Beragama = Keseimbangan Akal & Iman

SENIN tanggal 6 April 2008 malam kemarin, setelah ba’da Isya’ dan hendak tidur, saya berencana bangun pukul 23.30-an karena ada satu urusan tertentu. Menjelang tidur, dalam hati saya berdo’a agar Allah berkenan membangunkan saya pada jam yang saya rencanakan. Sempat terbersit dalam hati untuk menggunakan HP sebagai alarm kalau-kalau saya kebablasan tidur. Namun entah mengapa, saat itu saya lebih memilih untuk tidak menggunakan HP (HP-nya saya tinggal di suatu tempat, tidak saya bawa). Saya malah berpikir, “Ah, kalau Allah menghendaki, apa sih yang tidak mungkin? Tanpa bantuan alarm-pun, saya pasti bakal dibangunkan oleh Allah, seperti hari-hari biasanya (walaupun hari-hari biasanya sambil tetap memasang alarm memang). Ya, benar, saya serahkan saja deh semuanya pada Allah, tak mau saya terus bergantung pada alarm, sebab memakai alarm atau tidak, toh tetap saja saya dibangunkan oleh Allah. Ya sudah, percaya saja lah. Bismillahirrahmaanirrahiim…”. Saya pun terlelap.

Namun tanpa saya sangka, saya bangun pukul 01.30 dinihari, berarti lewat 2 jam dari jam bangun yang direncanakan! Betapa kagetnya saya. Namun syukurlah, ternyata urusan saya tidak mengalami masalah meski saya terlambat bangun. Meski, tentu saja dalam hati saya masih merasa dongkol, dan ada sedikit rasa marah. Hati kecil saya sempat protes kepada Allah, “Saya sudah mempercayakan dan memasrahkan semuanya pada-Mu Ya Rabb, kok ya masih tega-teganya Engkau membangunkanku sebegitu telat?!”. Langsung saya ke ruangan dimana HP saya, saya tinggal. Betapa terkejutnya saya ketika di layar begitu banyak daftar miscall dan SMS yang masuk, terlebih lagi ketika saya lihat ­time-nya, semuanya masuk antara pukul 23.30 sampai 00.15! Itu berarti tepat dengan rencana jam bangun saya! Sejenak saya berpikir, andai saja saya menyimpan HP saya di saku sebelum tidur tadi, pasti saya akan terbangun oleh nada dering dan nada SMS yang masuk, belum lagi kalau saya mengaktifkan alarm, belum ditambah lagi dengan memohon kepada Allah, berarti saya punya 3 backing alternatif yang bisa membuat saya bangun tepat jam segitu.

Wah, betapa menyesalnya saya. Lebih menyesal lagi bahwa tadi hati ini masih sempat-sempatnya protes dan marah kepada Allah, lha wong kenyataannya kesalahan terbesar ada pada diri saya sendiri. Bukankah Allah tidak akan mengubah takdir dan nasib seseorang jika seseorang itu tidak mau berusaha? Iya, benar, saya tidak mau berusaha dulu, malah langsung seenaknya menyerahkan urusan saya kepada Allah. Akhirnya, saya malah ketawa sendiri menyadari kesalahan dan kebodohan saya. Saya ini beragama, dan beragama tentulah mesti mengedepankan akal, atau tepatnya, menyeimbangkan akal dengan iman.

Ingatlah saya akan satu kisah di masa Rasulullah.saw. Konon, seorang sahabat yang membawa untanya, hendak sholat. Setelah ia mengambil wudhu dan masuk ke mesjid, kebetulan Rasulullah.saw ada di dalam, dan menyapa,

