sangat menghargai komentar Anda, namun tolong difahami dulu, bukankah untuk hal-hal yang bisa memberikan manfaat, maka ia diperbolehkan dalam Islam? Tolong, sekali lagi baca dan amati tulisan saya kembali. Dan, bersikap inklusiflah sedikit. Kedepankan akal, sebab beragama hanya bagi mereka yang berakal saja.

  2. Kepada penulis .. :)

    Sesungguhnya ISLAM ini sudah sempurna, dan merupakan gaya hidup, dimana Rasulullah telah menerangkan segalanya dan manusia tinggal mengikuti, bahkan sampai buang air di kamar mandi Rasulullah telah menjelaskan, apalagi dalam hal dakwah / nasehat :)

    Saudaraku,

    Memang benar agama untuk mereka yang berakal, sekarang saya tanya apkaah kamu Nasrani dan Yahudi berakal ? Mereka juga berakal, tetapi mereka tidak mau memahami Al QUr;an , tidak mau menerima adakwah Rasulullah bahkan mereka mengingkarinya dengan akal mereka, mereka menganggap mu’jizat Rasulullah adalah sihir dan sebagainya, apakah mereka tidak pakai akal?

    Kemudian, dalam memahami hadits dan tafsir Al Qur’an hendkanya kita kembalikan ke pemahaman para sahabat Rasulullah yang pada saat wahyu turun kepada Rasulullah, mereka ada diantara Rasulullah.

    Apabila kita terlalu mengedepankan akal kita dan mendewakan akal kita, maka kita bisa² tersesat, seperti kelompok Mu’tazilah, yang terlalu mendewakan akal.

    Hendaknya kita pergunakan akal kita sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah, yang selalu sami’na wa ‘athokna. Selalu mendengar dan ta’at. Apalagi dalam hal² yang memang belum pernah ada di jaman Rasulullah, hendaknya kita bertanya kepada ahlul ili (ULAMA) yang mereka paham benar dengan AL QUr’an, tafsirnya sesuai penafsiran para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak berdasarkan penafsiran akal pribadi semata.

    Apabila sesuatu hal memberikan manfa’at dseperti dakwah, maka dakwah merupakan ibadah, dan hendaknya ibadah dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah .. berdakwahlah sesuai tuntunan Rasulullah, tidak dicampur aduk antara yang haq dan yang bathil, dan lebih mengutamakan manfa’at dan madhorotnya.

    Adapun memberikan manfaat dalam hal yang mubah, seperti memberikan bantuan harta dan nasehat, hal ini tidak ada ketentuan selama hal tersebut tidak bertentangan dengan hukum ISLAM.

    Ada sebuah kaidah yang sangat bagus sekali yang asalnya seperti yang dikatakan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam kitabnya yang menakjubkan, I’lam al-Muwaqqi’in (I/344) : “Dan telah maklum bahwa tidak ada yang haram melainkan sesuatu yang diharamkan Allah dan RasulNya, dan tidak dosa melainkan apa yang dinyatakan dosa oleh Allah dan RasulNya bagi orang yang melakukannya. Sebagaimana tidak ada yang wajib kecuali, apa yang diwajibkan Allah, dan tidak ada yang haram melainkan yang diharamkan Allah, dan juga tidak ada agama kecuali yang telah disyari’atkan Allah.

    “Maka hukum asal dalam ibadah adalah batil hingga terdapat dalil yang memerintahkan. Sedang hukum asal dalam akad dan muamalah adalah shahih hingga terdapat dalil yang melarang.”

    Nah ini yang saya maksud, semoga bermanfaat. afwan jiddan …

  3. teriak-teriak melarang gambar tapi punya HP yang ada gambarnya dan suara musiknya

  4. Hmmm…hmmm….
    Singkat saja mas, jika kita mau mencoba MEMAHAMI Quran, maka kita harus memposisikan diri seperti Muhammad bin Abdullah, yah…minim dibawahnya sedikitlah…heks..heks…

    Qur’an itu merupakan AJARAN KEBENARAN yang bersifat DINAMIS, lalu mengapa kebanyakan para Penceramah Agama yg nota bene baru tingkat HAFALAN saja dah berlagak seperti Tuhan…?? dengan DOKTRIN2 menakutkan siksa apai Neraka…heks..heks…apakah mereka-mereka itu dah pernah RASAIN yah….Qur’an kok dibuat STATIS.

