Mana yang Anda Pilih?
Dikarenakan satu dan lain hal, postingan kali ini pendek saja. Seandainya Anda harus memilih diantara dua pilihan di bawah ini, mana yang akan Anda pilih?
1. Hidup bertetangga (berdampingan) dengan orang-orang yang berbeda pemahaman, aliran dan keyakinan, namun mereka memiliki sikap yang empatik, altruistik, tepa selira, ramah dan lebih mementingkan moral (akhlak) ketimbang label akidah.
ATAU
2. Hidup bertetangga (berdampingan) dengan orang-orang se-agama, sekeyakinan, sealiran, namun mereka memiliki sikap ekstrim, senang menghujat, memfitnah, mengobarkan kebencian, mengklaim diri paling benar sedang yang lain adalah salah dan sesat, kafir, dan wajib dibunuh! Lebih suka menyibukkan diri dengan mengurusi orang lain yang beda paham ketimbang mengakselerasi dan merekonstruksi akhlaknya sendiri.
Jawaban ditulis dalam komentar dengan menuliskan nomor pilihan, disertai alasan dan argumen personal. Saya sendiri sudah memiliki jawaban pilihan, yang nantinya akan saya kemukakan pula kepada khalayak.
Salam,
[Bandung, 7 Mei 2008, 6:42 AM]
7 Mei, 2008 pada 1:44 am
Jelas pilih yang nomer 1 dunk! Islam agama damai. Iya kan Ris?
7 Mei, 2008 pada 4:31 am
wah, karena harus memilih, saya putuskan untuk memilih yang pertama, mas ariss:
1. Hidup bertetangga (berdampingan) dengan orang-orang yang berbeda pemahaman, aliran dan keyakinan, namun mereka memiliki sikap yang empatik, altruistik, tepa selira, ramah dan lebih mementingkan moral (akhlak) ketimbang label akidah.
Kenapa? kita ini jelas2 hidup di sebuah negeri yang multikultur dan multiagama. ini sebuah “hukum alam” yang mustahiul dihindari. negara kita juga sudah memiliki asas “bhineka tunggal ika”. ini artinya *halah sok tahu* kita mesti membiasakan dan membudayakan “hidup damai di tengah perbedaan” seperti warna pelangi. saya justru tidak bisa hidup di tengah keseragaman, lebih2 dalam hal keyakinan dan agama.
7 Mei, 2008 pada 1:17 pm
Nggak ada pilihan lain ya ?
Kalau saya, hidup berdampingan dengan SIAPA saja asalkan damai.
Tapi kalau hanya itu pilihannya, saya lebih milih #1
7 Mei, 2008 pada 2:04 pm
@ Suhadinet
Ya, Islam memang agama damai (begitu pula hampir semua agama lain). Hanya yang jadi masalah, para pemeluknya ini yang kebanyakan ogah diajak damai. Sampai sakit kepala saya memikirkan tingkah polah manusia yang ngaku beragama (padahal saya jg beragama).
@ Sawali Tuhusetya
Terima kasih atas keikutsertaannya memilih, Pak
@ goldfriend
Wah, mas f e r t o b berkunjung nih
Yah, dalam pemahaman saya, pilihan itu sifatnya jukstaposisi, sih, mas. “Dua pilihan” adalah tipikal “sebuah pilihan”. [walah, kok paradoks gini ya?]
7 Mei, 2008 pada 11:42 pm
saya pilih no2….
kebahagian bukan dari perasaan sesaat. salah kebahagian seorang muslim adalah dengan berkumpul atau beriteraksi dengan sesama akidah. ikatan islam bagaikan ikatan yang abadi.
jikalau ada seorang muslim menghujat yang lain, maka perlu ditabayuni(dikroscek) alasan dan tujuan penghujatannya. kalau baik kita berterima kasih, kalu nggak jelas ya kita ingatkan. gampang khan?
2 pilihan dari anda terkesan phobia kepada islam bung!
islam tidak pernah mengajarkan sifat salaing membenci sesamanya. so seorang muslim pasti akhlaqnya lebih baik daripada orang kafir. karena akhlaq dilandasi oleh akidah. tulkan?
salam kenal
terima kasih infonya
tukeran link dong?