“Dimanakah untamu?”. Sahabat tadi menjawab, “Aku biarkan ia di depan Ya Rasul.” “Apakah engkau mengikatnya?,” tanya Rasulullah lagi. “Tidak Ya Rasul, aku mempercayakan untaku pada Allah, aku titipkan ia kepada Allah, biar Allah saja yang menjaganya.” “Kembalilah dan ikatlah dulu untamu agar ia tidak lepas atau dibawa orang, baru setelah itu engkau sholat,” kata Rasulullah. “Tapi… bukankah engkau mengajarkan kepada kami agar menyerahkan semuanya pada Allah?,” kata si sahabat masih ngeyel. “Kembalilah, dan ikatlah untamu. Sebab engkau belum berikhtiar. Setelah berikhtiar, baru kau pasrahkan semuanya pada Allah”, jawab Rasulullah. Dan, si sahabat-pun paham, lalu keluar kembali untuk mengikat untanya.

Begitulah. Kemudian saya pun ingat satu lagi anekdot menarik mengenai pentingnya berusaha, menggunakan akal, baru kemudian ditambah dengan iman. Kisahnya mungkin sudah tidak asing lagi.

Ada seorang ‘abid (ahli ibadah) di suatu desa. Suatu masa, desa tersebut dilanda banjir dahsyat disertai gemuruh angin kencang. Semua penduduk berusaha menyelamatkan diri dan harta benda. Hampir semua penduduk sudah mengungsikan diri, kecuali si ‘abid, ia masih berdiam tak bergeming, memandangi semua kejadian di depan matanya sambil tak henti-hentinya melantunkan dzikir. Hingga kemudian lewatlah seorang tetangganya, dan demi melihat si ‘abid masih diam saja, ia berteriak,

“Ayo cepatlah ikut kami! Banjir ini sudah begitu parah! Ia akan menenggelamkan desa! Cepat selamatkanlah dirimu!”. Namun apa jawab sang ‘abid tersebut? “Tidak! Aku lebih memilih tinggal disini! Aku lebih memerlukan pertolongan Allah!” “Aa…, apa?!,” tetangga sang ‘abid cukup terkejut. “Aahhh! Ya sudah! Terserah kau saja!”

Sang ‘abid ditinggal pergi, kini ia sendirian. Dalam waktu sekejap, banjir sudah merendam rumah-rumah. Sang ‘abid kini berada di atap genting, sambil menengadahkan tangan, berdo’a agar Allah segera memberi pertolongan padanya. Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba datanglah Tim SAR.

“Apa yang Anda lakukan disini?! Mari ikut kami menyelamatkan diri!” Sang ‘abid malah menjawab, “Tidak! Aku sedang menunggu pertolongan Allah, bukan menunggu pertolongan Tim SAR! Sudah! Kalian pergi saja!”

Tanpa banyak bicara, anggota Tim SAR pergi meninggalkan tempat sang ‘abid dengan diiringi tatapan saling pandang. Sang ‘abid sendirian lagi. Kini banjir hampir menenggelamkannya. Hujan angin disertai petir yang menyambar tidak membuat sang ‘abid goyah. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan berdo’a dengan begitu lirih dengan penuh ratapan,

“Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, bahwasannya aku yang lemah ini kini berada dalam satu bencana dahsyat yang tak lain adalah dari-Mu. Maka, aku mohon dengan sangat akan pertolongan-Mu. Aku percaya pada-Mu sebab Engkau tidak pernah menolak do’a dari hamba-Mu di saat-saat genting seperti ini. Amiin…”

Belum selesai sang ‘abid menurunkan tangannya, tiba-tiba datanglah sebuah helikopter menghampirinya. Satu lambang palang merah dan salib tersemat di badan helikopter itu. Muncullah seorang awak dari dalam heli dan berdiri di pintu heli.

“Tuan! Marilah ikut kami menyelamatkan diri! Sebentar lagi badai besar akan datang menerjang. Ulurkan tangan Anda!”. Namun apa jawaban sang ‘abid? “Cuih!! Tadi tetanggaku dan Tim SAR saja aku tolak, sekarang mana sudi aku menerima bantuan dari kafir-kafir macam kalian?!! Kalian pastilah agen Zionis-Yahudi! Enyahlah dari sini! Aku tidak butuh bantuan apalagi pertolongan kalian!”

