Kenyang; Refleksi Hukum Gossen & Pola Makan Rasulullah

SAYA dibikin kaget setengah mati ketika suatu hari menemukan postingan yang menuliskan bahwa bid’ah pertama yang muncul pasca Rasulullah.saw wafat adalah, kenyang. Saya bengong, dan berpikir, benar juga, bahwa tingkah-polah yang semestinya patut diberi label bid’ah adalah yang berkaitan dengan nilai-nilai hidup (sosial). Selama ini saya menganggap bid’ah itu sebatas mengada-adakan sesuatu yang baru dalam konteks formalisme ibadah, eh, ndilalah tidak selamanya seperti itu. Masih penasaran, saya cari sumber-sumber yang lain, dan benar, statement tersebut diriwayatkan oleh Aisyah.ra.

Lalu apa yang membikin saya kaget? Ya… saya kaget tak lain sebab itulah tingkah-polah saya sehari-hari, nggak pernah puas kalau belum kenyang. Ya kenyang dalam soal makan, ya kenyang dalam soal kerakusan. Malu saya jadinya.

Mulailah otak saya bekerja, muter-muter nyari jawaban, pasti ini ada relevansinya dengan keseharian hidup Rasulullah.saw. Dan, eureka! Saya ingat betapa setiap menyantap makanan, Rasulullah berhenti ketika kenikmatan saat menyantap dirasakannya. Begitu pula ketika meneguk air, beliau berhenti manakala kesegaran yang begitu menggoda memenuhi kerongkongannya. Tidak seperti saya yang tancep makan terus sampai habis-bis-bis nggak tersisa, dan tidak berhenti kalau belum bersendawa. Edan!

Tapi justru dari situlah pangkal jawaban atas semua keluhan manusia modern. Masalah penyakit yang banyak mendera kebanyakan kita ya sebetulnya dari pola makan yang ngawur. Berlebih-lebihan. Padahal sebetulnya jika kita memahami hakikat makan dan minum, kenikmatan yang kita rasakan semestinya mengantarkan kita pada ucapan syukur kepada Tuhan. Lha sekarang malah kebalik, kita makan, berlebihan, sampai kenyang, lalu kadang perut mules, kita menggerutu, masuk wc, buang air, nhaa perut kosong lagi. Prosesi makan-makan yang mubadzir. Tidak ada ucapan syukur sama sekali.

Ini melemparkan ingatan saya akan salah satu isi mata pelajaran Ekonomi yang pernah saya dapatkan waktu SMP berkenaan dengan konsumsi, tentang Hukum Gossen, khususnya Hukum Gossen I, yang menyatakan “Jika pemenuhan suatu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, maka kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya dicapai titik kepuasan“. Bener juga, lha memang kenyataannya gitu. Kalau dipikir-pikir sih, ya buat apa ya kita makan tapi rasa nikmatnya tidak kita rasakan full? Bener juga apa yang selalu dilakukan Rasulullah. Stop makan saat kenikmatannya kau rasakan. Hebat bener Mbah Gossen merumuskan hukum demikian.

Tapi keadaan di lingkungan lain lagi. Kerap kita dapati ucapan para orang tua kepada anaknya, “makan yang kenyang, biar lemu, biar sehat, kalau perlu, ya imbuh lagi, biar kenyang“. Lha gadah, justru ini biang keroknya. Ini sumber penyakitnya.

Saya sering memantau setiap bulan Ramadhan, dimana terjadi keanehan di setiap rumah sakit, yakni pasien-pasien yang biasanya antri, eh di bulan puasa malah sepi, bahkan ada satu-dua yang nyaris kosong melompong. Fenomena seperti ini justru menjawab permasalahan yang tak pernah tuntas dalam dunia kedokteran, mengenai sebab krusial seringnya manusia terkena penyakit. Mayoritas memang didalangi oleh urusan perut yang tak ada habis-habisnya.

Hooo, mengertilah sekarang, kenapa Tuhan tidak suka orang yang berlebih-lebihan, terutama dalam hal makan. Ternyata Tuhan tidak mau hamba-hamba-Nya menderita sakit gara-gara ulahnya sendiri; kekenyangan, apalagi sampai melewati kapasitas yang mampu ditampung da dicerna oleh perut. Ah, Tuhan memang Maha Penyayang.

