Sebuah Gugatan Ahmadiyah, Berusaha Merubah Sudut Pandang

cover bshp

Judul :
Bukan Sekedar Hitam Putih – Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah
Penulis : M.A Suryawan
Penerbit : Azzahra Publishing
Cetakan : I, Januari 2006 (Revisi)
Tebal : xxx + 236 hlm; 20,5×14,5 cm

PREFACE
Berawal ketika saya masih duduk di bangku SMA, kira-kira pertengahan 2005, masalah Ahmadiyah saat itu sedang santer-santernya diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik. Surut beberapa waktu, lalu mencuat kembali akhir 2007, hingga sekarang. Awalnya, sebagai seorang yang merasa keyakinan (iman-islam)-nya paling benar, saya pun sempat ikut dalam golongan mayoritas (yang dalam istilah MUI; “Islam pada umumnya”), yakni ikut (ikutan) menganggap dan men-cap bahwa golongan minoritas Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Namun pada akhirnya saya menyadari, bahwa budaya ikut-ikutan memvonis suatu perkara tanpa mengetahui benar duduk perkaranya itu sendiri, bukanlah esensi dari ajaran Al-Qur’an. Beberapa gagasan Islam Liberal yang saya anut, diantaranya adalah berpikir kritis dalam memandang suatu masalah dan bersikap inklusif, membuat saya mencoba untuk mencari literatur yang sanggup memberi jawaban yang objektif, komprehensif, memuaskan sekaligus mencerahkan atas perkara pemahaman Ahmadiyah.

Merujuk pada artikel-artikel di media cetak dan elektronik, jujur enggan saya lakukan, tak lain karena semuanya lebih berisi tudingan miring dan kata-kata kebencian. Maka media internet-lah yang menjadi rujukan. Namun saya kecele, ternyata di sini lebih parah lagi. Ketika saya mencoba mengetikkan keyword “Ahmadiyah”, “Ajaran Ahmadiyah”, “Mirza Ghulam Ahmad” dan berbagai kata yang berhubungan dengannya, Google dan Yahoo menyajikan kepada saya daftar situs-situs dan blog yang reviewnya sanggup membikin seluruh darah naik ke kepala. Nada-nada kasar, fitnah, umpatan, dan sarkasme tersebar di berbagai postingan. Dari situs-situs sekelas Hidayatullah.com, Swaramuslim, Eramuslim, sampai ke situs-situs dan blog yang tak jelas spesialisasi tulisannya. Sampai-sampai saya bertanya, tak adakah satu saja yang netral? Apakah tidak ada orang-per-orang yang miris hatinya melihat mesjid dibakar, rumah-rumah penduduk Ahmadiyah dirusak, dan berbagai aksi intervensi lainnya terhadap kebebasan dan berkeyakinan? Mungkin pada saat itu saya belum menemukannya saja, yang jelas, suatu hari di sebuah milis, saya mendapatkan link ke sebuah web, yang berisi kumpulan artikel Islam, dan dua e-book gratis yang saya cari-cari, dan isinya lebih dari apa yang saya inginkan. Satu diantaranya adalah berjudul Bukan Sekedar Hitam Putih – Sebuah Gugatan Ahmadiyah (Cetakan 2005 sebelum revisi), yang ditulis oleh seorang anggota Jema’at Ahmadiyah.

ESSENCE
Siapapun yang meyakini suatu kepercayaan, kemudian ia diserang berbagai fitnah dari segala arah atas apa yang diyakininya hanya lantaran berbeda dengan pemahaman mayoritas, tak ayal ia akan mengajukan pledoi ke muka umum. Entah dalam bentuk dialog terbuka, diskusi di milis, debat publik, ataupun dalam bentuk tulisan. Cara yang kedua inilah yang dilakukan oleh salah satu intelektual sekaligus cendekiawan Muslim Ahmadiyah, M.A Suryawan.

Segala tuduhan dan pertanyaan yang kerap dilontarkan orang-orang perihal Ahmadiyah, semisal nabi yang sebenarnya diyakini umat Ahmadiyah, siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad, benarkah ia kaki-tangan Inggris, hingga love affair yang kerap dialamatkan kepadanya atas Muhammadi Begum, semuanya dijawab tuntas. Perspektif khatamun-nabiyyin dalam kacamata Ahmadiyah-pun dijelaskan secara gamblang disertai hujjah-hujjah yang dapat dipertanggung-jawabkan. Masalah pengkafiran terhadap non-Ahmadi dan menganggap bahwa non-Ahmadi adalah najis, pun semuanya dibantah dengan argumen yang kuat, dan akan bisa kita lihat, bagaimana posisi umat Ahmadiyah sebenarnya. Lalu mengenai tuduhan pembajakan Al-Qur’an dengan nama kitab Tadzkirah, juga tuduhan bahwa umat Ahmadiyah tidak menunaikan ibadah haji ke Mekkah, semuanya dikupas habis tanpa menyisakan secuil-pun rasa penasaran para pembaca yang belum paham betul apa dan bagaimana Ahmadiyah.