8 Mei, 2008 pada 2:19 am
@ winsolu

Padahal saya menyodori kedua pilihan tersebut dengan simpel, kenapa Anda malah memperberatnya?
Saya phobia Islam? Salah. Yang benar saya phobia “terhadap orang Islam kontemporer”, bukan Islam itu sendiri.
Seorang muslim pasti akhlaqnya lebih baik daripada orang kafir? Saya jadi ingin tertawa. Bukalah mata Anda lebar-lebar, sobat. Lagipula, kafir dalam hal apa yang Anda bawa-bawa di sini? Ingat-ingat saja pernyataan saya, bahwa akhlaq tidak semata dilandasi akidah, sebab para atheist pun banyak yang lebih memiliki moral mulia ketimbang mereka yang berakidah, padahal para atheist itu tidak memeluk agama apapun.
Salam kenal pula,
terima kasih komentarnya.
Salam,
8 Mei, 2008 pada 5:25 am
Aku enggak akan pilih pilih Mas tak terima aja…Lha gimana wong dia bermukim di sekitar tempat tinggal kita bukan kita yang mbayarin…Ya ben sak karepe…
Mau jungkir balik terserah saja…Soalnya Aku juga punya tetangga seperti itu Aku biarin aja …kalau aku pikirin ….E Capek Deh
8 Mei, 2008 pada 5:27 am
Kalau ada tetangga kayak dua duanya….
Dengerin Musik aja Deh…
8 Mei, 2008 pada 7:50 am
akhlaq sangat berbeda dengan moral ^_^
8 Mei, 2008 pada 8:14 am
@ winsolu
Ya, benar; hanya beda labelnya saja, esensinya tetap sama. Kata “akhlaq” itu dari rahim Bahasa Arab, sedangkan “moral”… pasti Anda juga tahu.
.
Mohon jika Anda hendak membuka diskusi, komentarnya jangan setengah-setengah. Kemukakan berbagai alasan dan argumen yang mendukung dan mewakili statemen Anda dengan jelas. Anda berpendapat “akhlaq” itu sangat berbeda dengan “moral”, lha terus mana lanjutannya?
.
I haven’t much time for this time, furthermore it’s just a post.
Salam,
8 Mei, 2008 pada 8:41 am
Pilih yang pertama. Pikiran dapat lebih terbuka. Bukankah di indonesia umunya seperti ini juga
8 Mei, 2008 pada 9:59 am
Agak bias sih mas pilihannya, terlalu obvious gitu loh… Cenderung mengarahkan orang ke pilihan yang pertama. Kalau dalam metodologi riset kurang valid, karena mengarahkan.
Tapi, okelah. Saya memilih yang no.1.
Alasannya begini. Dalam realitas biologis, adalah komunitas yang plural yang lebih mampu bertahan. Jika ada sebuah komunitas yang kuat banget tapi homogen, bila lingkungan berubah menjadi tidak menguntungkan bagi mereka, keberlangsungan hidup mereka terancam.
Fakta sejarah sudah membuktikan kondisi di atas. Misalnya sebuah masyarakat gennya homogen, dan rentan terhadap sebuah penyakit. Begitu ada wabah pernyakit tersebut, masyarakat tersebut bisa punah.
Kalau mau pake contoh yang agak ringan, suatu masyarakat yang makan beras. Begitu beras mahal, dan mereka gak bisa makan yang lain, mampus aja deh…
Krismon kemaren telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia tahan banting justru karena pluralitasnya dan elastisitasnya. Kita bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Gak ada rotan akar pun jadi. Kalau bangsa seperti Jerman yang terkenal rigid kena krismon seperti kita, mereka belum tentu bisa bertahan.
Jadi pluralitas lebih baik, lagi pula kita sudah diciptakan dari sononya beraneka ragam.
Meskipun demikian ada juga argumen untuk membentuk masyarakat homogen, tapi nanti kepanjangan. Ini aja udah panjang.
