Saya, Jum’at & Dialog Imajiner
SEPERTI biasa, hari Jum’at tadi, saya sholat Jum’at di Gedung Serbaguna bernama Pusat Dakwah Islam (Pusda’i) Bandung, jaraknya sekitar 500 meter dari tempat saya bekerja. Seperti biasa pula, saya dapati pemandangan tipikal pra-sholat Jum’at di hampir semua tempat pelataran mesjid, yakni selain berjubelnya jamaah yang hendak sholat, berjubel pula pengemis yang “mengadu nasib” berharap akan uluran tangan dari jamaah yang datang. Sebuah pemandangan paradoks saya pikir. Entah di kota besar atau di kota kelahiran saya Cianjur, tiada Jum’atan tanpa hadirnya para pengemis. Yah, barangkali memang harus begitu skenario Tuhan, untuk sekedar menguji sampai mana kapasitas altruisme orang-orang yang dilebihkan hartanya.
Kebetulan, saya mengantongi dua keping 500. Saya berniat memberikannya kepada yang benar-benar pantas menerimanya. Saya tidak ingin uang ini jatuh kepada orang yang sebetulnya masih memiliki kekuatan fisik dan masih mampu mencari rezeki sebagai mana orang pada umumnya, namun berpura-pura mengemis. Saya perhatikan baik-baik, dan geleng-geleng kepala. Nenek-nenek yang sudah ringkih, ibu-ibu lemah yang menggendong bayi, kakek-kakek yang sudah tak lengkap lagi kedua tangannya, ada juga yang tidak lagi memiliki kedua kaki. Semuanya pantas untuk diberi. Ditambah lagi tempat mereka menanti “uluran tangan” amatlah berdekatan. Bingung saya. Kalau saya memberikan kepada yang satu, tentu yang lainnya akan melihat dengan mata nanar, mengiba, atau mungkin bergumam dalam hati, “dia dikasih kok saya enggak?”. Serba salah. Ya sudah, yang penting saya niatnya cuma ingin memberi. Target dua orang. Masing-masing 500. Lha wong cuma itu uang yang kebetulan saya bawa.
Ketika saya merogoh satu keping 500-an dan hendak memberikannya kepada seorang tunanetra, terdengar suara (gaib) dari samping, lirih namun tegas,
“Eh, dodol, hari gini mau ngasih 500? Apa nggak malu?!”
Kontan saya kaget. Belum saya merespon, sudah ada suara lain yang menimpali,
“Kamu yang dodol! Sudah bagus anak ini mau sedekah!”
Dan suara pertama tadi balas menimpali,
“Ya tapi pikir dong, masak memberi cuma 500 perak?!”
Suara kedua membalas lagi,
“Eh sableng, apa Tuhan melihat sedekah hamba-Nya cuma dari nominalnya saja? Enggak kan?! Tapi niat dan keikhlasannya! Atau bisa jadi cuma segitu saja uang yang kebetulan dibawa anak ini!”
Saya hanya bisa bengong dan terpaku, tapi diam-diam setuju dengan suara barusan.
“Fren, lu kagak pernah lihat berita ya? Kalo BBM naek, listrik byar-pet, harga-harga barang juga melonjak, lah duit 500 bisa buat beli apa? Paling aqua gelas atau gorengan ala kadarnya…”
“Tapi ‘kan yang penting anak ini mau membantu! Toh, kalau digabung dengan pemberian dari orang lain, mungkin jumlahnya cukup untuk bisa dibelikan nasi dan lauk pauk…”
“Membantu sih membantu. Tapi rasional sedikit dong, sekaligus pakai sikap afeksimu, bahwa apa yang kita keluarkan, tak sekedar bisa membantu, tapi juga bisa mengenyangkan! Sekarang ente pikir deh, gimana perasaan ente kalau diberi uang 10 perak jika kebetulan ente ditakdirkan mengemis? Pasti ente bakalan bertanya-tanya kan; bisa buat beli apa duit segitu di zaman serba mahal seperti sekarang? Kalau ditanyakan kenapa ngasihnya segitu dikit, jawabnya yang penting saya ikhlas memberi. Waaah… ikhlas kepalamu! Mending nggak usah memberi sekalian daripada nggak bisa mengenyangkan orang lain!”
“Oke, oke, argumenmu ada benarnya. Cuma itu kan urusan yang jadi penerima. Si pemberi tak perlu ambil pusing lah, yang penting ia sudah menyedekahkan sebagian hartanya. Lalu soal yang 10 perak seperti yang kamu katakan tadi, ya bahlul aja itu orang, lagipula zaman sekarang mana ada uang pecahan segitu! Tapi tetap, berapapun nominalnya, yang penting sedekah!”
