Seputar Kesalahan dalam Berdo’a ~ Refleksi Kenapa Do’a Jarang Terkabul

.

Note: Poin-poin dibawah ini amatlah subjektif-plus hasil pengamatan dan pengalaman pribadi. Jika bermanfaat, silakan ambil. Jika dirasa ada yang rancu, silakan direkonstruksi. Jika ada yang salah atau cacat logika, silakan disanggah.

Dan postingan ini amat terbuka untuk kritik.

Salam :mrgreen:

::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::–::

1. Biasanya diawali dengan keluhan, “Ya Tuhan, apa salah dan dosaku hingga Engkau timpakan aku cobaan seperti ini?”. Duile, ini kayak sinetron aja :mrgreen: Contohnya ketika kita ditimpa sakit, semisal sakit migrein atau sakit gigi, biasanya kalimat seperti itu yang sering keluar. Padahal memang dosa-dosa kita menumpuk nggak karu-karuan kan :lol:

2. Ucapan menggelikan, “Ya Rabb, bukakanlah pintu rahmat-Mu, pintu rizki-Mu, dan pintu ampunan-Mu”. Walah, lantas kalau begitu sifat Maha Pengasih dan Penyayangnya di sebelah mana kalau pintu-pintu tersebut sering tutup-buka? Memangnya pintu tol? :lol: Mas, mbak, adek, akhi atau ukhti, harap diingat dalam-dalam, bahwa Allah tidak pernah sekalipun menutup pintu rahmat, rezeki, apalagi ampunan-Nya. Bahkan justru terbuka luueeebaarr sekali. Terbuka untuk siapa saja. Muslimin, mukminin, munafiqin hingga kafirin. Ayo! Ayo! Kita semua bersimpuh di depan pintu taubat-Nya bareng-bareng, mumpung Izra’il belum membawa surat pensiun buat kita.


3. Keyakinan akan diijabahnya do’a di beberapa waktu khusus, semisal di malam dan hari Jum’at, bulan Ramadhan, antara adzan dan iqamat, di kala sujud, di sepertiga malam terakhir, dan lain sebagainya.
Memang betul, waktu-waktu tersebut dijamin oleh Allah. Namun mohon dipahami, bahwa yang menjadikan do’a itu diijabah, adalah bukan karena waktu yang digunakannya, melainkan siapa yang berdo’a. Jika Anda orang penting dan istimewa buat-Nya, mau kapan dan dimana saja do’a Anda dijamin keterkabulannya. Lha kalau Anda orangnya tipe Senin-Kamis, berdo’a kadang iya kadang tidak, atau berdo’a cuma ketika dirundung duka saja sementara jika do’a sudah terkabul malah langsung lupa daratan, ya wajar dong kalau Tuhan tidak memperhatikan do’a Anda. Terlebih kalau Anda masuk daftar black-list manusia yang do’a-do’anya tidak akan terkabul selamanya, waah, gawat tujuh turunan itu :lol:

4. Langsung main vonis macam-macam kepada Tuhan manakala do’a tidak terkabul. Sebetulnya kasus do’a jarang terkabul itu masalah umum mayoritas umat. Yang perlu direkonstruksi hanyalah persepsi. O, jangan-jangan kalau do’a saya cepat dikabul, malah akan mendatangkan hal-hal yang buruk nanti. Ya sudahlah, terserah Engkau sajalah Tuhan. Toh, memang tugas-Mu mengurusku. Ya tho? :mrgreen: Eit, selain rekonstruksi persepsi, jangan dilupakan pula untuk introspeksi dan retrospeksi diri. Be a progressive!

5. Buru-buru ingin do’a dikabul. Tenang, saudaraku. Tuhan itu Maha Pemberi Kejutan. Kita lihat saja apa yang sedang dipersiapkan-Nya. Sebab, hanya di saat-saat genting-lah pertolongan-Nya datang. Setelah pertolongan-Nya datang disaat-saat darurat, kita akan tersenyum lega sambil berucap; “Akhirnya datang juga…” “Alhamdulillahirabbil ‘alamin…”

6. Mengeraskan suara. Hhh… for remember brother, that ALLAH is arround us. He is very very near, not deaf also. So? Can you got the conclussion, hmm?