Lebih lagi, kenyang menjadi dedengkot dimana manusia menjadi serba malas melakukan rutinitas. Coba saja rasakan, ketika kenyang, biasanya kita ogah-ogahan untuk berbuat apa-apa, bawaannya jadi malas, malah jadi banyak tidur, habis deh waktu untuk mengisi hidup. Dan yang paling mahapenting lagi, kenyang membikin kita lupa. Lupa kepada mereka-mereka yang terpinggirkan. Lupa kepada mereka-mereka yang makan pagi, sore belum tentu.

Pola makan Rasulullah mencerminkan sikap kepedulian sosial. Aku bisa makan, tapi di luar sana masih banyak yang kelaparan. Itu sebabnya kenapa beliau kerap berada di garda depan orang yang paling pertama lapar dibanding keluarga, sahabat dan umatnya. Aku tak mau makan kalau mereka-mereka (yang lapar) belum juga bisa makan, begitu barangkali keinginan beliau.

Pantaslah jikalau nabi-nabi menjadi sosok panutan dalam keseharian hidup. Semoga kita tak lupa bagaimana seorang Ibrahim kesana-kemari mencari para fakir miskin untuk diajak makan bersama, dan enggan menyantap makanannya jika belum menemukan orang-orang yang kelaparan. Semoga tidak dilewatkan pula kisah Sulaiman nabi terkaya yang setiap harinya konon memasak lima ribu himar, biri-biri dan kambing untuk dibagi-bagikan, sedangkan dirinya sendiri makan seadanya hasil jerih payahnya sendiri membuat dan berjualan anyaman di pasar. Semoga tak dilupakan pula seorang Yahya yang meninggalkan kenyang setelah disindir Iblis. Terlebih seorang Isa yang tidak memiliki rumah, orang tua, saudara, makanan dan minuman. Ia menjadi nabi terfakir sepanjang sejarah kenabian. Hingga kisah hidup sang nabi pamungkas, Muhammad, yang hidup dalam serba-kekurangan dan kelaparan.

Ah, seandainya saja para bapak-bapak birokrat di atas sana juga menerapkan pola hidup seperti Rasulullah, tentulah mereka akan ingat rakyat di bawahnya yang terseok-seok dalam derita kemiskinan dan kelaparan. Tapi untuk urusan yang satu ini rasanya mustahil mereka berbuat seperti itu. Sebab mereka saja tidak pernah kenyang dengan harta dan jabatan yang dimilikinya sekarang. Dasar keparat!

Lho, lho, lho!? Kok saya jadi tukang tuduh begini?? Bukannya saja juga tidak kalah keparatnya?! Halah, ya sudahlah. Yang jelas, saya adalah seorang pembid’ah tulen. Sebab sekali lagi, makan sampai kenyang, itulah rutinitas sehari-hari saya. Tidak bisa tidak.

Duh Gusti, kiranya Engkau berkenan membimbing hamba-Mu yang goblok ini, agar bisa menyetop ritual makan dan minum sampai secukupnya saja, biar hamba-Mu ini tidak hilang rasa empatinya terhadap sesama, terhadap mereka-mereka yang dicekik kelaparan. Dan hamba sedang dalam proses menuju kesana, bergulat dengan nafsu perut, biar hamba tidak menuhankan perut lagi.

Ah, semoga cuma saya saja yang di bumi ini yang hobi makan sampai kenyang edan-edanan. []

Bandung, 26 Juni 2008
Menjelang pagi, saat perut ini berisi 1001 macam aneka makanan…

16 Tanggapan ke “Kenyang; Refleksi Hukum Gossen & Pola Makan Rasulullah”

  1. Dari awal ane baca ini fostingan… yang faling bisa ane cerna adalah kalimat penutufnya, yaitu… : “MENJELANG FAGI, SAAT FERUT INI BERISI 1001 MACAM ANEKA MAKANAN.” :mrgreen:

    Oh ya… soal menjadi kontributor, ane tunggu. :D

  2. @ caberawit
    Waduh… :lol:

    Kontributor? Wah, kayak dream yang bakalan come true… :mrgreen:

    Thank’s

  3. tulisan yang kritis, taja, dan menohok, mas aris. saya jadi inget ungkapan jawa: “sudanen dahar lan guling, pesunen sariranira”. betapa pentingnya menjaga sikap bersahaja dan tdk gampang larut dalam sikap berlebihan. ironisnya, ternyata orang2 yang seharusnya peduli terhadap sesama yang membutuhkan, justru malah suka pamer kemewahan. makanya, perut mereka rata2 buncit dan gendut, haks, karena suka memanjakan lidah dan isi perut, hehehehe :lol:

  4. :mrgreen:

    yang mbikin shock itu korelasi HK Gossen nya

    Halah, ya sudahlah. Yang jelas, saya adalah seorang pembid’ah tulen. Sebab sekali lagi, makan sampai kenyang, itulah rutinitas sehari-hari saya. Tidak bisa tidak.

    aku juga :(
    * puasa yuk*

  5. Yang jelas… kebanyakan apapun tidak baik. Bahkan kebanyakan ibadah sampai lupa anak bini yang nggak dikasih makanpun, nggak baik juga. Sebaiknya terlalu sedikit juga nggak baik. Yah, normal2 dan secukupnya aja…. Itu yang terbaik. :)

  6. ralat dikit:

    “Sebaiknya terlalu sedikit….”

    Seharusnya:

    “Sebaliknya terlalu sedikit…..”

  7. @ Sawali Tuhusetya
    Waduh, baru dengar tuh ungkapan, apa artinya Pak? :shock: (keturunan Solo tapi nggak mudeng)

    @ lainsiji
    Hiks… niatnya hari ini ingin puasa, tapi lantaran satu dan lain hal, tidak jadi dilaksanakan. Ya sudah, melaparkan diri aja hingga Maghrib tiba, atau seenggaknya (kalau iman saya nggak strong) sampai perut kembali merasakan lapar yg ruarr biasa :mrgreen:

    @ Yari NK
    Hmm… kebanyakan nge-blog juga barangkali tidak menyehatkan ya, selain boros bandwith, mata bisa kejang2, punggung serasa encok lantaran lama duduk :mrgreen:

  8. terjemahan ungkapan pak sawali kira-kira:

    kurangi makan dan tidur, kendalikan syahwat… mirip petuah simbah saya. solonya di mana nih? :mrgreen:

  9. @ sitijenang
    Oo… ngono, matur nuwun Kang :mrgreen: Bisa jadi referensi buat saya.
    Bei de wei, saya Solo-nya di Sukoharjo, tonggone Wonogiri…

  10. Yaks…pas banget, saya lagi mengatur pola makan saya dan ketemu postingan ini. Oya mas, sebenarnya agak ribet soal ini, karena makanan di warung atau di meja makan, kalo Anda tidak super miskin, biasanya selalu berlebih. Dan kata Kitab Suci al-Qur’an, orang yang suka mubazir itu saudaranya setan. Jadi kalo makan harus sampe abis. Pilih mana, kenyang atau mubazir?

    Salam kenal, Mas.

  11. @ gentole
    Itu dia yang bikin saya tidak bisa tidur tujuh hari tujuh malem! :mrgreen: Awalnya saya juga demikian, tapi lama2 saya merasa ada yang salah kalau saya terfokus pada pelaksanaan perintah untuk tidak memubazirkan makanan. IMHO, semuanya tergantung niat kita. Sebab jika kita makan sampai dibabar habis segala yang berlebih dengan dalih “daripada mubazir”, maka ini menjadi sekedar justifikasi agar aktivitas makan full-kenyang kita mendapatkan legalitas. Jangan deh. Kalaupun toh Anda menggunakan ayat tentang mubazir, maka saya “tantang” Anda dengan ayat tentang ketidakpatutan (makan) berlebih-lebihan. Nah tuh mas, ayat lawan ayat :mrgreen:

    Salam kenal juga,

  12. Ayat lawan ayat. Tafsir lawan tafsir. :mrgreen:

  13. guru mengaji saya pernah bilang bahwa Rasulullah tidak pernah meniup makanannya karena Beliau tidak pernah makan makanan panas … [betul gak mas]

  14. @ Rindu
    Wah, jujur saya tidak tahu tuh, mbak. Hanya kalau beliau tidak meniup minuman yang hendak diteguknya, itu benar, sebab beliau bersabda bahwa itu adalah hal yang berbahaya. Saya dapat dari satu sumber di sebuah milis kimia, byakni apabila kita menghembuskan napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2 yang apabila bercampur dengan air (H20), akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. Untuk makanan, saya pun masih mencarinya… :-)

    Salam,

  15. untuk blogger mungkin “nge blog lah ketika setelah luang dan berhentilah sebelum sibuk”"

  16. @ isnan chori
    usulan anda saya tampung! :mrgreen:

Tinggalkan Balasan