“Anak ini cuma punya dua keping 500. Berarti maksimal hanya dua orang yang kebagian; seorang 500. Nah, lantas, yang lainnya gimana tuh? Padahal hari ini kebetulan pengemisnya berjejer kayak uler gitu. Apa nggak kasihan? Cih! Manusia beragama zaman sekarang, memberi sedekah cuma ketika kebetulan saja punya recehan, tapi nggak ada niat kukuh memberi ketika punya harta berlebih!“
“Eeu… itu…”
“Nah, ‘kan, nggak bisa jawab. Sudah, daripada… bla bla bla…”
Dua suara gaib itu masih saling cekcok. Satu di telinga kiri, satu di telinga kanan. Dan tangan saya masih memegang kepingan 500-an itu. Suara pertama tadi bisa jadi iblis. Tapi apa yang ia katakan ada benernya juga. Lha suara kedua, saya juga tidak kalah setujunya, hanya saja ada kegamangan yang terselip. Benarkah pemberian akan menjadi sia-sia manakala ia tidak bisa memenuhi apa yang sebenarnya dibutuhkan si penerima? Lantas jika seandainya kebetulan saya membawa 10 lembar uang 10.000-an, apakah saya bisa ingat pada mereka-mereka yang membutuhkan. Kalaupun iya, seberapa besar saya ikhlas memberikannya? Dan seberapa besar pula peluang saya melakukan riya’? Berbagai pertanyaan menggedor ruang kepala saya.
Suara adzan menggema. Saya tersentak sadar, harus bergegas masuk ke dalam mesjid. Saya terdiam sebentar. Kiranya sebuah ilham turun dari langit. Beberapa detik kemudian saya tersenyum. Tahu apa yang kiranya tepat untuk dilakukan.
Ending cerita, mengenai nasib dua keping 500-an yang saya punyai itu, hanya Tuhan, dan saya saja yang tahu. []
Bandung, 18 Juli 2008
16.51 PM
18 Juli, 2008 pada 12:02 pm
seperti saran memberi makanan, pakaian, buku, dll kepada pengemis anak-anak. katanya supaya “mendidik”. tahunya darimana kalo barang-barang yg diberi nanti lebih bermanfaat? siapa tahu dijual lagi, disetor, atau mungkin dibuang. kalau setelah keluar tangan kita lalu bukan urusan kita, lantas bagaimana tanggungjawab si pemberi. sebatas dalam “transaksi” sedekah? saya sering ngalamin juga tuh…
cukupkah niat baik atau perlu memikirkan dampaknya juga?
18 Juli, 2008 pada 1:26 pm
@ sitijenang
Sik, sik, sik kang… panjenengan menengo sik… Saya juga masih mumet mikir ini…
18 Juli, 2008 pada 3:07 pm
keknya aku tau apa yang terjadi dengan dua keping 500 mu itu, tapi ya sudahlah.. biarlah angin membawa beritanya, halah
Mengenai memberi dalam kasus ini, mengingat dari awal udah niat sedekah, ya udah kasih aja, ndak usah pake pertimbangan dua lembar halaman folio
Ada nilai lain yang bisa diambil dari sekedar jumlah yang
amat, sangattidak seberapa itu, seperti member nafas bagi naluri memberi, dan perasaan bersyukur akan keadaan diri dibanding mereka. Tapi aku cenderung untuk lebih memilih menyumbangkanjika adakepada organisasi ketimbang menyerahkannya langsung. Rumah zakat Indonesia adalah contoh yang bagus18 Juli, 2008 pada 11:47 pm
@ lainsiji
Ng… jadi penasaran sendiri
Alhamdulillah, sudah aku temukan jauh-jauh hari
Mungkin realita dan pengalaman ril yang berbeda-beda dan kita dapat di lapangan (mengenai hal ini–memberi), menjadikan kita mempunyai anggapan dan penilaian yg berbeda pula, tentunya perihal kecenderungan sasaran mana yang lebih baik dibidik. Saya sendiri malah apriori jika menyerahkannya kepada organisasi seperti itu. Yah, kita temfuh jalan masing-masing deh…
19 Juli, 2008 pada 1:01 am
Selalu ada ambiguitas. Memang menyebalkan, tidak ada yang pasti baik. Bener kata Mas Jenang, tidak bisa hanya “innamal a’malu biniyat” saja. Padahal Nabi bilang begitu yah…btw, Nabi bisa diajak debat gak sih?
19 Juli, 2008 pada 5:46 am
@ gentole
.
bisa digebukin orang2 FPI lho sampeyan!
Lha menurut Anda mestinya gimana ini?