7. Terlalu melihat (orang-orang yang fasilitasnya di atas rata-rata) sebelum berdo’a. “Si anu tetangga saya jarang ngaji jarang ibadah kok hidupnya mujuuur terus. Lha saya kok hidup gini-gini aja? Kenapa ya?”. Ehem! First, masih banyak lho mereka-mereka yang nasib hidupnya lebih na’as dan sial dibanding kita. Kenapa tidak bercermin aja pada mereka? Bahkan, manusia sekelas nabi dan rasul saja, macam Ayyub, Musa, Isa dan Muhammad, terkenal akan kerasnya penderitaan mereka semasa hidup, padahal mereka itu nabi dan rasul. Nabi dan rasul woi! Nabi dan rasul! Lha kita? Lha, lha lha… baru diberi garam kehidupan seuprit sudah protes. Lha ya wis. Pantes Iblis ndak minat menguji ketangguhan iman sampeyan. :lol:

8. Kebanyakan terlalu banyak memohon dengan mulut, bukan dengan hati. Padahal cukup memohon dalam hening saja, Tuhan sudah tahu keinginan kita. Tapi ya bukankah Tuhan hanya memberi apa yang kita butuhkan, bukan? Fokus saja pada keinginan itu jika memang kita ingin agar apa yang kita inginkan didengar dan didengarkan-Nya.

9. Use the arabic language! Maaf, bukannya saya phobia atau anti arabisme, hanya saja jika sampeyan tidak ngerti makna dari do’a yang Anda ucapkan (seperti saya misalnya, yang nggak mudeng sama sekali dengan bahasa Arab), bukankah lebih baik jika Anda menggunakan bahasa sehari-hari. All languages is His own, brother! Dan jelas Ia mengerti semua bahasa. Bukan begitu?

10. Dalam rangka supaya apa yang kita hajatkan segera terpenuhi, terkadang kita melakukan ritual puasa khusus selama beberapa hari. “Yah, kali aja kalau saya puasa, Tuhan mengabulkan do’a-do’a saya”. Heeei….!!! Bukannya itu sama saja dengan menyuap Tuhan? Tuhan nggak mempan disogok lagi :lol: Beningkan hati dari berbagai noda-noda nafsu yang membandel. Halah, nulis sih gampang ya? :mrgreen:

11. Adakalanya permohonan yang kita haturkan amatlah jauh dari logis. Semisal meminta agar khilafah Islam berdiri esok tepat jam 6 pagi. :lol: Yang pasti-pasti aja deh…

12. Lupa. Ini dia faktor esensial kenapa do’a-do’a yang kita kirimkan kepada-Nya banyak yang tidak jelas nasibnya. (Kayak kirim naskah saja). Pertama, lupa daratan kalau do’a cepat dikabul. Kedua, lupa untuk tahu diri, bahwa diri ini masih bejibun dosa. Lupa, bahwa diri ini hanyalah makhluk dha’if. Lupa bahwa diri ini masih memiliki berjuta nikmat hidup yang layak disyukuri. Lupa bahwa masih banyak diluar sana orang-orang yang hidupnya lebih memprihatinkan. Lupa bahwa kita pun sering melupakan Tuhan. Lupa bahwa diri ini masih punya berbagai utang-piutang disana-sini, baik moril maupun materil. Lupa bahwa masih banyak saudara, sahabat dan tetangga yang kerap kita sakiti dan kita belum sempat meminta maaf, terlebih orang tua. Lupa bahwa kita banyak memutus tali silaturahmi. Lupa bahwa diri ini sebetulnya paling kaya dan beruntung. Lupa bahwa kita jarang bersyukur. Lupa bahwa semuanya mestilah disikapi dengan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Dan lupa untuk selalu mengingat mati, yang mengakibatkan hati ini keras bukannya lunak, yang mengakibatkan hati menjadi hitam bukannya cemerlang. []

Bandung, 8 Juli 2008
Menjelang Maghrib

40 Tanggapan ke “Seputar Kesalahan dalam Berdo’a ~ Refleksi Kenapa Do’a Jarang Terkabul”

  1. Seandainya Tuhan punya email, yg sperti itu pasti masuk Spam Box… :lol:

  2. doa2 narsis itu maksudnya :lol:

  3. Ini kejadian nyata loh:
    Saat doa khusyuk tiap hari, malah ga terkabul.
    Eh, giliran doanya senin kemis, ga tentu hari, kadang ingat kdg engga, itu yg malah terkabul. Naaahhh…. gimana itu?? :lol:

