Poem of the Day

.

41 Tanggapan ke “Poem of the Day”

  1. sederhana memang, puisi sapardi—yang sudah lama saya kenal—ini. tapi entah kenapa, baru sekarang saya merasa betapa puisi ini begitu dalam maknanya, excellent! dan sanggup membuat senyum di bibir saya mengembang berkali-kali *halah*

    **tapi serius, saya tidak sedang jatuh cinta ™ 8-)

  2. lovepassword Berkata

    Ini memang puisi cinta yang terbaik yang pernah ada. Tidak heran puisi ini menjadi abadi. Mungkin kaitannya dengan romantisme pengorbanan.

  3. @ lovepassword
    sependapat 8-)

  4. puisi yang dari dulu samapi sekarang tetap saya suka.

    tapi entah kenapa, baru sekarang saya merasa betapa puisi ini begitu dalam maknanya, excellent! dan sanggup membuat senyum di bibir saya mengembang berkali-kali *halah*

    ada apakah dengan puisi ini? :cool:

    **tapi serius, saya tidak sedang jatuh cinta ™ 8-)

    Pernyataan yang sama dengan sora9n tapi biasanya ini kebalikannya

  5. cinta memang luhur dan suci. sayangnya, banyak yang menyalahgunakan cinta utk tujuan yang ndak bener.

  6. Hmm.. Jadi ingat sama Pak Sapardi, beberapa waktu lalu sempat bertemu. Dan saya bertanya.. Bagaimana bisa membuat puisi “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni” hingga begitu dahsyat, sederhana namun menggetarkan? Apa pakai puasa lebih dahulu? ^.^ :D

  7. Memang kalo sudah kena puisi cinta ya begitu…. :oops:

    Nggak usah peduli kalo 15 tahun lagi sudah 45… :lol:

    *liriklogsemalam*
    .
    .
    .
    .
    *berlalu*

  8. @ Rukia

    ada apakah dengan puisi ini? :cool:

    tidak ada apa-apa kok…
    .
    .
    .
    @ Sawali Tuhusetya
    ada kemungkinan, karena minimnya pemahaman akan hakikat cinta itu sendiri kali ya Pak ya, hehe… sok tau saya :razz:
    .
    .
    .
    @ Rasyeed
    dan… jawabannya?
    .
    .
    .
    @ Buya Alex©
    begitu gimana…? 8-)

    Nggak usah peduli kalo 15 tahun lagi sudah 45… :lol:

    kalau saya sih peduli :roll:

  9. Gak usah dipikirkan….

    45-15 hari ini pun sudah masih lumayan muda. Cinta itu tak kenal usia kok ;)

    *kalem* :cool:

  10. ::tanpa diucapkanpun, mereka akan melumatnya…apakah kau fikir kau memerlukan sesuatu untuk cinta…??? meskipun tak tampak berjalan, ternyata menurut AQ gunungpun berjalan seperti awan…jadi ..apakah kau memerlukan sesuatu untuk cinta…???

  11. @ Buya Alex©
    saya sih teteup tida ridho, masa’ 40-15? :-?

    @ zal

  12. dalem banget…

  13. karena cinta telah cukup untuk cinta. *hayah*

    duh, aku selalu terbius sama puisi sapardi ini.
    apalagi mendengarkan lagunya, musiknya yang mendayu. duuuhhh…
    klepek-klepek deh!

    pakabar, aris? aku udah kembali ke tanah air, tapi nggak sukses menemukan bukumu. hiks…

  14. @ Mas Koko
    memang… *angguk2*

    @ marshmallow
    hoh, ada lagunya juga toh :shock:
    .

    pakabar, aris? aku udah kembali ke tanah air

    baik. baik. hoo… sudah balik, muter-muter Jakarta, atau di kampung halaman? :mrgreen:
    .

    tapi nggak sukses menemukan bukumu.

    ga apa-apa, haduh, maaf sudah merepotkan ;-)

  15. Syaihk Aris Al-Esensiyah… cak anta cek di bajakan ini :mrgreen:

    IMHO, musikalisasinya malah jadi ngurangi benarnya… tapi bolehlah :P

  16. Syaihk Aris Al-Esensiyah

    *ngakak*

    Nama dari Buya Alex bagus juga
    *ngakak lagi*

    ps: selama ini saya salah baca, “Buya Alex” saya baca “Buaya Alex” maap ya buya m(_ _)m

    btw mas aris, kenapa mas gak ikut aja tuh “Radar Bali Literary Award 2009″ kan peserta dari seluruh Indonesia nggak terbatas di Bali aja. Pasti menang deh, seorang aris ini :mrgreen:

  17. @ Rukia

    Lha… itu kan sudah saya pertanyakan jelaskan di komen utk frozen Syaikh Aris Al-Esensiyah di sini. Buya dan Buaya itu sama aja di Aceh sini …

    Errr… tapi saya bukan buaya yang dimusuhi duo Ratu… percayalah… :oops:

    *wink-wink* :P
    .
    .
    .
    *diusir penunggu blog*

  18. @ Buya Alex©
    Al Mukarom Buya Alex! Sesungguhnya musik itu harom hukumnya! Tidak mungkin Buya tida tahu betapa bla bla bla…
    *khotbah sambil donlot*

    Banyak hadits meriwayatkan, bahwa mendengarkan musik itu… bla bla bla…
    *donlot beres, buru2 puter lagunya*
    *manggut2 sambil menghayati*

    Nah, jadi saudaraku seiman…
    terima kasih linknya. :mrgreen:

    *tapi saya dipanggil Syaikh, kesannya saya udah jenggotan, ubanan, bongkok, tua, bah! tiada redho saya!* :evil:

    .
    .
    .

    @ Rukia

    btw mas aris, kenapa mas gak ikut aja tuh “Radar Bali Literary Award 2009″ kan peserta dari seluruh Indonesia nggak terbatas di Bali aja. Pasti menang deh, seorang aris ini :mrgreen:

    kalau mbak jurinya, saya ikut! *pasti bakal dimenangin* :mrgreen:

    .
    .
    .

    @ Buya Alex© lagi
    rrr… kalaulah ada keberatan, ganti sahaja tu gelar menjadi Tengku, gimana? secara Anda ini punya kapabilitas sebagai ulama, gitu :mrgreen:
    let’s see…
    ~Tengku Alex Hidayat Cik Di Tiro :shock: wow!
    *segera cium tangan dengan takzim*

  19. sweet…

    tapi serius, saya tidak sedang jatuh cinta ™

    ya…ya..ya…, anggaplah saya percaya.

    @ kakak

    aku ingin mencintaimu dg sederhana

    tiba2 keinget tulisanmu (itu lho yg kubilang “cool!” :mrgreen: )
    betewe, kau ketemu dmn?

  20. @ ksatria baja hitam RX (nostalgia)

    KBH RX? …nama yang aneh… :roll:

    Ah, jangankan perkara musik, rokok saja yang diharomkan saya cuek bebek :P

    *isep rokok lagi*

    Heh! Teungku Alex Hidayat Cik Di Tiro? :shock:

    Wahahahahaha… naujubilah. Saya tak ada hubungannya dengan itu klan Di Tiro. Bisa dirajam saya, sebagai blasteran lintas suku begini catut2 klan bangsawan :P

    Udah ah, udah pernah pake gelar Teungku itu…

    Hmm… hmm… Buya ini lebih baguslah. Setidaknya lebih mudaan dikit dari gelar Syaikh… :?

    *minggat*

  21. @ Lumiere
    tau nda, itu merujuk ke siapa? 8-)

    .
    .
    .

    @ Buya Alex©
    KBH RX nama yang aneh? masa’ sih, pilem wajib waktu saya bocah lho :-?

    hmm… kalau kurang sreg, itu klan diilangin sahaja.
    btw, bukannya kaum aristokrat itu gelarnya Teuku, bukan Tengku? atau sama saja? :-?

    …Setidaknya lebih mudaan dikit dari gelar Syaikh… :-?

    *nda jadi pake gelar syaikh, ah, ntar dikira syekh puji, lagi* :-?

  22. @ Frozen a.k.a KBH RX

    Jawabannya Pak Sapardi? hmm.. tidak bisa ditulis di sini, khawatir terlalu
    panjang..
    *alasan mode on*

    @ Lumiere

    Ketemu di suatu seminar.