Pergilah helikopter itu tanpa banyak cingcong lagi. Sang ‘abid masih melantunkan dzikir tak habis-habisnya. Hingga kemudian datanglah badai besar disertai kilat yang menyambar. Sang ‘abid pun terhempas jauh setelah sebelumnya tersambar petir. Singkat kata, di akhirat, ia protes kepada Allah.

“Ya Allah! Kenapa Engkau tak jua memberiku pertolongan?! Padahal saat itu aku sudah berkali-kali memanjatkan do’a?! Apa yang kurang dariku?!”. Allah pun menjawab, “Kamu kurang menggunakan akalmu! Kamulah yang bodoh, padahal kau sudah diberi peringatan dan ajakan oleh tetanggamu, tapi kau tolak. Aku kirimkan Tim SAR padamu, juga kau tolak. Terakhir, Aku datangkan helikopter, kau malah mengoceh masalah kafir, Zionis, dan Yahudi. Terakhir kau malah mengusir mereka juga. Dimana otakmu waktu itu, hah?!”

Konon, sang ‘abid tersebut hanya bisa diam…, bungkam…, tak berdaya!

Nah, entah darimana asalnya kisah tadi, yang jelas, saya tertawa saja kalau mengingatnya, mirip dengan apa yang saya alami. Maka, makin yakinlah saya sekarang, betapa beragama mestilah memakai akal dan iman, sebab keduanya merupakan komponen integral yang niscaya, untuk kembali menuju Allah, dengan selamat. []

Bandung, 8 April 2008 [00.19 WIB]

10 Tanggapan ke “Beragama = Keseimbangan Akal & Iman”

  1. Salut. Artikel ini sungguh mencerahkan. Sikap beragama yang fatalis adalah “penyakit” lama yang sulit “disembuhkan”. Biasanya sangat mengganggu dan bahkan bisa meneror orang-orang yang beriman dengan disertai akal sehat.

    Tipe pemeluk agama seperti inilah yang sepanjang zaman dieksploitasi oleh kalangan politik agama, termasuk anak-anak lugu di Palestina yang dijanjikan masuk sorga dan menikmati privilese bersifat sovenis maskulin di sana — asalkan mau mati konyol dengan bom bunuh diri yang akan menewaskan pula orang-orang lain. Hanya orang yang masih mampu menggunakan akal sehatnya yang bisa bertanya : kenapa bukan para penganjur itu aja yang mampus duluan dengan bom bunuh diri itu; kok beraninya mengorbankan orang lain ?

    Belakangan ini aku menemukan banyak artikel fatalis di blogsphere Indonesia, umumnya ditulis oleh blogger perempuan. Dengan bangga dan bahagia mereka bilang : lebih baik pacaran setelah menikah. How come ? Kalau arti positif pacaran adalah mekanisme sosial untuk mengenal lawan jenis yang dihasratkan untuk jadi pasangan hidup, bukankah lebih baik pacaran dulu daripada “membeli kucing dalam karung” ?

    Dari cerita Anda dan contoh-contoh di atas, tentu kita akan bertanya apakah sikap fatalis dalam beragama itu berakar dari kejiwaan yang masokhis ?

    Atau jangan-jangan lebih parah lagi, dengan memasrahkan sampai semua urusan tetek bengek kehidupanya “tergantung kehendak Allah semata” sebenarnya orang-orang itu sudah keenakan jadi manusia yang tidak bertanggungjawab; seperti anak manja yang menggunakan kelemahannya sebagai senjata untuk menjajah orang tuanya ?

  2. yaps, sepakat banget,. banyak orang yang hanya sekadar berserah diri, bahkan menyerah total kepada Sang Pencipta, tanpa diimbangi usaha dan kerja keras. sikap semacam itu *halah sok tahu* agaknya hanya akan menciptakan pemalas2 baru. Namun, Allah telah mengatur segalanya. Tanpa usaha dan kerja keras, kita hanya akan menjadi “pertapa” di dunia ramai. sebaliknya, tidak sedikit juga yang takabur, semua sukses yang diraih karena usaha dan kerja kerasnya semata, tanpa mau mengakui kebesaran Sanag Pencipta. Asraghfirullah!

