Saya & (Pameran) Buku Islam

Pagi tadi saya jalan-jalan ke Landmark Convention Hall, yang beralamat di Jl. Braga 129 Bandung, dimana hari ini–terhitung tanggal 29 April hingga 5 Mei 2008–adalah hari pertama dibukanya Islamic Book Fair 2008. Tak ada yang membikin saya ‘ngiler’ setiap ada pameran-pameran buku seperti ini, selain kata-kata yang terpampang jelas di berbagai spanduk yang malang melintang di beberapa jalan Bandung; “Pameran Buku Terbesar dan Terlengkap di Jawa Barat!”. Saya yang biasanya emoh keluar rumah, entah kenapa selalu saja “tersihir” dengan kata-kata semi-hiperbol di atas, dan ngeloyor pergi ke Braga, dengan membawa sedikit harapan mudah-mudahan ada buku-buku Islam yang aktual dan benar-benar bagus dibaca di hari pertama ini, sekalian cuci mata—sudah beberapa bulan terakhir ini saya tidak memelototi ribuan buku yang terjajar memenuhi rak-rak. Namun saya kecele (sekaligus dongkol), sebab ternyata buku-buku yang dipamerkan, ternyata tak ada beda dengan Book Fair Agustus 2007 silam. Lebih membuat saya kecewa lagi, buku-buku yang saya incar dan saya harapkan ada, nyatanya malah banyak yang tidak ada. Apanya yang terbesar dan terlengkap? Terlebih stand Serambi dan Mizan yang saya harapkan pula hadir “buku-buku cerdasnya”, ternyata hanya kebanyakan malah memajangkan buku-buku literal biasa (dan banyak dikerubuti orang-orang yang lebih condong tertarik dengan buku-buku yang “asal” best-seller). Akhirnya saya malah jadi be-te sendiri. Muter-muter seluruh isi ruangan, menjelajah dari satu stand ke stand lain, buka-buka halaman buku yang kebetulan tidak dibungkus, lalu menyimpannya kembali ke rak, tapi beli tidak, hhh… tidak ada buku yang mampu menarik minat saya… (padahal aslinya tidak punya uang—sedang bokek di akhir bulan, tekorrr, belum gajian).

Tapi adalah suatu “ketololan” namanya, jika mengunjungi pameran buku akbar semacam IBF 2008 ini, seorang pengunjung (saya maksudnya), tidak menemukan satu-pun buku yang dicari, atau setidaknya menemukan buku yang membuat kita tertarik untuk dimiliki. Dan memang…, buku buruan saya selama ini, ada, walau hanya beberapa saja. Diantaranya adalah sebuah buku novel filsafat yang selama ini saya cari, “Dunia Sophie” karangan Jostein Gaarder. Namun saya hanya bisa memelototi label harganya saja, lantaran masih cukup mahal bagi “musafir” seukuran saya (meski tahu berapa besar harga setelah diskonnya). Saya simpan lagi buku tersebut di rak (juga di memori saya, bahwa kalau sudah gajian, pokoknya harus langsung beli buku ini!). Lalu ngeloyor lagi. O iya, sebelumnya saya mencari buku tebal karya seorang penyair sekaligus cendekiawan dan ahli sufisme kenamaan, Martin Lings, yang berjudul “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik”, yang langsung dikomentari pula oleh seorang intelektual yang juga sahabat dari guru Martin Lings sendiri, Frithjof Schuon, yakni Titus Burckhardt. Saya memang belum satu-pun membaca karya-karya Lings, namun melihat salah satu “guru” saya, Charles Le Gai Eaton, mengagumi Schuon, Titus, dan terlebih Lings, saya percaya kalau narasi-narasi yang dipaparkan oleh Lings dalam buku fenomenalnya ini lebih “menggetarkan” saya akan sirah Nabi. Satu diantara buku-buku tentang sejarah Nabi Muhammad.saw yang saya kagumi, adalah karya Karen Armstrong terbitan Mizan. Hanya saja, sependapat dengan Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat), bahwa biografi Nabi yang ditulis Karen masih belum memberikan “suatu hal” yang lain, lebih tajam dianggap oleh Kang Jalal bahwa Karen Armstrong kurang kritis dalam menggali sumber-sumber riwayat kehidupan Nabi.

