[Saya dan UK]
.
FRAGMEN 1
………..“Lulus sekolah ke mana?”
………..“Kuliah di Universitas XY”
………..“Wuih! Keren”
Tapi ketika sudah kuliah, dan menjelang wisuda…
………..“Lulus kuliah ke mana?”
………..“Kerja, dunks!”
………..“Di…?”
………..“…”
FRAGMEN 2
………..Universitas X tahun ini kembali sukses mencetak ribuan sarjana pengangguran. Dan diperkirakan, jumlah pengangguran terbuka tahun ini membengkak menjadi berjumlah 10,85 juta orang. Angka yang fantastis!
FRAGMEN 3
………..Bergabunglah bersama kami di Universitas Bla Bla Bla! Terbukti lulusan kami mudah mendapat pekerjaan!
FRAGMEN 4

FRAGMEN 5
………..Hampir semua tempat didatangi, sambil membawa map berisi ijazah dan surat lamaran. Sial, yang terpampang itu-itu lagi; “TIDAK MENERIMA LOWONGAN!”
(Sayup-sayup terdengar lirih alunan lagu Sarjana Muda-nya Iwan Fals… Menyayat hati, menusuk…)
***
Target : Mengejar IPK tertinggi, itu pun kadang dengan ultimatum orang tua.
Gambaran Umum : Banyak-banyak menghafal teori, apalagi menjelang ujian/kuis. Membosankan. Rutin fotokopi a-i-u-e-o, dsb… (dan saya bingung) >> Bingung, habis kuliah ngapain? (o_O) >> a.k.a Setelah lulus… mendapat sambutan dari para senior kehidupan…, “Selamat datang di dunia realitas! Silakan antri di barisan penganggur intelektual paling belakang…”
Jadi ingat curhatnya seorang tetangga yang ini.
[]
Sekarang… bandingkan dengan yang ini.
………..Tidak ada kurikulum atau sistem keparat penjagal kreativitas. Ospeknya elegan dan menantang, bukan murahan, edan-edanan, apalagi sampai main tonjok-pukul-tampar-push up-sit up atau yang tak ada guna lainnya. Tak perlu iuran SPP, bangunan, atau diktat. Proses belajar dan pembelajaran bisa dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Semua orang adalah mahasiswa sekaligus dosen. Tak ada alumni, sebab waktu belajar dan bermetamorfosis ke arah progres akan berhenti seiring datangnya surat panggilan dan Universitas Keabadian (mati). Dan, yang dikejar adalah proses, bukan orientasi. Inilah, Universitas Kehidupan.
………..Saya tidak bisa membayangkan, seandainya 2007 kemarin saya jadi ikut SPMB, dan jadi kuliah. Sudah pasti stagnasi dan kemahabosanan seperti yang pernah saya alami selama SMA, bakal terulang kembali. Saya juga tidak bisa membayangkan, jika saya jadi kuliah. Saya bakal kembali dicekoki pelajaran-pelajaran yang jauh dari realitas hidup. Ingat waktu saya diwawancara saat melamar kerja pasca kelulusan.
………..“Apa kelebihan Anda sehingga berani melamar kemari? Padahal ijazah Anda cuma SMA”
Untungnya saya tidak menjawab, “O, saya menguasai Kalkulus, Pak!”, “Aha! Saya tahu persebaran manusia purba di nusantara, Bu!”