    Hadist…bukankah itu merupakan sebuah PENDAPAT yang brdasarkan kesepakatan orang2 masa lalu..?? Masihkah layak kita gunakan pada Jaman sekarang ini dalam kondisi dan situasi yg dah berbeda..??.
    JIka cocok kita pake, klu gak cocok…masak mo kita paksain dan cock-cocokin..?? ini sma saja dengan men DZALIMI diri sendiri.

    Siiippp….salut….dengan pemikiran mas yg KRITIS..
    Sepertinya ada kesamaan…neh.

    Salam.

  5. @…buat mas Decon…
    Salam kenal mas….

    Panjang lebar komentarnya yah….
    jangan Panjang-panjang mas kasihan tuh Ibu-ibu heks..heks…dan Jangan lebar-lebar…kasihan juga nati Bapak-bapak..hiks..hiks…

    Halah…halah…..
    ribet-ribet amat dengan HADIST….itu kan katanya orang, katanya Perawi…yang sejujurnya mereka-mereka itu gak selama 24 Jam mengetahui tindak-tanduk nya Muhammad bin Abdullah kok. Lagian…dah terbukti sejak Hadist digelar ke dunia ini….apa yang TERJADI…?? Pembunuhan masal mas…belum lagi setelah adanya Madzab-madzab bermunculan….berapa JUTA JIWA melayang tanpa dosa…?? Jika anda mau jujur peperangan antara 2 Madzab besar di Nisapur ( India )…nyawa manusia seperti gak ada harganya. Inikah yang dinamakan AJARAN KEBENARAN…?? Inikah implikasi yang dinamakan ISLAM adalah RAHMAT baggi seluruh Alam…??. Mereka-mereka ( Umat ) menjadai korban KEKUASAAN dan KETAMAKAN para penguasa pada saat itu dengan mengatasnamakan JIHAT AGAMA.

    Lah…semestinya jika para Sahabat Nabi tuh orang yang bener2 MEMAHAMI ISLAM….yang Rahman dan Rakhim ( Welas Asih ) kenapa mereka-mereka semuanya MATINYA dibunuh oleh orang lain…?? Tidak seperti Nabinya ( Muhammad bin Abdullah )…??. Sampai detik ini jika sampeyan mo JUJUR lagi, antara SYIAH dan SUNNI masih saja CAKAR_CAKARAN toh…Gontok-gontok-an toh…..

    Artinya apa…?? Muhammad bin Abdullah gak SALAH mas, Ajarannya Muhammad dah BENER mas….tetapi kita-kita umat ISLAM ini yang gak mudeng dengan SEJATINYA ISLAM….??

    Jika sampeyan dah ” Mbalung Sumsum ” dengan ISLAM,…
    Saya yg awam terhadap Islam ini mo nanya APAKAH ISLAM itu…??.

    Salam
    Kera Ngalam – Ongis Nade.

  6. Saya mohon maaf sebelumnya, karena saya sama sekali bukan ahli hadis, tidak mengerti matan dan yakin bahwa agama itu memberikan kemudahan dan jalan yang lurus. Apa yang ditegaskan Allah dalam pengharaman menurut hemat agor, begitu detil. QS 5:3 …. tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang diterkam binatang buas,… kecuali sempat menyembelihnya….
    Begitu terinci dan jelas. Allah juga mengingatkan kita agar jangan manusia mengharamkan yang Allah dan Rasul tidak memberikan petunjuk.
    Hadis itu sendiri (karena jumlahnya banyak dan statusnya juga beragam – yang semua status adalah produk penilaian manusia) maka harus dibandingkan dengan mainstreamnya. Kalau menggambar itu begitu pentingnya, logislah Allah memberikan catatan kepada kita secara khusus, kalau tidak, tentu menyerahkan pertimbangannya pada manusia. Dan manusia melihat dari kemanfaatannya, dari esensinya, dari kelogisannya. Karena itu, wajar Yusuf Qardawi atau Abduh memiliki pendapat seperti Mas uraikan itu. Begitu juga dosa, yang ditegasi dan penghukuman adalah hak perogatif Allah.
    Bahwa pemahaman mengikuti generasi sahabat Nabi dan seterusnya juga adalah pandangan yang layak kita hormati. Jika mereka karena ketulusan hati dan ketakutannya melanggar sedikitpun (bila melanggar) larangan Allah, maka tentulah Allah merahmati mereka.
    Ada kisah bahwa si A, mendongkak ke langit saja tidak berani. Sangat takut dengan pengawasan Allah. Luar biasa !. Tak akan ditemui pada jaman ini orang seperti itu (mungkin). Dalam kisah, Allah juga maha mengerti, maha mengetahui isi dada manusia – kafir atau beriman.
    Esensinya, jika ada perbedaan, haruslah kita hormati. Kita bukan orang yang diberi hak seperti malaikat untuk menghukum manusia (atas perintahNya tentu).

