Berkenalan dengan Kolofon
………..SETIAP kali saya memegang buku, entah itu ketika baru membeli dan hendak membacanya, ada satu bagian dalam buku itu—yang mana hampir di setiap buku pasti ada—yang selalu saja menarik perhatian saya. Bagian khusus yang hanya memuat sederetan informasi penting berkenaan judul buku, nama penulis, tahun terbit, editor, penata letak, nomor ISBN, keterangan cetakan, data penerbit, percetakan hingga ukuran kertas, dan masih banyak hal lain lagi. Bagian khusus yang, mungkin, kerap dilewatkan oleh kebanyakan kita, dan barangkali jarang mendapat perhatian pula. Kolofon…
***
………..Mungkin, istilah kolofon bagi sebagian kita, masih asing dan jarang didengar, kecuali bagi orang-orang penerbitan tentunya. Dan jujur, saya pun baru mendengar kembali istilah yang sudah lama tidak saya dengar dan tidak begitu familiar ini (sebelumnya saya pernah mendengar istilah ini waktu SMP, namun lupa, dan baru ngeh kembali).
………..Kalau ditanya bagaimana sejarahnya, ini, saya kutip sekelumit sejarah kolofon yang saya ambil dari Ruang Baca Tempo edisi 24 Juli 2005 :
Dari manakah asal kata kolofon itu? Ada yang menyebutkan kata ini diturunkan dari kata dalam bahasa Latin, colophon. Yang lain menyebutnya dari bahasa Yunani, kolophon. Tapi umumnya orang bersepakat bahwa kata ini memiliki arti “puncak” atau “sentuhan akhir”. Asal-usulnya barangkali dapat ditelusuri dari sejarah buku. Sebelum mesin cetak digunakan di Eropa Barat, setiap manuskrip acap kali diakhiri dengan pernyataan tentang penulis atau pengarang manuskrip.
Buku cetakan pertama yang diketahui memasang kredit tentang jenis mesin cetak dan tanggal pencetakannya ialah Mainz Psalter yang diterbitkan oleh Fust and Schoeffer. Di paragraf terakhir manuskrip yang terbit pada 1457 ini tercantum pernyataan semacam itu, yang kini disebut kolofon. Baru sesudah 1520 informasi semacam itu mulai dicantumkan di halaman judul yang terletak di bagian awal buku.
Catatan tambahan: kini, kolofon lazimnya ada di bagian depan, dua atau satu halaman setelah cover.
***

Kolofon "Khotbah Di Atas Bukit" Kuntowijoyo, khas Mizan
………..Sebetulnya, dengan kolofon ini, mata kita bisa terbuka lebih lebar ketika memandang sebuah buku. Mampu menimbulkan semacam kesadaran, bahwa sebuah buku, dimulai dari proses kelahiran hingga rilisnya di ranah perbukuan, disokong dan melibatkan banyak individu di “belakang layar”.
………..Mungkin kita akan ber-”wuih!” ria ketika membaca karya masterpiece Paulo Coelho Sang Alkemis, atau Islam and The Destiny of Man dan Remembering God masterpiece-nya Charles Le Gai Eaton, atau The Kite Runner adikarya Khaled Hosseini, atau pula The Da Vinci Code-nya Dan Brown yang menghebohkan itu, atau yang paling umum, serial Harry Potter yang fenomenal buah karya J.K. Rowling.
