Cabut Gigi, Sebuah Fakta
.
Postingan ini ditujukan :
- Khusus kepada Mas Gentole
- Semi khusus kepada kawan-kawan blogger yang kemarin memberi berbagai saran dan pengakuan perihal cabut gigi
- Umumnya kepada mereka-mereka yang kerap sakit gigi dan hendak cabut gigi
Disclaimer: postingan ini ditulis ketika pikiran saya benar-benar sedang tidak jernih.
.
.
.
………..KALAU kita sakit gigi, apalagi jika sakitnya sudah parah dan berencana hendak cabut gigi, secara impulsif biasanya kita akan mencari sekedar satu-dua informasi berkenaan cabut gigi, saran-saran dari orang terdekat, hingga meminta sharing pengalaman kepada mereka-mereka yang pernah cabut gigi. Pengakuan kurang mengenakkan perihal proses pencabutan, biasanya mendominasi jawaban atas pertanyaan: “eh, cabut gigi itu sakit nggak sih?”, di samping juga tidak sedikit beredar dan melimpahnya informasi yang tidak bertanggung jawab seputar cabut gigi dengan pengakuan bernada hiperbol dan bahkan main-main, sehingga membikin orang yang hendak cabut gigi menjadi keder dan ragu.
………..Yang menjadi masalah saya secara pribadi, justru hal sebaliknya. Beberapa waktu ke belakang, saya menuliskan postingan [ini], dan saya mendapatkan keterangan-keterangan yang bisa dibilang cukup melegakan, dan saya anggap sebagai hiburan yang menenangkan pikiran. Lantas, di sebelah mana masalahnya? Satu hal, yakni tentang kebenarannya. Itu saja. Kebenaran apa? Bisa dilihat dari pernyataan-pernyataan dan pengakuan kawan-kawan blogger di bagian komentar postingan yang saya sebut tadi.
………..Komentar: “Cabut gigi itu tidak sakit”, atau komentar: “Tidak berasa malah”, hingga komentar yang entah bagaimana saya harus menanggapinya: “Cabut gigi itu kayak digigit semut” — adalah beberapa dari sekian komentar yang saya terima. Tapi benarkah demikian faktanya? Izinkan saya menceritakan secara kronologis proses pencabutan gigi yang baru saja saya alami, beberapa jam sebelum saya menulis postingan ini.
.
.
.
………..16 April 2009 (tanggal yang harus saya catat sebagai tanggal bersejarah). Pukul 07.28 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di poligigi Bumi Medika Ganesa, bagian dari UPT (Unit Pelayanan Terpadu) Kesehatan ITB Bandung, sebuah tempat yang disarankan seorang teman karena pelayanannya yang katanya murah—meski bagi saya tetap saja biayanya tergolong “wah”.
………..Karena datang terlalu pagi, dan dokter yang bersangkutan belum datang, saya duduk di kursi antrian, sembari menghabiskan waktu sekitar setengah jam menamatkan sebuah buku yang sengaja saya bawa untuk menghalau kejenuhan.
………..Singkat cerita, dokter datang. Saya mendapat panggilan pertama. Sebelumnya, dokter menanyai saya perihal kondisi gigi, apakah masih ada sisa bengkak seperti sebelumnya atau tidak (sebelumnya saya memang sudah periksa gigi, dan karena masih radang, disarankan datang kembali beberapa hari kemudian, yakni hari tadi). Setelah yakin kondisi gigi saya yang hendak dicabut sudah berada dalam kondisi baik, pencabutan dipastikan akan dilakukan. Gigi saya yang berlubang ada dua, geraham bawah bagian kanan dan kiri, dan yang hendak dicabut adalah yang kiri. Tanpa banyak cakap, dokter berparas anggun bernama Suzana S itu pun mulai mengambil alat suntik yang sudah diisi bius.
………..“Disuntik dulu ya…,” ucap sang dokter lembut.
……….. “Sakit nggak, dok?,” saya sengaja bertanya, sekedar basa-basi, sembari menandatangani surat pernyataan pencabutan gigi.
……….. “Yah, relatif lah,” jawabnya, setelah sebelumnya terdiam beberapa detik pasca saya bertanya. Ada sesuatu hal tidak enak yang tiba-tiba menelusup pikiran saya.