    Sedikit kembali kepada contoh yang diharamkan, terdapat kata yang menurut saya menarik :, kecuali sempat disembelih … Betapa komposisi kata dan detilnya lengkap.

    Jadi, dalam banyak hal, saya percaya dan berusaha meyakini bahwa segalanya telah Allah rincikan, apa yang perlu bagi manusia dalam menempuh jalan yang lurus.

    Begitu juga dengan pilihan untuk berkreasi dengan akal pikirannya terhadap gambar dan melakukan pemilahan.

    Kalau ingin menggambar tanpa mahluk hiduppun, sesungguhnya, menurut agor nyaris tidak mungkin. Yang paling tepat tentulah TIDAK MENGGAMBAR. Coba kita simak ayat yang menjelaskan soal amanat QS 33:72, menyampaikan amanat kepada langit, bumi, gunung-gunung, tapi mereka enggan menerimanya. Suatu titik informasi bahwa semua adalah mahluk Allah, semua ditanya. Masihkan kita berpikir bahwa jiwa itu hanya pada mahluk hidup seperti hewan dan manusia. Sedang gunung saja di tanya Allah.

    Jelas di sini gunung-gunung menjawab. Apakah kita akan mengatakan gunung tidak berjiwa?.

    Jiwa?. Sungguh, mari kita yakini, pengetahuan tentang ini hanya sedikit saja.
    Jadi, tidak perlu menjadi liberal untuk melakukan pilihan, dimana tampak jelas sesungguhnya posisi yang diinginkan Allah dan penjelasan Rasulnya.

    Wassalam, agor

  7. @ agorsiloku
    Jujur, membaca beberapa pernyataan Anda, saya ingin sekali “mendebat” Anda (dalam tanda kutip ya). Hanya saja jika saya menilik dari segi kepraktisannya, saya cenderung setuju dengan kang Agor. Sudah terlalu capek saya mikirin hal2 seperti ini. Ya, saya ambil manfaatnya saja.

    Jadi, tidak perlu menjadi liberal untuk melakukan pilihan, dimana tampak jelas sesungguhnya posisi yang diinginkan Allah dan penjelasan Rasulnya

    Statemen yang cukup bijak…

    Terima kasih sudah berkenan memberi opini…

    Salam,

  8. Salah satu yang wajib diyakini kaum Muslim adalah Al Quraan.

    Jangan ditambah-tambah dengan hadist atau sunnah Nabi.

    Tak ada itu. Jangan pandai-pandaian melebihi dari Yang Memberi Wahyu.

    Hanya akal-akalan Asisten Nabi yang mau numpang top.

    Kalau belum mengerti suatu ayat di Al Quraan, ulang baca lalu shalat.

    Jika sudah dimengerti, amal kan.

    Begitu mudahnya Al Quraan dipahami, koq bisanya hal-hal sepele diputar kesana balikkan kemari, tak tentu ujung pangkal.

    Mau kemana dibawa Islam itu ? Ke pasar ?

    Jangan kurang kerjaan lah. Terus beralasan memperdalam, menambah wawasan, mempertebal iman dst.

    Mending gali tuh parit-parit yang tumpat. Biar lancar. Bebas banjir. Amal dunia dan akherat jelas terbukti.

    Sudah paham semua ? Belum ?

    Jangan taruh di dengkul. Baca Al Quraan, dimana letak seharusnya kan ada tercantum.

    Syukur-syukur ada yang segera tobat setelah baca komentar.

    Kalau belum tobat sekarang aku percaya nanti pasti tobat.

    Kenapa ?

    Sebab komentar aku, sangat teramat paling benar !

