Apa & Bagaimana Respon Anda Jika Tuhan…
BEBERAPA hari terakhir saya blogwalking, saya mencermati makin banyak saja postingan yang (menurut saya, semakin berat dicerna dan dipikirkan) seputar Tuhan. Entah itu mengenai sifat-sifat-Nya, kehendak-Nya, hingga yang paling krusial; mempertanyakan eksistensi-Nya. Namun dikarenakan saya bukan seorang yang memiliki kualifikasi sebagai polemikus ulung, maka di postingan kali ini saya hanya menyodorkan beberapa pertanyaan saja seputar Tuhan dipandang dari kehendak-Nya. Saya serius ingin mengetahui jawaban-jawaban dari Anda dengan sebenar-benarnya, meski postingan ini saya masukkan ke dalam kategori “Sekedar Tanya”. Postingan ini tidak tertutup bagi para atheis dan agnostik, tapi lebih khusus bagi para theis yang kritis, lebih khusus lagi umat muslim.
***
Taruhlah Anda adalah seorang yang percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ibadah tidak pernah Anda tinggalkan. Anda pun mengamalkan berbagai amalan shalih. Anda senantiasa menjaga diri dari berbagai dosa. Dan selebihnya, Anda menjalani hidup normal sebagaimana biasanya. Hingga suatu hari, ketika Anda pulang (dari kuliah atau kerja, misalnya), Anda mendapati bahwa Ayah Anda tewas dibunuh oleh para perampok dengan dimutilasi. Ibu Anda juga menjadi sasaran dengan cara dibakar hidup-hidup. Adik Anda yang perempuan dan masih belia diperkosa ramai-ramai dan dibunuh pula. Adik Anda (atau putera Anda) yang laki-laki yang baru duduk di kelas 2 SD disodomi dan dihabisi dengan golok.
Pertanyaannya…;
> Apa, dan bagaimana kira-kira respon Anda mengetahui kejadian tragis tersebut menimpa keluarga Anda?
> Kira-kira siapa yang pertama kali akan Anda salahkan atas kejadian ini?
Lanjut.
Dengan hati yang teramat luar biasa digayuti kedukaan, Anda bersama para tetangga memandikan, mengkafani, menyolati, hingga menguburkan jenazah keluarga Anda. Nah, pada saat ikut sholat jenazah, Anda mengucapkan kata “Allah”, Anda tersentak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan berat saat mengucapkan nama-Nya. Pun ketika mengucap kalimat “Laa ilaaha illallah” di sepanjang jalan menuju pekuburan. Juga ketika mengebumikan, nama Allah disebut-sebut semua pelayat termasuk Anda.
Pertanyaannya;
> Anda mulai berpikir bukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang selama ini Anda sembah, Anda puja-puji dan Anda sebut-sebut namanya dalam dzikir? Anda mulai merasa tepat 100% bahwa semua ini harus dilimpahkan kepada-Nya. Ia dalang semua ini.
Lanjut.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tak henti-hentinya Anda berteriak dalam hati disertai rasa geram yang tak terkira besarnya. “Apa salah dan dosa keluargaku sampai-sampai mereka harus mati mengerikan seperti itu Ya Allah?!” “Apa pula kesalahan adikku yang masih duduk di bangku SD sampai harus tewas seperti itu, Ya Rabb!?” “Apa pula dosaku sampai aku harus mengalami hal ini?! Sampai harus kehilangan harta! Sampai harus kehilangan keluarga! Bukankah aku senantiasa memuji nama-Mu?! Bukankah aku selalu menjalankan perintah dan segala kewajiban-Mu?! Bukankah Engkau adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang?! Dimana kasih sayang-Mu?! Kau benar-benar tega! Kau benar-benar kejam! Kau…! Kkaau…”
Belum sempat Anda selesai memarahi-Nya, tiba-tiba dari kejauhan di depan Anda orang-orang berteriak-teriak, ada kebakaran. Mulailah mata Anda menangkap kepulan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa di kejauhan. Itu letaknya persis di area perumahan yang Anda tinggali!
Dan… benarlah. Anda hanya bisa tertegun tak percaya, manakala melihat rumah Anda hangus dilalap si jago merah. Anda sudah tak punya apa-apa lagi. Kini Anda sudah benar-benar marah sejadi-jadinya. Anda berteriak-teriak sambil mengacungkan telunjuk Anda ke langit. “Tuhan! Belum puaskah kau timpakan semuanya ini kepadaku?! Apa salah dan dosaku, hah?! Jawab Tuhan!! Ternyata kau tidak punya perasaan! Kau bukan Tuhan! Apa guna aku beribadah kepada-Mu selama ini kalau ini yang kudapat! Nah! Kini apa lagi yang akan Kau timpakan kepadaku?!”
Orang-orang yang menyaksikan hanya bisa diam seribu bahasa. Mereka seakan memahami bagaimana goncangnya batin Anda saat itu. Diantara mereka ada yang berusaha menenangkan batin Anda. Dan mengatakan untuk bersabar dan bersabar. Anda muak mendengar saran yang sering Anda dengar di mimbar dan pengajian itu. Dan Anda ngamuk-ngamuk, teriak-teriak lagi. Jelasnya, Anda sudah error 100%.
Singkat cerita. Anda tinggal sementara dengan saudara. Namun sialnya, tak terduga beberapa hari kemudian, Anda harus menjadi korban tabrak lari ketika menyebrang jalan. Tahu-tahu Anda di rumah sakit. Tahu-tahu pula, Anda mendapati kedua kaki Anda sudah tak ada lagi, diamputasi. Tak kalah mengejutkan, ternyata gara-gara tabrakan itu, Anda mesti kehilangan penglihatan. Sedang kedua tangan Anda retak dan untuk sementara tidak bisa digerakkan. Klop sudah. Dan yang keluar dari mulut Anda adalah, “Keparaaatttt!!!! Tuhan sialaannnn!!!! Kau pembohong!! Kau Maha Kejam!!! Kau tak pantas disebut Tuhaann!!!! Sialaaaannn!!!! Tak ada guna selama ini aku menyembah-Mu!!!!”
Semuanya makin serba gelap, pekat. Jarum suntik terasa ditusukkan di lengan Anda. Dibius. Anda terlelap, dan tidak tahu bagaimana menjalani hari-hari Anda kedepannya.
Pertanyaannya,
> Apakah jika nasib maha naas tersebut benar-benar menimpa Anda, Anda akan berlaku sama seperti yang saya ilustrasikan?
> Atau apakah menurut Anda ilustrasi di atas terlalu didramatisir dan mengada-ada?
> Apakah saya kurang kerjaan menurut Anda menulis postingan demikian?
> Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?
> Apakah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!
> Terlalu mengada-ngada-kah saya? Faktanya, di luar sana lebih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat kita mempertanyakan habis-habisan keadilan dan kewelas-asihan Tuhan!
> Apakah menurut Anda hal ini mungkin saja terjadi?