………..Sah-sah saja apabila kita mengagumi nama-nama yang kita sebut penulis itu, atau membicarakannya sebulan suntuk. Namun, apakah pernah terlintas dalam benak, untuk mendiskusikan, atau setidaknya, bertanya-tanya; siapa penerjemah karya-karya emas ini, sehingga kita bisa menikmati terjemahannya yang begitu renyah dan memikat?; siapa pula editornya, sehingga kita bisa mencicipi kemulusan sebuah paragraf demi paragraf tanpa ada cacat ejaan, dan diksi yang dipilihnya pun mengesankan?; begitu pula lay-out halaman, pemilihan tipe font berikut ukurannya yang pas dan enak dipandang, siapa penata letaknya?; finishingnya, siapa yang menyumbangkan keringat dan memeras imajinasi ketika mendesain sebuah cover, agar buku bisa terlihat menawan dan memikat orang?; lebih jauh lagi, penerbit mana yang telah mengalokasikan biaya sedemikian besar untuk menentukan oplah buku sekian ribu eksemplar, dan kebijakannya dalam pemilihan jenis kertas yang akan dipakai, perhatiannya terhadap ISBN yang bakal melekat pada produknya, serta menunjuk percetakan mana yang harus diamanati tanggung jawab mencetak agar hasil yang dicapai menjadi sebuah buku fisik bisa maksimal dan memuaskan? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah terbersit sama sekali di kepala dan sekarang baru kepikiran, mari, kita sama-sama mempelototi bagian kolofon. Di sana jawabannya.
***

Kolofon model ini, biasa digunakan penerbit-penerbit alternatif Yogyakarta
………..Setiap penerbit kadang memiliki khas dan gaya tersendiri dalam pembuatan sebuah kolofon. Ada yang begitu rinci menuliskan siapa saja yang berperan di balik proses terbitnya sebuah buku, mulai dari acquisition editor, proof-reader, lay-outer dan ilustrator, chief-editor, project coordinator, technical dan development editor, orang yang memberi pengantar, sampai statemen lisensi, hak cipta, dan brand yang dipatenkan. Tipe kolofon seperti ini biasanya tipikal penerbit luar negeri, khususnya buku-buku TI keluaran O’reilly, McGraw Hill, Appress, Microsoft Press, Packt Publishing, For Dummies, dan banyak lagi. Untuk buku-buku non TI, dengan catatan buku tersebut cukup berisi (tapi kebanyakan buku-buku luar negeri memang isinya bagus-bagus), biasanya tertera bahwa buku tersebut masuk Katalog Dalam Terbitan (KDT) Library of Congress yang tersohor itu. Jelas, nomor ISBN pasti ada.
………..Namun dalam jagat penerbitan Indonesia, komponen yang selalu tertera biasanya tak jauh dari judul buku, penulis, tahun terbit, editor, penata letak dan aksara, desainer cover dan ilustrator isi, percetakan, ISBN, statemen hak cipta, cetakan ke-, dan data penerbit. Ada pula yang minimalis, cukup menyertakan apa judul bukunya, siapa penulisnya, kemudian penyunting, desainer cover, info cetakan, ISBN, penerbit, sudah. Kita bisa melihat contohnya seperti buku-buku terbitan Elex Media Komputindo kategori non-komik, apalagi yang buku-buku komputer, yang hanya menyajikan judul, penulis, cetakan ke-, nomor kode buku, ISBN, terakhir, statemen hak cipta. Style yang berbeda bisa kita lihat dalam kolofon penerbit lain seperti Mizan, Serambi, Kanisius, dan Gramedia. Penerbit lain, bisa dikatakan tak ada perbedaan yang terlampau jauh dengan gaya kolofon formal (judul buku, penulis, tahun terbit, penyunting, tata letak, desain cover, ISBN, dan data penerbit).

Tipe kolofon Kanisius. Cukup menyita perhatian, nama penulis, penyunting, dan desain cover buku fenomenal Menalar Tuhan karya Franz Magnis Suseno ini tidak dicantumkan sama sekali.
***
………..Entah kenapa, saya lebih senang apabila dalam kolofon, ada informasi jenis font yang dipilih dan ukuran serta jenis kertas apa yang dipakai, semisal Garamond 10pt atau Times New Roman 11pt HVS 70gr. Sepengetahuan saya, penerbit yang menyajikan informasi seperti ini dalam kolofonnya, hanya Penerbit Erlangga (mohon beri tahu saya kalau ada penerbit lain yang demikian).
………..Dan, saya sangat benci dengan penerbit yang tidak jelas, maksudnya yang tidak acuh terhadap kolofon, alias penerbit yang prinsipnya hanya “yang penting buku jadi”. Saya sering gondok apabila menemukan buku yang desainnya menawan, namun di dalamnya awut-awutan, cetakannya buram, kertasnya kaku, font-nya memedihkan mata, dan lebih nggilani, lem perekat dalam jilidannya tipis bukan main, sehingga kalau buku dibuka, kertas-kertasnya mudah coplok. Sering pula saya lihat, kolofon dalam buku yang merugikan konsumen seperti ini, benar-benar memprihatinkan, dan tidak sesuai prosedur pembuatan kolofon yang baik.
