Muslimkah Saya?
I
Muslimkah saya?
Sebab, syahadat sebagai tiket utama masuk ke jalan raya Islam
yang saya ikrarkan,
hanya sebatas retorika
.
bibir saya berucap tiada Tuhan selain Allah
tapi hati saya berteriak, kalau saya ini (sekali lagi), menuhankan perut
jiwa saya menjerit bahwa saya ini (sekali lagi), hanya menuhankan nafsu!
Tunggu…, “Allah”…?!
Siapa itu Allah?
Saya tidak kenal Dia
sebab, yang saya dapat di setiap mimbar dan majlis taklim
hanyalah sorga, sorga dan sorga
lalu, bidadari perawan, bidadari perawan dan bidadari perawan
Siapa itu Allah?
Saya tidak kenal Dia
sebab, yang saya peroleh di setiap mimbar dan majlis taklim
hanyalah gembar-gembor pahala
lalu beribu gambaran siksa dan neraka
serta klaim kebenaran bahwa yang haq adalah aliran ini
sedangkan aliran itu dan anu, adalah salah dan sesat
.
bibir saya berucap bahwa Muhammad itu utusan Allah
rasul pamungkas yang mesti ditiru-diteladani
tapi tingkah-polah saya jauh dari teladan Nabi
jiwa saya berontak,
“(malu) aku jadi umat Rasulullah…”
.
Maka, muslimkah saya?
II
Sudah lama saya mencari-cari di perpustakaan, di toko buku, hingga ke belantara maya
sekedar mencari buku atau artikel tentang sholat yang sebenar-benarnya
karena saya belum pernah sekalipun melaksanakan sholat
sebab, yang selama ini saya lakukan hanyalah serangkaian gerakan yang dipaksakan
sebatas ritual tanpa ruh
tak ada beda dengan gerakan senam
.
maka… saya keder dan ngeri
jangan-jangan Raqib belum mencatat satu-pun sholat saya
sebab, sholat saya bukan sholat seperti sholatnya Rasulullah
saya sholat tapi tetap tak lepas dari maksiat
.
maka… saya keder dan ngeri
jangan-jangan ‘Atid jenuh mencatat sholat palsu saya
sebab, sholat saya seperti sholatnya orang mabuk
tubuh saya di Indonesia
tapi pikiran saya mengawang ke mana-mana
.
Maka, muslimkah saya?
III
Ramadhan kemarin Iblis bertandang ke rumah saya
ia mengeluh
bahwa dirinya, dan anak-anak buahnya
sudah bosan dan capek menggoda iman para manusia kontemporer
sebab puasa kami katanya, masih itu-itu juga
sebab puasa kami katanya, hanya sekedar mengharap pahala berlipat
sebab puasa kami katanya, hanya sekedar berlapar ria
sedang setelah maghrib menggema
kami sering berteriak;
“Yes! Waktunya buka!”
“Ahh…, akhirnya buka puasa juga…”
“Waktunya pembalasaaan! Hmm, makan apa dulu nih…”
…dan… sebagainya…
sedang setelah Ramadhan berkemas pergi
kami sering bergumam;
“Akhirnya bulan Syawal telah tiba…”
“Yeah, puasa sudah lewat…”
…dan… sebagainya…
.
Saya terkejut bukan kepalang
[Jujur! Itu... itu tingkah polah saya! Itu benar-benar tingkah polah saya!]
.
Tapi Iblis masih belum juga beranjak
masih ada yang hendak ditambahkan katanya
dan ia berkata lirih,
“Sebetulnya puasamu ini karena Allah apa karena manusia, sih?”
“Sebenarnya puasamu ini melibatkan mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dan hati tidak, sih?”
“Jika puasamu hanya sebatas perut saja, lalu apa bedanya dirimu dengan kucing dekil yang tidak diberi makan seharian, lalu diberi makan pada malam harinya? Heh?!”
.
Saya tersentak kaget bukan main
[Jujur! Itu... itu tingkah polah saya! Itu benar-benar tingkah polah saya!]
.
Tapi Iblis masih belum juga beranjak
masih ada yang hendak ditambahkan katanya
dan ia berkata lirih,
“Katakan pada semua tetanggamu, teman-temanmu, kerabatmu, siapa saja,
kami sudah jenuh menggoda manusia yang imannya itu-itu saja
ibadah kalian yang setengah-setengah tidak membuat kami tertantang buat menguji
“App…?? Mmm…, menguji?! Mmm… maksudnya…?,” tanya saya terheran.