> Saya pernah mendengar bahwa apa yang kita dapatkan berupa kesialan, bencana dan derita, adalah lantaran kesalahan kita sendiri. Setujukah Anda jika Anda berada di posisi seperti “Anda” dalam ilustrasi di atas?
> Apakah dengan menyodorkan kemungkinan dalam ilustrasi diatas bisa saja terjadi sudah menjadikan saya menjadi seorang yang lancang?
> Sekali lagi, bagaimana jika hal tersebut benar-benar menimpa Anda?
Dan untuk para atheis dan agnostis;
> siapa yang Anda salahkan dan Anda jadikan sasaran caci maki serta sumpah serapah jika kejadian tersebut menimpa Anda, mengingat Anda tidak meyakini adanya Sang Prima Causa? Menyalahkan takdir? Ataukah akan menuntut balas kematian keluarga Anda? Tapi dalam ilustrasi di atas skenarionya Anda buta dan cacat! Lalu?
Saya tunggu jawaban Anda! Dan, anggaplah saja saya sedang GILA! []
Direvisi ulang, Bandung, 3 Juli 2008
Menjelang Pagi
2 Juli, 2008 pada 2:19 pm
Saya pun bertanya, lantas apakah masih ada gunanya Tuhan jika memang begitu?
2 Juli, 2008 pada 5:44 pm
Itu nasib buruk namanya.
Saya jadi teringat dengan sebuah pepatah lama : sebuah musibah, jika tidak membuat kita mati justru makin membuat kita kuat. Dalam suatu peristiwa yang benar-benar membuat kita “hancur lebur” selalu ada “makna hidup” dibalik itu.
Makna hidup itulah yang bisa ditemukan pada apa saja, termasuk Tuhan, yang seringkali menjadi obyek kekecewaan kita. Bisa juga pada hal lain, tergantung dari apapun yang menurut kita bermakna pada hidup kita.
Ini cuma sekedar jawaban yang perspektifnya adalah psikologi.
2 Juli, 2008 pada 11:13 pm
@ dana
Oi, Dan, memang Tuhan itu barang, yang diukur dari sudut nilai kegunaannya?
.
@ goldfriend
Yang jadi masalah adalah respon kita saat kejadian tersebut tepat menimpa kita. Kerap menjadi pertanyaan (dan berkepanjangan malah); “kenapa harus saya yang menerima semua ini?”. Nah tuh?
Saya kerap salah persepsi mengenai “makna hidup” dengan “tujuan hidup”. Selama ini saya beranggapan kalau Tuhan adalah tujuan itu, sedangkan makna, ini yang membikin kepala saya pening.
Well, memang nampaknya psikologi amat memegang peranan sentral disini. Trim’s friend
3 Juli, 2008 pada 3:01 am
au ah gelap
3 Juli, 2008 pada 3:11 am
Pilihannya dua, menurutku, jadi nihilis dan pemberontak seperti tokoh-tokohnya Albert camus di Mite Sisifus atau menjadi sufi dan berserah diri pada Tuhan. Itu kalo kita punya kepribadian yang kuat dan sehat. Kalo enggak, paling depresi terus bunuh diri, atau yah jadi gila, mungkin jadi psikopat. Anyway, pertanyaan pengandaian seperti ini menyebalkan karena kita akan dihadapkan pada kendala empirik. Kudu kejadian beneran, baru kita bisa memberi jawaban. Tapi jangan deh, better not.
3 Juli, 2008 pada 4:19 am
@ zoel chaniago
apanya? themenya?
@ gentole
Maklum, nulisnya pas otak lagi kacau berat mikir aneh-aneh seputar ini. Saat mulai tenang, saya coba mau hapus saja postingan ini, tapi dua senior WP sudah ngasih komen duluan
Ya sudah, apa adanya, kecuali revisi beberapa tata letak dan pengaturan tulisan. Toh setelah saya mbaca untuk keempat kalinya, saya jadi bergidik sendiri. Ngeri juga. Benar, better not occure…
Tepat! Jenis postingan seperti ini lebih dari sekedar menyebalkan, kawan
3 Juli, 2008 pada 9:23 am
he he he… cukup sebagai umpamanya
3 Juli, 2008 pada 10:47 am
Banyak kedukaan dan kebahagiaan di dalam hidup ini. Berjalan bersama waktu derita-derita itu adalah sebuah penderitaan ketika kita melihatnya sebagai penderitaan, apalagi ketika sebuah kejadian itu menjadi bagian dari hati dan lingkungan terdekat kita.
Seandainya saya seekor ayam pedaging dan melihat teman-teman sepermaianan saya disembelih satu demi satu, lalu saya tunggu giliran. Tapi mengapa sang penjagal ayam dan kita yang memakan daging ayam itu melihat sebagai kewajaran. Nitsche melihat Tuhan sudah “mati”.
Saya kadang bingung memahaminya juga.
Saya juga tidak mengerti dan mengapa terjadi kehancuran. Sel-sel kehidupan bertumbuh dari tidak ada, menjadi bayi yang lucu dan dirindukan, kemudian besar, kemudian mengeriput dan akhirnya mati. Mengapa?. Mengapa terjadi penghancuran itu, bukankah menjadi sangat indah jika terus menerus hidup dan indah. Kematian sebuah sel dalam kehidupan adalah bagian dari proses yang sesungguhnya menjadi bagian dari kefanaan kehidupan ini (seperti juga dicontohkan oleh Mas dalam contoh-contoh yang terbilang ekstrim). Namun, sesungguhnya kehidupan itu juga seperti itu itu. All of all akan musnah. Sebab adalah pandangan pikiran dan hati terhadap kejadian tersebut.
Pertanyaan kemudian, seberapa keterikatan jiwa dan pikiran serta rasa kita terhadap kehancuran yang sudah dipastikan akan terjadi?. Pertanyaan bisa menjadi mana pilihan yang terbaik hidup selamanya di dunia dan tidak bertemu dengan Sang Pencipta ataukah kita meyakini semua janji-janji dari kehidupan yang lebih kekal, lebih aman, lebih dinamis dalam seluruh hidayahnya. Hilangnya segala kepedihan.
Dimanakah asa-asa itu ditempatkan?. Pada kerinduah fisis di depan mata, ataukah kepada kehidupan yang lebih kekal dan menjanjikan (tentu pertanyaan ini untuk orang beragama).
Bagaimana kalau hal ini terjadi pada diri saya.
Satu jawabnya : Semoga Allah melindungi hamba dari segala kejadian yang berakibat aku mengingkari kuasa dan rahmatMu.
Saya juga tidak pernah tahu berapa kekuatan untuk berpasrah jiwa dan berusaha dalam daya upaya dalam ridhanya untuk itu tidak terjadi
Dan dalam sebuah permisalan jika itu terjadi, semoga aku mampu untuk tetap dalam lindunganNya. Not anymore.
salam.
