Just a Memory…

Kau masih ingat aku, si pendosa ini?
Ah, seperti dulu
Kau hanya diam tersipu
Tentu Kau ingat pula bagaimana awal perjumpaan kita…

.

Waktu itu, di ujung waktu
dan gerimis menancapkan jarum-jarum lunaknya ke bumi
aku berteduh di depan pelataran rumahMu
Suara lembutMu mengajakku masuk
lalu Kau tawarkan aku handuk salam untuk mengeringkan kuyup di rambutku
Kau sodorkan secangkir kopi hangat rasa dzikir oriental
dan Kau gelar permadani tebal–setebal kebebalanku
.
Baru kali itu aku diperlakukan sedemikian rupa
lalu aku perhatikan lebih lekat wajahMu
ah, bukankah Kau adalah…
ya…
itu Kau!
aku kerap mengacuhkan suaraMu
aku lebih suka membohongiMu
aku selalu menyakitiMu
bahkan aku pernah ingkar akan eksistensiMu
itu Kau ‘kan?
Dan Kau hanya tersenyum
aku tak mengerti apa makna senyumMu kala itu
yang jelas
suaraMu menghisap seluruh perbendaharaan kataku
dialog yang kupikir bakal terjadi antara dua entitas yang tak saling mengenal
malah menjadi monolog yang begitu syahdu
dan aku hanya terpekur membatu
Kau…
begitu menawan, sumpah mati aku!
.
akhirnya kita habiskan menit-menit pendek itu dengan hening
dan ketika aku bergegas pamit
Kau menggamit lenganku
“Tunggu…,” kataMu lirih, riuh mengalir suaraMu
“Ini… kenanglah Aku di setiap jeda waktumu, ingatlah Aku di setiap semburan nafasmu”
Kau berikan aku 99 kartu namaMu
terukir indah
berkilau
penuh ribuan cahaya
Dan Kau tatap aku dengan penuh harap
“Iya…,” kataku singkat, dan Kau lepas tanganku
.
Baru aku sampai di pintu depanMu
kubalik badanku
kulihat mataMu berkaca
.
kuikat tali sepatuku
kutolehkan lagi pandanganku padaMu
dan berlian-berlian itu berjatuhan di pipiMu
.
dan ketika aku sampai di pintu gerbang luar
meledaklah suara tangisMu
membekukan syarafku untuk melangkah
“Datanglah lagi kemari jika kerinduanmu membuncah!”
“Jangan pernah sungkan apalagi malu untuk sekedar menyapaKu!”
“Dan kau harus tahu, betapa cintaKu padamu melewati batas-batas pemahaman yang tak pernah kau jangkau sekalipun, dan tak pernah kau kira lagi besarnya…!”
“Katakanlah bahwa kau akan kembali jika kau penat, sebab Aku yang akan menghilangkan penatmu. Katakanlah bahwa kau akan kembali jika kau dirundung duka, sebab Aku yang akan menghiburmu, lebih dari sekedar menyembuhkan sakit batinmu!”
.
aku seolah menjadi manekin hidup yang tak mampu bergerak dan bersuara
gejolak dan luapan kegembiraan bergelombang bolak-balik dalam setiap petak kosong bunakenku
padahal aku ini bukan siapa-siapa…
.
Lalu Kau menghampiriku, berkata pelan…
“Dan jika kau memerlukan bantuan, datanglah padaKu, Aku akan penuhi keinginanmu, akan Ku puaskan dan tenangkan hatimu, dengan syarat, jangan kau bagi cintamu selain hanya padaKu…”

.

Itu satu tahun yang lalu
dan aku sudah tak ingat lagi bagaimana aku meninggalkanMu waktu itu
yang jelas
ke-99 kartu namaMu yang Kau berikan kala itu, entah sudah hilang kemana
dan seratus empat belas surat yang Kau kirimkan padaKu, entah terselip di tumpukan buku dan koran yang mana di gudang yang sudah berdebu di rumah…
Dan kini aku berpapasan lagi denganMu
.
“Maaf…”
hanya itu yang bisa kukatakan, dengan gugup tentu
dan lagi-lagi
Kau hanya tersenyum
ah, dan sejak kapan aku mulai bisa membaca berjubel kata cinta
yang tersimpan di mataMu itu?
dan lagi-lagi
suaraMu yang sudah lama tak kudengarkan seksama di setiap pergantian waktu
begitu bening
sebening kata cinta yang kurasakan menggerayangi telingaku akhir-akhir ini
“Bukankah Aku pernah berkata padamu, bahwa cintaKu padamu melewati batas-batas pemahaman yang tak pernah kau jangkau sekalipun, dan tak pernah kau kira lagi besarnya…”
.
Aaahh…
mungkin kiranya hanya aku sajalah entitas di bumi ini
yang mendapat perhatian, cinta, dan kasih sayangMu…
peluk aku
dekap erat aku
biarkan aku rebah dalam sejuk dan hangatMu
dan dua pintaku;
hentikan waktu yang Kau cipta, agar aku bisa selamanya di sini, bersamaMu
atau
aku ingin,
agar aku tak punya keinginan lagi… []

.

