Filosofi Mengetik 10 Jari, Afirmasi Sebuah Pesan Kemanusiaan

.

o.
Kemarin saya mem-publish postingan yang mungkin tidak bermanfaat, katakanlah kurang kerjaan. Meskipun begitu, saya berterima kasih ada sebagian sahabat blogger yang berkenan ikut berpartisipasi dalam kekurang-kerjaan tersebut.

1.
Mengetik 10 jari, bukan hal yang baru, meski bagi sebagian pengguna komputer (khususnya 11 fingers typist) mengetik 10 jari dianggap menakjubkan.

2.
Mengetik 10 jari, di mana semua jemari dilibatkan dalam satu pekerjaan, di bawah satu komando pikiran dan niat demi satu tujuan. Tak ada jari yang bekerja, sementara yang lainnya nganggur. Tak ada satu-dua jari digunakan, sementara jari lain dimarjinalkan.

3.
Mengetik 10 jari, menegaskan secara gamblang, bahwa dalam setiap langkah dan pekerjaan, harus selalu ada pendelegasian wewenang. Mana yang pantas diamanati tanggung jawab X, mana yang patut diberi tugas Y, dan mana yang cocok diserahi peran Z. Sebagaimana tergambar dengan jelas praktek mengetik 10 jari, di mana antara jari yang satu dengan jari lainnya, mengemban tugas masing-masing.

4.
Mengetik 10 jari, mengingatkan kita akan kesadaran pluralisme, tepa selira, sikap empati, dan saling menghargai. Setiap jari memiliki area kerja masing-masing. Tab, Caps Lock, Shift, Ctrl, Alt, 1, Q, A, dan Z dipegang oleh jari kelingking kiri. Area 2, W, S dan X adalah wilayah jari tengah kiri. Telunjuk kiri dan kanan masing-masing berarea kerja 8 keys keyboard tengah. Ibu jari bekerja hanya di area spasi, dan seterusnya.

5.
Kesadaran pluralisme, bahwa setiap jari ditakdirkan berbeda dalam hidup dan kontribusinya, sebagaimana halnya kita dilahirkan dalam pluralitas; Yahudi, Kristiani, Hindu, Budha, Islam, dan banyak lagi. Islam pun terpolarisasi menjadi sekian ratus madzhab. Ada konservatif, liberal, dan moderat. Ada FPI, ada JIL. Ada NU, Muhammadiyah, Kejawen, Ahmadiyah, Syi’ah, sufism, ekumenis, iluminasionis, dan lain sebagainya. Jika masing-masing kutub saling menyadari area kerja masing-masing, dan bersatu padu sebagaimana jari-jemari yang tanpa protes bersanding satu sama lain dalam mencapai final yang diamanatkan. Alangkah melegakan, apabila kalangan-kalangan dalam Islam saling bersatu. Kalangan pemikir semisal JIL memikirkan cara alternatif bagaimana mengikis habis perilaku korupsi. Lalu direalisasikan oleh saudara-saudara kita di FPI untuk melakukan sidak dan hukum (kalau perlu potong tangan) langsung, di tempat kediaman para pejabat yang terbukti korupsi. Kemudian pihak ulama di MUI berunding dengan para sekularis amanah dan para regulator yang siddiq, untuk merumuskan fatwa dan undang-undang bahwa 7 turunan koruptor dilarang masuk dalam kancah perpolitikan, alias dilarang menjadi pejabat tingkat apapun, sehingga bisa menimbulkan efek jera yang permanen, karena setiap pejabat yang mau korupsi pasti akan berpikir dulu seribu kali.

6.
Tepa selira, sikap solidaritas kepada sesama, tanpa melihat label agama yang diyakini, darah dan keturunan mana ia berasal.