8 Mei, 2008 pada 10:28 am
setuju dengan kalimat pertama mas oni suryaman diatas
kalau pilihannya seperti ini, akan didapat 90% responden akan milih yang pertama, tentu saja karena, secara nalar kita [bangsa ini] telah dibesarkan dalam konsep pluralitas, dimana sehari-hari kita melihat ada banyak tetangga dan orang disekitar kita yang memiliki perbedaan baik itu agama, cara pandang dsb.
tapi kalau ada kata WAJIB dan pilihannya cuman itu thok.. ya aku coblos no 1 (efek pilkada
)
eventough aku gak yakin dalam konsep pluralitas no. 1 itu adalah keadaan yang valid,
………..adalah sebuah fakta bahwa setiap interaksi memiliki kemungkinan terjadinya friksi
yang jadi masalah bukanlah menghindarinya, karena itu tidak mungkin, tapi baghaimana mengatasinya dengan solusi terbaik
lha ngomong po aku, sok teu
salam
8 Mei, 2008 pada 10:40 am
@ daengfattah
[bukan begitu?]
Emmm… tidak semua “pikiran” sih, daeng… Maksudnya, tidak semua kepala orang Indonesia bisa terbuka pikirannya…
@ Oni Suryaman
Innni dia yang saya tunggu-tunggu…! Well, Anda tepat sekali, Mas. Memang suatu kesengajaan dibuat seperti itu. Namun yang menjadi keinginan saya bukanlah pada kuantitas responden yang (besar kemungkinan) bakal memilih opsi pertama, melainkan koreksi atas tujuan postingan saya. Itu saja. Dan Anda telah memberikan apa yang saya inginkan. Terima kasih, atas komentar, sekaligus kunjungannya.
@ lainsiji
eventough aku gak yakin dalam konsep pluralitas no. 1 itu adalah keadaan yang valid, ………..adalah sebuah fakta bahwa setiap interaksi memiliki kemungkinan terjadinya friksi
.
Wah, komenmu juga menambahi referensiku nih. Trim’s. Setuju sekali. By the way lho, tumben telat mampir
8 Mei, 2008 pada 5:08 pm
Busyet daaahh…
Baru nongol dah di sodorin dua pilihan, ngomon-ngomon saya dah kedaftar dalam calon pemilih belon…? ntar dikirain pemilih fIKTIF lageh…
Nggelesod…menunggu panggilan mencoblos…
Rokokan dulu ah….loh mana KOPINYA neh Ris…?? ( nyodhorin tangan )
9 Mei, 2008 pada 5:13 pm
Wooo Jelas saya PILIH KECAP NO. 1
yg pilih no. 2 silahkan pindah ke planet lain
10 Mei, 2008 pada 12:09 am
Hmmmm…. gimana ya….. saya sih milih alternatif pertama walaupun sebenarnya ada alternatif yang lebih baik lagi menurut saya, tapi tidak ada di sini…..
Btw…. sebelumnya maaf ni ya…. apakah dengan membuat postingan seperti ini anda secara tak langsung juga sudah “mencampuri urusan orang lain” yang tidak sejalan atau tidak sefaham dengan anda?? Hanya saja yang ini lewat tulisan bukan lewat “intimidasi”……
Menurut saya sih….. ekstremitas ada di mana2 dan bukan monopoli satu golongan saja, hanya bedanya, yang satu berani berkoar karena mayoritas yang satunya lagi nggak berani berkoar karena kalah banyak. Mengenai merasa sebuah agama yang paling benar sendiri, saya rasa semua agama juga begitu. Mana ada sih sebuah agama yang mengajarkan bahwa agama lain lah yang paling benar… hehehe….. kan lucu jadinya??
Hanya saja memang jargon2 mengenai agama kita yang paling benar, seyogianya ya untuk kalangan sendiri saja. Dan bagi agama lain yang mendengarnya, ya belajar dewasa juga, anggaplah itu hal yang wajar. Bagi saya (seorang Muslim), saya nggak apa2 kok mendengar orang2 agama lain mengatakan agamanya yang paling benar! No problem!
Tapi…. saya setuju bahwa masalah keyakinan adalah hak masing2 individu (termasuk apakah mereka mau masuk aliran2 ’sesat’ ), dan tidak ada satu pihakpun termasuk negara dan juga umat2 lainnya yang berhak mempengaruhi apalagi memaksa untuk mengubah kepercayaan seseorang. Untuk itu saya memilih alternatif 1, walaupun menurut saya itu bukan alternatif absolut saya!