………..Saya acungi jempol kepada penerbit yang memperhatikan masalah kolofon, kualitas penjilidannya kuat, rapi, desain covernya menawan, isinya pun berbobot, kualitas tinta dan kertasnya di atas standar, bersih, dan tentunya… harga bukunya murah, he he he… Yah, yang kualitasnya super oke, meskipun harganya mahal juga sih, saya tetap mengacungkan jempol, tapi… jempol terbalik!
***
………..Lalu, apa manfaat lain kolofon ini, selain menyajikan informasi seperti yang dipaparkan di atas? Dalam pengamatan saya yang terbatas ini, setidaknya ada lagi tiga manfaat yang diberikan kolofon.
………..Pertama, ia menjadi bukti profesionalisme sebuah penerbitan (penerbit yang bersangkutan tentunya). Hanya disayangkan, kadang ada penerbit yang kolofonnya lengkap, namun tidak memiliki ISBN, seperti Penerbit Teraju yang mengeluarkan buku-buku daras seputar wacana kontemporer, sebuah lini group Penerbit Mizan. Padahal, ISBN adalah komponen yang wajib ada dalam sebuah kolofon. Sebuah buku akan memiliki kekuatan tersendiri untuk bisa hidup di dunia perbukuan, ia akan memiliki identitas unik. Selain itu, ia mampu memperlancar arus distribusi buku, yang mana fungsi kode ISBN akan banyak terlibat. Kalau boleh saya beropini, kolofon tanpa ISBN, ibarat hidup tanpa cinta. Nggak lengkap. Hambar.
………..Kedua, memudahkan generasi mendatang untuk mencatat buku-buku yang pernah dan masih hidup, yang berasal dari zaman sekarang. Sering sebetulnya dijumpai sebuah masalah klasik di mana para peneliti sejarah, tersendat dalam menelurkan karyanya lantaran terhalang kendala ketiadaan kolofon dalam manuskrip-manuskrip yang ditelitinya (sebagai rujukan). Contoh kongkritnya lagi, mushaf-mushaf kuno yang jarang menuliskan kolofon, meski itu hanya sekedar berisi data penulis dan tahun penulisan. Jelas, hal ini bisa menyulitkan para pengkaji mushaf untuk memperkirakan masa penulisannya.
………..Ketiga, ia bisa dijadikan rujukan bagi mereka-mereka yang hendak mengirimkan naskah dalam bentuk hardcopy, di mana alamat penerbit tertera jelas. Begitu pun bagi penerbit lain yang sedang membutuhkan jasa desain cover freelance, cukup dengan menimbang sebuah buku penerbit lain yang desain covernya apik, ia tinggal mencari siapa desainernya di bagian kolofon, untuk kemudian mencari informasinya lebih jauh. Di ranah perbukuan Indonesia, nama desainer cover yang paling banyak mengisi kolofon adalah Eja Assegaf. Juga pencarian informasi penerjemah, editor, ataupun alamat e-mail penerbit, bisa dengan mudah didapat lewat kolofon.
………..Nah, apakah di dekat Anda duduk sekarang, ada satu saja buku yang tergeletak? Kalau ada, silakan periksa apakah ada halaman kolofonnya. Kalau ada, mulailah berkenalan dengannya.