“Ya, kami ini tak hanya penggoda dan penyesat, tapi juga evaluator!”
.
Saya melongo tak bisa berucap apapun
[dan setelah itu Iblis raib dari pandangan]
.
Maka, setelah saya memikirkan dan merenungi keluhan Iblis
saya meng-iyakan dan mengakui
puasa saya hanya mengharap sederet istana emas sorga
puasa saya hanya mengharap 70 bidadari jelita, seperti yang didengungkan para ustad gadungan
puasa saya hanya…
.
Hei, muslimkah saya?
IV
Zakat… Aaappa itu zakat?
Saya tak pernah berzakat
Sebab… saya memberi tak lebih agar mendapat pahala bejibun
sebab… yang saya lakukan tak lebih sebatas keharusan
sebab… saya tidak ingin disebut pelit
Apa?!
Saya… tidak ikhlas?!
saya… riya’?!
.
Jadi…, saya bukan muslim kalau begitu?!
V
Saya belum mampu berhaji
maka sebagai gantinya
saya tunaikan ibadah puasa sunah 1 sampai 9 Dzulhijjah
konon pahalanya eksklusif
Nnnahh… ‘kan
pahala lagi…
bukan karena Dia…
.
Jadi…
pantaskah saya disebut muslim?
VI
Saya diciptakan dari ketiadaan
saya diberi harta termahal dari Entitas yang tak saya kenal
berupa sepasang mata yang bisa melihat
sepasang telinga buat mendengar
bibir yang bisa bicara
tubuh yang bisa bergerak
dan akal yang bisa berpikir
Tapi…,
Sumpah!
Mata saya tak pernah saya pakai untuk melihat penderitaan orang-orang di sekeliling saya!
Telinga saya tak pernah digunakan untuk mendengar jerit tangis anak yatim dan mereka-mereka yang kelaparan!
Bibir saya kerap mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat lagi menyakitkan!
Saya bergerak selalu saja ke arah yang salah dan salah!
Akal saya pun tak pernah digunakan untuk memikirkan hal-hal yang kompleks dan transenden…
Sedang ketika saya mendapat kesialan dan penyakit,
saya protes keras kepada-Nya
.
Nnnah! Saya tidak ikhlas bukan?!
Saya tidak memasrahkan diri ‘kan?!
atau…
saya tidak pakai otak ‘kan?!
Maka sekali lagi…
apakah saya ini layak disebut muslim, saudaraku…?!
…
VII
Ya sudah!
tak ada yang menjawab
saya buka paksa saja laminating KTP saya
dan saya ganti;
agama saya sekali lagi… bukan Islam!
agama saya… hedonisme!
agama saya… perut!
agama saya… syahwat!
agama saya… kejahilan!
atau katakanlah itu semua tuhan saya!
dan ironis…, saya masih mengharap pahala dan sorga
dan tetap ironis, saya masih mengerjakan sholat palsu
yang hanya sebatas gerakan melelahkan itu…
VIII
Sudahlah,
apa lagi yang mesti saya tulis dan saya katakan…
sebab, saya hanyalah… manusia keparat…
.
dan sekarang…,
saya sedang berusaha untuk menjadi mulia…
Semoga…
dengan niat itu
nama saya tercatat dalam daftar manusia Muslim tulen
yang tersimpan di langit sana…
[]
Bandung, 8 April 2008 (14:19 WIB)
8 April, 2008 pada 1:31 pm
Waduh, saya semua tuh.
8 April, 2008 pada 4:25 pm
::lho bukannya kalau ngerti yg engga asli, udah ngerti yg asli… ya ngga Boss…
8 April, 2008 pada 8:38 pm
@ danalingga
Nggak ah, itu cuma saya saja koq, titik!
@ zal
Walaelah, pak Zal ini belom apa-apa kok ‘dah buka kartuu…?! ;-(
9 April, 2008 pada 7:17 am
Yang pasti KAMU adalah pengkritik hidup saya … terima kasih sudah mencalonkan diri menjadi musuh saya
9 April, 2008 pada 1:00 pm
sebuah refleksi yang menohok. saya jadi malu juga nih,
selama ini saya, sadar atau tidak, sering menuhankan apa yang secara lahiriah membuat saya senang, hedonis, materialistis, bahkan juga konsumtif. makasih, mas aris sudah mengingatkan, meski mas aris bersembunyi di balik sudut pandang “aku” dalam melontarkan kritikan. yaps, saya juga berdoa agar bisa menjadi seorang muslim yang bener.