  4. @ CY
    Email?! Walah :lol:
    .
    “…Ini kejadian nyata loh: Saat doa khusyuk tiap hari, malah ga terkabul.
    Eh, giliran doanya senin kemis, ga tentu hari, kadang ingat kdg engga, itu yg malah terkabul. Naaahhh…. gimana itu??…”

    .
    Situ jangan nanya saya, tanya saja sama Tuhan sana langsung :lol:

  5. Gimana kalo nggak usah berdoa aja? Jadi nggak apa apa nggak dikabulkan. :lol:

  6. lha saya malah diajari bahwa pada dasarnya semua do’a pasti dikabulkan. tapi, ada tiga kemungkinan pengabulan. satu, diberi seketika… dua, ditunda sampai waktu yang ditentukan… ketiga, dialihkan ke sesuatu yang lebih baik. boleh jadi sesuatu itu adalah ketidakterkabulan… he he he… katanya lho. saya juga pernah mbaca di AQ ada kok dan saya yakin memang begitu adanya.

  7. @ dana
    Nggak berdo’a, berarti nggak kepikiran dengan kata “terkabul” dan “tidak terkabul” dong :lol:

    @ sitijenang
    Benar. Benar sekali itu. Hanya saja yg jd persoalan, banyak orang (saya salah satunya) yang tidak puas dengan jawaban/doktrin seperti yg sampeyan pegang :mrgreen:

  8. kalau Tuhan diyakini punya sifat Maha Baik, tentunya apa yg dikabulkan pun termasuk dalam kerangka baik. bila segala sesuatu tergantung niat, arah perjalanan do’a pun ditentukan niat. bila do’a sama dengan permohonan / harapan, tentunya perbuatan pun bisa tergolong sebagai do’a.

    berkaitan dengan niat, katanya kan adanya di kalbu dan harus bersih / baik, dalam arti (menurut pemahaman saya) terbebas dari ego / hawa (Jawa). bila awalnya baik, tentu dampak dari do’a ikut membawa efek positif bagi lingkungan, yang mana fungsi manusia *katanya lagi* adalah menjadi kalifah ing ngalam donya…

    kata saya dan orang-orang lho… he he he :mrgreen:

  9. weh… ada referensi lain:

    Kabul

  10. wagh..intinya klo kita menginginkan sesuatu dari Tuhan..sabar aja..pasti semuanya ada waktunya ;)

  11. @ sitijenang
    “…kalau Tuhan diyakini punya sifat Maha Baik, tentunya apa yg dikabulkan pun termasuk dalam kerangka baik…”
    .
    Sepakat! Yang jadi persoalan kembali, yakni tidak semua orang beragama (muslim) memiliki persepsi dan paradigma seperti itu. Parahnya, mayoritas mereka adalah kalangan grass root yang notabene kapasitas intelektual dan spiritualnya cenderung minim, sehingga ketika apa yang ia yakini mengenai ke-Maha-Baik-an Tuhan ternyata harus luluh-lantak hanya gara2 permohonan/do’anya tidak terkabul, ia bisa dipastikan akan berbalik anggapan mengenai kebaikan Tuhan. Eksesnya? Bisa kita lihat di setiap petikan berita di layar kaca maupun surat kabar; pencurian, pembunuhan, bunuh diri, dll. Semuanya tak lebih lantaran beton psikologis yang rapuh. Dan saya menyayangkan hal ini jarang diketengahkan di berbagai mimbar pada umumnya.

    @ okta sitohang
    Jika semua orang (muslim) masa kini memiliki kesabaran setaraf nabi, tak akan saya menulis postingan seperti ini. Sabar? Let’s discuss it again,

    Salam,

  12. Lalu yang berdoa pake megaphone di mesjid itu salah juga ya Mas? :roll:

  13. @ ardianto
    Jika Anda menanyakan pertanyaan tersebut kepada kaum salafi-wahabi, sudah jelas bahwa berdo’a memakai megaphone itu salah, sesat malah, sebab tidak ada contohnya di zaman Rasul.SAW. Hehe, jangankan pakai megaphone, masalah dzikir pakai tasbih saja masih diributkan kok :lol:
    .
    Yah, kita lihat saja sikon-nya pas atau tidak. Jika berdoa massal di mesjid menggunakan pengeras suara dalam rangka acara reljius semisal mauludan misalnya, dan tidak mengganggu mereka2 yg sekiranya non-muslim, sah-sah saja. Tapi ini jangan dijadikan fatwa, lho? :lol:

    Salam,

  14. Doa yang baik adalah hening, mengada bersama hidup kita, tanpa taktik & strategi
    Tidak terbelenggu akan kata-kata & bebas dari penjara persepsi