  3. @ Robert Manurung
    Komentar Anda pun memberi saya masukan dan informasi baru, sekaligus mengingatkan saya akan satu hal penting berkenaan sikap salah-kaprah mayoritas umat beragama dewasa ini, yang cenderung status quo-is, sekaligus sulit didobrak paradigma ngawur semacam itu (dalam istilah kita dan telah Anda gunakan; fatalis). Dan saya pun yakin bahwa Anda tahu, jika kita menyentuh wilayah ini lebih jauh lagi, bukan hal mustahil kita bakalan di-cap sesat, kafir, dan dihalalkan darahnya–tentunya dengan justifikasi teks-teks Al-Qur’an. Nah, pusing saya!

    @ Sawali Tuhusetya
    Saya harap semua pengunjung blog ini membaca baik-baik komentar Anda, Pak. Terima kasih.

    Salam,.

  4. ;:sekedar saran, coba cek ulang, yang benar Jamnya Allah atau SMS pada HP dan kepentingan di Jam itu…, sebab Allah biasanya Maha Tepat waktu…, memasrahkan itu sebenarnya menetapnya keyakinan pada diri kepada yg dipasrahkan sebab yakin kalau yang dipasrahi amat ahli pada aspek tersebut…dan pasti benarnya….jadi mungkin bisa lebih dilihat maksud dibangunkannya pada 1:30 itu… saran aja siapa tahu ada kepentingannya…dan lebih meyakinkan dibanding jika bangun pukul 23:30…jika tidak biasanya diingatkan dengan hal lain, yang diikuti dengan kemalasan untuk melakukannya…

  5. @ zal
    Ketiga-tiganya benar, lho Pak. Namun dalam perspektif saya (dengan catatan bahwa ini pun berangkat dari beberapa pengalaman saya yang sudah2), memasrahkan berarti sudah harus ada pengorbanan atau modal keluar dulu. Dalam kenyataannya, bukan sekali dua kali saya “memasrahkan” beberapa hal langsung kepada Allah, dan dikabul sebagaimana mestinya. Hanya saja, jika memang saya tetap “dibiarkan” demikian oleh-Nya, saya sendiri jadi berpikir, “lantas buat apa saya dianugerahi akal?”. Yah, setidaknya saya bisa melakukan uji eksperimen, atau ya katakanlah sekedar spekulasi “sinting”; menebak apakah saya bisa memprediksi apa yang sekiranya akan Dia lakukan. Untuk masalah waktu dan kepentingan berkenaan apa yang saya utarakan di atas, bukanlah faktor esensial menurut saya. Yang ingin saya sampaikan hanyalah sebatas pesan singkat, bahwa mesti ada semacam kolaborasi antara logika dan iman. Antara berusaha dan pasrah. (Mengenai ini sudah banyak dibahas di blog2 lain kok). Terakhir, saya lebih tertarik dengan kalimat Anda yang satu ini, “…sebab Allah biasanya Maha Tepat waktu…”. Kata “biasanya” itu sebetulnya menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa Allah bisa saja sewaktu-waktu “telat waktu” ‘kan? Maaf kalau tanggapan saya kurang memuaskan.