9 April, 2008 pada 1:56 pm
pertanyaannya keren.. sederhana namun membumi sekaligus menohok esensi keberadaan manusia.
sepertinya saya harus berlangganan blog ini nih..
9 April, 2008 pada 2:18 pm
@ Sawali Tuhusetya
sama-sama, Pak. Tulisan2 Bapak juga banyak membuka mata pemahaman saya. Matur nuwun sudah menyempatkan diri untuk mampir.
@ qzink666
ah, Kang Qzink berlebihan…
11 April, 2008 pada 1:52 am
Hmmm..hmmm…
Kayaknya saya merupakan BAGIAN dari tulisan ini deh….
Loh kang Danalingga, kang Zal…dah duluan neh di sini…
Nggelesod…..manggut-manggut…halah..perlu NGRACUT BUSONO lagi neh
Siiiip….siiip tenan mas, terima kasih TONJOK-kannya…
Gubraaagk….bleeeg…klenger…
12 April, 2008 pada 8:53 pm
Adakalanya seseorang bisa benar-benar beragama ketika tidak memiliki agama
18 April, 2008 pada 5:36 pm
Assalamu’alaikum
Salam kenal ya… Terus terang, ane dapat nuansa cara pikir yang berbeda dari sebongkah tempurung yang katanya berisi otak. Sekira tahun 1998 -xxxx ane pun mengalami pemikiran seperti ini. Saya tahu, tapi jadi seperti tidak tahu; saya rasa, tapi sepertinya belum merasa; saya cium, tapi seperti belum mencium; saya pikir, tapi seperti belum terpikir (jangankan terpikir, melintas pun tidak).
Lalu saya ini siapa? Kok Tuhan menurunkan saya ke duania, seperti saya dengan nama, sifat genotipe dan fenotipe, tingkah laku yang khusus; yang berbeda dengan orang lain? Saya, yang terlahir di suatu dimensi ruang, waktu dan gravitasi yang berbeda dengan orang lain?
Lalu siapa saya ini sebenarnya? Ada maksud apa sebenarnya dibalik “rahasia” penciptaan saya? Kenapa ritme di tiap organ saya berbeda dengan orang lain? Kenapa ritme di tiap jaringan saya berbeda dengan orang lain? Kenapa ritme di tiap sel saya berbeda dengan orang lain? Kenapa ritme di tiap gen (DNA) saya berbeda dengan orang lain? Kenapa semua-mua ritme itu menjadi khas, dan jadilah saya ini unik; dan karenanya jadi berbeda dengan orang lain?
Pertanyaan siapa saya, pastilah akan keluar dari setiap kita yang memang sedang mencari makna kesejatian. Kesejatian tentang diri dan kesejatian tentang dzat yang menciptakan diri.
Berangkat dari pertanyaan siapa saya, kenapa saya diciptakan sebagai saya yang unik, untuk apa saya diciptakan dalam suatu dimensi yang unik…seyogyanya dapat mnegantarkan saya-saya (kita) ini pada sebuah pertanyaan, lalu siapa yang mengadakan saya? Anda pasti sudah menemukan jawabannya. Lalu terhadap pertanyaan, untuk apa saya di-ada-kan? Andapun pasti sudah mengetahuinya, karena Tuhan pun sudah menjelaskan melalui firman-Nya dan diperjelas melalui Rasul-Nya.
Iya….saya tahu itu! Saya tahu, bahwa ada penjelasan padaku tentang Iman; datang padaku penjelasan tentang Islam; dan datang padaku penjelasan tentang ikhsan. Saya tahu semua itu, bahwa Iman itu percaya/yakin terhadap semua rukunya; bahwa Islam itu melaksanakan semua rukunya (kecuali berhaji), dan bahwa ikhsan itu beribadah kepada Allah seakan aku melihat-Nya dan seterusnya.
Kalau inti iman itu yakin, inti islam itu pelaksanaan, dan inti ikhsan itu pengawasan atas keyakinan dan pelaksanaan; maka pertanyaan apakah saya telah berislam (secara hakekat), sepertinya hanya merupakan bagian dari yang semestinya tiga; ya …mestinya tiga pertanyaan. Dan karena cuma satu pertanyaan; maka jawabannya pasti mudah, bukan? Dan setiap saya, tahu jawabannya. Gitu aja kok repot.