………..Saya pun mulai disuruh duduk. Kursi pesakitan itu menurun agak rendah. Blast! Lampu besar menyinari seluruh muka, lalu disorotkan ke bagian mulut. Jari bersarung glove karet tipis itu pun memegangi bagian gigi saya, dan bersamaan dengan terdengarnya suara lembut “bismillah” dari bibir sang dokter, jarum dingin itu saya rasakan menusuk gusi di dua titik. Cukup ngilu saya rasakan. Setelah itu saya disuruh menunggu dulu di luar, menunggu bius bekerja.
………..Sayang, dua kali suntikan tidak membuat gusi dan bibir saya mati rasa, dan dokter simpatik itu memutuskan untuk menghadiahi saya satu suntikan bius lagi. Jyah! Rasanya benar-benar tidak nyaman. Lalu saya disuruh menunggu lagi di luar. Dan selama menunggu beberapa menit itu, aneh, saya tidak merasa keder, ngeri, atau apa. Perasaan tenang-tenang saja. Entah mungkin ini karena beberapa wejangan dari Mas Siti Jenang tempo hari itu atau bukan, saya tidak tahu. Yang jelas saya rileks. Dan akhirnya, setelah separo mulut saya terasa baal, saya dipanggil kembali. Phuuffh… Okhai… ini dia acara pamungkasnya. What will happen then? Entah.
………..Saya dipersilakan duduk kembali di kursi eksekusi. Suasana tiba-tiba saya rasakan tidak enak. Dua asisten dokter saya lihat grusa-grusu menyiapkan peralatan buat dokter. Membikin saya tegang. Suara gaduh di luar seketika lenyap, suasana pun menjadi senyap. Dan saya dibuat menelan ludah ketika melihat peralatan-peralatan di meja praktek. Tang, besi-besi tajam, obeng pipih (yang lebih pas kalau saya sebut linggis dalam ukuran kecil dengan ujungnya yang melengkung), dan beberapa alat lain yang tidak saya kenal, dan sukses memacu degup jantung saya semakin bertambah kencang, yang kalau saya katakan, bunyinya serupa bunyi bedug yang bertalu-talu kala takbiran.
………..Dokter lalu mengoleskan entah cairan apa namanya di area gigi geraham saya, dan menyempilkan secarik kapas. “Bismillahirrahmanirrahim…, tahan!” dokter tiba-tiba bersuara sambil memegang alat mirip linggis tadi. Saya terkejut mendengar instruksi “tahan”-nya tadi, dan kaget bukan kepalang karena dokter dengan secepat kilat langsung mencongkel (paksa) gigi geraham saya. Lantaran area yang mati rasa hanya di bagian permukaan gusi, jelas tekanan dari congkelan tadi berefek luar biasa sakit pada gusi bagian dalam. Ini nyaris tak ada beda dengan operasi tanpa anestesi.
………..“Ss… saakiitt… ddDok…,” saya merintih (jelas!), sambil megap-megap.
……….. “I… Iya… Iya…! Tenang….! Rileks…,” dokter Suzana yang juga jadi gugup, berusaha menenangkan.
………..Dan aksi pencongkelan tidak selesai sampai di situ. Lantaran kesulitan untuk melepas gigi, kali ini dokter mengambil tang. Demi Tuhan segala agama, kalaulah saya masih bocah, sudah pasti saya tampik dengan keras tangan dokter tersebut dan berlari keluar dengan jerit tangis membahana. Bayangkan saja, gigi geraham Anda dicongkel dan ditarik-tarik dari kiri ke kanan layaknya seorang tukang yang mencabut sebuah paku yang menancap keras pada sebuah papan kayu, dan mencabutnya pun dengan cara paksa! Berani taruhan kepala, jika adegan ini dijadikan tantangan utama di acara Fear Factor, saya yakin tak akan ada seorangpun yang bernyali mengikutinya.
………..“Saakkiiitt…,” untuk terakhir kalinya saya merintih.
……….. “I… Iya, rileks…,” kembali dokter Suzana menenangkan, dengan suara yang benar-benar tidak mantap.