Di setiap pemaparannya, Suryawan tidak terkesan emosional, atau mati-matian berapologi bahwa mereka-mereka yang menuduh Ahmadiyah sesat itu adalah salah besar. Ia nampak lebih menyerahkan kesimpulan final di tangan para pembacanya, baik mereka yang pro maupun yang kontra. Gaya bertuturnya yang sopan, tidak terburu-buru dan khas, seolah mengatakan kepada para pembacanya; “Ahmadiyah itu begini, lho…”, ia santai, seperti orang yang sedang ngobrol lepas, lalu memberikan rekonstruksi jawaban jika yang diobrolkan lawan bicaranya dirasa ada yang salah sambil lalu menyeruput teh hangat, dan tidak menghiraukan apakah pendapatnya diterima atau tidak. Lain lagi, Suryawan bisa dikatakan berhasil mematahkan berbagai argumen-argumen yang kerap dijadikan senjata oleh lawan-lawannya, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, dengan satu-dua argumen yang sederhana.

Di pertengahan bukunya, ia pun sama seperti kaum liberalis, yang heran akan otoritas dan wewenang MUI dalam memberangus suatu keyakinan tertentu, yang mana amat paradoksal dengan nilai UUD 1945 pasal 29 dan spirit Pancasila. Meskipun demikian, ia masih tetap konsisten dalam pembelaannya atas berbagai tuduhan yang kerap dilontarkan terhadap Ahmadiyah. Hanya saja yang agak menggelitik untuk diteliti dan diketahui adalah, perihal kisah riwayat hidup “sang mujaddid” Mirza Ghulam Ahmad di akhir hayatnya, yang meninggal lantaran penyakit kolera yang dideritanya. Jika para penentang Ahmadiyah semisal Hartono Ahmad Jaiz mengatakan bahwa akhir hidup Mirza berakhir menjijikkan, Suryawan malah berpendapat justru itulah bukti bahwa Mirza mati syahid lantaran penyakit yang dideritanya itu masuk kategori orang-orang yang dicatat sebagai syuhada di sisi Allah.swt atas dasar hadist Nabi Muhammad.saw. Nampak ada semacam justifikasi disini, sebab syahid tidaknya seorang manusia, meskipun didukung atas hadist dan ayat yang membenarkan, tetap saja hanya Allah yang tahu.

Terlepas dari itu semua, buku mengenai berbagai persoalan perihal Ahmadiyah yang memang tidak bisa dilihat secara hitam putih ini, sangatlah relevan untuk dibaca, mengingat krisis perkara Ahmadiyah masih belum mencapai titik akhir penyelesaiannya. Tak ada pretensi memang dari penulisnya, untuk membuat siapapun yang membaca buku ini untuk menjadi pro Ahmadiyah apalagi sampai berbalik mengikuti Jemaat Ahmadiyah. Sekali lagi, Suryawan hanya ingin menjelaskan duduk perkara sebenarnya, sebagai jawaban atas fitnah-fitnah tak berdasar yang dialamatkan kepada Ahmadiyah, baik secara kolektif maupun perorangan. Dus, karya M.A Suryawan ini, patut diacungi jempol, sebagai karya gugatan yang jauh dari emosionalitas dan subjektivitas.

CLOSING
Buku ini sebenarnya lebih pantas dibaca oleh Anda-Anda yang ingin mengenal apa sih Ahmadiyah itu sebenarnya, dengan bukan berpegang pada vonis dan tuduhan tanpa bukti yang jelas dan benar. Dengan logika saja, kita bisa berpikir, tak mungkin suatu komunitas bisa memiliki anggota-anggota yang solid dan tidak pernah terdengar melakukan tindak kriminal sosial jika ajaran-ajarannya tidak mengajarkan nilai-nilai agama dengan benar dan mengedepankan akhlak. Kita jangan sampai menutup mata, bahwa mesjid yang pertama kali berdiri di daratan Eropa adalah didirikan oleh Muslim Ahmadiyah bernama Fazl Mosque. Juga bagaimana Islam yang toleran dan ramah tersebar di belahan Eropa dan Afrika Barat, tak lain adalah hasil perjuangan Muslim Ahmadiyah. Siaran Islam di sana pun bisa dinikmati lewat Muslim Television Ahmadiyya (MTA), yang juga sudah dipancarkan ke seluruh belahan dunia 24 jam non-stop. Jangan dilupakan pula, bahwa satu-satunya muslim dunia yang pernah berhasil meraih nobel, adalah seorang Muslim Ahmadi bernama Dr. Abdus Salam pada 1979, yang juga terkenal akan jasa-jasanya.