    Btw… KBH RX? mana belalang tempurnya Kotaro? :)

  23. ^
    belalang tempur? rrr… setau saya, masih di bengkel :mrgreen:

  24. mencintai dengan sederhana… emang mencintai yang mewah itu kayak apa to, mas Aris? :D

    baidewei eniwei buswei, kok satria baja hitam tapi avatarnya Yagami Raito?? :p *protes mode : on*

  25. ^
    lagi pengen nostalgia mbak danz :razz:

  26. Nostalgia dgn produk non-muslim harom…. Sungguh imajinasi itu sudah melalaikan anta yaa akhi…

    *isep rokok*

  27. [...] pula singgah di padepokan Syaikhul Blogger Ustadz Aris Susanto Al-Esensiyah, dimana beliau sedang menempelkan puisi tersebut sebagai wejangan of the day, tanpa harus dicurigai sedang ber-uhibbuki kathiran alias [...]

  28. Saya kok melihatnya berbeda. Malah melihat puisi itu aneh dan membingungkan.

    “Kayu terbakar oleh api” pernah saya temukan dalam Rumi (CMIIW) dengan makna yang tak terlalu beda dengan “Allah adalah api yang menghanguskan” (Ibrani 12:29) dalam Alkitab.

    Saya tak tahu banyak tentang Rumi, tetapi Allah sebagai api yang menghanguskan punya makna (sejauh yang saya tahu) seputar:
    1. ujian terhadap iman
    Inget kan idiom bahasa Inggris “trial by fire”? Alkitab bicara soal emas dan perak dimurnikan dengan api, dibakar hingga lebur dan debu tanah akan dipisahkan dari logam cair itu.
    2. penyempurnaan iman
    Api yang membakar/Consumming fire berarti api yang menuntaskan(consummation, bukan consumption). Sehebat-hebatnya iman kita, sehebat-hebatnya kasih kita kepada Allah, tetap saja itu kasih dan iman yang jauh dari sempurna. Pada akhirnya nanti, saat kita bertemu langsung muka dengan muka, Allah sendiri yang akan menyempurnakan iman dan kasih kita itu.
    .
    Kalau saya tidak salah, Rumi (atau penulis lain) bicara tentang “kata-kata” terakhir yang diucapkan si kayu ketika terbakar api. Ketika hangus terbakar ia berteriak “aku” lalu “aku” dan seterusnya sampai pada suatu akhir ia berteriak “Engkau” dan tuntaslah pembakaran itu. Ini mirip dengan cerpen Boneka Garam-nya Anthony De Mello yang nyebur ke lautan yang sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia: ‘Sekarang aku tahu, siapakah aku!’
    .
    Masuk ke Sapardi nih.
    .
    Pertama mendengar puisi ini saya merasa aneh. Apa maksudnya mencintai dengan kata yang tak sempat terucapkan oleh si kayu yang terbakar api? Kata apakah itu?
    1. Sedemikian terpukaunya si kayu sehingga ia tak sempat mengatakannya? Saya kira tidak.
    2. Kemungkinan si kayu demikian sibuknya membela keakuannya, keberadaannya sebagai kayu di hadapan sang api sehingga tak sempat mengatakannya. Ia sibuk menjerit, mungkin memaki, mungkin protes apa yang terjadi itu tidak adil.
    .
    Susah mencari makna lewat simbol-simbol purba yang digunakan Sapardi, dan jangan-jangan memang Sapardi cuma iseng. Besar dalam tradisi puisi imaji, jangan-jangan Sapardi cuma menggunakan simbol itu sebagai alat saja, untuk menciptakan efek tertentu, untuk membawa pembaca ke suasana tertentu. Dan dalam hal ini beliau berhasil. Lagipula, definisi puisi yang dia tulis dalam salah satu bukunya (lupa) adalah “permainan kata-kata” yang menjadikan kita “bilang begini, maksudnya begitu.”
    .
    Silakan melanjutkan ber-imaji dalam Sapardi. Maaf kalau kritik sastra justru merusak kenikmatan membacanya. Dan saya mau bilang, imaji bukan segala-galanya dalam puisi.
    .
    Mencintai dengan sederhana… mungkin tak secanggih cinta agape yang meleburkan kayu dengan apinya. Jangan-jangan mencintai dengan sederhana itu berarti mencintai dengan jarak tertentu. Karena kayu tak bisa melawan ketika dibakar api, dan kata-kata itu tak sempat terucap. Mungkin sebenarnya cuma pengen sampai batas tertentu saja, tapi terlanjur. Terlanjur sayang atau gimana. :mrgreen:

  29. Ya ampun panjang amat yah. Maap. Maklum lulusan “Gentole’s School of Blogging” :mrgreen:

  30. subhanallah blognya tidak std,,,

  31. @ si rudi
    perkara “trial by fire” itu saya pernah temukan dalam buku Life Goes On karangan Hikmat Darmawan (penerbit Mizan). Sedari dulu saya beranggapan, segala ujian itu untuk “menyucikan”, tapi di situ disebut tidak tepat, melainkan ujian adalah untuk “memurnikan”. Analogi emas (yang dibakar) dalam buku itu pun, senada dengan yang pernah anda katakan di YM kemarin. Nice… (tapi entah ya kalau Rumi, soale saya sudah capek dengan sufisme) :mrgreen:
    .
    Masuk sapardi, sekarang.