Namun untuk itu semua, saya harus berterima kasih kepada Eaton atas sekumpulan esai memikatnya, “Remembering God, Reflections on Islam”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dzikir Plus, Sebuah Renungan Spiritual terbitan Pustaka Cendekia. Buku Eaton inilah yang membuka mata saya, bahwa khazanah Islam lebih luas lagi adanya. Dibuat kagum saya dengan buku ini, dan well, inilah salah satu buku pemikiran kontemporer buah tangan muslim Barat yang mempengaruhi saya. Nah, jika seorang Charles Le Gai Eaton yang menulis buku Dzikir Plus ini saja terpengaruh oleh pemikiran Schuon dan Lings, kenapa saya tidak mencoba mencari pula karya-karya mereka? Inilah yang menyebabkan saya begitu antusias berburu buku-buku pemikiran klasik (kontemporer?) karya orang-orang yang sudah saya sebutkan tadi. Sebab, dalam pengamatan saya, sebuah esai spiritual (meski hanya satu lembar), jika diracik oleh ahlinya, akan menjadi santapan ruhani yang melezatkan. Inilah yang saya maksud (secara implisit) perbedaannya dengan buku-buku literer biasa (yang, secara kasarnya, hanya menampilkan kulit luar sisi spiritual keagamaan). Hanya saja disayangkan, buku-buku pemikiran seperti karya mereka ini (Eaton, Lings, Titus, Schimmel, Engineer, Schuon, dll) kurang mendapat respect (atau katakanlah kurang diminati) oleh mayoritas pembaca kita. Barangkali inilah sebab pemikiran dalam Islam mandek, stagnan. Jadi bukan hendak maksud melecehkan IBF 2008, hanya menyayangkan saja, buku-buku “kelas berat” nyaris tidak ada. Nah, semoga saja, jika saya sudah mampu membeli karya Martin Lings ini, perbendaharaan vokal dan pemahaman saya bisa lebih bertambah lagi. Satu catatan saja, bagi saya, buku-buku Islam itu ya yang seperti yang saya sebutkan barusan (maksud saya, buku-buku esoteris).

Ketiga, saya tak sengaja menemukan “DIA Ada Dimana-mana” karya M. Quraish Shihab, salah satu tokoh intelektual Islam yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Sayangnya, saya belum sempat mengumpulkan opini-opini mengenai buku ini dari berbagai komentar di Internet, kecuali mendapatkan sekelumit ide fundamental yang diusung oleh beliau, bahwa Allah “mengejawantah dimana saja”. Dan saya yakin, karangan Pak Quraish ini pun mampu menawarkan percik-percik sufistik dalam bentuk esai-esainya yang renyah. Sekali lagi saya menggumam, “bagi saya… inilah buku yang kental nafas Islamnya, penuh pendalaman hakikat dan eksplorasi wacana”.

Terakhir, yang menjadi sasaran saya, adalah buku yang membahas mengenai shalat khusyu’. Dan saya menemukan sebuah buku yang (konon) cukup kredibel, dengan nama penulis yang tertera, Abu Sangkan, dengan bukunya berjudul “Pelatihan Shalat Khusyu’”. Dan buku ini menjadi prioritas saya, mengingat saya (sekali lagi), belum pernah melakukan sholat, kecuali sebatas gerakan yang tak ada makna.

Yang disayangkan sekali lagi, adalah saya hanya bisa gigit jari memandangi orang-orang menenteng berbagai buku, membeli buku ini anu dan itu. Sedangkan saya hanya bisa menelan ludah tak ada daya (“…kenapaaa pameran ini berlangsung saat kondisi keuangan saya sedang sekarat, sih?”, pikir saya). Namun yang pasti, terlepas dari semua kekaguman dan omong-kosong yang saya umbar, buku-buku Islam adalah buku yang mampu “menyelamatkan” pembacanya (khususnya penganutnya) dari kebodohan dan parokialisme. Sebab tidak sedikit saya mendapati buku-buku “ala preman” yang dipamerkan di IBF 2008 ini. Mulai dari yang aneh-aneh mengenai poligami, pacaran, hingga yang berisi berbagai hujatan terhadap pemikiran dan aliran lain, sampai kepada buku-buku klise surga dan neraka yang itu-itu juga, yang ironisnya, buku-buku demikianlah yang kerap dijadikan santapan bagi umat kebanyakan.

Ah, whatever lah. Yang penting, adalah suatu kebahagiaan tersendiri, betapa antusiasme umat terhadap buku-buku bacaan (religius) masih begitu tinggi, meskipun terselip pesimisme dalam hati saya dibalik meningginya kemauan membaca buku.