Masihkah Anda membenci Ahmadiyah, hanya gara-gara berbeda pemahaman dan keyakinan? Sah-sah saja, dan itu terserah Anda. Hanya saja, saya mengusulkan, bahwa tak ada buruknya jika orang-orang “Islam pada umumnya” bekerja sama, bersatu padu, gotong royong mengeliminir berbagai masalah-masalah sosial semacam pengangguran, kemiskinan, kejahatan, dan kebodohan bersama orang-orang Ahmadiyah. Lebih baik lagi jika berbagai firqah dalam Islam saling bergabung memerangi koruptor! Sebagian merumuskan langkah dan strategi jitu, lalu pelaksanaannya dilakukan oleh FPI, FUUI, dan Laskar Islam dengan cara potong tangan para koruptor di tempat. Bukan mustahil negeri ini akan bebas dari sampah-sampah berdasi ber-kerah putih.

Semuanya bisa diwujudkan hanya dengan merubah sudut pandang. Dan melalui buku inilah, sang penulis berharap setidaknya para pembacanya berkenan merubah sudut pandangnya terhadap Ahmadiyah. Mereka punya hak hidup dan hak menjalankan kehidupannya dengan damai, tidak ingin diteror oleh pengrusakan apalagi penindasan keyakinan, seperti halnya kita ingin diperlakukan demikian.

Saya memang bukan seorang bagian dari Ahmadiyah, hanya saja akal dan nurani saya tidak bisa menerima perlakuan-perlakuan represif yang diterima Jema’at Ahmadiyah selama ini. Jika toh sekali lagi diantara mereka ada yang tetap “ngotot” bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu seorang nabi, ya…whatever, itu biarlah menjadi urusan personal mereka dengan Allah kelak, yang jelas, negeri kita ini masih punya 1001 masalah urgen yang menumpuk tak karuan yang harus segera diatasi, dan tentu kebersamaan dan persatuan adalah suatu keniscayaan jika kita benar-benar ingin bisa bangkit menuju utopia.

Semoga kita bisa memulainya dari sini, dari perubahan pandangan terhadap mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda. []

03.48 dinihari, 12 Juni 2008
Bandung

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Note 1:
Meskipun SKB (Surat Kebingungan Bersama) sudah terbit, yang isinya melarang Jema’at Ahmadiyah menyebarkan ajaran dan pemahamannya, namun kita-kita yang non-Ahmadi tentulah bebas mencari dan mempelajari literatur-literatur Ahmadiyah, entah untuk sekedar ingin tahu, membandingkan, ataupun sekedar untuk menambah wawasan.
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Note 2:
Bagi Anda yang ingin membaca/memiliki buku ini, saya sediakan link e-booknya di bawah ini. Semoga bermanfaat. Salam… [PS. Untuk lainsiji, ini pesenanmu, maaf kalau terlambat infonya].
Download Bukan Sekedar Hitam Putih – Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah.pdf

41 Tanggapan ke “Sebuah Gugatan Ahmadiyah, Berusaha Merubah Sudut Pandang”

  1. sepertinya menarik …

    *download*

  2. @ watonist
    silaken…

  3. rujukan yang “dahsyat” utk menemukan sebuah esensi tetn nilai2 kebenaran, kenabian, dan ketuhanan versi kelompok ahmadiyah. sebagai rujukan sepertinya buku ini layak dibaca. wah, makasih juga telah share link-nya. saya sendiri cenderung berpendapat bahwa perlakuan pihak2 diari luar kelompok ahmadiyah cenderung berlebihan. semangat rahmatan lil’alamin sudah kauh bergeser menjadi seamngat menggasak dan menghantam habis. semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi pihak mana pun yang menginginkan pluralitas di negeri ini teteap hidup!

  4. @ Sawali Tuhusetya
    inggih leres, Pak…
    mugo-mugo biso dadi pelajaran kanggo umat beragama sing kritis…

  5. suhadinet Berkata

    Saya juga penasaran dan ingin tahu apa dan bagaimana sih sebenarnya Ahmadiyah itu.
    Makasih untuk link pdf-nya.
    Oya, juga makasih untuk kunjungannya di blog saya.