…
………..Well… jadinya saya bekerja sambil kuliah sekarang, ya, UK, Universitas Kehidupan. Sembari belajar berbagai hal dari siapa saja. Andai saya masih harus bangun jam sekian lalu duduk manis mendengar khotbah dosen formal, lalu mencatat ini-itu, mengadakan penelitian ba-bi-bu, membuat pesentasi, mengerjakan soal-soal yang dibuat se-aneh mungkin, dan begitu terus rutinitas saya, tentu saya sekarang tidak akan mengenal seorang yang sudah meruntuhkan paradigma saya berkenaan superioritas laki-laki. Saya pun tidak akan bakal mengenal seorang wartawan yang hobi meratap dan mengutuki hidup (jadinya saya nggak sendirian
). Tidak pula saya bakal kenal Om semprul yang cerpennya ternyata patut diperhitungkan. Atau wartawan yang blognya mengingatkan saya pada kultur saya sendiri padahal pekerjaan profannya jauh dari reflektif. Tidak juga saya akan bisa mengenal seorang Project Manager yang merangkap jadi programmer di sebuah perusahaan IT yang ternyata punya pemikiran teologi yang renyah, sikapnya ramah, suka merendah, dan ah ah ah lainnya (tidak saya sisipkan link blognya, takut disemprot kalau ketahuan. Yang jelas blognya hidup enggak, mati pun tidak
). Saya pun tidak akan bisa kenal dengan seorang master yang tulisannya begitu membumi. Tidak juga saya akan mengenal seorang guru bahasa yang begitu concern dan sangat disayangkan kenapa saya tidak sekolah di Kendal di bawah bimbingannya. Tidak pula saya bisa tahu seorang jilbaber, pakai kaca mata, yang tulisan di blognya kadang bikin saya GR. Tidak pula saya akan kenal masbro yang seumur tapi sudah pikirannya sudah jauh di depan yang kini tinggal di negeri Jiran. Tidak pula saya akan tahu mas ini, ini, ini, guru besar ini, dan banyak lagi nama-nama yang tidak bisa saya ketik linksnya semuanya. Pokoknya yang pernah dan sering mampir ke sini deh, dan saya pernah balik mengunjungi pula ^^
………..Bincang-bincang sok intelek, diskusi ngladrah, saling komen, dan interaksi lainnya, banyak memberi saya masukan-masukan dan pelajaran berharga. Apakah saya bisa mendapatkan mereka di universitas formal?
Friends… you all are my teachers, a priceless treasure…
I’m grateful to know you…
.
[]
Paris van Java
10-10-2008
10 Oktober, 2008 pada 3:02 am
Setelah tamat kuliah dan jadi sarjana sampai sekarang (sudah 8 tahun) ijazah tidak pernah saya pergunakan untuk lamar kerja…
Saya lebih senang membuat kerja dari pada mencari kerja….
Ijazah hanya saya pergunakan untuk memberikan semangat kepada anak2 saya kelak agar rajin sekolah
10 Oktober, 2008 pada 3:17 am
sebenarnya ijazah itu kan hanya perangkat pelabelan yang telah kadung diberhalakan di negeri ini. untung ada universitas kehidupan yang selalu memberikan kebebasan kreatif kepada para civitas akademiknya untuk berpikir dan bertindak secara keilmuan. ilmu kehidupan. desain kurikulumnya juga sangat adapatif terhadap perkembangan peradaban, tidak menghamba kepada selera dan ambisi penguasa. universitas kehidupan juga tidak membutuhkan ijazah karena lebih mengutamakan kompetensi dan aktualisasi diri secara riil, bukan dikarbitkan lewat budaya upeti dan instan. *halah ngomong apa saya ini* kalau uk tak pakai ijazah itu malah lebih bagus, haks. bisa kreatif, bahkan bisa menciptakan lapangan kerja mandiri.
10 Oktober, 2008 pada 1:29 pm
Ijasah saya di dalamlemari kini sudah usang dan di makan rayap, sekarang lagi ikut pendidikan dengan tuhan, nggak tau dech….bakal lulus atau enggak.
Yang jelas tinggal menunggu ijasah dari akhirat.
Soryy….saya …….
Lagi bete…., pusing…… , sedikit agak kurang waras…..
Salam
10 Oktober, 2008 pada 2:43 pm
jadi inget buku hidup tanpa ijasah. lupa penulisnya, tapi itu kisah nyata sampek dia dapet gelar profesor di jepang.
10 Oktober, 2008 pada 2:58 pm
lho … ndak punya ijasah kok gelarnya profesor kang ??
emm …
tapi ya mungkin juga sih … “profesor” kan berarti orang yang ber “profesi” *ngasal*
10 Oktober, 2008 pada 9:24 pm
@watonist
itu gelar kehormatan. ada kok blog yg ngebahas. udah tua orangnya. intinya dia gak mau hidupnya tergantung secarik kertas bernama ijasah. kalo gak salah malah menolak ikut ujian SMA. cari aja tuh…
11 Oktober, 2008 pada 1:01 am
hmmm…., post ini kok terasa seperti self defence mechanism sang penulis yah?
menghindari sesuatu tuan? *sudah pasti dirajam*
11 Oktober, 2008 pada 1:31 am
what ?? apa kamu bilang ?? tidak berharga … ??
*lagi error*
11 Oktober, 2008 pada 1:47 am
Kamu kuliah di United Kingdom!!? Wow, penerima beasiswa Chevening yah!?