7.
Sikap empati, dan saling menghargai. Saya sudah setahun terjun di dunia blogging, mencermati setiap respon blogger yang notabene dengan beragam profesi dan pendidikan. Awal-awal saya di dunia blog, saya biasa mencibir tulisan mereka-mereka yang menurut saya tidak menawarkan kebaruan (novelty, kalau menurut seorang wartawan), atau bersikap sinis ketika menjumpai blog yang kering dan monoton (padahal blog saya juga demikian). Tapi baru-baru ini saya menyadari satu hal, ketika beberapa hari yang lalu, saya dibuat tercengang dan takjub dengan pekerjaan seorang tukang tambal ban di dekat tempat saya bekerja. Saya baru menyadari dan mengakui dengan sepenuh hati, pekerjaan tambal ban ternyata begitu menakjubkan. Dulu saya sinis dengan pekerjaan-pekerjaan rendahan model seperti itu, tapi kini saya harus berbalik 180 derajat dari paradigma semula, ketika saya dapati sebuah aksioma bahwa seorang profesor yang sejenius apapun, atau sarjana yang bacaan-bacaannya seberat apapun, tetap saja mereka tidak akan tahu jika ditanyai urusan soal tambal ban. Itu artinya, setiap pekerjaan dan profesi memiliki nilai tersendiri. Sangat menggelikan jika seorang pemikir mencemooh tukang gorengan hanya karena tukang gorengan cuma bisa menggoreng, sementara pada saat yang sama, si pemikir tidak memiliki kecakapan apapun soal goreng-menggoreng. Di sinilah pesan untuk saling menghargai harus ditegaskan kembali. Akhirnya setiap orang adalah unik, lantaran memiliki kemampuan dan keahlian tersendiri. Dan apabila persatuan dalam perbedaan bisa tergalang, maka semakin cepat dan kian dekatlah kita dengan tujuan yang dicitakan, sebagaimana sepuluh jari yang berbeda fisiologi dan tugas, bersatu dan dipersatukan, sehingga tugas-tugas mengetik bisa kelar dengan cepat, dan masalah typo (kesalahan ketik) bisa diminimalisir.

8.
Sekarang saya berusaha melihat semua yang bertebaran di dunia blog dengan lapang, dan bersedia untuk tersenyum. Tulisan-tulisan lembek dan melankolis, tak lagi saya sinisi, melainkan saya bookmark, sehingga jika sewaktu-waktu suasana hati saya sedang ingin ber-melow ria, saya bisa menyambanginya. Tulisan-tulisan motivatif dan inspiratif yang kerap saya acuhkan, mulai saya catat link-nya, untuk kemudian saya bacai ketika suasana batin saya sedang galau, gelap, atau diselimuti kabut duka. Tulisan-tulisan praktis dan pendek, saya ingat-ingat pula agar saya bisa berpikir pragmatis terhadap segenap persoalan yang bertandang dalam keseharian. Tulisan-tulisan puitis dan imajinatif, saya simpan baik-baik agar ketika sewaktu-waktu batin didera kehampaan dan kekeringan, ia bisa menjadi gerimis yang menyejukkan. Semua tulisan-tulisan, saya coba untuk saya apresiasi, sebab masing-masing tulisan, se-tidak bermutu apapun, saya percaya bahwa suatu waktu, ia bisa menjadi bernilai, dan mampu menyuntikkan semangat yang tiada tandingannya. Terlebih lagi karena tulisan-tulisan di semua blog lahir dari berbagai strata pemikiran, dan tentu amatlah tidak adil dan tidak berprikemanusiaan, jika saya men-cap tulisan mereka kurang bermutu, jelek, membosankan, tidak menarik, obsolet, dan lain sebagainya. Karena apa? Karena paper seorang profesor bisa dianggap bermutu di kalangan para akademisi, namun hanya akan menjadi bungkusan gorengan bagi pedagang gorengan. Artinya, setiap entitas mempunyai mutiara nilai pada tempatnya masing-masing. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani takwim…

9.
Untuk bisa memiliki kemampuan mengetik 10 jari—meski kemampuan ini tak terlalu mendesak dibutuhkan—tidak bisa tidak, membutuhkan proses. Jari-jari yang selama ini jarang digunakan, diikutsertakan. Jika semua jari tangan sudah mengenal pada tempatnya masing-masing, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah pelemasan. Ya. Seluruh jari tangan harus lemas, tidak boleh kaku satu-sama lain, dibiarkan refleks agar bisa lebih mencapai kecepatan yang lebih tinggi. Begitu pula kita sebagai manusia sosial, sikap rigid satu sama lain, hanya akan menuai ketegangan bermasyarakat. Dan cita-cita untuk madani, hanya akan menjadi utopia.

10.
Namun perlu diafirmasikan pula, bahwa kapabilitas mengetik 10 jari bukanlah sebuah superioritas, dan mereka yang masih dalam taraf mengetik 11 jari (alias hanya menggunakan telunjuk kanan dan telunjuk kiri) adalah minor. Bukan begitu. Keberadaan mereka yang masih start di jalan awal, menjadi cermin sekaligus pengingat, bahwa diri yang sekarang sudah bisa mengetik cepat dengan all full-fingers, dulu pun tak ada beda dengan mereka ketika pertama kali mengenal dan memegang keyboard. Kita mungkin seorang intelek, ahli pendidikan, ahli agama, atau apalah itu, namun bukan berarti kita lebih unggul dari mereka yang baru mulai melangkah di belakang, karena dulu pun kita memulai semuanya dari nol. Maka puji Tuhan Semesta Alam, yang telah berkenan menaikkan derajat-derajat kemampuan kita, apapun itu, baik yang kita sadari maupun tidak.