  6. setuju untuk mengedepankan akhlak/budi pekerti yg luhur dalam menyikapi perbedaan. setahu saya tujuan agama juga menyempurnakan akhlak. masalahnya, definisi soal “akhlak yg mulia” juga beda-beda. barangkali ada yg berpendapat bahwa memerangi mereka yg berbeda adalah tindakan yg mulia.

    sepertinya perlu dibedah lagi pemahaman soal iman, islam, taqwa, dll. supaya memperjelas pandangan “masyarakat pada umumnya”.

  7. Walaupun buku ini menarik dan mencoba menjelaskan hitam-putih Ahmadiyah, tetapi tetap saja sulit untuk memungkiri bahwa ternyata banyak gerakan-gerakan yang melawan kebinekaan di Indonesia ini. Sepertinya kita sudah gagal menjaga kebinekaan dan kepluralan hidup berbangsa, dan pemerintah memegang andil besar dengan SKB-nya.

    *sad*

  8. Wah, pembahasannya lengkap ini.

    *ikut downlad*

  9. ris, thanks for the info :)

    ya, ini tambahan referensi yang menarik

  10. Saya sudah pernah membacanya, tapi bukan dalam bentuk ebook. Well.. tetap saja banyak hal rancu di sana, salah satunya ya seperti anda tuliskan sendiri tentang kolera itu.

    Ada sejumlah pembahasan di sana yang sepertinya mencoba melogiskan banyak hal, yang justru dalam kaidah ushul fiqh sendiri tidak bisa dilogikakan dengan gamblang. Permasalahan tauhid dan perbandingan MGA dengan isyarat-isyarat kedatangan Al Masih pun lebih ke apologia juga jatuhnya.

    Whatever… saya sepakat kalo ini buku layak jadi referensi diantara kepungan buku-buku yang cenderung taqlid juga jadinya, meski saya – secara pribadi – tetap tidak sejalan dengan pandangan kaum JAI ini :)

  11. @ suhadinet
    Sama-sama :-)

    @ sitijenang
    Yang jadi pertanyaan saya ya Kang, siapa kira0kira yang cocok untuk berada di “podium”, untuk menjabarkan makna iman, islam dan taqwa itu? Monggo…

    @ goldfriend
    Lha? Memang bangsa ini memang bangsa yang gagal tokh? :-D

    @ dana
    Wah, kalau Mas Dana sih, kayaknya wajib download :lol:

    @ lainsiji
    you’re welcome, brother…

    @ alex®
    Bener dugaan saya, pasti bakal ada orang yang merasakan hal demikian. Itu sebabnya tisak saya beberkan semuanya. Peresensi yang buruk ya saya ini :mrgreen:

  12. privateryan Berkata

    Trims dah mampir ke webku and drop comment…
    Artikelnya bagus..
    Saya dari SMA punya sahabat orang ahmadiyah, kitab ahmadiyah yang lebih tebal dari Al Qur’an pun saya sudah baca (walau gak khatam).

    Sekarang inti pokok masalahnya Ahmadiyah itu beda dengan Islam, itu aja scoopnya simple as that. Jangan kemana-mana. Masalah kebersamaan umat beragama, umat Islam rasanya udah cukup toleran misalnya dgn Hindu, Budha, Kristen, Konghucu dsb. Aman2 aja.

    Sekarang apakah aliran lain toleran sama kita ? apakah aliran lain sudah toleransi dengan masalah internal Islam di kita ? kenapa mereka turut campur ?? Islam toh gak pernah usil sama aliran2 di kristen..

    Masalahnya fondasi agama Ahmadiyah dan Islam itu tidak sama.
    Dan mereka selalu memaksa utk kita spy berubah dan mesti toleransi dengan mereka.
    Pusing kan ?

    Masalah2 duniawi atau cerita2 sinetron boleh aja Abu2 (bukan hitam dan Putih), akidah adalah masalah hitam putih, saya gak mau bertaruh(bermain-main) pada hal2 surga dan neraka.

    Kritis2 intelektual ttg masalah Ahmadiyah boleh aja…
    tapi esensi hidup kita adalah beribadah ke Allah, apakah tobat dan amal kita sudah benar ? pelajari yg pasti2 dan prioritas aja…waktu kita terbatas hidup kita paling lama 80 tahun, jangan ikut arus belajar yang gak perlu untuk sekedar memuaskan pengetahuan (hawa nafsu) dan melupakan esensi hidup sendiri.

    privateryan.wordpress.com

  13. Trims dah mampir ke webku and drop comment…
    Maaf, saya tidak pernah mampir ke blog siapapun dengan cara mengaburkan identitas seperti itu, dan lagi saya tidak pernah promosi postingan yang saya tulis sendiri. Itu orang lain.
    .

    umat Islam rasanya udah cukup toleran misalnya dgn Hindu, Budha, Kristen, Konghucu dsb
    Umat Islam yang mana, ya? :-D
    .