………..Saya nyaris tidak sanggup lagi bernafas. Hingga terdengar kembali suara “bismillah” dari bibir sang dokter, dan seorang asisten dokter yang dengan lembut memegangi kedua belah pipi saya dari belakang, yang seolah menyuntikkan kembali tenaga buat saya untuk bertahan. “Krreeet… ptass!”. Begitulah mungkin suara dari pencabutan maha-gila tersebut jika saya buat onomatope-nya. Otak saya seperti mau meledak, dan jantung saya seperti mau lepas.
………..“Yak! Sudah!,” dokter bersuara cukup nyaring, dan pada saat yang sama, saya lihat gigi geraham saya beserta akarnya itu sudah berada di meja peralatan. Really?! Pffhuahh!!
………..“Kumur-kumur! Kumur-kumur!,” dokter menginstruksikan, dan saya langsung menurut.
………..Secarik tissue disodorkan untuk mengelap bekas darah yang menggumpal di sudut bibir.
………..“Buka lagi mulutnya, nah… gigit kuat-kuat,” kata sang dokter setelah memberi saya sebuah tampon/kain kasa untuk menampung gumpalan darah di area bekas pencabutan tadi. “Oke, sudah,” imbuhnya.
………..Dokter Suzana langsung duduk di mejanya, sementara saya masih duduk-duduk sambil terengah-engah, dan bertanya-tanya, “mimpi apa saya semalam, sampai bisa mendapat pengalaman mengerikan seperti barusan”.
………..“Aris…,” dokter memanggil. Saya pun turun dari kursi laknat itu, memakai sendal kembali, dan karena malas untuk duduk, saya hanya berdiri di hadapan sang dokter yang sedang menulis sesuatu di kartu rekam medis saya. “Gila lu, Dok, nggak basa-basi dulu tadi,” gumam saya dalam batin.
………..“Aris, ini saya tambahin lagi satu obat yang harus kamu minum. Tapi tetap, obat yang saya saranin kemarin, tetap diminum ya. Dan ini penambahan biayanya, kamu serahkan aja di bagian administrasi di depan”.
………..Saya lihat nominal yang tertera. Ugh… cukup buat makan selama satu minggu untuk ukuran saya. Setelah tak ada lagi yang perlu diinformasikan, saya undur diri, setelah sebelumnya melayangkan ucapan terima kasih. Saya melangkah keluar ruangan, membuka pintu, dan sesampainya di luar, saya disambut oleh suasana yang mulai pikuk dan ramai, dan mengayunkan langkah ke bagian administrasi, dengan perasaan masygul; habislah uang gaji.
.
.
.
*Melihat dan membaca kembali apa yang baru saja saya tulis di atas*
*Jyah…! Ternyata saya sendiri juga terlampau hiperbol*
*Ah, peduli setan. Lanjut!*
.
.
.
………..Sekarang kembali lagi ke beberapa komentar yang “menghibur” tadi. Oke, tentu adalah suatu vonis yang tidak adil dan semena-mena, bila saya mengatakan bahwa apa-apa yang kawan-kawan blogger tuliskan kemarin seputar “rasa” cabut gigi adalah omong kosong belaka. Masalahnya saya terbentur tembok bernama relativisme. Ah, jadi ingat masalah suntikan bius dari dokter tadi, yang bilang relatif. Untuk wilayah seperti ini, saya jadi ingin mengutuk relativisme, dan saya lebih menyenangi kepastian. “Kalau sakit ya katakan saja sakit, tak usah white-lies!,” itu yang ingin saya lontarkan. Tapi sekali lagi, ini masalah relativisme.
………..Bisa jadi, kawan-kawan blogger yang pernah cabut gigi memang tidak merasakan apapun kala menghadapi proses pencabutan, entah karena pengaruh biusnya yang ampuh, atau peralatan medisnya yang lebih canggih dan less-pain. Oke, saya terima kenyataan itu. Dan tentu saya harus berterima kasih, karena jika bukan dorongan dan saran dari kawan-kawan blogger kemarin untuk segera periksa dan cabut gigi, mungkin hingga saat ini pun saya masih akan karib dengan yang namanya sakit gigi.
