Arsip untuk Oktober, 2008

Cinta; Perspektif Tipografi, Tipologi, & Teologi

Posted in Perspektif on 30 Oktober, 2008 by frozen

.

PRAWACANA

…..Setiap kita, sebetulnya memiliki, atau lebih tepatnya, dianugerahi, sebuah fitrah eksklusif bernama Cinta. Jika dalam bahasa Inggris dinamakan Love, dalam bahasa Jawa dinamai Tresno, dalam bahasa China disebut Ai, dalam bahasa Arab dinamai Hubb, dalam bahasa Perancis disebut Amor, Amore (Italia), Amor (Spanyol), dan Liefhebben (Belanda), maka dalam bahasa kita, Indonesia, ia dinamai Cinta.

…..Rasa atau fitrah eksklusif yang konon aneh dan sanggup membuat orang yang mengalaminya megap-megap ini (ka-ta-nya), tidaklah bisa mengejawantah dalam kesendirian. Ia memerlukan subjek lain yang juga sama-sama memiliki Cinta. Dalam kata lain, Cinta mampu mencapai puncak metamorfosa-nya menuju kesempurnaan wujud, apabila ada yang melengkapinya (komplemen). Karena keduanya saling melengkapi, keduanya pula akan saling menggantikan, mengisi kelemahan dan kekosongan (substitusi).

…..Anda jangan dulu mengernyitkan alis dan berkata tidak paham (karena saya sendiri juga tidak paham apa yang saya tulis ini), dan kita baru saja akan masuk pada bahasan utama. []

.

I. CINTA; SUDUT PANDANG TIPOGRAFI

…..Waktu saya SMA, saya mulai tergelitik, iseng bertanya-tanya, kok kenapa Cinta itu dilambangkan dengan lambang seperti itu? (maksudnya, kita sudah tahu apa, a.k.a lambang hati, walau nggak mirip-mirip amat dengan organ hati yang sesungguhnya). Nah, setelah sekian lama bergelut dengan dunia menggambar (baik gambar tangan maupun gambar hasil digital), saya temukan sebuah jawaban (atau tepatnya, ilham dari Ilahi). Sederhana, namun sangat menarik. Yakni kuncinya ada pada alfabet pertama dari frasa “Cinta”; “C”.

…..Sederhananya begini. Seperti pada prawacana di atas, kita sama-sama memiliki fitrah cinta (mencinta-dicinta). Dan taruhlah di sini kita fokus pada dua subjek yang saling memiliki dan merasakan Cinta. Taruhlah, Anda, dengan Saya. Berarti, masing-masing kita, sama-sama mempunyai “C”. Anda memiliki satu “C”, dan, saya pun memiliki satu “C”. Jadi, kita sama-sama memiliki satu “C”. Nah, lalu kita coba ilustrasikan. Kemudian kita buat keduanya saling berhadapan. Kemudian kita satukan. Ah, untuk lebih jelasnya, kita simak saja urutan ilustrasi dengan progressnya masing-masing di bawah ini.

Dua “C”; “C” Anda dan “C” Saya

Kedua “C” tadi, kita ubah tipografinya, menjadi seperti di atas

“C” yang satu, kita transform, supaya saling face to face. Ehm! Anda sudah bisa menebak lanjutanya

Yeah…! Fusion! Penyatuan! Wahdatul Wujud! Sempurna…!

Nah, bagaimana? Keren ‘kan? *guffaw mode = ON*
….. Jadi, lewat tipografi ini, kita bisa menyimpulkan, bahwa ternyata, love memang benar-benar comes from similarity. Juga, bisa kita banggakan, bahwa ternyata, the symbol of love, adalah ASLI hasil reka-cipta dan rekayasa nyleneh dari tipografer, negeri kita tercinta, Indonesia! Huahahahaha…!!! [] Lanjut…!