3 Juli, 2008 pada 10:53 am
Hehehe guru Dana itu memang cepat melacak pikiran-pikiran orang yang lagi gelisah dan kacau.
3 Juli, 2008 pada 1:26 pm
@ sitijenang
Benar, sudah cukup segitu…
@ agorsiloku
“…Bagaimana kalau hal ini terjadi pada diri saya.
Satu jawabnya : Semoga Allah melindungi hamba dari segala kejadian yang berakibat aku mengingkari kuasa dan rahmatMu.
Saya juga tidak pernah tahu berapa kekuatan untuk berpasrah jiwa dan berusaha dalam daya upaya dalam ridhanya untuk itu tidak terjadi
Dan dalam sebuah permisalan jika itu terjadi, semoga aku mampu untuk tetap dalam lindunganNya. Not anymore…”
.
Amiin… Saya juga berharap demikian…
@ gentole
Hmm… pelacak tulen… Kayaknya eksklusif sekali ya kalau punya “kemampuan” seperti itu di jagat maya?
3 Juli, 2008 pada 3:26 pm
kun fa ya kun
-sori.. gi eror-
4 Juli, 2008 pada 8:45 am
pertanyaan pertama:
> Apa, dan bagaimana kira-kira respon Anda mengetahui kejadian tragis tersebut menimpa keluarga Anda?
> Kira-kira siapa yang pertama kali akan Anda salahkan atas kejadian ini?
jawaban:
- tentunya, histeris dan gundah, pasti ada yang salah dengan keluarga saya
- sebagian besar orang yang tidak percaya tuhan, (meski mengaku punya tuhan)
akan berfikir untuk selalu ada yang harus disalahkan…
Pertanyaannya;
> Anda mulai berpikir bukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang selama ini Anda sembah, Anda puja-puji dan Anda sebut-sebut namanya dalam dzikir? Anda mulai merasa tepat 100% bahwa semua ini harus dilimpahkan kepada-Nya. Ia dalang semua ini.
jawaban: sudah tidak diperlukan jawaban lagi, karena pada point pertama
sudah jelas.
lanjut,
Pertanyaannya,
> Apakah jika nasib maha naas tersebut benar-benar menimpa Anda, Anda akan berlaku sama seperti yang saya ilustrasikan?
jawaban:
apa yang anda ilustrasikan, menunjukan orang yang nggak punya pegangan
agama(iman).
pertanyaan:
> Atau apakah menurut Anda ilustrasi di atas terlalu didramatisir dan mengada-ada?
jawaban,
nggak juga, banyak koq orang akan berbuat dan berlaku demikian,
disebabkan terlalu berat untuknya.
pertanyaan:
> Apakah saya kurang kerjaan menurut Anda menulis postingan demikian?
jawaban;
biasa aja ….nggak juga…
pertanyaan:
> Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?
jawaban: tidak diperlukan lagi, sudah jelas pada point pertama.
pertanyaan:
akah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!
jawaban,
kejadian bukan ujian, tetapi sunatullah,
apa yang terjadi adalah sesuatu memang harus terjadi.
dan tidak perlu persiapan untuk hal2 yang saya yakin anda tak perlu
meminta sesuatu yang naas itu akan menimpa.
jikapun terjadi, sikap apa yang harus diambil?
saran saya, berbanyak2nya berbaik sangka.
pertanyaan,
> Apakah menurut Anda hal ini mungkin saja terjadi?
jawaban:
tak ada yang mustahii, apa yang anda pikirkan seperti apa yang akan terjadi
pertanyaan:
> Saya pernah mendengar bahwa apa yang kita dapatkan berupa kesialan, bencana dan derita, adalah lantaran kesalahan kita sendiri. Setujukah Anda jika Anda berada di posisi seperti “Anda” dalam ilustrasi di atas?
jawaban:
terkadang bukan pula karena kesalahan,
tetapi terjadi karena memang harus terjadi.
rsanya, tak perlu sejauh itu.
pertanyaan:
> Terlalu mengada-ngada-kah saya? Faktanya, di luar sana lebih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat kita mempertanyakan habis-habisan keadilan dan kewelas-asihan Tuhan!
jawaban:
anda memang nggak mengerti dengan sifat tuhan itu, karena anda nggak dikenal tuhan.
tapi anda nggak mengada-ngada koq.
pertanyaan:
> Sekali lagi, bagaimana jika hal tersebut benar-benar menimpa Anda?
jawaban:
sekali lagi, berbaik sangka lebih baik daripada yang lain,
karena sesuatu yang keluar dari mulut, biasanya menjadi kenyataan
cukup sekian dulu.
wassalam
4 Juli, 2008 pada 2:09 pm
Wah…saya mungkin jadi gila..bila semua itu terjadi
Dan barangkali lebih baik begitu sebelum saya menyalahkan Yang Di Atas
5 Juli, 2008 pada 1:31 am
@ lansiji
Nngg… maksudnya gimana tuh, Ji…? [lg error jg]
@ adi isa
Salam…
Diantara rentetan jawaban yang Anda berikan, tanpa mengurangi rasa hormat, saya cukup tertarik dengan statemen Anda yang ini; “…anda memang nggak mengerti dengan sifat tuhan itu, karena anda nggak dikenal tuhan…”. Sangat berani menurut saya jawaban Anda ini, seolah Anda memiliki otoritas dan wewenang untuk memvonis bahwa seseorang tidak dikenal Tuhan. Lebih baik lagi kalau Anda menjawab bahwa saya tidak PANTAS dikenal Tuhan, itu lebih mewakili perasaan Anda, ketimbang menjadi seolah tahu apa yang Tuhan “pikirkan”. Lalu mengenai bahwa saya memang tidak mengerti sifat Tuhan, itu benar! Benar sekali. Saya memang bodoh, dan Anda-lah yang benar2 peham sifat2 Tuhan itu. (Benar?). Nah, saudara adi, lantaran saya tidak mengerti sifat Tuhan itulah, maka dengan segala keterbatasan yang saya miliki saat ini, postingan inilah yang menjadi salah satu harapan saya untuk setidaknya bisa sedikit memahami arti kehendak-Nya. Tapi… yah, apapun, saya ucapkan terima kasih atas komentar Anda. Dan, jika Anda merasa sebagai satu-satunya manusia yang paham betul sifat Tuhan, kiralah Anda sudi mengajari saya.
@ suhadinet
Hampir sependapat dengan Anda
Jawaban yang mendekati rasional!
5 Juli, 2008 pada 6:27 pm
musibah, malapetaka, atau apa pun namanya, itu meruoakan bagian dari dinamika hidup manusia. siapa pun pasti akan sulit menerima kenyataan seperti itu. tapi, dinamika perjalanan hidup manusia tak seorang pun yang bisa memprediksinya. semuanya menjadi hak prerogatif Sang Causa Prima. Makanya, *halah sok tahu juga* bagi saya, musibah perlu dimaknai sebagai ujian sekaligus media refleksi untuk menengok jatidiri kita sendiri. bahkan bisa jadi, musibah semacam itu merupakan bentuk kasih sayang “gaib” dari Sang Pencipta.