………..Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Khususon kepada seorang dokter dari Negeri Kanguru yang tak henti-hentinya mengomeli kekeras-kepalaan saya yang tak segera ke drg, mbak Hemma Yulfi a.k.a Marshmallow, saya sudah menepati janji saya ya; lalu… Yasmin, nuhun pisan Yash, sudah memberi tahu tempat pembantaian terbaik, terutama karena drg-nya cewek, secakep Rahma Sarita lagi, trims; dan sederet kawan blogger lain seperti mbak Rukia (beneran cabut giginya kek digigit semut, Mbak), lalu miel, kemudian mbak Grace, mbak Snowie, mbak Darnia, mas dnial, mbak Illuminationis, dan yang terakhir, si laknat Geddoe. Gracias…! Oh, hampir lupa, zinnia! Thanks a bunch!
.
.
.
………..Tapi sebelum menutup tulisan bersejarah ini, saya hendak menanyakan ulang soal penghiburan yang sebetulnya berisi kebohongan. Jika dalam postingan Pinokio, si brengsek Geddoe mempertanyakan tentang boleh tidaknya orang berdusta demi keselamatan orang lain, maka di sini saya menyorot tentang ekses psikologis yang muncul bagi seseorang yang dihibur dengan hiburan yang sebetulnya berisi kedustaan. Untuk mudahnya, saya ilustrasikan dengan contoh yang paling sederhana dan mudah dijumpai (dan bahkan pernah kita alami), yakni seorang anak kecil yang bertanya, “apakah disuntik itu sakit?”
………..Orang tua dari anak yang bersangkutan, jika dalam posisi gamang kala anaknya sakit dan, katakanlah harus disuntik oleh dokter, tentu berada dalam posisi dilematis antara harus mengatakan yang sebenarnya, atau sebaliknya. Tapi saya ambil kesimpulan generalis, bahwa praktisnya, orang tua, atau bahkan dokter sendiri, akan menjawab dengan enteng pertanyaan tadi dengan, “ah, disuntik itu enggak sakit kok, kayak digigit nyamuk”. Sebuah perkataan yang bisa dikatakan cukup menghibur dan mampu mengeliminir ketakutan si anak. Si anak, secara personal sudah menaruh kepercayaan terhadap perkataan tadi, bahwa disuntik tidak sakit. Tibalah saatnya jarum suntik menembus kulit dan daging, hingga menyentuh tulang si bocah.
………..Secara aksioma, dan generalitatif, terasa, bahwa disuntik itu sebetulnya sakit, sangat sakit, meski itu hanya dalam hitungan sekian detik, dan itu pun kalau efek suntikannya tidak menimbulkan jaram. Baguslah kalau fakta yang didapat si anak adalah disuntik itu tidak sakit, tapi jika yang ia rasakan adalah hal yang berkebalikan dari apa yang tadinya ia percayai (bahwa disuntik itu tidak sakit), di sini dampak psikologisnya mulai kentara; “Ayah/Ibu bohong, dokter bohong, dan aku dibohongi”. Kelak, jika ada tawaran atau iming-iming lain, si anak sudah bisa berpikir kritis dan cenderung defensif dalam menerima perkataan-perkataan orang, sekalipun itu adalah perkataan dari orang terdekat dalam hidupnya. “Aku tak akan bisa kalian bohongi lagi”.
………..Saya memikirkan fragmen ilustratif demikian itu, jadi sedikit masygul. Kalaulah, ini andaikan-misalkan-umpama, saya punya seorang putra, dan ia bertanya: “Ayah, apakah disuntik itu sakit?”, maka dengan tanpa sungkan saya akan menjawab: “Nak, bagi ayah yang badannya lemah ini, disuntik itu ya sakit, tapi mungkin bagi kamu yang ayah anggap kuat, pastilah disuntik itu biasa-biasa saja, tapi kalaupun nanti kamu merasa sakit, ya enggak apa-apa, berarti kita sama, hehe…”. Mimpikah? Oh, tidak, saya serius. Saya tidak mau ambil resiko dengan hilangnya kepercayaan dari anak sendiri. Lebih baik bicara apa adanya, sembari tidak lupa membesarkan hatinya, sehingga hingga akhir prosesi penyuntikan, kepercayaannya terhadap saya masih ada, dan saya masih bisa memberi hiburan lain sesudahnya, dengan tanpa khawatir akan direspon negatif.