  15. gimana kalo berdoanya menjelang ajal? :D

  16. @ tommy
    Nampaknya poin nomor 8 mewakili bisa komentar Anda :mrgreen:
    Hmm… tidak terbelenggu kata2 dan bebas dari penjara persepsi ya… Ah, sayangnya mayoritas kita tidak sepemikiran dengan Anda

    @ dobelden
    apanya yang gimana, Kang? :-D

  17. hmmm… jawabannya juga butuh keterkabulan do’a. kalo begitu mari berdo’a… saling mendo’akan buat kebaikan sesama… :mrgreen:

  18. @ sitijenang
    ya ayo mari… :mrgreen:

  19. Hahaha…cerdas bung Esensi. Bagus nih dijadiin buku self-help! Anyway, saya sudah lama tidak berdoa. Kalo berdoa yah paling untuk orang tua. Habis, saya merasa bersalah kalo tidak mendoakan mereka. Yah, iyah, ini termasuk seputar kesalahan berdoa juga kali yah. :D

  20. @ gentole
    Lho? Kok sama dengan saya ya…? :lol:

  21. wew…. kenaopa postingan mas aris ndak terlihat di google reader, yak? setiapmampir kemari, pasti telat komennya, hiks. ttg adab dan etika berdoa, setiap orang punya cara sendiri-sendiri menurut keyakinanannya masing2. persoalan dikabulkan atau tidak itu menjadi hak prerogatif semata. bagi orang awam seperi saya, mas aris, dia pada sepertiga malam yang terakhir masih saya anggap sbg saat yang tepat. lha wong berdoa pada saat orang lain sedang tidur nyenyak saja belum tentu dikabulkan, kok, hehehe, apalagi kalau berdao tanpa mempertimbangkan saat yang mustajabah atau tidak.

  22. Wah, membaca komentar Bapak, saya jadi melihat berbagai statemen yang saya cantumkan di atas menjadi tidak lagi relevan. Banyak yang mesti dikoreksi lagi memang. Andai Bapak komentarnya duluan… :mrgreen: Terima kasih komentarnya, Pak…
    .
    Eh, ini kan waktu tidurnya orang2 normal :shock: Jangan2 kita sama2 bukan orang “normal” ya, Pak… :mrgreen:

  23. baca postingannya jadi merasa “tertampar” sampek “njengking” :|
    kena bangget :D
    matur nuwun mas… jadi pekewuh mau berdoa :)

    *pijat reflexi*
    *reflexi diri*

  24. @ the hermawanov
    . :shock: waduh, bagian mana yang kena “tampar”?
    pakewuh ya… :mrgreen:

    *nunggu giliran dipijat refleksi*

  25. hihihi

    ya.. ini bener pengamatan subjektif :mrgreen:

    *salah pokus*

  26. setiap doa harus dibarengi dengan usaha :D
    klo udah capek2 berdoa trus nunggu dirumah mana bisa juga terkabul wwkkwkwkwkwkw

    salam kenal

  27. @ lainsiji
    rrr… banyak yang ngaco ya? :mrgreen:

    *ngeluyur, tanpa dosa*

    @ Gelandangan
    setuju :mrgreen:
    (tapi do’a adalah usaha jg lho mas… wwkkwkwkwkwk…)
    .
    Salam kenal,

  28. Kemarin saya membaca bulu the ultimate Al Quran didalamnya dibilang bahwa berdoa adalah menghadirkan jiwa kepada pemilik jiwa …

  29. @ Rindu
    Itu dia syarat fundamental dalam berdo’a yang sulitnya bukan main, mbak :mrgreen:
    .
    *Berencana jalan2 ke toko buku, nyari buku tersebut; pengen baca jg*
    *Lagi belajar dan semedi, biar bisa menghadirkan jiwa*

  30. emm… doa y..? pengalaman ngajarin kalo banyak hal yang luput dari apa yang saya minta.. ujung-ujungnya saya malah sering bergumam kaya gini: “duh gusti… umatmu ini sudah sedikit, masih aja dibecandain…”
    waaaaaaaaaaaa…. hampura Gusti….

  31. @ arkenz
    . :lol:
    .
    bei de wei, ente urang Bandung asli, Kang? Dimana? :mrgreen:
    .
    salam,

  32. Allah senang kalau hambaNYA meminta, berendah diri, sebab dengan demikian berarti juga meninggikanNYA yg memang Mahatinggi.