6 Juli, 2008 pada 1:53 am
Setuju sekali, Pak Sawali. Hanya saja yang menjadi pertanyaan saya adalah; “apakah ada–katakanlah semacam–pemakluman atau amnesti (dari Tuhan) jika pada kenyataannya saat kita ditimpa musibah, kita malah mencaci-maki Tuhan, meskipun sebetulnya itu tidak juga kita inginkan”. Dalam kondisi normal setiap kita pasti akan memaknai peristiwa pilu demikian sebagai ujian atau cobaan yg mesti dilewati dengan tegar, tapi saat kita merasakannya secara real? Bukankah kita kerap menjadi gelap mata? Nah, ini yg menjadi kekhawatiran saya.
Omong2, tumben panjenengan telat mampir ke sini, Pak? Teh yg sudah saya bikin khusus buat pak sawali sudah keburu adem sejak kemarin…
7 Juli, 2008 pada 2:07 am
Yang pertama itu kok sadis banget ya skenarionya hehehe…
Setiap orang pasti sedih bukan main dgn skenario seperti itu. Tapi setelah itu saya akan terkagum2 bahwa diri saya dinilai setinggi itu shg mendapat ujian seberat itu. Berarti saya termasuk kwalitas unggul.
Mencari kambing hitam?? Kalo mencari kambing hitam bisa menghidupkan yang sudah mati maka pasti akan saya cari tuh kambing…
7 Juli, 2008 pada 2:11 am
*memposisikan diri sebagai agnostik*
Saya akan menyalahkan karma di kehidupan saya sebelumnya, kenapa saya dulu sewenang2 mengamputasi orang tanpa pilih bulu. Dan sekarang saat hutang lama harus dibayar, maka relakanlah. Setidaknya berusahalah jgn ngutang lagi…
7 Juli, 2008 pada 3:58 am
Penasaran jadinya, tapi sepertinya anda orangnya religius yak.
7 Juli, 2008 pada 5:49 am
Coba-coba menjawab boleh dunk…
Jika ia muslim (sejati) ia tak akan lupa prinsip, dari Allah semua datang, dan kepada-Nya semua kembali, atau kepunyaan Allah yang ada di bumi, di langit, dan yang di antaranya.
Dengan prinsip itu, adakah alasan mempertanyakan duka dan kehilangan sebesar apapun, bahkan yang lebih liar dari imajinasi terliar sekalipun?
Ustadz2 di kelas entry level, biasanya akan menganjurkan ummat untuk banyak bersedekah, biar rezeki melimpah di dunia, dan akan ada balasan berlipat ganda di akhirat. Tapi buat ulama kelas premium, yg seperti ini dianggap bullshit. “Dari mana dasarnya kita berharap ada imbalan, bukankah semuanya, dari sebutir bakteri sampai segumpal galaksi adalah kepunyaan Tuhan?”
Serba sedikit saya juga baca-baca referensi ttg agama lain, dan sejauh yang saya pahami, prinsip dasarnya juga seperti itu. Orang yang menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, tak akan bisa disentuh sedikit pun oleh pisau tajam kehidupan.
Iya sih, pada praktiknya, selaku manusia, mengalami musibah seperti di atas, kita pasti berduka, tapi selama prinsip-prinsip tadi kita ingat, saya yakin tidak akan sampai gila.
Kalaupun sampai gila, gpp. Gila itu ada asyiknya jg, kebal KUHP, ga kena dosa, dan bebas berekspresi kyk apa aja.
Gila yuk!
7 Juli, 2008 pada 7:34 pm
@ CY
Btw, diskriminasi (ras) ternyata merambah dunia satwa jg ya, setidaknya untuk spesies kambing
(nggak nyambung)
Semoga Tuhan mengampuni saya… Omong2 soal utang, secara formal maupun tidak, banyak jg lho daftar orang2 yang sering saya utangin waktu jaman sekolah dulu, nombok gitu. Duh
“…Tapi setelah itu saya akan terkagum2 bahwa diri saya dinilai setinggi itu shg mendapat ujian seberat itu. Berarti saya termasuk kwalitas unggul…”
.
Wah, ini “defend argument” yang cukup hebat yang pernah saya dapat. Hanya saja klaim seperti itu (kayaknya) hanya pantas diucapkan oleh mereka2 yg kapasitas dosanya mendekati nol
.
“…Mencari kambing hitam?? Kalo mencari kambing hitam bisa menghidupkan yang sudah mati maka pasti akan saya cari tuh kambing…”
.
Walah! Kambing putih girang dong. Aman
.
“…*memposisikan diri sebagai agnostik* Saya akan menyalahkan karma di kehidupan saya sebelumnya, kenapa saya dulu sewenang2 mengamputasi orang tanpa pilih bulu…
.
Jadi inget pada apa yg saya lakukan semasa dulu. Suka “nyiksa” dan matiin belalang, kecoak, semut, tikus…
@ edi
Anda nggak merhatiin animated banner di atas ya kalau saya ini cuma seorang keparat, bukan religius
@ Toga
…Jika ia muslim (sejati) ia tak akan lupa prinsip, dari Allah semua datang, dan kepada-Nya semua kembali, atau kepunyaan Allah yang ada di bumi, di langit, dan yang di antaranya…
.
Tepat. Ini sebenarnya esensi ketundukan (aslama) dalam ajaran Islam, bahwa semuanya “inna lillahi wa inna ilaihi raa’jiuun”, sebuah kalimat yg semestinya membuat kita tegar dan tentram. Sebuah kalimat yang begitu mengandung energi spirit besar. Hanya sayangnya kalimat ber-ruh ini lebih familiar buat mengabarkan berita kematian saja
.
“…Kalaupun sampai gila, gpp. Gila itu ada asyiknya jg, kebal KUHP, ga kena dosa, dan bebas berekspresi kyk apa aja. Gila yuk!…”
.
Asik sih asik, cuma di akherat nanti, kita pasti cuma bisa bengong dan gigit jari melihat penghuni surga seneng2, sementara kita cuma jadi penghuni A’raf yang ke neraka kagak, ke surga apalagi
8 Juli, 2008 pada 6:45 am
Terkadang kita berpikir its doesnt make sense, tapi ada suatu ketika its can be make sense
8 Juli, 2008 pada 9:16 am
@ Deddy Huang
Walah, iki opo tho?
8 Juli, 2008 pada 10:19 am
Wowgh… berarti saya mendekati nol dong
8 Juli, 2008 pada 10:23 am
@ CY
Wah?! Benarkah? Nyaris setaraf nabi, dong
14 Juli, 2008 pada 3:17 am
Bagi saya tuhan *sebagaimana tuhan yang diimanai & dihayati orang saat ini*adalah ilusi infantil, ketakutan kanak2 yang perlu dicarikan solusi dalam bentuk/sosok Ilahi. Tuhan dipandang seperti pribadi manusia, dicintai melebihi segalanya, cinta yg egois & penuh tuntutan. Hingga manusia sanggup menghadapi keras & kejamnyanya kehidupan ini.