    Sekarang apakah aliran lain toleran sama kita ?
    Lho? Buat apa melihat orang lain? Yang penting bagaimana sikap kita, bukan sikap orang lain.
    .

    Masalahnya fondasi agama Ahmadiyah dan Islam itu tidak sama
    Bisa dijelaskan satu per satu?
    .

    Dan mereka selalu memaksa utk kita spy berubah dan mesti toleransi dengan mereka. Pusing kan ?
    Memaksa? Kapan? Dan kepada siapa?
    Catatan : saya tidak pusing, kok. Entah dengan Anda.
    .

    Kritis2 intelektual ttg masalah Ahmadiyah boleh aja…
    tapi esensi hidup kita adalah beribadah ke Allah, apakah tobat dan amal kita sudah benar ? pelajari yg pasti2 dan prioritas aja…waktu kita terbatas hidup kita paling lama 80 tahun, jangan ikut arus belajar yang gak perlu untuk sekedar memuaskan pengetahuan (hawa nafsu) dan melupakan esensi hidup sendiri.

    Apakah perkara kekerasan terhadap mereka yang minoritas bukan perkara krusial dan patut menjadi prioritas? Buka mata, Bung. Al-Qur’an lebih banyak bicara tentang kebajikan terhadap sesama, siapapun dan apapun keyakinannya.

    Salam,

  14. privateryan Berkata

    umat Islam rasanya udah cukup toleran misalnya dgn Hindu, Budha, Kristen, Konghucu dsb
    Umat Islam yang mana, ya? :-D
    ***Umat Islam yang udah mengamalkan Al Quran dan Sunnah (baca Al Kafirun, Untukku agamaku Untukmu Agamamu..)

    Sekarang apakah aliran lain toleran sama kita ?
    Lho? Buat apa melihat orang lain? Yang penting bagaimana sikap kita, bukan sikap orang lain.
    *** Itu pertanyaan retorik gak perlu dijawab, liat jawaban saya diatas

    Masalahnya fondasi agama Ahmadiyah dan Islam itu tidak sama
    Bisa dijelaskan satu per satu?
    ***
    Kayaknya udah jelas deh apa, cuma kadang kita gak mau liat
    Baca Alquran dan Hadits dan Baca Kitabnya Ahmadiyah

    Dan mereka selalu memaksa utk kita spy berubah dan mesti toleransi dengan mereka. Pusing kan ?
    Memaksa? Kapan? Dan kepada siapa?
    Catatan : saya tidak pusing, kok. Entah dengan Anda.
    ***Bukannya posting ini berisi ttg berubahnya sudut pandang ke Ahmadiyah ? anda lupa ya ?

    Apakah perkara kekerasan terhadap mereka yang minoritas bukan perkara krusial dan patut menjadi prioritas? Buka mata, Bung. Al-Qur’an lebih banyak bicara tentang kebajikan terhadap sesama, siapapun dan apapun keyakinannya.
    *** Salah besar Mas, Seluruh isi Al Qur’an berbicara ttg AQIDAH, kebajikan sesama dsb hanya bagian dari penerapan AQIDAH.
    Bagaimana dengan perkara minoritas umat Islam di Eropa ? kenapa anda
    gak meributkan ? (Jangan jawab umat Islam Minoritas gak dapat masalah ya, karena itu menunjukkan keluguan anda)

    Saya yakin anda orang yang cerdas, tapi cuma bergaul dengan orang yang pemikirannya salah..berdoa kepada Allah minta diberi petunjuk jalan yang lurus dan ilmu yang bermanfaat. Segera.. jangan ambil risiko dengan hidup kita

  15. @ privateryan

    Umat Islam yang udah mengamalkan Al Quran dan Sunnah (baca Al Kafirun, Untukku agamaku Untukmu Agamamu..)
    Al Quran dan Sunnah versi siapa? Muhammadiyah? NU? Syiah? Persis? Stop membicarakan masalah siapa dan bagaimana mengamalkan (nilai2) Al Quran, sebab ujung2nya kita hanya bakal berakhir pada debat kusir yang tak akan ada ujung pangkalnya.
    .
    Itu pertanyaan retorik gak perlu dijawab, liat jawaban saya diatas
    Waduh, pertanyaan simpel gitu saja Anda tidak mau menjawabnya? Malah disebut pertanyaan retorik lagi? Ya sudah, saya ikuti mau Anda.
    .
    Kayaknya udah jelas deh apa, cuma kadang kita gak mau liat.
    Baca Alquran dan Hadits dan Baca Kitabnya Ahmadiyah