  9. inikah… :shock: *menahan napas* ta premiere poste?
    ckckck… dibuka dg hadits 8) cool….

    *setelah baca2*
    Ah saya kira sudut pandang seseorang berevolusi juga seiring berjalannya waktu & bertambahnya kedewasaannya, feeling saya sih inilah pemikiran esensi saat tulisan ini ditulis setahun yllu (cuman feeling, boleh bener, sangat mungkin salah :mrgreen: )

    @ adek saya
    “Kedepankan akal, sebab beragama hanya bagi mereka yang berakal saja”
    apakah sampai saat ini kau masih berpendirian begini? at least setelah kau baca al milal wan nihal? (tau ttg mu’tazillah?) ^-^ hmmmhh…, lagipula aku yakin kau yg sekarang sudah bisa bedain mana hadits yg sahih & yg dhaif ataupun maudhu’

    @ pak Kariyan
    njenengan kera ngalam toh??! :shock: weleh…weleh.., kita tetangga pak! nanging kulo mboten doyan bal2an koyok singo uedan kae :mrgreen:

    @ Rajabasa
    saya suka komen anda ^-^ terkesan agak “tiran” ;p cakep…
    Tp duh, baca komen anda kok bikin saya teringat hadits tsaqolain & pelajaran takhrijul hadits yah?? :roll: (jd keinget deh klo minggu depan ujian :cry: )

  10. Assalamualaikum..

    Setelah saya baca, saya ko jadi ga yakin ya kalo yang menulis ini umat nya Muhammad (baca : Muslim) dan saya ga yakin juga kalo yang menulis ini benar-benar mengkaji. Untuk mas decon terima kasih sarannya yang mencerahkan. :-)

    Wassalamualaikum

  11. @ Catatan Muslim
    Wa’alaikumussalam, salam sejahtera bagi Anda.
    Mm… boleh saya tahu argumen Anda, apa yang mendasari Anda sehingga Anda “yakin” kalau saya bukan umat Rasulullah.saw? Saya terkejut, sekaligus penasaran, bagaimana bisa, seorang manusia yang tidak memiliki kuasa layaknya Tuhan, bisa mengklaim seseorang itu muslim atau tidak. Mohon mas, saya menghendaki diskusi, bukan vonis. Siapa tahu, saya bisa merevisi pandangan saya ini. Toh jika sampai demikian, maka anda sudah “mengembalikan” saya ke jalan yang “benar” :-)

    Tolong jangan membuat saya kecewa, karena sejak awal yang saya harapkan dengan “sengaja” membawa anda ke postingan ini, adalah untuk bertukar pikiran dan berani terbuka. ;-)

  12. Rajabasa Berkata
    22 Nopember, 2008 pada 2:47 am

    Salah satu yang wajib diyakini kaum Muslim adalah Al Quraan.

    Jangan ditambah-tambah dengan hadist atau sunnah Nabi.

    Santri Gundhul Berkata
    29 Maret, 2008 pada 5:38 pm

    Hadist…bukankah itu merupakan sebuah PENDAPAT yang brdasarkan kesepakatan orang2 masa lalu..?? Masihkah layak kita gunakan pada Jaman sekarang ini dalam kondisi dan situasi yg dah berbeda..??.
    JIka cocok kita pake, klu gak cocok…masak mo kita paksain dan cock-cocokin..?? ini sma saja dengan men DZALIMI diri sendiri.

    ———-

    >> Assalamualaikum, numpang komen dikit:
    bukankah tuntunan hidup kaum muslimin itu adalah Al Quran dan Hadist ya? wah rasanya kok jaman sekolah dulu, itu yang saya dapat dari pelajaran agama… apa saya salah mengingat?