14 Juli, 2008 pada 3:30 am
Mencintai tuhan sejati adalah berkata ya pada hidup, apapun yang terjadi, menerima dg rela segala sesuatu yang telah dipersiapkan hidup bagi kita. Meski takdir tak mampu kita cederai tapi nasib selalu terbuka bagi kita
14 Juli, 2008 pada 6:59 am
@ tommy
Hoo… Anda penganut paham “grandeur delusion” ya?
Tak ada yg salah dengan keyakinan Anda
Salam,
15 Juli, 2008 pada 12:08 pm
di saat Dia mengambil sesungguhnya Dia mengkayakan
di saat Dia memberi justru Dia sedang mengurangi sedikit demi sedikit..
nah lo?? ga tambah bingungkan?? bikmati saja hidup ini..
15 Juli, 2008 pada 2:38 pm
@ Menggugat Mualaf
Nggak bingung sebenarnya, sebab kontradiksi yang Dia lakukan adalah bukti keadilan-Nya.
Yah, nikmati saja semuanya, baik itu durian, ataupun simalakama…
Salam,
8 Agustus, 2008 pada 3:26 pm
Salam kenal untuk pemilik blog ini !
” Maaf saya tak berani komentar, sebab saya orang baru toh ! “
9 Agustus, 2008 pada 10:56 am
@ RItool
Lhaa? Bukannya dengan mengetik satu huruf pun di box komentar ini, sudah menandakan bahwa Anda memberikan komentar?
.
Salam kenal juga,
12 Agustus, 2008 pada 5:14 am
wong ini kan masih umpamanya …. gitu aja kok repot
12 Agustus, 2008 pada 1:08 pm
@ isnan chori
anda benar…
.
30 Agustus, 2008 pada 11:17 pm
Saya nggak bisa njawab, karena saya tidak mengalami sendiri. ih amit-amit deh, saya juga nggak mau berandai-andai itu bakal menimpa diri saya. OSRAM banget.
Andai ada orang lain yang sungguh mengalami beban berat semacam itu dan masih beriman bahkan tambah beriman. Alangkah hebatnya orang itu.
Andai ada seseorang yang sampe memberontak, biarpun kadang saya menyesalkan, tentu saya nggak bakal berani menghakimi. Soalnya andai saya di posisinya saya belum tentu kuat kan ?
Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Sorry : Nggak ada Solusi .
31 Agustus, 2008 pada 11:45 am
@ lovepassword
saya sepakat dengan Anda
1 September, 2008 pada 12:30 pm
::masalahnya, kita terlanjur merasa ada, dan mustahil menghilangkannya dari benak kita,
bagaimana jika hal demikian menimpa…mbuh..lah.., saya pernah merasa disertakan dalam ujian kesabaran tingkat dasar, menunggu orang yang berjanji datang pada jam tertentu, lewat sepuluh menit, gerutu…menggerogoti fikiranku…dan aku tertawa…hmmm ujian sabar sederhana saja ngga pernah lulus gimana merasa bisa sabar…, fuih…makanya ngga bisa sabar…soalnya ..”innallaha ma’assobiriin..”…he…he…
1 September, 2008 pada 4:20 pm
@ zal
iya juga ya, pak
17 September, 2008 pada 2:36 pm
Allah pernah berkata: “ketika kuciptakan makhluk, maka semua berkata cinta kepadaKu,kemudian Aku membuat dunia,maka mereka lari dariKu 90% dan tinggal hanya 10%, kemudian Aku membuat Sorga,maka lari daripadaKu 90% dari yang 10 % itu,kemudian Aku membuat neraka maka leri daripadaKu 90% dari sisanya itu, kemudian Aku turunkan bala’ maka lari daripadaKu 90% dari sisa-sisa itu, maka Aku berkata pda yang sisa-sisa yang tinggal itu: dunia kamu tidak mau,sorga kamu tidak suka,neraka kamu tidak takut, dari bala’ musibat juga kamu tidak lari,maka apakah keinginanmu?
makhluk yang sisa itu menjawab:” Engkau telah mengetahui keinginan kami”
Allah:”Aku akan memberikanmu bala yang tidak akan sanggup engkau menanggunya walau bukit yang besar.sabarkah kamu?
engkau yang menguji maka terserah kamu!
17 September, 2008 pada 3:26 pm
@ runz
Jadi, argumen ente di sebelah mana, Run?
22 September, 2008 pada 8:40 pm
Jika itu terjadi, maka pilihan saya ada dua.
1. Musibah yang datang beruntun itu ujian dari Allah. Mungkin ada sesuatu hal didalam diri kita yang disukai oleh Allah sehingga diuji berat seperti itu. Berserah diri dan semakin mendekatkan diri kepada yang maha kuasa, itulah yang akan kulakukan.
2. Api dendam membara bergolak didalam dada. Ada ubi ada talas, dendam membara harus dituntaskan. Kebetulan saya penggemar film2 silat model si pendekar mabuk Jackie Chan. Cari guru silat hebat, belajar sampai tamat, cari gerombolan pembantai keluarga, habisi mereka satu persatu. Kalau perlu sampai mati sampyuh. (kayaknya ini ending paling keren)
“You kill my father! you kill my mother”
“I know you kungfu is very good, but I must kill you!”
Hiyaaaa……..!!!
23 September, 2008 pada 1:28 am
Salam
Kalau saya ada pd posisi itu …..,saya bakal….., nggak tau dech !
kalau pun terlintas di benak saya , saya tidak akan mempedulikan.
kalau saya peduli sama halnya saya su’uzon denga tuhan , biarlah tuhan yang mengatur saya ada di posisi yang mana , karena tuhan lebih mengetahui diri saya , di bandingkan diri saya sendiri , dan tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya , dan kita tida berhak bertanya ada apa ? dan mengapa ? apalagi sampai menyalahkan tuhan.
dan saya yaqin …. tuhan tidak akan memperlakukan seperti itu kepada saya , sesungguhnya kata tuhan Aku menurut sangka-sangka hambaku Apabila hambaku menyangka baik maka akan baiklah jadinya , begitupun sebaliknya jika hambaku menyangka buruk maka akan buruk pula jadinya
Sebenarnya andaikan kita tidak bisa memikul beban / tidak sanggup menahan ujian dari tuhan . di karena bukan kita tidak sanggup atau tidak mampu menahan ujian dari tuhan tetapi terbatasnya ilmu kita untuk memahami beban/ujian tsb . kata tuhan lagi ni yach…… Siapa yang tidak sanggup / tidak bersabar menahan ujianku maka carilah tuhan selain AKU
pertanyaan nya adalah : ada nggak tuhan yang dari segala-galanya dari tuhan kita ? tentu anda tau jawabnya. apalah hidup kita tampa tuhan….