O iya, saya lupa, kalau ini hanya mengenai Saya dan Buku (Islam). Lainnya, terserah… []

Bandung, 29 April 2008 [11:29 PM]

8 Tanggapan ke “Saya & (Pameran) Buku Islam”

  1. mas ariss, di tempat mana yang mau menggelar acara show kayak begitu dengan style rendah hati? orang2 di negeri ini memang sudah terjangkiti syndrom megalomaniac semua, hahahahaha :lol: saya juga sering sedih menyaksikan acara2 pameran atawa bazar buku yang konon paling wah. tapi mencari tekr2 sastra yang mencerahkan karya pram, budi darma, ahmad tohari, alm. oemar khayam, atau satyagraha hoerip, sampai kaki encok ndak menemukan juga. waduh …

  2. Lah, jadinya ndak beli buku ya bro? Perlu saya pinjami? :lol:

  3. kalo saya mending ke perpustakaan saja :D ngirit
    sama untungnya tante saya kerja di gramedia lewat beliaunya kalo beli bisa dapat diskon lumayan :D MAU

  4. @ Sawali Tuhusetya
    :mrgreen: Yah, mau gimana lagi, Pak

    @ danalingga
    Hihihi… enggak uy,
    wow, beneran nih mau minjemin saya buku?? Boleh-boleh! Kirimin aja ke Surapati 153B Bandung, ditunggu Mas!

    @ tomy
    Wah, disini saya ndak bisa kemana2, apalgi ke Perpustakaan, banyak kerjaan. Jadinya pengen punya buku sendiri gitu.
    Wew! Sanak famili ada yg kerja di Gramed?? Asyik bener. Berapa diskonnya nih? Kalo bisa, saya pesan buku-buku di bawah ini:
    1. Passing Over, Melintas Batas-Batas Agama
    2. The Alchemist
    3. Born to Win
    4. Eroica vol. 1-3
    5. Masnawi vol. 4
    6. Ronggeng Dukuh Paruk
    7. Rumah Kebahagiaan Penuh Keberuntungan
    8. Sistem Ekonomi Moneter dan Perbankan
    9. Kaya Raya Selamanya
    10. Just Duit! (lho, lho, lho?! makin kesini-makin kesini kok makin profan?!)
    11. … udah itu aja :-D

  5. @ dek aris
    wah, kok mirip sayah? saya suka “sakit” gitu kalo udah di toko buku (aplg klo ada diskonan HUT kota tercinta misalnya..) Rasanya pengen tak beli smua :biggrin: abis, diskonnya ampe 50% (syg cuma staon skali..)

    @ pak sawali
    waduh pak, “pramudya? s/d oemar khayam” itu kan tergolong sastra “berat” ckckck.. di perpus kampus ada pak, tp sy gak mampu memahami buku2 ituh.
    Tp sy suka yg “boven digul” :) ngeri sih, tp bagus. Bapak kenal Oei Him Hwee? pinjem di perpusnya ajah, dy mah lengkap koleksi “pram”nya.

  6. Hmmm…terkadang Buku juga bisa menjadikan SARANA PANCINGAN ( pemicu ) untuk menapaki PERJALANAN dan PENCARIAN MAKNA ‘ SEJATINING URIP ” seseorang. Lah masalahnya mau pilih yang mana..?? yang berkutat di Syariatkah ( kulit )…atau lebih menyeruak ke dalem lagi mengEKSPLORASI KALBU, BATIN atau NURANI..??.

    Yah…saya yang berada di sebuah kota terpencil ini, terkadang NGILER juga dengan Buku-buku bacaan Filsafat, Tasawuf, Sufi. Jadi sementara ini yang bisa saya BACA yah perilaku, tumbuhan, hewan dan orang-orang di Lingkungan sekitar yang bisa saya jangkau di Alam Semesta ini.

    Bengong…mengati gerak-gerik Mas Aris Mondar-mandir di Pameran Islamic book Centre.
    Heks…heks….kok gak jadi beli yah

  7. @ Santri Gundhul
    Hmmm…juga :-)
    Yah, memang benar begitu, tapi jujur lho, saya pun kerap menjadikan buku sebagai bahan “amunisi”, hehe :-D
    .
    Whalah, saya diamati dari jauh tho? Pake bantuan mbah Google Earth apa pake mata bathin nih?

  8. Buku itu merupakan jendela pengetahuan.
    oleh penulis:
    40 Hari Di Tanah Suci.

Tinggalkan Balasan