  13. ^
    *ngomong apa sih?*

  14. Wah, seru juga pembahasannya. Saya juga sedang ruwet masalah gambar-gambar. Karena suami tidak ingin difoto pada pernikahan adik saya. Ibu saya sangat kecewa. Saya juga. Saya coba cari-cari tahu sebenarnya bagaimana. Tetap saja membingungkan karena ada yang bilang foto boleh dan ada juga yang berfoto dilarang.
    Kini saya sedang berada pada tahap konflik mengenai hal tersebut dengan suami saya. Saya cuma sangat kecewa karena membuat ibu saya juga kecewa.
    Seandainya ada nabi saya akan bertanya mengenai hal ini. Dan kalau rasulullah mengatakan foto haram, saya akan sami’na wa atona. tapi jaman dulu foto tidak ada ya? jadi solusinya juga tidak, ada bisanya memendam kekecewaan dalam diri ini……. sengsaranya ya…

  15. aduh ane jadi tambah bingung nih, kebetulan ane seorang animator yang kerjanya menggambar dan membuat animasi, tadinya ane pengen cari keterangan lebih jelas tentang hukum membuat gambar menurut alquran dan sunah rasul, tapi setelah baca komen ete-ente sekalian malah jadi pusing…….., soalnya lama-lama komentarnya jadi pake nafsu gak pake hati lagi, hoalah….piye toh…..?
    jadi yang bener yang mana….?
    tapi ane mau tanya ente-ente pada suka nonton TV kaga sih, trus gimana dengan Tv isinya kan kebanyakan gambar makhluk hidup, wah pada masuk nereka semua dong yang kerja di TV ya.
    trus yang nonton TV nya masuk neraka juga ngga.
    au ah… Ya Allah tolong beri petunjuk hambamu ini.

    • Salam kenal mas, saya empu blog ini. Tulisan di atas adalah apa yang menjadi pandangan saya berkenaan gambar. Cari saja kesimpulan dari situ, kalau Anda bingung dengan komentar-komentar di bawahnya.

      *saya malah jadi bingung, Anda kok fokusnya ke komentar ya, bukannya ke isi postingan*

      NB: e iya, apa beberapa komentar saya di atas bernada emosi?

  16. ckckckckck edaaann, bagus banget artikelnya…ada yang setuju dan tidak sah sah saja…kalo saya ? hehehe selama gambar masih memberikan dampak positif kenapa tidak ? Dosa itu ! haram…! yaaahhh kalo gitu berbuat baik ke orang lain…berguna untuk orang lain…untuk menyeimbangkan kadar dosanya hahahaha…gitu aja kok repot…

    beberapa waktu lalu ebes kehilangan nafsu sex nya. lalu mencoba coba main perempuan…waahhh gila neh..saya bilang …jangan bes..kegedean dosanya..mending onani pake gambar sex di kamar mandi. Dosa memang tapi nggak banget banget kali.

    Jadi untuk case ini ada dua dosa ? dosa onani dan dosa melihat gambar sexy ? Tapi setidak tidaknya masih lebih baik dari zina bukan ? Gambar sexy bisa membantu orang mengurangi dosanya….

    Wahh sori mas Aris…nglanturnya kejauhan..

  17. el-khulq Berkata

    memang, orang2 yg islamnya liberal selalu punya dalih untuk melawan Allah dan RasulNya

  18. Ya Allah, hamba-Mu ini di anugerahi bisa menggambar (Maaf : Bukan bermaksud sombong), dan dari sanalah hamba mencari nafkah. Masa gambar di haramkan sih. Mungkin gambar yang di maksud Rasulullah SAW itu yang di sembah. Maksudnya itu mungkin.

  19. Dan juga saya menemukan hadits lagi (Nggak tahu haditsnya gimana, lupa lagi euy). Yang pasti hadits tersebut menjelaskan tentang bantal yang bergambar tapi biasa di pakai Rasulullah SAW untuk bersandar. Nah makin jelaskan, masa gambar diharamkan sih, kalau memang gambar itu diharamkan, Rasulullah SAW nggak akan bersandar ke bantal itu. Sekali lagi, mungkin maksud Rasulullah SAW, gambar yang diharamkan itu adalah gambar yang disembah (Mungkin, he … he … he … .). Saya sangat percaya Al-Qur’an dan Hadits. Namun perlu diketahui bahwa kedua-duanya harus dipahami dengan logika dan akal sehat.

  20. Dan kalau gambar diharamkan, maka lampu (Mirip Matahari), rumah (Mirip Gua), Kendaraan (Mirip Kuda atau Unta) akan di haramkan donk, kan semuanya persis ciptaan Allah SWT. Sekali lagi Islam itu tidak sesulit yang di bayangkan. He … he … he … .
    Kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr … . !
    Kalau Nabi Muhammad SAW digambar (Yah kalau itu memang jelas tidak boleh).
    Tapi kalau menggambar yang lain ?
    MQ pakai gambar (Animasi dan Komik), MIZAN pakai gambar (Komik, dll),
    dan itu semua adalah perusahaan Islam.
    Ngacirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr … . !
    Ngacirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr … . !

  21. Apa yg dilarang pasti ada hikmahnya untuk manusia itu sendiri..
    masalah dirimu mau melanggar atau ndak, y tanggung sendiri akibatnya..

    cuma mau mengingatkan, jika ingin mengkritisi suatu hal jangan sampai kebablasan..

    jangan sampai apa yg anda syiarkan (terutama menyangkut aqidah) sama dengan kaum wahabi, ataupun liberalis.

  22. assalamu’alaikum

    saya sangat senang dgn pnjelasan dr smua’y
    kbetulan sya adalah mangaka, slama ni sya sdah cri tntang hukum yg bnar
    tp jwaban’y slalu dpt dua, boleh dan haram. tp menurut sya, gambar yg dimaksud Rasulullah SAW, adalah gambar yg dibuat khusus ntuk disembah atau dipuji-puji layak’y lukisan itu adalah dewa.
    terima kasih ntuk penulis blog ini.

    wassalam

  23. thanks tulisannya

  24. KITA WAJIB SELALU BERUSAHA MENCARI KEBENARAN, TERMASUK TENTANG MASALAH GAMBAR. JANGAN MERASA PALING BENAR. KEMBALIKAN PERSOALAN KEPADA AHLINYA. MASALAH HALAL HARAM TANYA PADA ULAMA, BUKAN PADA YANG LAIN. TIDAK CUKUP SATU ORANG ULAMA, NAMUN CARILAH KEBENARAN DENGAN BERTANYA KEPADA BANYAK ULAMA SUPAYA BISA MEMAHAMI MASALAH YANG SEBENARNYA.

  25. muhammad anshari Berkata

    orang orang yang mendahulukan akal ketimbang iman dan islam,memang selalu mendahulukan hawa nafsu dan akal sebagai bahan pertimbangan.dan selalu berusaha seolah hebat dan mampu mengkritisi hadits.semoga kita semua dikuatkan iman sehingga selalu ’samiืna wa atha na terhadap al qur an dan sunnah.hati hati terhadap pemikiran orang orang JIL (jaringan islam liberal).jangankan hadits…al quran saja berani mereka kritisi dan obok obok.tujuannya memang ingin menghancurkan islam dari dalam dengan membuat orang islam ragu dan bahkan meninggalkan islam itu sendiri.

  26. muhammad anshari Berkata

    mereka dengan bangganya menyatakan bahwa mereka lihai dan mengetahui bahkan faham terhadap agama ini. tapi kepahaman mereka adalah kepahaman yang justru membawa mereka makin jauh dari Allah.”Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, Allah akan fahamkan kapadanya dalam soal agama” (Al Quran)

  27. muhammad Berkata

    tak salah lagi itu adalah pemikirannya orang-orang JIL.saya kenal dengan mereka dan cara propaganda mereka. hati hati…

  28. nelly musiana Berkata

    ALLAH memberikan kita otak untuk berfikir mencari mana yang benar. ALLAH memerintahkan pada kita untuk terus belajar & belajar. Seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china”. Atau “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat”. Banyak bertanya kepada para ulama itu lebih baik agar apa yang kita pelajari tidak salah faham dalam pemahamam & penerapan.

  29. @ nelly musiana
    Memang demikian, tapi ada kalanya untuk beberapa hal, saya lebih cenderung memegang prinsip “istafti qalbak”.

    .
    .
    .

    @ muhammad

    tak salah lagi itu adalah pemikirannya orang-orang JIL.saya kenal dengan mereka dan cara propaganda mereka. hati hati…

    Ya, terima kasih atas nasihatnya.

    .
    .
    .

    @ muhammad anshari

    mereka dengan bangganya menyatakan bahwa mereka lihai dan mengetahui bahkan faham terhadap agama ini. tapi kepahaman mereka adalah kepahaman yang justru membawa mereka makin jauh dari Allah.”Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, Allah akan fahamkan kapadanya dalam soal agama” (Al Quran)

    a mbuh, Mas.

  30. Allahu Akbar! , lihat, ada yang mengkritik Rasulullah.

Tinggalkan Balasan