Makanya menuntut ilmu itu hukumnya wajib ! sebagai solusi /jalan keluar . bekal hidup kita di dunia dan diakhirat . agar otak kita jadi fress bila terkena musibah apa pun yang menimpa diri kita (tameng).
Tetapi kalau kita mau merenungkannya semua yang terjadi pasti ada hikmahnya ! karena kita nggak tau apa yang di kehendaki tuhan untuk hambanya , karena rahasiaku ada pada hambaku.
kalau saya berandai andai saya nggak mau berandai yang seperti itu.
kalau saya berandai-andai saya akan menjadi sang pecinta tuhan
Walau pun saya nggak tau bagai mana cara mencintai tuhan , tuhan pasti tau andai-andai saya ini dan akan memberikan petunjuk , cara bagai mana menjadi sang pecinta !
yang saya tau nich yach katanya ….
Seorang pecinta itu harus di bakar dulu di dalam tungku yang besar , dengan panas bukan mencapai ratusan tetapi ribuaan derajat celcius di isi air atau minyak terus di beri rempah-rempah biar wangi , teru…kecebur dech … di dalam api cinta! agar dia bisa melihat / dan bersama yang di cinta kata nya sich begitu….
cape dech….
tapi tulisan anda bagus juga buat mata saya , kalau jadi bahan renungan entar dulu kali yachh…
PERMISI……… SAYA PAMIT DULU……
SANG PECINTA DAN YANG DI CINTA
24 September, 2008 pada 2:43 am
Saya baru baca postingan ini aja sudah menangis… Bukan karena deritanya? karena ini baru sekedar perumpamaan sehingga deritanya tak nyata bagi saya. Tapi lebih karena apakah aku sudah cukup menerima sentilan kecil dalam hidupku yang jauuuuh lebih mudah mungkin dibanding hal di atas.
Ternyata berpegang diri atas tali Qalb, sebagai sebuah tali pusar keyakinan menuju Sang Wajibul Wujud tak semudah ucapan. tali Qalb terkadang terlalu tipis layaknya untai rambut dimana kita sandarkan hidup kita padanya. Iman ini ternyata terlalu lemah…
Bismillahi Allahumma shalli alaa muhammadi wa aali muhammad
Ya Ghauts… Ya Ghauts… Ya Ghauts… Aghitsni aghitsni aghitsni….
24 September, 2008 pada 6:55 am
@ yusahrizal
*
Pendekatan pertama itu probabilitasnya dilakukannya kecil. Tapi pendekatan yang kedua… benar-benar rasional!
.
.
@ Sufi wanita
*komentar Anda membuat mata saya berkunang-kunang*
Ya, jika itu menjadi pegangan terbaik, peganglah erat-erat. Dan kabari saya jika ada pengalaman soal itu.
.
.
@ reekoheek
*Menangis?! Serius?!
Apa yang anda rasakan, lumrah dirasakan siapapun yang masih beriman kepada-Nya.
*omong2, “aghitsni” apa artinya? saya masih pemula belajar Arab*
.
.
Salam,
24 September, 2008 pada 12:16 pm
” Saya pernah mendengar bahwa apa yang kita dapatkan berupa kesialan, bencana dan derita, adalah lantaran kesalahan kita sendiri. Setujukah Anda jika Anda berada di posisi seperti “Anda” dalam ilustrasi di atas?”
Dalam sudut pandang karma saya setuju. Setiap hal yang ada dan terkait dengan alam materi tidak terlepas dari hukum sebab akibat (karma). Kasus di atas walau hanya sebuah pengandaian dalam kenyataannya sangat mungkin terjadi walau runtut musibahnya tidak akan sama persis seperti yg anda ilustrasikan. Awalnya menolak dan saya sama sekali tidak setuju tetapi setelah segala sesuatunya terbuka dan terurai hingga jelas dan tegas saya jadi menyesal dan malu.
“Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?”
Kalau menurut saya , baik dalam posisi atheis, agnotis maupun theis tidak rasional kiranya jika lansung loncat ke tuhan terkait dengan hal pengetahuan.
“Apakah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!”
hehe..hehe..he..
kalau sudut pandangnya hukum sebab akibat tidak ada yg namanya ujian, semuanya hanya ada dua kemungkinan apakah sebab atau akibat . Ini terkait dengan hukum yg sebenar-benarnya adil.
“Apakah dengan menyodorkan kemungkinan dalam ilustrasi diatas bisa saja terjadi sudah menjadikan saya menjadi seorang yang lancang?”
Anda tidak lancang bahkan menurutku anda cukup cerdas dan berani mengungkapkan sesuatu yg orang lain saja belum tentu terlintas dalam pikiran.
*sekedar ikut nimbrung *
24 September, 2008 pada 6:34 pm
@ C4ndra
Begitu ya…
5 Maret, 2009 pada 2:16 pm
Pertanyaannya…
> Apa, dan bagaimana kira-kira respon Anda mengetahui kejadian tragis tersebut menimpa keluarga Anda?
> Kira-kira siapa yang pertama kali akan Anda salahkan atas kejadian ini?
Aku tentunya akan marah besar, bukankah untuk itu Dia menciptakan kemarahan…? yang disalahkan tentu sang pembunuh dan pemerkosa tersebut…
Lanjut….
Pertanyaannya;
> Anda mulai berpikir bukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang selama ini Anda sembah, Anda puja-puji dan Anda sebut-sebut namanya dalam dzikir? Anda mulai merasa tepat 100% bahwa semua ini harus dilimpahkan kepada-Nya. Ia dalang semua ini.
Bagiku Dia bukan dalang, Dia menciptakan sistem terpadu dan aku berada di dalamnya. Jika pembunuh itu membunuh keluargaku dengan kuasaNya akupun akan membalas dengan kuasaNya pula. Islam menciptakan sistem hukum mati untuk pembunuh dan pemerkosa biadab seperti itu dengan dasar ini.. pembunuh membunuh dengan tangannya, aku membunuh dengan tanganNya…
Lanjut….
> Apakah jika nasib maha naas tersebut benar-benar menimpa Anda, Anda akan berlaku sama seperti yang saya ilustrasikan?
Tidak, aku akan benar-benar menangis, tapi aku akan berupaya sampai aku mati… menuntut balas… tidak perlu menyiksanya… tapi manusia seperti itu pantas mati…
> Atau apakah menurut Anda ilustrasi di atas terlalu didramatisir dan mengada-ada?
Tidak, kondisi masyarakat biadab sangat memungkinkan hal tersebut…
> Apakah saya kurang kerjaan menurut Anda menulis postingan demikian?
Jelas… anda seorang pemikir, yang biasa berpikir demikian biasanya kurang kerjaan… hihihi… biasanya cuma sambil ngopi ma ngudud…. hihihi…
> Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?
Keknya udah kujawab, dalam kondisi perang, masyarakat biadab dan kacau balau itu bisa terjadi…
> Apakah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!