………..Nah, sekarang lompat ke masalah cabut gigi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada mereka-mereka yang memang mengatakan hal yang sebenarnya bahwa cabut gigi itu tidak sesakit yang dibicarakan banyak orang, saya menyarankan kepada anda-anda yang mempunyai masalah serupa soal gigi, untuk lebih rasional, dan selektif dalam memilah testimonial, apalagi dari orang terdekat anda sendiri.
………..Saya menangguhkan diri ke drg selama beberapa bulan, juga dengan alasan itu. Sebabnya apa? Sebabnya saya memiliki testimonial yang lebih kredibel, di mana ibu saya sendiri menangis menjerit-jerit ketika melakukan ekstraksi gigi di drg beberapa bulan lalu, dan ditambah lagi dengan paman saya yang meraung-raung kala giginya entah diapakan oleh drg. Tapi sekali lagi, seperti yang sudah saya akui, bahwa semua diferensiasi hasil dari cabut gigi, bukan tidak mungkin, semuanya hanya karena masalah teknis-operasional yang berbeda-beda antara tempat drg yang satu, dengan drg yang lain.
.
.
.
………..Konklusi dari penjabaran yang tidak teratur nan panjang di atas, hanya satu; cabut gigi itu, fakta yang saya dapat, rasanya ya seperti yang sudah saya ceritakan di bagian kronologi di atas, alias ya… begitu. Saya harus mengatakan kebenaran yang sesungguhnya bahwa cabut gigi itu adalah hal yang tidak biasa, sangat tidak enak, dan tidak mudah dilupakan.
………..Jadi kepada Anda yang saat ini dikunjungi tamu bernama sakit gigi, dan sedang mencari informasi seputar apa-bagaimana rasanya cabut gigi, maka apa yang saya tulis ini semoga bisa memberi bahan masukan buat Anda untuk mengumpulkan nyali, terlepas dari kemungkinan kalau apa yang Anda rasakan nanti ternyata lain sama sekali dengan yang saya rasakan. Dan buat Anda yang keadaan giginya berada dalam kondisi prima, saran saya, pastikan jangan sampai gigi Anda berlubang, dengan menjaga kebersihan mulut dan pemilihan jenis makanan yang bagus buat lapisan gigi. Dan kalau perlu, simpan tulisan ini sebagai arsip. *grin*
.
.
.
………..Terakhir, ini khusus buat Mas Gentole. Dengan rilisnya tulisan ini, maka saya sudah menunaikan titah Anda, sesuai permintaan Anda [di sini] tempo hari. Saya harap Anda tidak terlalu menganggap tulisan ini sebagai sesuatu yang “disturbing”. Apa yang saya alami dan saya ceritakan ini hanya satu dari sekian banyak kesaksian dan testimonial saja. Dan tentu, mengingat Anda juga punya masalah gigi seperti saya, saya berdoa semoga Anda bisa menemukan drg terbaik di Jakarta, kalau nanti Anda jadi cabut gigi.
………..Anda toh tidak perlu khawatir apalagi risau karena tulisan ini, karena, sekali lagi, apa yang saya alami adalah karena adanya perbedaan teknik dan perlakuan medis. Saya dengar, di Jakarta ada banyak drg yang jauh lebih profesional, bertangan dingin, dan dilengkapi dengan berbagai peralatan yang lebih canggih yang mampu meniadakan rasa sakit, seperti anestesi tanpa melalui jarum suntik, melainkan dengan alat mikro yang tidak berasa sama sekali, dan proses pencabutan dengan alat khusus yang dalam waktu sekejap sudah bisa mengangkat gigi beserta akarnya tanpa nyeri sedikitpun.
………..Dan saya berdoa semoga Anda ditangani oleh drg yang demikian, tidak seperti saya yang melabuhkan harapan pada tempat ekstraksi gigi umum dengan pelayanan sebagaimana adanya poliklinik umum. Toh ini perkara “rahsa”, dan saya tidak memiliki perbendaharaan kata yang memadai untuk memberikan deskripsi yang tepat tentangnya (konsultasi ke Mas Jenang saja deh, secara beliau juga sudah pernah dicabut giginya dua kali, dan beliau ahli dalam hal “rahsa”).