[]
Bandung, 18 Desember 2008
02.01 dini hari, ba’da isya/menjelang subuh
18 Desember, 2008 pada 12:37 am
Halah, pertamax
Saya nggak pernah merhatiin kolofon tuh, biasanya langsung baca kata pengatar trus bab 1 dan seterusnya

Tapi pernah kok perhatiin kolofon *kapan ya…* Oya pas mo buat daftar pustaka
Buku ‘Menalar Tuhan’ dan ‘CAKRAMANGGILINGAN Makna Hidup dalam Kearifan Tradisional’ sepertinya bagus tuh. Pinjem mas
18 Desember, 2008 pada 2:56 am
Lha justru bagian ini yang pertama kali saya lihat kalo beli buku maupun memasukkan buku ini di daftar pustaka
Bahkan komik pun juga saya baca kolofonnya buat tahu kapan ia diterbitkan di negara asalnya. Sering penasaran aja sih
Salam kenal ya
(sori fast-read, jam kerja nih
)
18 Desember, 2008 pada 4:10 am
Waktu kuliah dulu, saya sering merhatiin kolofon buat bikin daftar pustaka
Tapi di luar itu, saya biasanya cuma ngeliat kolofon kalau terjemahannya atau sampul bukunya menarik buat saya (entah karena bagus banget atau jelek banget)…tentu untuk liat siapa penerjemah atau desainer sampulnya.
Di sisi lain, saya seeeeneeeng banget mendapati nama saya di kolofon (pernah jadi penerjemah sebuah buku teks di erlangga), saya pandangi lama-lama nama itu di kolofonnya
18 Desember, 2008 pada 12:29 pm
oo ternyata kolofon itu to artinya…
kok kyk clorophyl ya..
saya jg ga terlalu memperhatikan kolofon, biasanya pada buku apapun, saya suka skimming dulu bagian depan dan tengah, klo menarik, lanjut baca
18 Desember, 2008 pada 1:05 pm
::esensi, jadi kau sudah baca buku-buku itu….ya..ya…baguslah itu… koloforn…itu yang ada gula merah didalamnya kan…
18 Desember, 2008 pada 2:10 pm
@ Rukia
hari gini tiada itoe jang namanja pindjem
.
.
.
@ lambrtz
a-ha! bagoeslah Boeng ada tindak begitoe, terlebih komik, saja djoega demikian adanja…
salam kenal
.
.
.
@ Catshade
waah…
senengnja…
*eh, iya, salam kenal Mas Chatshade*

.
.
.
@ eMina
begitoe…
*tjatet, doea orang blogger soedah jang tiada memperhatiken kolofon*
.
.
.
@ zal
rrr… itoe sih boekannja kelepon
18 Desember, 2008 pada 5:32 pm
esensi, metamorfosis seorang keparat, mencari sebongkah hakikat…
lantas, esensi macam apa yang didapat dari postingan tentang kolofon ini? jadinya seperti nggak nyambung. Esensi yg biasanya bersentuhan dengan hal-hal immateri, malah berbicara lagi tentang hal-hal profan, dan bahkan tidak terlalu penting lagi postingannya. Kalau suntuk sih, mending tidur aja…
19 Desember, 2008 pada 1:07 am
dzinnia… ada jang moesti engkaoe tahoe, bahwasannja esensi itoe ada di setiap eksistensi, djadi tiada haroes meloeloe berkoetat soal religioes ataoe spiritoeal sahadja. Kita makan kroepoek sadja, djikalaoe pikiran dan rasa djalan dengan baik, nistjaya kita menemoekan sematjam esensi dari hal remeh sematjam itoe. Tentoenja engkaoe mengerti…
19 Desember, 2008 pada 1:03 pm
kolofon bagiku hanya berguna saat akan menulis referensi, as in berguna banget. (ya iyalah)
menyedihkan, ya?
mulai sekarang aku bakal merhatiin kolofon deh, biar lebih paham soal buku yang kubaca.
19 Desember, 2008 pada 3:39 pm
@ marshmallow
aih… nadanja djangan seperti terfaksa begitoe dong mbak marsh, saja djadi ada sematjam rasa bersalah
20 Desember, 2008 pada 10:38 am
kolofon ya namanya
gw seneng baca kolofonnya buku-buku terjemahan kalo gitu. Soalnya bahasa aslinya kadang juaoh beda sama judul edisi terjemahannya
makasih infonya, mas Aris
24 April, 2009 pada 9:11 pm
[...] yang nggilani, meski ada sebagian lain yang saya garap dengan lebih serius, seperti [ini], [ini], [ini], [ini], [ini], [ini], dan terakhir, [...]