Itu jelas suatu ujian yang sangat menyakitkan terhadap pemahaman tentang kehidupan dan Dia… soalnya dalam skala kecil dianggap sepele…
> Terlalu mengada-ngada-kah saya? Faktanya, di luar sana lebih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat kita mempertanyakan habis-habisan keadilan dan kewelas-asihan Tuhan!
Tidak… cuma versi definisi Keadilan dan kewelas asihannya menurut pemahaman anda juga…
> Apakah menurut Anda hal ini mungkin saja terjadi?
Sudah terjadi… agresi orang barbar, dan agresi pemeluk keyakinan buta dalam beberapa sejarah kebudayaan telah mencatatnya… aku tidak tahu sekarang… apakah di palestina ada juga, aku nggak tahu…
> Saya pernah mendengar bahwa apa yang kita dapatkan berupa kesialan, bencana dan derita, adalah lantaran kesalahan kita sendiri. Setujukah Anda jika Anda berada di posisi seperti “Anda” dalam ilustrasi di atas?
Kesalahan kita….?Mungkin Ya, mungkin tidak… anda dan aku mungkin lalai… untuk berfikir dan berusaha… dalam menciptakan kondisi masyarakat yang memahami kehidupan, atau untuk memimpin masyarakat menuju masyarakat yang tertib dan mencintai sesamanya…. kalau anda sudah berusaha meski belum mampu, anda tidak bersalah… cuma belum mampu… kesalahan kolektif mungkin ya… masyarakat seperti itu keropos… makanya Rosulluloh membangun sistem hukum masyarakat pula… yang mungkin tidak berperikemanusian menurut anda… tapi menurutku cocok untuk kondisi masyarakat Arab yang yang biadab seperti dulu… terpotong tangan sudah biasa buat mereka dalam perkelahian sekalipun… buat koruptor sekarang atau buat pemerkosa pra reformasi dulu… aku nggak tahu… cari aja yang cocok… rembukan ma aktifis HAM dulu… yang jelas manusia biadab makin banyak… menurutku pantas dipenggal juga… nyebelin… biar istrinya bisa cari suami baru yang lebih baik… anaknya dapet bapak baru…. kalo nggak, nanti yang baik malah jadi iri… seperti PNS kroco sekarang ini, pengen ikutan korupsi… karena kesalahan gede nggak setimpal ma hukumannya…
apa cukup sepuluh tahun kurungan buat mereka? tambah remisi tiap tahun lagi…
> Apakah dengan menyodorkan kemungkinan dalam ilustrasi diatas bisa saja terjadi sudah menjadikan saya menjadi seorang yang lancang?
ya, anda lancang sekali… hihihi… balasannya fikiran dan hati anda jadi ketakutan sekali… hwahaha…
> Sekali lagi, bagaimana jika hal tersebut benar-benar menimpa Anda?
Aku akan berjuang… akan kuperangi manusia-manusia seperti itu…. semampuku… meski mungkin jika cuma dengan doa… jika aku lumpuh total seperti anda sebutkan belakangan…
Dan untuk para atheis dan agnostis;
> siapa yang Anda salahkan dan Anda jadikan sasaran caci maki serta sumpah serapah jika kejadian tersebut menimpa Anda, mengingat Anda tidak meyakini adanya Sang Prima Causa? Menyalahkan takdir? Ataukah akan menuntut balas kematian keluarga Anda? Tapi dalam ilustrasi di atas skenarionya Anda buta dan cacat! Lalu?
Eh aku mah nggak atheis kan…? kan tadi juga berdoa….
Anda belum gila… mungkin sebentar lagi lah… kalo anda cuma terus membayangkan saja jawaban dari peristiwa yang anda reka sendiri….
Fikiran Anda memang sudah keparat… tapi keimanan anda terhadap kuasaNya masih mencegahnya… dan aku percaya Dia masih menyayangi anda…
whuaaah… kok panjang ya…. biarin ah… yang ngelamunnya juga ngajak panjang kok…. hihihi….
jadi aku juga ngelamunnya panjang juga… jadi jangan dibikin polemik… ini hasil ngelamun juga… belom tentu bener…. hwahaha…..
5 Maret, 2009 pada 2:23 pm
Pertanyaannya…
> Apa, dan bagaimana kira-kira respon Anda mengetahui kejadian tragis tersebut menimpa keluarga Anda?
> Kira-kira siapa yang pertama kali akan Anda salahkan atas kejadian ini?
Aku tentunya akan marah besar, bukankah untuk itu Dia menciptakan kemarahan…? yang disalahkan tentu sang pembunuh dan pemerkosa tersebut…
Lanjut….
Pertanyaannya;
> Anda mulai berpikir bukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang selama ini Anda sembah, Anda puja-puji dan Anda sebut-sebut namanya dalam dzikir? Anda mulai merasa tepat 100% bahwa semua ini harus dilimpahkan kepada-Nya. Ia dalang semua ini.
Bagiku Dia bukan dalang, Dia menciptakan sistem terpadu dan aku berada di dalamnya. Jika pembunuh itu membunuh keluargaku dengan kuasaNya akupun akan membalas dengan kuasaNya pula. Islam menciptakan sistem hukum mati untuk pembunuh dan pemerkosa biadab seperti itu dengan dasar ini.. pembunuh membunuh dengan tangannya, aku membunuh dengan tanganNya…
Lanjut….
> Apakah jika nasib maha naas tersebut benar-benar menimpa Anda, Anda akan berlaku sama seperti yang saya ilustrasikan?
Tidak, aku akan benar-benar menangis, tapi aku akan berupaya sampai aku mati… menuntut balas… tidak perlu menyiksanya… tapi manusia seperti itu pantas mati…
> Atau apakah menurut Anda ilustrasi di atas terlalu didramatisir dan mengada-ada?
Tidak, kondisi masyarakat biadab sangat memungkinkan hal tersebut…
> Apakah saya kurang kerjaan menurut Anda menulis postingan demikian?
Jelas… anda seorang pemikir, yang biasa berpikir demikian biasanya kurang kerjaan… hihihi… biasanya cuma sambil ngopi ma ngudud…. hihihi…
> Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?
Keknya udah kujawab, dalam kondisi perang, masyarakat biadab dan kacau balau itu bisa terjadi…
> Apakah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!
Itu jelas suatu ujian yang sangat menyakitkan terhadap pemahaman tentang kehidupan dan Dia… soalnya dalam skala kecil dianggap sepele…
> Terlalu mengada-ngada-kah saya? Faktanya, di luar sana lebih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat kita mempertanyakan habis-habisan keadilan dan kewelas-asihan Tuhan!
Tidak… cuma versi definisi Keadilan dan kewelas asihannya menurut pemahaman anda juga…
> Apakah menurut Anda hal ini mungkin
Pertanyaannya…
> Apa, dan bagaimana kira-kira respon Anda mengetahui kejadian tragis tersebut menimpa keluarga Anda?