11.
Dan ini hanyalah afirmasi dari diri untuk diri. Jelas subjektif, dan kesan jauh dari rigor amatlah kentara. Tak perlu pula dirisaukan. Tapi dengan demikian, dengan rilisnya tulisan pendek ini, maka tunai sudah tugas saya menulis (walau sebetulnya masih banyak yang ingin saya tuangkan di sini). Dan sedikit saya sesalkan, bahwa di akhir tugas “pengabdian lewat tulisan” ini, saya masih saja belum mampu menuangkan gagasan dengan koheren, dan meringkasnya menjadi satu dua paragraf.

Saya undur diri. La revedere

[]
Bandung Parijs van Java, 25 Maret 2009
Ditulis 12.59 PM Ba’da Dzuhur | Beberapa menit sebelum berangkat ke alam baka.

54 Tanggapan ke “Filosofi Mengetik 10 Jari, Afirmasi Sebuah Pesan Kemanusiaan”

  1. hehe, saya termasuk orang yang seringnya cuma make telunjuk, tengah, jempol aja ^^
    kelingking ama jari manis jarang ^^

    yah, intinya setiap orang punya kemampuan dan peran masing-masing, tinggal gimana kita bisa saling rukun dan mengoptimalkan peran kita :)

    Ditulis 12.59 PM Ba’da Dzuhur | Beberapa menit sebelum berangkat ke alam baka.

    btw mau hiatus kah? :?

  2. main piano juga sama. tiap jemari memainkan nada, yg bila digabung menjadi komposisi musik yg indah. kalo di gitar, jari yg tidak memunculkan nada pun punya peran juga, walaupun efeknya tidak kentara. kalo di seni pertunjukan ada yg jadi dalang, ada yg jadi lakon, ada yg tukang kosmetik, penyedia kostum, tukang masak, pasang lampu, dsb. *haleluya* :cool:

  3. Tepa selira, sikap solidaritas kepada sesama, tanpa melihat label agama yang diyakini, darah dan keturunan mana ia berasal.

    Ini yang paling jarang bisa diterapkan, kebanyakan orang selalu membawa SARA dalam tiap persoalan

  4. Tulisannya top ris. Aku mendapat banyak ingatan kembali dari tulisan ini.

  5. zinnia|eglantine Berkata

    Bahkan dari “sekedar” kegiatan mengetik saja, pandanganmu bisa sampai sejauh ini? :-? Kamu ini memang pandai mencari esensi di setiap eksistensi, ris ;-)

    Tapi yang ini maksudnya apa? :-?

    …dengan rilisnya tulisan pendek ini, maka tunai sudah tugas saya menulis…

    dan ini

    Dan sedikit saya sesalkan, bahwa di akhir tugas “pengabdian lewat tulisan” ini, saya masih saja belum mampu menuangkan gagasan dengan koheren, dan meringkasnya menjadi satu dua paragraf.

    Serasa kamu beneran mau mati deh…
    Aku ‘kan sekarang nggak resist lagi kalau kamu nulis… :-?

    Jawab ya… :-?
    Jangan bikin keder…

  6. hi hi hiii…. *kabuuur*

  7. wew…. ternyata ngetik 10 jari ada nilai falsafinya juga toh, mas ariss? salut dg analisisnya. btw, kenapa juga mesti “alergi” dg pasang wajah cemberut ketika baca postingan blog yang ndak sreg. kalau memang mau komen ya silakan, kalau ndak ya tinggalkan. walah, gitu aja kok repot toh, mas, keke ….

  8. bukan komunitas bloger juga gak hina…
    jari selain dipake ngetik.. dipake ngupil juga bisa… palagi mencet jerawat..

  9. impromtu Berkata

    Tulisan yang bagus.

    Tapi lebih saya penasaran sejak saya kebetulan membacai setiap komentar2nya: zinniaeglantine itu ada hubungan apa ya dengan pemilik blog ini, kok komentar2nya bernada personal gitu, ada yang bisa menjawab? :-D

    Maaf kalau saya kurang sopan, berani nanya yang tidak2 :mrgreen:

    *lirik komen nggak jelasnya sitijenang*
    *lirik juga komen berjamaahnya ahgentole & lambrtz*

  10. komen disini ajah

    udah klik, cuma 38. mending deh, itu dah peningkatan :mrgreen:

  11. Ini… pamer jari2 kuku sudah dipotong atau laptop? :?

    *ngeluyur*

  12. telunjuk jari tengah dan manis :mrgreen:

  13. Saya ndak ngetik pake 10 jari. Saya pake 2 jempol doang. Dan banyak blogger yang make metode ini. Karena keterbatasan akses internet, atau karena fleksibel? Tapi yang jelas, nggak ada blog sampah. Setiap orang itu istimewa dengan caranya sendiri.