Bandung, 21 Juli 2008
*a-ku, yang sedang disekap kerinduan…*

21 Tanggapan ke “Just a Memory…”

  1. ahhh… in i bercerita tentang hubungan dengan Tuhan bukan???

    semoga saya gak salah… indah sekali tulisan ini…

    salam hangat, terima kasih udah mampir ke blog saya

    silly

  2. tema yg model begini kok kutipannya gelap, ya? mungkin kurang jelas buat orang-orang bermata cadhok. usul-usil: ganti tema aja kali… :mrgreen:

  3. Duh, saya juga dah lupa pada cahaya yang dulu pernah singgah. :(

  4. @ Silly
    Mmm… interpretasikan sendiri ya… nggak sulit koq :wink:

    @ sitijenang
    bener! bener! ngerti wae sampeyan iki :lol:

    @ dana
    Wah… sekali2 nanti harus posting pengalaman demikian ya, minimal kayak saya inilah formatnya… Ditunggu! :evil:

    @ gentole
    … (entah apa yg sedang anda pikirkan tentang Dia…)

    *lho, koq?! :shock: tumben komentarnya pada syahdu begini?? :lol:
    Salam,

  5. I’m speechless….

  6. @ 1ndr14
    Well, you’re speechless, but not writeless :lol:

  7. sufimuda Berkata

    cinta kepada-Nya adalah ibadah yang paling utama, sumber kebahagiaan sejati…

  8. Wah…saya bersemedi dulu ya, biar bisa nangkap esensi postingan ini.
    :D

    salam kenal.

  9. Sejuta kata cinta tak cukup untuk menggambarkan kasih sayangNya kepada semua makhluk ciptaanNya….. :)

  10. RRUUUAARRRRR BIASSSAA!!!!

  11. puisi religi yang panjang, mas aris, tapi saya suka dan ndak bosan membacanya. menikmati ekspresi kesejatian dari yang tak henti2nya beruspaya menemukan hakikat cinta yang sesungguhnya. sungguh, bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya,. namun, itu mesti harus dilakukan.

  12. @ sufimuda
    semoga saya bisa demikian…

    @ Ina
    Semedi? :shock: Jangan jauh2 ya, ntar ilang, khan baru silaturahmi… :mrgreen:

    @ Yari NK
    Mmm… kalo nggak sejuta, semilyar gimana pak? Masih kurang? Saya tambahi seratus milyar deh…
    *ditimpuk pak Yari, diajak serius malah joking*
    Ya, bahkan kata seindah apapun tak sanggup mewakili gambaran cinta-Nya.

    @ indra1082
    Wadduh, bukannya itu slogan M-150?? :shock: :lol:

    @ Sawali Tuhusetya
    Terima kasih opininya, Pak. Nah, sebagai seorang guru bahasa dan sastra, adakah kritik bapak terhadap tulisan (puisi) saya di atas, baik dari segi rima, diksi, ritme, alur, metafor, dan pesan implisitnya?

    Salam,

  13. Butuh energi luar biasa untuk mengungkapkan rasa dalam tulisan panjang seperti ini…!

  14. @ Qizink
    Hmm… :-)
    Saya jadi ingin tau, apa yang anda dapatkan dari tulisan saya ini?

  15. Pemakaian katanya membuat salut … salut :) ajari saya, agar tak membuat postingan yang salah [lagi]

  16. wuih dasar yang lagi kasmaran… aku baru pertama loh kemari… kalo akang lihat Dia terus… aku gimana dong, nggak diajak ngobrol ma akang…. ngomong-ngomong dah jadian kang? rahasia yah?

  17. @ Rindu
    O ya? :) Kenapa tidak ada kritikan? Padahal saya juga mengharapkan itu, lho… ;-)

    @ godamn
    Yap! Ini rahasia! Ndak boleh digosipin lebih lanjut, ntar jadi polemik lagi :lol:

  18. wah,,,udah pernah ketemu Tuhan yah….

    aku ingin,
    agar aku tak punya keinginan lagi

    aku ingin mempunyai keinginan yang sama denganMu…

  19. @ aL
    …mungkin

  20. Makes My heart melt…….

Tinggalkan Balasan