11 Oktober, 2008 pada 7:01 am
@nurma
Ah Mbak Ayu, kayaknya dikau akhir-akhir ini juga seperti itu
@Mas Penulis
Mas kuliah di Paris ya
*gak nyambung mode on*
11 Oktober, 2008 pada 7:33 am
(terlanjur) complex melihat pendidikan Indonesia, salah satunya tidak jelas mengarah kemana. Sarjana Jurusan A kerjanya B, sarjana jurusan B malah kerjanya P, sarjana jurusan C kerjanya Z dan sarjana jurusan D tidak kerja apa-apa. Beda dari apa yang terjadi negara2 maju (ya iyalah kita kan masih negara berkembang,he8) yang sudah punya orientasi yang jelas setelah lulus.
–salam–
11 Oktober, 2008 pada 10:53 am
@ sufimuda






Hoo…
.
.
@ Sawali Tuhusetya
Memang demikian, Pak Sawali
.
.
@ mujahidahwanita
…
.
.
@ sitijenang
Eh, bukannya itu Ajip Rosidi? Atau… Acep Zam Zam Noer ya, lupa saya…
.
.
@ nurma
mmm… begitulah
.
.
@ watonist
hng…? ada yang salah ya?
.
.
@ gentole a.k.a Wartawan Harian Kacang Goreng
Itu lagi??
.
.
@ secondprince
Kok tau?
*
Hmmp…!.
.
@ dian diam
Anda punya tablet pemecahan masalahnya?
.
.
-salam-
11 Oktober, 2008 pada 6:00 pm
sepertinya km telah berhasil menggambarkan betapa suramnya (bahkan mendekati mengerikan) dunia pendidikan formal di Indonesia..
24 Oktober, 2008 pada 12:45 pm
::kayaknya kyai puji baru ngangkat GM perusahaannya anak Belia umur 13 an, masih SMP katanya, perusahaannya beromset 110 M…sekolah yuuk…
24 Oktober, 2008 pada 6:10 pm
@ peristiwa
ya, madesu Indonesia…
.
.
@ zal
nah, itu lagi santer-santernya tuh…
3 November, 2008 pada 8:05 am
wah matabzzz
6 November, 2008 pada 11:48 am
rahayu…
when i’m read about UK.. i remember when someday i chat mirc32, white a man, i ask ” where doyou live” he’s answer if he live in UK and so Where is it , i mean whats the meaning of UK , so he write UK is United Kingdom… oh i think University of Kedokteran Unair.. and the reality he know everything about me, because he’s Operator Chat..
sekolah iku penting boss…… berhasil dan tidak berhasil soal nanti…
wass wb
6 November, 2008 pada 1:39 pm
@ hidayat
sekolah yang bagaimana dulu, itu maksud saya
18 November, 2008 pada 2:22 pm
titel memang masih diagung-agungkan di negeri ini, padahal banyak lapangan pekerjaan yang tak perlu titel.
vocational study alias sekolah keterampilan memang belum populer di kalangan masyarakat kita, padahal lulusannya bisa terampil dan lebih punya peluang untuk menciptakan pekerjaan instead of mengharapkan pekerjaan.
kenapa fragmennya semua mengedepankan isu tak enak dari pendidikan formal, aris? padahal banyak juga contoh yang baik kan?
19 November, 2008 pada 3:09 am
Memang, saya tidak bisa menutup mata bahwa banyak contoh2 yag baik yang bertebaran seputar dunia pendidikan, tapi karena selama ini (terutama ketika entry ini ditulis) saya lebih sering mendapati kenyataan negatif seperti di atas, ya apa boleh buat, saya tulis saja apa adanya (meski buruknya pula saya jadikan hal ini sebagai justifikasi, bahwa saya berada dalam keputusan yang benar, tidak (atau belum) mau melanjutkan studi
20 November, 2008 pada 7:01 am
lah, kalau begitu kamu memang mencari-cari kesalahan namanya, tak berimbang dalam mengedepankan bukti sehingga lahirlah penilaian yang timpang.
kalau memang ingin menjustifikasi diri (baca: keinginan) sendiri, maka tindakan apa pun cenderung bisa dibenarkan oleh subyektivitas kita.
masih baik ini dalam konteks pendidikan untuk diri sendiri.
dalam konteks yang lebih luas keterkaitannya, say kemaslahatan hidup orang banyak, bukankah kamu jadi sama saja dengan para pejabat “pesulap” laporan yang bertebaran di luar sana, mengemukakan justifikasi sesuai apa yang “ingin” mereka percayai, bukan apa yang sebenarnya “harus” dipercayai?
*lagi-lagi komen eror, don’t mind it*
20 November, 2008 pada 8:28 am
@ marshmallow
bagiku pemahamanku, and vice versa
.
.
.
*ngakak**yeah! puas*