10 Mei, 2008 pada 2:17 am
@ Santri Gundhul
kopi? ntar deh, saya kirim pake rapidshare. itu jg klo bisa
@ joyo
[garuk2 kepala]
urusan migrasi ke planet lainnya gimana tuh? [garuk2 kepala lg]
@ Yari NK
Alternatif yang lebih baik? Mana Mas? Kenapa nggak di-share aja langsung disini?
Hmmm… untuk jawaban atas pertanyaan Anda di paragraf dua, benar sekali. Tak perlu penjelasan.
Next, saya juga memang sudah berpendapat sendiri , kalau diantara dua pilihan diatas itu, memang tak ada pilihan/alternatif yang mutlak, apalagi sempurna.
10 Mei, 2008 pada 8:04 am
coblos nomor 1, ngkali aja ada diantara mereka yang seakidah
kalau nomor 2, hmm … well, ok … saya juga bisa kok bertoleransi dengan orang yang berlainan akidah, tentu saja dalam batas-batas tertentu
11 Mei, 2008 pada 2:33 pm
pilihan no1. ditengah penganut bukan Islam justru nilai-nilai islam tumbuh, sifat saling menyayangi, menghargai dan berkasih sayang adalah gambaran islam menurut saya, itulah tujuan Tuhan menurunkan agama kepada manusia dan
pilihan no.2 di tengah manusia yang mengaku Islam justru tidak ada nilai2 Islamnya.
saya lebih memilih no. 1
tapi saya pynya usul nich mas aris, buat pilihan 1 lagi aja yook..
pilih yang no 3 hidup ditengah komonitas Islam yang damai, menjadi rahmatan lil ‘alamin
11 Mei, 2008 pada 4:50 pm
@ watonist
Lalu…? Pilih yg mana nih
@ sufimuda

Jauh2 sebelum saya memposting tulisan ini, sempat muncul jg pilihan seperti yang Anda usulkan. Cuma ya karena saya terlampau mengikuti realita yang ada di sekeliling, yang mana “hidup di tengah komunitas Islam yg damai” hanyalah utopia, maka saya tidak jadi menuliskannya. Ada kritik nggak?
12 Mei, 2008 pada 11:07 pm
@esensi
tentu saja nomor 1, ngkali aja ada diantara mereka yang seakidah
15 Mei, 2008 pada 9:45 am
atheist pun bertuhan kok! ^_^
16 Mei, 2008 pada 3:17 am
ketika saya berpikir-pikir dulu, kayaknya saya mo pilih yang ini aja dech:
tak masalah mo tinggal di tempat yang sepaham, ato seidentitas.
begitu juga tak masalah mo tinggal di tempat yang plural.
keduanya hal biasa, lagian mo tinggal di tempat yang pertama ato yang kedua, toh kita tidak pernah benar-benar bisa melepas salah satunya dalam kehidupan sosiologis umat manusia.
hidup juga bersifat material sehingga mesti meniadakan yang lain, namun juga hidupnya manusia bersifat immaterial, senantiasa menyempurnakan dirinya dengan hal-hal yang luhur.
so, ketika memang kita harus survive terhadap attack pihak lain, itu benar untuk melawan (silahkan pakai cara luhur ato brutal).
namun jika tidak maka kitapun harus memahami untuk berbagi ruang dengan yang lain sebagaimana kita membutuhkan ruang untuk hidup.
BTW, sebenarnya pertanyaan diatas sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan, so nggak usah dipusingkan, itu sosiologis aja jangan terlalu diseret ke pilihan ideologis.^_^
16 Mei, 2008 pada 2:09 pm
@ Andri Irawan
Nah, kalau sudah demikian kan, saya bisa “terbebas” dari bermacam tuduhan seperti provokasi atau agitasi, sebab yang saya ajukan dalam postingan ini tak lebih dari sekedar ingin melihat, seberapa banyak, sih responden jagat maya dalam pilihan aksiden ini? Furthermore, all is an experiment!