    Bagi saya belum jelas, kok. Makanya saya minta Anda memerincinya satu per satu. Baca Alquran dan Hadits? Bung, untuk yang satu ini, mohon dijelaskan pula, membacanya secara literer atau gimana? Lalu Alquran dan Hadits versi mana, sebab sekali lagi, penafsiran atas keduanya dalam Islam itu teramat plural. Baca kitabnya Ahmadiyah? Tapi kata orang-orang Ahmadiyah, kitab mereka cuma Al-Qur’anul Karim, nggak ada yang lain lagi. Gimana dong?
    .
    Bukannya posting ini berisi ttg berubahnya sudut pandang ke Ahmadiyah ? anda lupa ya ?
    Saya menitikberatkannya kepada penyajian buku Suryawan, kok. Dan saya juga sudah menyampaikan, bahwa keputusan final tetap ada di tangan para pembacanya. Yang perlu digarisbawahi, adalah “be-ru-sa-ha merubah sudut pandang orang2 yang kontra Ahmadiyah, bukan soal “berubahnya sudut pandang ke Ahmadiyah”.
    .
    Salah besar Mas, Seluruh isi Al Qur’an berbicara ttg AQIDAH, kebajikan sesama dsb hanya bagian dari penerapan AQIDAH. Bagaimana dengan perkara minoritas umat Islam di Eropa ? kenapa anda gak meributkan ? (Jangan jawab umat Islam Minoritas gak dapat masalah ya, karena itu menunjukkan keluguan anda)
    Nah, pendapat Anda mengenai isi Al Qur’an kan demikian, sedangkan saya lain lagi. Bukankah ini menunjukkan betapa terdapat multi-tafsir mengenai esensi Al-Qur’an? Inilah yang saya kagumi dalam Islam. Perihal kenapa saya tidak meributkan umat muslim minoritas di Eropa? Lha wong di negeri sendiri saja masalah seperti ini nggak kelar-kelar, kok ya jauh-jauh mikirin mereka yang ada di luar negeri sana? Hmm?
    .
    Saya yakin anda orang yang cerdas, tapi cuma bergaul dengan orang yang pemikirannya salah..berdoa kepada Allah minta diberi petunjuk jalan yang lurus dan ilmu yang bermanfaat. Segera.. jangan ambil risiko dengan hidup kita
    Ini yang saya amat sangat tidak setujui, yakni mengenai dikotomi dan kriteria BENAR-SALAH. Jika Anda sudah sampai pada taraf berani memvonis yang begini salah yang begitu salah, padahal bentuk dan esensinya masih bersifat debatable, maka saya angkat tangan dari pembicaraan seperti ini. Dan anggap saja Anda memenangkan argumen atas perkara (perbedaan pemahaman) perihal Ahmadiyah ini.
    .
    Semoga Allah menunjuki KITA SEMUA menuju jalan yang di-rahmati-Nya.
    Salam,

  16. Yang jadi pertanyaan saya ya Kang, siapa kira-kira yang cocok untuk berada di “podium”, untuk menjabarkan makna iman, islam, dan taqwa itu? Monggo…

    kalo menurut saya sih tiap orang berhak naik “podium”. tentunya perlu dipahami (atau mungkin perlu kata sepakat) bahwa sepanjang “cuma” manusia, kita hanya bisa memberi pendapat. menurut saya, mereka yg teriak paling lantang, keras, memaksa, plus “legitimasi” pun nyatanya tidak otomatis bisa diterima oleh semua. berhubung (barangkali) belum banyak pilihan suara lainnya saja yg ikut bersuara. kalo berharap pada seorang sosok, (menurut saya) mestinya lebih dulu ada “mandat”. itupun sambil terus berharap… mari berharap… :D

  17. Bagi saya pribadi, dalam agama itu ada personal history. Serba subyektif. Sesama muslim pun mempersepsikan tentang Allah, bisa berbeda-beda. Ada yang mempersepsikan Allah itu tidak adil, tetapi ada juga yang mempersepsikan Allah itu sangat adil. Hal yang sama juga terjadi pada penganut katolik, kristen, hindu, budha, dll. Dalam beragama ada sejarah yang bersifat pribadi dan kultural. Maka yang sebenarnya penghayatan keagamaan itu tidak untuk diperdebatkan karena pasti tidak akan ketemu.
    Seorng kiai pernah menjelaskan kepada saya. Allah itu sebenarnya cinta dan kasih-sayang maka jadikan cinta dan kasih sayang itu sebagai kriteria pengahayatan agama. Selama kita bertindak penuh cinta dan kasih sayang maka kita sedang berjalan pada jalan Allah, entah apaun agamanya.