  14. tulisannya bagus….
    saya suka!!
    apalagi yang bagian 7, bener2 mengena!
    btw, apa mas esensi mau hiatus?

  15. Ehem..Jadi ingat chat awak dulu.Gulungtikar? Apa memang sudah saatnya minggat dari dunia blog ini,Syaikh Projen? Wanna change the world?Whatever,menulis utk menggugah,tak musti mengubah.U did it ;)
    dan ttg IP..ah,sudahlah :roll:

  16. *baca komen Buya Alex barusan*

    Yah, jangan sampai minggat dari blog dong, nggak papa deh kalo Update nya sekali sebulan pun, tapi jagan pergi…

    Benar kata Buya Alex, menulis tidak musti mengubah, karena semua itu ada di tangan Allah. Manusia hanya perlu saling mengingatkan.

    dan lagi, menulislah dengan santai dan tidak perlu dipaksakan. :)

    *maaf kalo misalnya kalimat saya ada yang nggak tepat :P *

  17. Akhir tugas…????
    Mau pergi kah ….?

    Semoga meninggalkan kesan menyenangkan…….

  18. tapi maaf ni saya masih ngetik ala 11 jari

  19. jari sayah dah kayak kibord
    kelingking : asd
    jari telunjuk : fgh
    :D

  20. kalo ngetik pake sarung tinju kira-kira filosofinya apa ya..? heu..

    aliran religi saya ndak disebutin euy: “autotheisme”

  21. adipati kademangan Berkata

    apakah sampeyan mengikuti perkataan Den Mas Bagus Kanjeng Romo Raden Tumenggung Roy Suryo “Blog adalah trend Sesa(a)t”

  22. Mantap
    Ini postingan yg dasyat sobat

    Salut :)

  23. once again u open up my mind…
    u make me realize…that difference is our “fitrah” as human.
    May we are able to be united…

  24. Simpan di del.icio.us dulu…. Ngemeng-ngemeng, mau hiatus? Lah, dunia belum jadi tempat yang lebih baik bro!

  25. kalo aku bukannya gak mau sepuluh jari, masalahnya biasa ngawur dan ngapus mulu kalo nyoba memartisipasi sepuluh jari hehe….
    Iya semua bisa dengan latihan rutin dan tekun
    Iya seperti kata orang bijak, pekerjaan seberat dan sebesar apapun akan terasa enteng bila dilakukan bersama-sama… :D

  26. gw bisa ngetik sepuluh jari :p

  27. saya cuma, 8 jari. :P

    2 kelingking saya agak mati rasa sarafnya.

    nah, apa filosofinya itu? :mrgreen:

  28. Salut banget
    Jadi teringat kata2 : Apa yang oleh beberapa orang dilihat sebagai batu mengkilap, oleh ahli permata disebut sebagai berlian

  29. hmmmmmmm bisa juga :D

  30. bisa segitunya ya.. :-o
    ada filosofinya..panjang pula :mrgreen:

    btw, saya termasuk yang cukup bisa lah nulis 10 jari dgn sistem buta.. :rmgreen:

  31. ah, aris.
    membaca tulisan ini jadi menyadarkanku juga.
    pertama, betapa beruntung aku yang bisa mengetik 10 jari, bahkan dengan koordinasi mata yang baik sehingga tak harus mantengin keyboard melainkan tetap lurus melihat ke layar monitor.

    kedua, aku amini makna filosofi yang terkandung, terutama masalah keberagaman blog. ternyata poin 7 dan 8 mewakili alasan yang paling akurat (menurutku, juga anekdotal saja) untuk ngeblog, dan itu pulalah kenapa aku tidak pernah bosan dengan aktivitas ini.

    ketiga, mohon jangan berhenti menulis, aris. plis, ai beg yu… huhuhu…

  32. Hmmm…aku kayaknya kebagian yang nomor 10 deh….

    Ueeeeedan tenan kowe Ris. Urusan ketik-menegtik biso dadi KAWERUH tentang URIP..???