………..Dan jangan lupa, kasih tahu saya kalau Anda sudah selesai cabut gigi. Bikin postingan khusus, yah ™ . Saya tunggu.
.
.
.
………..Nah, sidang pembaca yang budiman, saya akhiri saja tulisan pendek ini sampai di sini, meski sebetulnya masih banyak yang ingin saya kemukakan. Dan di akhir tulisan ini, saya jadi berpikiran, andai saya punya koneksi ke berbagai tempat, terutama ke executive producer Fear Factor, saya ingin mengirim proposal/ide live show seperti di bawah ini.

[]
Bandung Parijs van Java, 16 April 2009
19.26 PM | Ditulis di sela-sela kerja.
16 April, 2009 pada 3:28 pm
REMOVE THE PICTURES!
16 April, 2009 pada 3:29 pm
Serem ih.
16 April, 2009 pada 3:34 pm
Ini pasti masalah efektifitas biusnya. Ketika gigi saya dicabut (padahal tidak rusak, hanya letaknya salah), bagian yang paling sakit adalah ketika disuntik. Ketika dicabut tidak terasa apa pun. Malah setengah mulut dan bibir saya mati rasa sampai satu hari, sehingga bicara saja susah.
Tapi tentunya Anda tidak butuh testimoni lagi setelah semua itu, ya…?
Ah, kalau dulu saya dibohongi soal suntik-menyuntik dengan “seperti digigit semut merah”. Berhubung bagi saya digigit semut merah memak sangat sakit, saya tidak begitu kesal ketika merasakan bahwa disuntik ternyata sedikit lebih sakit…
16 April, 2009 pada 3:35 pm
Saya ada hadiah dua link buat Anda. Yang pertama gambar, yang kedua tulisan sahaja.
[link 1]
[link 2]
Salam!
16 April, 2009 pada 3:46 pm
@ ahgentole
Oh, maaf, tidak bisa Mas, itu sudah jadi kronik, tidak mungkin dihapus.
Eniwei, kok komentarnya cuma segitu?
.
.
.
@ S. mcduck
Iya, Saya juga mencurigai soal biusnya, Pak. Ah, tapi semuanya sudah terjadi, apa mau dikata. Dan ya, saya sudah tidak membutuhkan testimoni apapun lagi berkenaan ini.
Terima kasih komentarnya.
:salam kenal:
.
.
.
@ Kgeddoe
*hover link 1*
asu!
*klik link 2*
…
16 April, 2009 pada 4:03 pm
Good…good…
(sambil bingung, sesakit apa sih, dulu gigi saya juga remuk tinggal pangkalnya doang terus dicabut. Butuh tenaga banyak dari dokter + bapak saya yang megangin kepala saya memang, tapi toh ga sakit
)
16 April, 2009 pada 4:20 pm
muahahahah… setuju dgn mcduck. sepertinya itu masalah efektifitas bius. sebetulnya proses yg saya alami lebih lama & pake alat lebih banyak. cuman sengaja gak saya ceritakan semua. utk cabut gigi trakhir, akar gigi saya sangat kuat, bentuknya seperti huruf “X”.
ini cerita yg lebih lengkap:
setelah ongkek-ongkek cukup lama untuk nyabut gigi saya & gagal, dokter istirahat sebentar. abis itu setelah menyadari bahwa akar gigi saya sangat kuat, dia ngambil perangkat kayak gergaji (tapi miniatur). berikutnya, gigi saya yg udah somplak itu digergaji dulu, dibelah dua dulu…. setelah terbelah baru dicabut setengah-setengah… kebayang gak berapa lama prosesnya?
*buat purnawirawan kopral: bedakan gagasan cabut gigi dgn realitas cabut gigi*
16 April, 2009 pada 4:41 pm
@ lambrtz
Really?
@ sitijenang
Oke, perbedaannya teteup, Anda tidak merasakan apapun
16 April, 2009 pada 4:44 pm
@ sitijenang lagi
.
.
.
syet dah! Kalau itu yang dilakukan dokter saya, sudah pasti saya ngamuk-ngamuk
16 April, 2009 pada 9:21 pm
Hmm.. Lalu kapan geraham yang kanan akan di cabut?