  18. @ kebhatinan
    Cinta sebagai kriteria penghayatan agama…, hmm… cukup menarik ini. Hanya saja, sekali lagi ya (seperti yg sudah saya paparkan berkali2 pada komentar2 saya di atas), bahwa “jalan” yang ditempuh masing2 individu itu, kerapkali berbenturan dengan “jalan” yang diyakini orang lain sesamanya, dalam konteks ini Anda berbicara “cinta” sebagai kriteria. Ini pun sebetulnya ambigu, sebab “cinta” versi siapa yang patut untuk diaplikasikan pada situasi keagamaan kontemporer sekarang ini? Versi al-Hallaj-kah, versi Yesus-kah, atau versi Habieb Ridziq Shihab? Semuanya mendapat serangan.
    .
    “…Selama kita bertindak penuh cinta dan kasih sayang maka kita sedang berjalan pada jalan Allah, entah apapun agamanya…”
    .
    Sisi pluralis saya membenarkan pernyataan tersebut, namun terus terang, yang demikian itu terlalu kontroversial dan tidak memberi ketentraman batin (padahal anda penganut kebatinan kan?), sebab setiap manusia menginginkan jalan keselamatan, dan jalan keselamatan itu diklaim oleh masing2 agama. Bingung seandainya yg mendengar hal ini adalah mereka2 yg cenderung masih awam…

  19. sebab “cinta” versi siapa yang patut untuk diaplikasikan pada situasi keagamaan kontemporer sekarang ini? Versi al-Hallaj-kah, versi Yesus-kah, atau versi Habieb Ridziq Shihab? Semuanya mendapat serangan.

    versi kita sendiri saya rasa …
    sebab kita nggak pernah menjadi al-Hallaj, menjadi Yesus, ataupun menjadi Habieb Ridziq.

    *sory, maen nyelonong aja :D *

  20. @ watonist
    Mmm… saya pikir agak sulit menampilkan “versi kita sendiri” itu secara murni. IMHO, bisa dipastikan sudah terasimilasi dengan tokoh2 yang berhubungan dengan hal tersebut.
    .
    Btw, gimana sih cara nampilin komentar orang lain dengan garis vertikal di sebelah kirinya seperti yang anda buat di atas? Blank bener soal ginian…

    Salam,

  21. kalo gak salah… coba ah…

    kata-katanya

    mudah2 an bisa… :mrgreen:

  22. waaahh… salah…

    “” + kata-katanya + “”

    coba lagi…

  23. wah ya sudah sekalian hetrix…

    kurung siku+quote+sikulagi
    setelah itu kata-katanya
    ditutup dengan siku+/quote+sikulagi

  24. @ sitijenang
    heeeii… gimana sih… ;-( gagal mulu…

  25. tulisan yang bagus. akal sehat seharusnya yang dikedepankan. sandarkan saja pada dasar bahwa semua rang bebas berkeyakinan apa saja. itu hak asasi. dan yang paling sulit saya pahami adalah ketika ada orang merasa hak-nya terlanggar karena ada orang berkeyakinan berbeda. apanya yang terlanggar coba? heran…

  26. *sekalian ngetes quote*

    Mmm… saya pikir agak sulit menampilkan “versi kita sendiri” itu secara murni. IMHO, bisa dipastikan sudah terasimilasi dengan tokoh2 yang berhubungan dengan hal tersebut.

    Jangan dipastikan dulu bro. Sulit memang, tapi itulah yang harus dicapai. Sebab nanti ke “sono” memang harus sendiri. Ndak berdua-duaan dengan tokoh tokoh itu.

  27. Terima kasih sudah mampir ke “gubuk” saya….
    saya pengen tahu bagaimana orang ahmadiyah menyampaikan pendapatnya….jadi minta ijin download.

  28. @ Datyo
    Silakan, pak… :-)

  29. @ heruyaheru
    saya juga sama herannya, mas… :)

    @ dana
    Oke, oke… tapi tu gimana bikinnya…? :evil:

  30. Setiap agama tentunya menginginkan yang terbaik untuk agamanya. Kalau bisa seluruh dunia seperti apa yang agamanya inginkan. Bagi saya itu adalah menyeramkan. Perbedaan itu adalah keindahan.

    Meyakini sesuatu adalah prinsip yang baik, tetapi “merusak yang lain” ini hal yang berbeda bagi saya.

    Seringkali demokrasi “diplintir” untuk memaksakan diri sendiri. Ini sudah berupa lelucon, melepaskan motivasi dari rangkaian kata-kata.