*menerawang apa yg kira2 mas gentole bakal sampaiken*
19 Juli, 2008 pada 7:33 pm
dialog imajiner yang mantab, mas aris. persoalan seperti itu memang sangat personal sifatnya, mas. menurut saya sih, besar kecilnya bukan persoalan yang penting benar utk diperdebatkan. yang bagus memang bisa memberikan amal sebanyak mungkin dg hati ihlas. cuma ihlas atau tidak itu juga semata2 hanya Tuhan yang tahu. saya juga belum tentu percaya kalau ada orang ngomong ihlas ketika memberikan sesuatu. wew … ihlas itu kan urusan hati, kok mesti diomongkan, hiks, jangan2 justru utk menutupi kalau memang ndak ihlas, haks
19 Juli, 2008 pada 7:48 pm
@ Sawali Tuhusetya
Lha ini saya malah “memperdebatkannya” jg ya?
Tapi saya sepakat dengan Pak Sawali, apapun,
minumnya teh botol sosrosemuanya berpulang kepada Allah semata. Eh, lha yen seperti itu, lantas bapak ini milih ngikut “paham” Mas Sitijenang+Mas Gentole apa Lainsiji di atas?Salam
20 Juli, 2008 pada 7:48 am
Betul-betul menyeruak esensinya. Great.
20 Juli, 2008 pada 3:40 pm
@ Ersis Warmansyah Abbas
Menyeruak bagaimana, Pak? Kok ndak dijabarken?
20 Juli, 2008 pada 4:11 pm
@sitijenang
di sesuaikan kemampuan saja mas,
mampu memikirkan juga dampaknya, bagus …
mampu sebatas memberi, juga bagus …
inti sedkah toh sebenarnya bukan pada nominalnya, atau banyak sedikitnya, tapi seperti kata @lainsiji “seperti memberi nafas bagi naluri memberi” atau kalau istilah saya “penyegaran jiwa”.
“lha kok bisa ??”
gini …, manusia itu dari sononya, dari fitrahnya seneng yang baik-baik, seneng menjadi manfaat. jadi setiap perbuatan yang merugikan, setiap pengingkaran pada kebaikan, seperti sedang mencabik-cabik jiwa, membuat rasa resah, gelisah, merasa tidak aman dst …
perbuatan baik, salah satunya sedekah itu, merupakan cara menambal serpihan-serpihan jiwa tadi.
nah … kalau sudah paham prinsipnya, kita ndak bakalan bingung lagi kalau ketemu kasus, misal “nyumbang nggak ikhlas itu bagaimana ??” atau “nyumbang dari hasil korupsi itu bagaimana ??”, ndak harus saklek boleh atau nggak boleh, tapi kita akan merasa plong dengan jawabannya
“tapi apa nilai kebaikannya jika pemberian tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang di beri ??”
seperti yang saya singgung sebelumnya, jika sampeyan mampu mengukurnya, monggo … silakan dilakukan, jika tidak … ya silakan untuk tidak dilakukan.
coba saya sebutkan beberapa contoh pembanding,
contoh kasus pertama, seorang multi milyuner melakukan pemberian sejumlah 1 juta, apakah akan sama nilainya dengan seorang yang pas-pasan melakukan pemberian dalam jumlah yang sama ??
contoh kasus kedua, sampeyan beli barang, tentu harus memberi duit pada penjualnya toh ?! dan tentu duitnya valueable toh ?! wong kita sama-sama tahu lah … namanya pedagang ya tentu cari untung.
nah … silakan disimpulkan masing-masing dari perbandingan contoh kasus tersebut.
“lalu, apa yang harus dilakukan jika kasusnya seperti cerita diatas ?? saat kita mampu mengukur bahwa pemberian sebegitu ‘tidak membawa manfaat apapun’ (dalam tanda kutip) ??”
(secara penyederhanaan) ada dua, bisa dengan pengkondisian fisik dan pengkondisian jiwa, terserah mana yang mau dipilih.
pengkondisian fisik, berarti kita mengubah pemberiannya, termasuk bila perlu menambah jumlah pemberian, atau membuka lapangan pekerjaan dsb …
pengkondisian jiwa, agak sulit dijelaskan, mungkin kalimat ini bisa sedikit membantu “aku mengabdikan diri pada kebaikan, aku beritikad pada kebenaran, tidak ada lain dariku selain kejujuran” atau formula paling singkatnya (lek cara islami) gini aja deh “laa ilaaha illa Allah”. tapi ini agak sulit dilakukan untuk kasus per kasus, sangat diperlukan konsistensi disini.
weh, pegel jari saya …
sori kalau nggak jelas, atau kurang panjang (keburu pegel soalnya), semoga tidak malah membingungkan
20 Juli, 2008 pada 6:25 pm
@watonist
maaf mundur dulu… arti dan makna sedekah sendiri apa, ya? supaya jelas dulu definisinya. saya cuma dapet ini:
Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela).
lalu ada lagi….