  6. ::he..he..he…kan sekedar share aja…, siapa tahu ada kepentingan yang lebih terlihat, sehingga membangun yakin, bahwa keputusan Allah sebenarnya jauh lebih baik dibanding keinginan kita,
    hei…kalalu menggunakan kata “biasanya”, sebenarnya tidak ada putusan ketepatan selain ketepatan Allah itu sendiri…
    apa yang ada faham padaku, bahwa manusia tidak serta merta mempunyai akal, yang mula ada itu naluri, dengannya membangun kebiasaan, lalu ada sentakan pengetahuan, darinya timbulnya perenungan, lalu manusia menjadi mengetahui, dari sini fikiran akan berproduksi dengan sendirinya dari apa yng dipandangkan, dari apa yang diperdengarkan, dari apa yg dirasakan, lalu akan ditanamkan kefahaman, dan “tiba-tiba bisa membaca sehingga tidak lupa”, namun memang seperti kata Allah “sesungguhnya manusia itu amat sangat ingkar”, inilah menjadi tantangan tersendiri…sebab memang amatlah mudah kita diombang-ambingkan..dan rasanya dengan segala apa yg ditahukan ada uji-ujian untuk membangun dan ditetapkan…wallahu a’lam…

  7. @ zal
    …siapa tahu ada kepentingan yang lebih terlihat, sehingga membangun yakin, bahwa keputusan Allah sebenarnya jauh lebih baik dibanding keinginan kita…
    Well, ternyata Anda sudah selangkah mendahului saya dalam mengupas esensi pengalaman ini. Saya pun tidak meragukan fakta itu kok, Pak. Dan jauh-jauh sebelumnya pun, saya (alhamdulillah) paham bahwa kehendak Allah-lah yang lebih baik buat makhluknya, siapapun itu.
    .
    …hei…kalalu menggunakan kata “biasanya”, sebenarnya tidak ada putusan ketepatan selain ketepatan Allah itu sendiri…
    Maaf, ini sedikit melenceng dari pesan personal yang telah saya tuliskan. Sebab, saya memandang statemen Anda yang satu ini dari perspektif “seorang manusia”, dan pada kenyataannya memang tak ada satupun (umat Muslim) yang menyangkal akan ketepatan Allah. Kita bicara dalam lingkup pemikiran manusia, Pak, bukan dari sisi over-judge Tuhan. Jika masih diperdebatkan, mungkin saya harus memandang komentar bapak yg satu ini menjadi “sebab Allah tidak pernah tidak Maha Tepat waktu.
    .
    …namun memang seperti kata Allah “sesungguhnya manusia itu amat sangat ingkar”, inilah menjadi tantangan tersendiri…sebab memang amatlah mudah kita diombang-ambingkan…
    Berarti dalam kacamata bapak, saya ini (secara implisit) sudah masuk kategori ingkar itu, ya… Saya terima kok “vonis” semacam itu.

    Terima kasih atas kesediannya memberi lagi komentar.

    Salam,.

  8. “mengapa Harus Berserah” di sana saya belajar untuk mengatakan “YA”, tidak bertanya ttg bagaimana atau apa jadinya nanti….

    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2008/02/18/katakan-ya-pada-hidupmu/

  9. banyak hal yang dimungkinkan dengan kejadian yang juragan alami.
    singkat kata juragan jadi (kembali) diingatkan tentang maksud kepasrahan kepada Illahi. musti berikhtiar baru berpasrah. pasrah bukan berarti “menyuruh” Tuhan bekerja untuk juragan (dan kita). jujur saya selalu berpedoman pada 2 kisah tadi kalo bertemu dengan soal pasrah pada kehendak Illahi.
    secara panjang kata, bangunnya juragan yang lebih lama 2 jam (cuma 2 jam) akan membuat orang (minimal yang baca blog ini) semakin memahami bagaimana seharusnya bersikap pasrah pada Illahi. 2 jam juragan membuat seumur hidup perubahan pada orang lain.
    makasih dah membaginya untuk kita, juragan, mohon kisah-kisah berikutnya selalu dibagikan.

  10. @ tomy
    saya rasa ini tergantung pendapat masing-masing orang ya, dan juga pengalaman hidup dalam hal ini pun berpengaruh pada setiap keputusan hidup yang kita ambil.

    @ nindityo
    wah :-D saya benar2 senang sekali, Mas, pesan yang hendak saya sampaikan, ternyata anda menangkapnya dengan baik. Matur nuwun…

Tinggalkan Balasan