    Contoh: JIL memakai demokrasi dan bersikeras untuk menyatakan pendapatnya, kami juga kaum “islam ortodox” melakukan yang demikian juga, bila perlu dengan kekerasan.

    Demokrasi tetap menjadi demokrasi jika diberikan ruang untuk yang lain mengungkapkan keinginannya.

    Salam.

  31. @ Iman Kristen
    Yap, i agree with you.
    .
    Salam,

  32. Nabi Lama Berkata

    Bt semua,
    Wahyu2 yang “suci” Ahmadiyah dalam Tazkirah, sebagai pembuka mata:

    “Visi dan misiku tidak lain adalah seperti Al Quran dan kedua tanganku ini akan melahirkan karya seperti Al Quran” (hal. 668)

    “Engkau (Mirza) di sisiKu berkedudukan sebagai anakKU, lagi engkau di sisiKU mendapatkan kedudukan yang tidak dapat diketahui oleh mahluk lain” (hal.236)

    “Kalau bukan karena engkau (Mirza), niscaya Aku tidak akan ciptakan alam semesta” (hal.649)

    “Yasin, sesungguhnya engkau (Mirza) adalah tergolong rasul-rasul” (hal,659)

    “Engkau (Mirza) adalah imam yang diberkati, maka laknat Allah akan dijatuhkan kepada orang yang kufur (pada engkau/Mirza)” (hal. 749)

    Silakan komentar dan koreksi jika ada yang salah dalam mengutipnya.
    Wassalam,

  33. Ahmadiyah itu islam sebagaimana Sunni dan Syiah juga islam. Cuma cara tafsirnya terhadap Quran dan Sunnah berbeda dengan kedua kelompok yang lain, gitu aja. Yang bikin ribut nyerang ahmadiyah terus di Indonesia? Itu sih bukan kaum mayoritas islam di Indo, tapi sekelompok kecil islam pegnaruh Tim Teng yang lagi nyari popularitas. Udah banyak yang tahu kok.

  34. @ sedemir
    hmm…

  35. Jelas jelas ahmadiyah bukan islam kok di bela mati matian,selalu bawa kata2 “kebebasan beragama”,dan yg paling suka membela ahmadiyah adalah org2 kafir dan org2 munafik,seneng banget kalau Islam di acak2 ajarannya.”kebebasan beragama (keyakinan)”. Otaknya ga nyambung2 kesitu lagi kesitu lagi. Capek jelasinnnya,sengaja saya tidak mengucapkan salam di awal,takut salam saya tertuju jg kepada org2 munafik.

  36. Btw, gimana sih cara nampilin komentar orang lain dengan garis vertikal di sebelah kirinya seperti yang anda buat di atas? Blank bener soal ginian…

    *nyoba*

  37. halah berhasil :mrgreen:
    sama saya cuma di sini tampilan ‘quote’nya lebih bagus :mrgreen:

  38. *ralat : saya –> saja

    [Serius]

    Ahmadiyah… Saya punya beberapa teman penganut ahmadiyah. Tapi, maaf ya mas aris, karena saya tidak memasukkan mereka ke dalam kategori Islam. *hak saya* :twisted:
    .
    .
    Saya tetap berteman baik dengan mereka dan menghargai semua pendapat mereka, tapi kalau soal aqidah saya tidak akan membicarakan itu dengan mereka, karena yang ada keadaan akan berubah menjadi arena debat kusir dan saya tidak suka itu.
    .
    .
    Mereka pernah bertanya pada saya
    A : “kenapa umat Islam membenci dan tidak menerima ahmadiyah”
    Saya : “karena Islam menganggap aqidah ahmadiyah berbeda dengan Islam (menurut saya pun begitu).”
    A : “Caranya supaya ahmadiyah tidak dibenci Islam dan bisa diterima?”
    Saya : “Gampang, ganti aja kolom ‘agama’ pada KTP anda dengan ‘ahmadiyah’ jangan Islam”

    CMIIW, gampangkan karena agamanya bukan lagi Islam tapi ahmadiyah
    “mrgreen:

  39. [/Serius]

    :mrgreen:

    dari tadi salah mulu :sad:

  40. @ Kurdi
    terima kasih komentarnya :razz:
    .
    .
    .
    @ Rukia
    Begitu? mending jangan ada label “Islam” saja sekalian. Cukup di KTP isi saja dengan nama-nama : Syi’ah, Sunni, Ahmadiyyah, Muhammadiyah, NU, sufisme, Kejawen, Agnostik, Persis, dll :razz:

  41. Boleh kok :mrgreen:
    Jadi gak perlu ada yang marah kan :lol:

Tinggalkan Balasan