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah saw. juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah (Shahih Muslim no 1667).
kalo dari kutipan kedua mengisyaratkan dampaknya, manfaat yg nyata. ada referensi lain?
20 Juli, 2008 pada 6:31 pm
@ watonist
Untuk komentar Kang Watonist niku, saya nggih setuju jg. Lha kapasitas spiritual/intelektual setiap manungso iku bedho2 tho?
Salam,
21 Juli, 2008 pada 6:02 am
@sitijenang
anggap saja saya sedang berbicara tentang “semua jenis dan bentuk pemberian”, termasuk misalkan sekedar memberi senyum.
kalau definisi yang saya pake nylewar dari definisi yang umum dipakai, anggap saja saya sedang bingung nyari padanan katanya apa,
apalagi toh memang saya tidak pernah makan bangku sekolah (denotatif)
21 Juli, 2008 pada 6:03 am
@sitijenang
anggap saja saya sedang berbicara tentang “semua jenis dan bentuk pemberian”, termasuk misalkan sekedar memberi senyum, walaupun sebenarnya nggak sesempit itu maksudnya.
kalau definisi yang saya pake nylewar dari definisi yang umum dipakai, anggap saja saya sedang bingung nyari padanan katanya apa,
apalagi toh memang saya tidak pernah makan bangku sekolah (denotatif)
21 Juli, 2008 pada 6:04 am
wah dobel post …
yang atas belum lengkap, tolong di hapusin 
makasih sebelumnya
21 Juli, 2008 pada 11:44 am
@watonist
justru itu. kalo dari referensi yg saya dapat di atas, arti dan maknanya ternyata luas. kata sedekah sendiri bisa ditafsirkan berbeda-beda. kalo ada tafsiran-tafsiran lain kan nanti bisa untuk referensi yg lebih komplet. soalnya, di internet kebanyakan langsung bicara sedekah ini, manfaatnya itu, lakukanlah, dll.
22 Juli, 2008 pada 4:12 am
@sitijenang
lha … target marketnya kan beda mas.
disini saya target marketnya ya sampeyan itu …. yang sudah saya anggap bisa mikir dan mengambil kesimpulan sendiri, jadi masalah aplikasi, monggo … sak kepenaknya sampeyan saja. disini cukup esensinya saja, kayak nama blognya
23 Juli, 2008 pada 8:57 am
Oo… kalo gitu makasih sedekahnya. saya memang mesti banyak belajar lagi soal sedekah, walaupun sudah acapkali “bersedekah bumi” dengan istri… *halah*
meski begitu, menurut saya tetap saja perlu dipapar juga referensinya. secara… ini blog yg dikunjungi banyak orang. sapa tau bisa menambah keluasan penyebaran sedekah *halah lagi*
24 Juli, 2008 pada 12:43 am
@ watonist & sitijenang
*nonton jagongane sampeyan2, angguk2, matur nuwun, saya jg kecipratan hikmah dan sedekah argumennya
Salam,
24 Juli, 2008 pada 9:55 am
@esensi
hikmah apanya yang sampeyan ambil ?? “sedekah buminya” ?? huehehehe
24 Juli, 2008 pada 11:44 am
@ watonist
hikmah saling “menerima” (dengan ikhlas) setiap argumen/pendapat mereka2 yg cenderung berbeda, dan yg sampeyan sebut jg termasuk salah satunya
27 Juli, 2008 pada 6:32 am
Wah soal sedekah kalu saya sih tak pilih yang lebih pantas menerima
Caranya diteropong dulu, he he
Soal sedekah sih menurutku itu ukuran keikhlasan kita terhadap kecintaan terhadap materi. soalnya kalu diukur dengan kemampuan mungkin kita bisa memberi lebih dari yang kita berikan, tapi nyatanya, mau sedekah seribu aja kadang masih mikir to. Coba kalu disuruh ikhlas spt Nabi Ibrahim, walaaah jauh sekali kita ini.
Saya punya contoh bagus. Saya punya temen, kalu dia dah nolong orang kadang dibela2in ngutang, kalu ditanyain juga ga ngaku buat apa dia ngutang. saya tahu karena yang dibantu itu cerita sama saya, lhoooo aneh kan.
“kunjungan balasan” he he
27 Juli, 2008 pada 2:01 pm
@ Ngabehi K.M
27 Juli, 2008 pada 5:36 pm
ternyata orang-orang berilmu seperti tuan-tuan ini juga lagi binggung tentang masalah ini ya, saya juga sedang berada pada kondisi yang serupa. Kiranya bapak-bapak mau memnyumbangkan (menyedekahkan) nasehatnya untuk saya. Mohon pencerahan, agar saya tak ragu-ragu..
Terimakasih
salam,
ttd
*pemulung*