Syukron akhi, telah mengingatkan ane ke sebuah masa lalu….’afwan kalo ada salah ketik, salah kalimat dan salah persepsi.
Wassalamu’alaikum wr wbr
19 April, 2008 pada 4:23 am
Sip sip sip ….
Mantab !
19 April, 2008 pada 4:25 am
@ Rindu
Musuh ??? Emang enak ?
Kasian … Hidup cuma singkat punya musuh.
19 April, 2008 pada 5:38 am
Tulisan akhi membaca pencerahan utk yg ngebaca (saya). Syukron..
19 April, 2008 pada 5:39 am
*membaca = membawa
19 April, 2008 pada 1:32 pm
waduh…ternyata pada ngumpul di sini yah…?
bener..bener..bener..bener
salam kenal mas aris….
20 April, 2008 pada 12:47 am
@ Santri Gundhul
o, ya?
@ Arwa
Waah… statemen Anda lebih berani :green:
@ adikhresna
Saya mendapat beberapa pemahaman baru lagi, nih… Terima kasih jg
@ BanNyu
Lho, justru hidup ini kita (tidak bisa tidak), pasti butuh musuh lho, mas. Hehe…
@ Santi
Terima kasih apresiasinya, mbak…
@ wisnuharjo
Salam kenal juga…
Hei, masih banyak lho yang belum kumpul disini, salah satunya “pakar telematika” kita
20 April, 2008 pada 3:46 am
Aku merasa sangat sama. Untuk kita semua yang selalu merasa paling sempurna,
*Salam kenal — Mari kita sama-sama berubah menjadi lebih baik
*
21 April, 2008 pada 3:26 am
Kangen tulisan disini … belum nulis lagi yah?
21 April, 2008 pada 7:38 am
@ Rindu
istirahat sejenak
24 April, 2008 pada 4:44 am
ATHEISKAH SAYA?
- bila kukatakan SURGA hanya puncak kesempurnaan dambaan nafsu manusia *bidadari perawan tak pernah tua*
- & Tuhan-Tuhan yang sering kupekikkan hanya ruang kosong dalam benakku yang sangat perlu kuisi dg sesuatu *aku butuh kekuatan dalam menghadapi kenyataan hidupku*
- atau sholat yang kudirikan adalah caraku untuk berkata YA pada hidupku *sholat sekali untuk selamanya* karena setiap hembusan nafasku & af’al ku adalah kebaktianku kepada Sang HIDUP?
25 April, 2008 pada 10:11 am
tulisan yang luar biasa…salAM Kenal dulu ya
26 April, 2008 pada 7:06 am
@ tomy
Barangkali mbah Google bisa ngasih jawaban. Ngaturaken salam…
wah, saya ndak bisa njawab, Pak Tomi
@ syahrizalpulungan
salam kenal, Pak. Tapi kalau menurut saya sendiri, tulisan saya tidak ada bagus-bagusnya kok, Pak
2 Mei, 2008 pada 5:43 pm
Saya yakin anda Muslim. anda telah bersyahadat khan khan?
Saya yakin anda Mukmin. anda orang beriman khan?
Kunjungan mas, esensi anda benar-benar menyentak saya
Salam
TB
3 Mei, 2008 pada 11:40 am
@ Nongkrong
udah tertera, kalau saya hanya bersyahadat di mulut, bukan sebenar2 bersaksi. Maka apakah saya pantas memiliki label “manusia muslim”
?
Lha… khan
Salam,
14 Juli, 2008 pada 2:26 am
Saya pernah bertanya ke teman saya, apakah saya tetap berbuat baik kalau surga dan neraka itu tidak ada. Apakah saya tetap sholat kalau pahala itu disimpan di saku Allah. Jawaban teman saya : Itu pikiran setan karena kamu tidak mengakui Surga dan pahala….
Salam kenal…blog anda bakal jadi langganan saya ……
14 Juli, 2008 pada 6:41 am
@ datyo
(bercanda).
Wah, jangan2 teman Anda itu pernah ngobrol2 dengan setan…
Salam kenal juga…
*meskipun jd langganan, disini nggak ada sistem diskon maupun rabat*