    Pertama mendengar puisi ini saya merasa aneh. Apa maksudnya mencintai dengan kata yang tak sempat terucapkan oleh si kayu yang terbakar api? Kata apakah itu?
    1. Sedemikian terpukaunya si kayu sehingga ia tak sempat mengatakannya? Saya kira tidak.
    2. Kemungkinan si kayu demikian sibuknya membela keakuannya, keberadaannya sebagai kayu di hadapan sang api sehingga tak sempat mengatakannya. Ia sibuk menjerit, mungkin memaki, mungkin protes apa yang terjadi itu tidak adil.
    .
    Susah mencari makna lewat simbol-simbol purba yang digunakan Sapardi, dan jangan-jangan memang Sapardi cuma iseng. Besar dalam tradisi puisi imaji, jangan-jangan Sapardi cuma menggunakan simbol itu sebagai alat saja, untuk menciptakan efek tertentu, untuk membawa pembaca ke suasana tertentu. Dan dalam hal ini beliau berhasil. Lagipula, definisi puisi yang dia tulis dalam salah satu bukunya (lupa) adalah “permainan kata-kata” yang menjadikan kita “bilang begini, maksudnya begitu.”

    Mwahaha… menarik, menarik… :lol:
    saya nggak tahu pasti ya, namanya interpretasi puisi itu kan subjektif, yah, kali aja suatu saat kita ditakdirkan ketemu pak sapardi langsung, tak peduli ketemunya di mana, yang penting kita bisa menanyakannya langsung.
    .
    Ah iya, anda sepakat, kalau puisi itu adalah “objek yang sakral untuk ditafsirkan”? :razz:
    maka, bung, cukup kita hayati sahaja, tiada perlu dipusingkan… u_u
    *dilempar HP*

    .
    .
    .

    @ Neng Uus
    std??

  32. aueh..puisi ini….*menangis*
    ini adalah puisi yang sangat saya sukai. Simple sepertinya kata-katanya, tapi benar -benar tak bisa terungkapkan….

    *menerawang*

  33. *baca pembahasan si Rudi & honey*

    sudalah…
    tiada perlu itu dikau pusingken, mungkin itulah yg disebut guru bahasa saya sebagai Licencia Poetica :roll:

    cepat ke dokter sana!!! :evil:

  34. **saya ga baca komen-komen atasnya.

    puisi ini mengingatkan saya padaaaa….
    padaaaa….
    padaaaa….

    seorang beliau.

    +komen yang sungguh tidak penting+

  35. EH, NJING! KEMANE AJE LU GA PERNAH SETOR AMA GWA LAGI?!

    *keplak lexay THE buya alex*

  36. *buru2 ngilang macam ninja hatori*

  37. @ Lumiere
    ke dokter? biarkan saya istikharah dulu, semoga Allah beri jalan yang terbaik. u_u
    *aslinya sih malah ketiduran, bukan istikharah*

    .
    .
    .

    @ Yasmin Nindya Chaerunissa
    *manggut-manggut*

    +referensi yang cukup berharga+

    .
    .
    .

    @ Buya Alex©
    *gakngerti*

  38. ah, kelewat, the extraordinaryone

    @ The Bitch

    *baca komen berkali-kali*
    *mulai paham dengan ngacirnya Buya Alex*

    AHEM!
    DI SINI NDAK MELIHARA ASU, BUDE

    sekian,

  39. oh, hampura atuh akang. anjingnya emang buduk tu, suka kelayapan. sering maen ke pekarangan orang. udah ngacir koq. sante aje. ekeu tau yey ga miara guguk.

    err… extraordinaryone? sorry. didn’t mean to.

  40. ^
    yo wis, get over it

  41. [...] “Anjrit! Ini keren banget!“—seperti ketika saya yang baru sadar betapa kerennya puisi Aku Ingin-nya [...]

Tinggalkan Balasan