    “Menyuap Tuhan”… mengapa tidak? Itu membuktikan kita berusaha keras menggapai ridhoNya. Saya juga kadang puasa senen-kemis dan memilih sepertiga malam terakhir untuk berdoa. Bukan biar Allah mengabulkan doa saya segera (sebab nyatanya banyak doa saya yg memang belum terkabul), tapi agar DIA tahu bahwa saya berusaha menggapai kasihNYA.

    Kan nggak haram “cari muka” sama dia. Kalo cari muka sama orang baru deh harusnya malu.

    Artikel Anda ini lucu, tapi yaaaah… cuman segitu.
    Lucu.

    Maaf kalo ada kata2 yg tidak berkenan.

    -’mpal-

  33. @ ‘mpal
    Senang sekali saya mendapati “counter” dari Anda. Sudah lama saya menunggu tulisan-tulisan saya dikritik. Oke, saya coba respon…
    .

    Allah senang kalau hambaNYA meminta, berendah diri, sebab dengan demikian berarti juga meninggikanNYA yg memang Mahatinggi.

    Tidak sesederhana itu, menurut saya. Permintaan macam apa dulu yang mampu membuat-Nya “senang”? Dan siapa dulu yang mengajukan permintaan/permohonan/do’a tersebut. Silakan dipikirkan kembali…
    .

    “Menyuap Tuhan”… mengapa tidak? Itu membuktikan kita berusaha keras menggapai ridhoNya

    Anda mengabaikan hukum pluralitas, dimana sudut pandang setiap orang berbeda-beda mengenai pemahaman terhadap Tuhan. Terlebih lagi, “menyuap” itu mengindikasikan “ada maunya”. Ini jelas bertentangan dengan spirit dan esensi penghambaan kepada Allah, dimana keikhlasanlah yang mesti dikedepankan. Toh, jalan untuk menggapai ridha-Nya itu ‘kan tidak cuma satu. Tapi saya sepakat dengan perilaku “cari muka” kepada-Nya itu. Jujur, saya sepakat.
    .

    Artikel Anda ini lucu, tapi yaaaah… cuman segitu.

    Saya hargai pendapat Anda. Sayang, Anda masuk ke sini dengan status anonim, jadinya saya tidak bisa melakukan kunjungan balik ke tempat pemikiran Anda (blog) untuk melihat lebih luas spektrum pemikiran Anda.
    .
    Saya tunggu komentar balasan Anda. Terima kasih,
    Salam,

  34. saya cuman pengen ngutip poin no.6 (ini tulisan anda sendiri lho ya :mrgreen: saya cuman mengutip)
    “ALLAH is arround us. He is very very near”

    So? ngapain “nyari”???? hmm….?

  35. @ light
    Salah. Itu juga sebenere saya ngutip pernyataan-Nya sendiri. Dan, well, Ia mengatakan Ia adalah dekat, where?
    Yah, pokoknya, kalau kak nurma kebetulan atau sudah menemukan-Nya, beri tau saya.
    .
    Salam,

  36. Wah kebetulan juga, org yg kmu tanyain ini msh ‘awam’ :mrgreen:

    mon cheri…,
    bertanyalah pd mereka yg lebih “berilmu” drku, agar ‘tercerahkan’ bukan malah ‘tersesatkan’ ^-^ mungkin nanti, setelah IA sempurnakan hidupku dg kematian, barulah aq bs bertemu dgNYA (itupun klo IA anggap pantas)

    wa’alaikassalam

  37. Menambah khazanah aja bagi yang belum tau menurut tafsir Al-Mizan ternyata syarat ijabahnya doa adalah puncak kesusahan.

    http://tafsirtematis.wordpress.com/2008/06/27/puncak-kesusahan-bagian-dari-syarat-ijabahnya-doa/

    wallahu alam

  38. @ reekoheek
    Terima kasih link-nya. Mohon di-share jika Anda mengetahui link-link lain yang bermanfaat.
    .
    Salam,

  39. the kewuk Berkata

    apa ga sebaeknyah kembali ke qur’an + sunnah? Kan ada tentang tata cara berdo’a, n sori nyangkal 1, ada tempat yg kita ga boleh berdo’a : di WC

  40. @ the kewuk
    Saya ini orang awam. Bisa dijelaskan, apa maksud dari “kembali ke qur’an + sunnah” itu? :-)

    Saya tunggu jawabannya…

Leave a Reply