Argumen yang hebat! Saya memang menunggu rekonstruksi (orientasi) wacana yang saya kedepankan ini. Well, saya melakukan kesalahan disini, yakni dengan memaksakan diri untuk menyeret problema kontemporer yang sebetulnya pada ranah sosial menjadi masalah ideologis. Tapi sebelumnya saya sudah membuat ancang-ancang jikalau saya terpeleset dalam kata-kata yang saya tulis dalam dua opsi yang saya tawarkan, dengan preface; “Seandainya Anda harus memilih diantara dua pilihan di bawah ini, mana yang akan Anda pilih?”.
Salam!
20 Mei, 2008 pada 10:02 am
satu lagi sudut pandang sampeyan membuat kagum mas.
saya ikut pilihan sampeyan.
tapi kalo boleh usul, sekian taon golkar nomor 2 jadi jangan pilih nomor 2.
20 Mei, 2008 pada 10:47 am
@ nindityo
Walah
24 Mei, 2008 pada 5:30 am
saya pilih nomor 1
saya ga merasa harus tinggal berdekatan dengan yang seagama kalau nantinya akan membawa pengaruh buruk buat saya dan tidak ada manfaatnya sama sekali berdekatan dengan mereka…
jangankan dalam bertetanggga, dalam hubungan pertemanan ini sedang terjadi… saya tidak mau berteman dengan orang yang mengaku seiman dengan saya tapi bisanya menjatuhkan, melecehkan dan menghina saya cuma karena katanya iman saya tidak “setebal” mereka…
terima kasih tapi saya memilih menjauh saja
24 Mei, 2008 pada 12:44 pm
@ natazya
Tak usah khawatir ya, banyak kok yang senasib dengan Anda
(termasuk saya)
14 September, 2008 pada 7:53 pm
Saya paling tidak tertarik soal pilih memilih, entah itu Pilpres, Pilkada, Pilkades atau Pilihan Sejenis. Tapi gak tau, kenapa di sini justru saya tertarik.
Saya juga tidak tau, saya terdaftar sebagai pemilih atau tidak, saya terlambat atau tidak.
Karena saya belum baca tata tertibnya, maka saya memilih suka2 saya.
Pertama saya milih “ATAU”, dengan alasan cari aman.
Kedua saya milih “Nomor 1″, karena nomornya 1 dan saya suka damai.
Ketiga saya milih “Nomor 2″ karena pilihan yang tersisa ya tinggal itu.
15 September, 2008 pada 10:45 am
@ marsudiyanto
opsinya duwa lho, dan mesti jatuh ke salah satu
15 September, 2008 pada 11:14 am
Sorry ya Mas…
Saya sudah terlanjur di setting oleh perintah “Silanglah huruf di depan jawaban yang Anda anggap benar”.
Makanya ketika ada perintah selain itu, saya tidak siap.
Opsi duwa itu TK.
[opsi 3 = SD, opsi 4 = SMP dan opsi 5 = SMA]
Lha saya kan bingung.
15 September, 2008 pada 3:04 pm
@ komen di atas
sampeyan ngajak berantem ya
25 September, 2008 pada 10:30 pm
Saya pilih suara yang terbanyak .
Saya nggak suka yang ribet , nggak suka dengan permusuhan.
Untungnya saya tinggal di daerah yang 90% agama nasrani
Jadi nggak pernah ada masalah megenai apapun , karena dari hal apapun memang sudah berbeda/tak sejalan, yang membuat tidak berbeda adalah: sama-sama makan nasi , sama-sama hidup,Sama- sama manusia
Salam
29 September, 2008 pada 2:35 pm
pilh 1 dan 2 karena saya adalah orang yang serakah mas dan juga kita dapat mengambil hikmah kok dari 2 lingkungan di atas contohnya dengan lingkunan 1 kita dapat menunjukan bagaimana kemulian yang diajarkan islam sebenarnya.dalam kehidupan bertetangga dan keseharian
nah yang untuk yang kedua kita dapat juga mengajarkan bagaimana seharusnya umat islam bertindak juga memantau mengingatkan saudara kita yang seiman islam hidup layaknya islam.