Serba Salah [sebuah epigram]

.

- Ketika wacana keagamaan berkutub pada paham fundamentalis dan liberal…
“Kanan dicap fundamentalis kiri dituduh liberal tidak memilih antara keduanya dianggap tidak punya pendirian”

- Ketika ada seorang presiden memiliki kemampuan retorika…
“Ah, pidatonya sih boleh oke, tapi kita lihat, apakah di lapangan dia bisa benar-benar diandalkan ataukah tidak. Kita jangan mudah terkecoh dengan penampilannya saat berpidato”

- Dan sebaliknya, ketika seorang pemimpin tak memiliki kemampuan pidato…
“Lihat, pidatonya saja sudah tidak meyakinkan, apa yang bisa kita harapkan?”

- Lalu kala seorang yang tak dikenal mencalonkan diri di bursa presiden…
“Lho? Siapa dia? Kita kenal saja tidak, kontribusinya terhadap negeri pun, tidak kita ketahui, eh, sudah berani mencalonkan diri jadi pemimpin??”

- Dan ketika ada seseorang yang sudah lama berkiprah di masyarakat banyak, dan menerjunkan diri di kancah perpolitikan…
“Saya benar-benar tidak percaya Pak Kyai ternyata terjun ke dunia kotor bernama politik! Apakah Pak Kyai lebih memilih kekuasaan ketimbang pahala Ilahi?!”

.
.
.

………..Jika berkenan direnungkan sejenak, mungkin kita—sadar atau tidak—sudah masuk ke dalam salah satu dari lima deretan tipe (perespon) seperti di atas.

………..Dan tentu, karena kita kadang dengan sok-nya hobi beropini dan lebih kerap mangkir dan mungkir ketika mengapresiasi realitas yang lain, maka sebetulnya kesadaran terdalam kita berteriak keras dalam bungkam, menyodorkan sebuah inquiri;

[]
Bandung Lautan Apa. 3 Maret 2009
20:27 PM | Di sela-sela pekerjaan.

==========
TEMBUSAN:
1. Siti Jenang, atas postingannya yang berjudul “Kita Mungkin Tak Butuh Pemimpin Paripurna“.
2. Pak Sawali Tuhusetya, atas tulisannya yang berjudul “Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat“.
3. Nenda Fadhilah, atas postingannya yang berjudul “Quasi Hereditary Monarchy“.
==========

30 Tanggapan ke “Serba Salah [sebuah epigram]”

  1. Maunya apa? Sudah jelas kan? Protes dan protes, sinis dan sinis. :?
    Dan pokoknya saya benar. Pokoknya ndak ada yang bener.

  2. Koreksi: Pokoknya ndak ada yang bener selain saya.

  3. adipati kademangan Berkata

    itulah fungsi manusia, salah satunya sebagai protes, pengritik, komentator. yang namanya protes, kritik dan komen ya maunya yang pualing ideal. kalau sudah berbicara tentang kemauan, seluruh kemauan manusia hanya bisa dipenuhi di suatu negeri yang bernama Negeri Di Awan.
    protes, pengritik dan komentator kan keahliannya cuman itu, bisa tidaknya bagaimana mengerjakan sendiri itu urusan nomer 9. Lhah yang lebih pinter dan bisa mengerjakan kan sampeyan, saya mau matengnya saja.

  4. Dude, kamu melupakan sesuatu. Orang yang bilang :

    “Ah, pidatonya sih boleh oke, tapi kita lihat, apakah di lapangan dia bisa benar-benar diandalkan ataukah tidak. Kita jangan mudah terkecoh dengan penampilannya saat berpidato”

    dan

    “Lihat, pidatonya saja sudah tidak meyakinkan, apa yang bisa kita harapkan?”

    Biasanya beda. :P

  5. lovepassword Berkata

    Maunya apa? Ya jelas menyalurkan hasrat untuk ngomel-ngomel dong. Lha cara ngomelnya itu masing2 orang bisa beda-beda.

  6. Yang nomor lima itu…. menohok saya sekali rasanya….

    *lirik2 pamflet2 caleg*

  7. @ lambrtz

    @ adipati kademangan

    @ dnial

    @ lovepassword

    @ Tgk. Alex Hidayat

  8. Makanya jadi orang harus punya pendirian. :mrgreen:

  9. *atas*

    Benul sekaliii~~ :mrgreen:

  10. wah, dapat tembusan juga nih, mas ariss, hehehe … terima kasih. kini, negeri kita memang sedang kehilangan sosok anutan. mereka yang seharusnya punya kapaitas utk menjadi “guru bangsa” justru malah menggadaikan kealimannya ke dalam ranah politik yang hanya sekadar memburu kepentingan demi kepentingan semata.