> Kira-kira siapa yang pertama kali akan Anda salahkan atas kejadian ini?
Aku tentunya akan marah besar, bukankah untuk itu Dia menciptakan kemarahan…? yang disalahkan tentu sang pembunuh dan pemerkosa tersebut…
Lanjut….
Pertanyaannya;
> Anda mulai berpikir bukan, bahwa Allah adalah Tuhan yang selama ini Anda sembah, Anda puja-puji dan Anda sebut-sebut namanya dalam dzikir? Anda mulai merasa tepat 100% bahwa semua ini harus dilimpahkan kepada-Nya. Ia dalang semua ini.
Bagiku Dia bukan dalang, Dia menciptakan sistem terpadu dan aku berada di dalamnya. Jika pembunuh itu membunuh keluargaku dengan kuasaNya akupun akan membalas dengan kuasaNya pula. Islam menciptakan sistem hukum mati untuk pembunuh dan pemerkosa biadab seperti itu dengan dasar ini.. pembunuh membunuh dengan tangannya, aku membunuh dengan tanganNya…
Lanjut….
> Apakah jika nasib maha naas tersebut benar-benar menimpa Anda, Anda akan berlaku sama seperti yang saya ilustrasikan?
Tidak, aku akan benar-benar menangis, tapi aku akan berupaya sampai aku mati… menuntut balas… tidak perlu menyiksanya… tapi manusia seperti itu pantas mati…
> Atau apakah menurut Anda ilustrasi di atas terlalu didramatisir dan mengada-ada?
Tidak, kondisi masyarakat biadab sangat memungkinkan hal tersebut…
> Apakah saya kurang kerjaan menurut Anda menulis postingan demikian?
Jelas… anda seorang pemikir, yang biasa berpikir demikian biasanya kurang kerjaan… hihihi… biasanya cuma sambil ngopi ma ngudud…. hihihi…
> Simak kembali rentetan kejadian diatas, apakah Anda berpikir kalau yang Tuhan lakukan itu benar-benar di luar batas, di luar akal, tak bisa dipahami?
Keknya udah kujawab, dalam kondisi perang, masyarakat biadab dan kacau balau itu bisa terjadi…
> Apakah Anda malah akan menganggapnya sebagai ujian semata, seperti halnya ujian seorang Ayyub, Ibrahim, Yusuf, Isa hingga Muhammad.saw? Tapi saat itu Anda (misalnya) benar-benar mengalaminya! Bagaimana Anda menghadapi semua itu?!
Itu jelas suatu ujian yang sangat menyakitkan terhadap pemahaman tentang kehidupan dan Dia… soalnya dalam skala kecil dianggap sepele…
> Terlalu mengada-ngada-kah saya? Faktanya, di luar sana lebih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang membuat kita mempertanyakan habis-habisan keadilan dan kewelas-asihan Tuhan!
Tidak… cuma versi definisi Keadilan dan kewelas asihannya menurut pemahaman anda juga…
> Apakah menurut Anda hal ini mungkin saja terjadi?
Sudah terjadi… agresi orang barbar, dan agresi pemeluk keyakinan buta dalam beberapa sejarah kebudayaan telah mencatatnya… aku tidak tahu sekarang… apakah di palestina ada juga, aku nggak tahu…
> Saya pernah mendengar bahwa apa yang kita dapatkan berupa kesialan, bencana dan derita, adalah lantaran kesalahan kita sendiri. Setujukah Anda jika Anda berada di posisi seperti “Anda” dalam ilustrasi di atas?
Kesalahan kita….?Mungkin Ya, mungkin tidak… anda dan aku mungkin lalai… untuk berfikir dan berusaha… dalam menciptakan kondisi masyarakat yang memahami kehidupan, atau untuk memimpin masyarakat menuju masyarakat yang tertib dan mencintai sesamanya…. kalau anda sudah berusaha meski belum mampu, anda tidak bersalah… cuma belum mampu… kesalahan kolektif mungkin ya… masyarakat seperti itu keropos… makanya Rosulluloh membangun sistem hukum masyarakat pula… yang mungkin tidak berperikemanusian menurut anda… tapi menurutku cocok untuk kondisi masyarakat Arab yang yang biadab seperti dulu… terpotong tangan sudah biasa buat mereka dalam perkelahian sekalipun… buat koruptor sekarang atau buat pemerkosa pra reformasi dulu… aku nggak tahu… cari aja yang cocok… rembukan ma aktifis HAM dulu… yang jelas manusia biadab makin banyak… menurutku pantas dipenggal juga… nyebelin… biar istrinya bisa cari suami baru yang lebih baik… anaknya dapet bapak baru…. kalo nggak, nanti yang baik malah jadi iri… seperti PNS kroco sekarang ini, pengen ikutan korupsi… karena kesalahan gede nggak setimpal ma hukumannya…
apa cukup sepuluh tahun kurungan buat mereka? tambah remisi tiap tahun lagi…
> Apakah dengan menyodorkan kemungkinan dalam ilustrasi diatas bisa saja terjadi sudah menjadikan saya menjadi seorang yang lancang?
ya, anda lancang sekali… hihihi… balasannya fikiran dan hati anda jadi ketakutan sekali… hwahaha…
> Sekali lagi, bagaimana jika hal tersebut benar-benar menimpa Anda?
Aku akan berjuang… akan kuperangi manusia-manusia seperti itu…. semampuku… meski mungkin jika cuma dengan doa… jika aku lumpuh total seperti anda sebutkan belakangan…
Dan untuk para atheis dan agnostis;
> siapa yang Anda salahkan dan Anda jadikan sasaran caci maki serta sumpah serapah jika kejadian tersebut menimpa Anda, mengingat Anda tidak meyakini adanya Sang Prima Causa? Menyalahkan takdir? Ataukah akan menuntut balas kematian keluarga Anda? Tapi dalam ilustrasi di atas skenarionya Anda buta dan cacat! Lalu?
Eh aku mah nggak atheis kan…? kan tadi juga berdoa….
Anda belum gila… mungkin sebentar lagi lah… kalo anda cuma terus membayangkan saja jawaban dari peristiwa yang anda reka sendiri….
Fikiran Anda memang sudah keparat… tapi keimanan anda terhadap kuasaNya masih mencegahnya… dan aku percaya Dia masih menyayangi anda…
whuaaah… kok panjang ya…. biarin ah… yang ngelamunnya juga ngajak panjang kok…. hihihi….
jadi aku juga ngelamunnya panjang juga… jadi jangan dibikin polemik… ini hasil ngelamun juga… belom tentu bener…. hwahaha…..
5 Maret, 2009 pada 2:30 pm
sori kang jadi dua kali…
dasar GPRS sialan… jauh dari peradaban…
31 Maret, 2009 pada 8:42 am
Maybe its very late…giving comment in this article.
1st time I read..HOW DARE YOU!!!
but after that…thanks to Allah and then thanks to you frozen…
You open up my mind,
This article and all comment help me to understanding His Love.