    TEPO SLIRO,
    TEPO = Tepak
    SLIRO = Awak

    Mengandung MAKNA = Perlunya INTROSPEKSI DIRI

  33. Ah, ini yang pernah kita cetingkan itu kan? :P

    Hmm… lagi-lagi menggali kesadaran pluralisme dari contoh sehari-hari. Nice…

    BtW, saya ngetik sembilan jari ternyata. Jari kelingking kanan nganggur! :P

  34. belakangan saya aru nyadar, kalau saya ngetiknya cuman pake jari tengah kiri sama jari tengah kanan :mrgreen: ga ada niatan saru, toh, saya baru sadar kalau itu kebiasaan saya ngetik sejak sudah lama…

  35. zinnia|eglantine Berkata

    msh blm dibalas jg? semuanya lg??

    nggak konsisten dengan pengumuman yg km bikin sendiri, kl komentar2 yg masuk bkl km tanggapi

  36. Lambang Berkata

    Selamat ya dik Aris. Jadi… menempuh hidup barunya ngga jadi dengan dik Z-E? Padahal kalian berdua itu pazz banget lho… :cool:
    Sebetulnya ngga usah mundur dulu… Blog anda ini bagus, banyak lintasan ego dan intrik dari para pengunjung, banyak debatnya juga…
    Bener lho, jangan mundur, dunia masih butuh Anda, walaupun ngetiknya hanya 4 jari… :-)

  37. zinnia|eglantine Berkata

    to: mas Lambang
    dia sekarang sedang menjalani masa2 eksekusi di dokter gigi, dan saya kini balik memaksanya untuk tetap meneruskan ngeblog jika, ia sudah baikan.

    O iya, saya dan aris itu seumur, tapi dia cenderung menyukai yang lebih tua, jadi prediksi (dan harapan?) mas lambang meleset. Haa… sakit y, kesannya, sy itu…

    *liat deh nanti, komen sy ini pasti bkl dihapusnya*

  38. Oh ya?? :shock: Jadi gara2 sakit gigi terus berhenti ngeblog?

    *kaget yg kedua*
    OMG! :shock: Senang yg lebih tuwir?
    Hmm, ternyata dia suka berperan antagonis… :roll:

  39. *Ralat*
    Bukan sakit gigi, tapi mungkin ada masalah dng alignment…

    *ternyata kalau komen dari HP, smiley-nya dibabat. Apa hp-nya yg jadul ya…*

  40. Hehehe..
    Nice info
    Lama-lama kalau banyak berlatih dan terbiasa, bisa ngetik pake 10 jari kok..
    Tapi, saya kalau ngetik, ga pernah perhatian sampai detail seperti itu :)

  41. paraaaahhh… aris parahh… ga ada kemajuan… mandeg di sini terus….
    buat apa ngetik pake sepuluh jari tapi ga ada yang diketiknya….
    hheee… kidding. masa penulis ga ada blognya? heu.

  42. kalo sebelas jari ada filosofinya gak, OM?

  43. mengetik 10 jari mengajarkan kita disiplin dan ketepatan dalam setiap tindakan :)

  44. [...] saya sudah cukup mantap sebetulnya, pasca menulis postingan Filosofi Mengetik 10 Jari kemarin, untuk benar-benar undur diri dari jagad blogging, dan berbalik kiblat ke dunia biru [...]

  45. hore aku bisa ngetik 10 jari. hehehehe…

  46. kereeeen!!
    Saya ngetik sepuluh jari, tak pernah nyadar kalau filosofinya bisa sedalam itu, hehe.

  47. keren,
    dan salam kenal :)

  48. tandry ld Berkata

    tetapi justru hanya 9 jari-ku yang berfungsi hingga sempat terlintas keinginan untuk memotong ibu jari tangan tangan kanan-ku (karena tidak pernah berbuat apa pun…)

  49. kenapa masih banyak orang indonesia saat mengetik 10 jari ada sebagian jari tidak berfungsi? kita coba tarik kembali ke filosofi keyboard qwerty dan tempat ditemukannya serta kekuatan jari kita. sepintas bisa saya komentari adalah tempat diterapkan pertama kali keyboard qwerty yaitu amerika, bahasa yang digunakan disana adalah bahasa inggris. pernah saya pelajari, kekukatan jari kita terkuat adalah ibu jari hingga terahir kelingking. untuk menjawab pertanyaan diatas, coba anda cari selembar tulisan berbahasa inggris, kmudian anda hitung hurufnya satu persatu, kelompokkan dalam tugas jari-jari kita saat mengetik. maka yang akan didapatkan adalah: jumlah terbanyak adalah telunjuk dan paling sedikit adalah kelingking. silahkan dicoba. semoga bermanfaat.

  50. Wuaah.. daleeeeeeeeeeem..
    kalau menggunakan komputer sih masih mendingan.. kalau pake mesin tik?
    Oh iya.. Salam kenal bos..

Tinggalkan Balasan