  11. “Kanan dicap fundamentalis kiri dituduh liberal tidak memilih antara keduanya dianggap tidak punya pendirian”

    Itulah PANCASILA!!! :lol: :lol: :lol: :lol:

  12. @ sawali tuhusetya
    ;)

    @ Ando-kun
    :lol:

  13. engga tau maunya apa sih.

  14. kita terkadang melihat sisi buruk dari seseorng.,.

  15. loh kenapa kita kok bukankah lebih baik begini “saya ini maunya apa”

  16. Seno Gumira Ajidarma pernah bilang, kalau kita dibacoti orang, kita wajib mengucapkan terimakasih, karena para pembacot telah membuat dunia sempurna. :mrgreen:

  17. @ nie
    Jadi maunya apa? :roll:

    @ aziz
    Terkadang? Keknya sering…

    @ ikrar
    Oh, akhirnya Anda mengaku juga. Jadi situ maunya apa? :lol:

    Ken Arok
    Iya, tapi ngedumel nggak, dibacoti kek gitu? :mrgreen:
    *btw, baru bangkit dari kubur, mas? kok baru nongol lagi* :razz:

  18. Epigram?
    Euhm :roll: itu kan cerita tentang saya…
    *salah pokus*

  19. O tentu, terimakasih cuma bagian kecilnya aja.

    OL tiap hari kok, cuma males apdet blog utama.

    *nulis di blog lain dan nulis soal kerjaan doang*

  20. @ Nara
    :shock:
    Na…Naaaraaa???
    .
    .
    :lol:
    :lol:
    Ketimbang kau menjadi Nara (yang notabene cowok), lebih tepat kalau kau menjadi Sasti saja, Miel :lol:
    Dan kita… dan… ki…ta…
    *uhukk!*

    .
    .
    .

    @ Gunawan Rudy
    Apaan nama “blog lain”-nya? :razz:

  21. Sebaiknya kita ini mungkin harus lebih berpositif thingking aja. itu lebih baik……

    Mengkampanyekan Positive Thingking :P

  22. kalo kata seorang master Jedi, “Your focus determines your reality” :D

  23. Tapi saya gak pernah mengeluarkan kata-kata seperti itu, kok situ seenaknya bawa-bawa kita :twisted:
    *sok marah mode on*

  24. kau ini bagaimana?
    kau suruh aku kritis, aku bicara, kau sebut aku ceriwis.
    kau suruh aku diam, aku diam, kau sebut aku apatis.
    kau ini bagaimana?
    atawa aku harus bagaimana?

    tembusan,
    Gus Mus :)

  25. honey, bukankah jika kau singkat nama depan & belakangku juga akan terhasil kata “Nara”??? 8)

    ..kau menjadi Sasti saja..

    tidak, trims. Saya suka-nya sama Nara ;)

  26. @atas

    Saya suka tokoh fiksi bernama Lenara.

  27. Kiri… kanan… kiri… kanan.
    Atas terlalu tinggi….. bawah tidak terjangkau…. (* tangannya kependekan, perlu peregangan dulu *)

  28. ndak apa apa, biar hidup ini jadi rame.

  29. Makahy kita itu mempunyai pikiran yang positif

  30. Tapi sayang yang punya blog ini sudah melakukan penghinaan terhadap mahasiswa. Untuk menutupi kejahatannya, dia memblokir komen saya dengan alasan OOT.

    Padahal tu orang enggak nyadar kalau dia memulai permusuhan dengan saya. Yang duluan OOT juga dia sendiri. Saya lagi guyon dengan dhammaduta, eh nyambung aja nyuruh saya begini begono. Saya curiga nih yang punya blog ini bukan muslim. Lihat saja komennya di blog saya yang berjudul PEMELUK BUDHA JUGA ATHEIS.

    Sudah saya tulis itu artikel saya tujukan sama dhammaduta kok, malah menghina. Lagian dhammaduta juga mengakui kalau Budha itu atheis. Nah, yang salah tu dimana? Siapa coba yang cari perkara duluan?

Tinggalkan Balasan