16 April, 2009 pada 9:45 pm
untuku isik loro…………
16 April, 2009 pada 9:57 pm
…..tidak sakit? beneran?
*masih khawatir untuk ke dokter gigi, ever*
16 April, 2009 pada 10:06 pm
Hoaah..
Sdah kuduga isinya mengrikan..
Apakah terpikir untuk kedua kalinya?
Ha..
17 April, 2009 pada 1:32 am
postingannya: LEBAAAAYYYY!!
emang berapaan riss? mungkin karena gigimu itu sudah PARAH makanya harganya juga yaa… gitulah. hmm. oiya, itu 16 maret loh kamu nulisnya. bukan april. dan, kok aku asa liat kata-kata yang biasa aku dan munirah tulis sih, ‘jyah’, ‘okhai’, tapi yaa berhubung keadaan kamu masih waas, ya silaken lah itu digunaken.
kalau kamu sakit gigi lagi, cobain ke dokter endang daud di jalan naripan. kalau itu dokter ahli bedah mulut. superior banget lah. keluarga aku suka ke sana. aku sih belum ke sana, tapi nanti mau ah kalau gigi geraham dewasa aku tumbuh.
tau kan gigi geraham dewasa?
setiap orang punya gigi geraham dewasa. tumbuhnya sekitah umur 20an. jadi, ada gigi baru lagi yang muncul di belakang gigi geraham yang paling belakang, karena gigi belakang itu ga ada tempat, maka dia nyedek ke gigi yang ada. jadi ya mau ga mau harus dibedah itu gusi kamu. yaa… kalau untuk yang ini, kusarankan ke dokter endang daud yaa…
17 April, 2009 pada 2:05 am
@ Rasyeed
NO COMMENT!
@ denologis
Heh? Loro = dua, apa loro = sakit?
@ grace
?
@ Legi
NO COMMENT!
@ YasminNCH
Sudah direvisi. Trims…
WHATTT???
17 April, 2009 pada 3:24 am
Tenang, tenang. Tidak selalu seperti itu kasusnya. Gigi-gigi geraham belakang saya semuanya berhasil tumbuh tanpa mengganggu gigi lainnya.
Tapi, yah, memang ada kemungkinan sih… *masukkan musik dramatis*
17 April, 2009 pada 6:31 am
Ah, maksudnya gigi bungsu? Ini memang seringkali mesti dicabut. Biasanya ada empat biji, dan apabila mesti dicabut, itu mesti dibedah dan bukan sekadar di cabut (surgical, bukan simple extraction). Gusi ya mesti dicabik-cabik.
Sampah-sampah evolusi ini. Sudah takdir.
17 April, 2009 pada 6:32 am
Bah, tagnya rusak. Peduli setanlah.
17 April, 2009 pada 6:53 am
Oke, intinya sudah cabut gigi. Mantap! Congratz!
makan2™!Semoga tidak sakit gigi lagi.
17 April, 2009 pada 10:06 am
@Kgeddoe
Hey d00d, it’s not a bug. It’s a feature!
17 April, 2009 pada 10:09 am
@ S. mcduck
Fyuh… trims… semoga gigi2 saya aman
…
.
.
.
@ Kgeddoe
Heh. Heh…
.
.
.
@ jensen99
Amen to that
17 April, 2009 pada 10:35 am
Anda ini kalau tiba-tiba perlu diinterogasi militer, sepertinya gampang diekstraksi (pun intended) informasinya.
17 April, 2009 pada 12:08 pm
akhirnya…udah ga sakit lagi kan

btw, gigi yang satu lagi kapan menyusul untuk dicabut?
*menanti cerita pencabutan gigi part 2*
17 April, 2009 pada 1:27 pm
Salam kenal, saya kebetulan seorang dokter gigi muda, & tertarik membaca tulisan anda ini. Saya akan coba jawab selengkap2nya apa yang terjadi pada anda saat d cabut gigi & mengapa anda merasakan sakit yang luar biasa tersebut sedagkan orang lain tidak merasakan sakit yg serupa. Saya jamin ini bukan kebohongan halus atau apapun itu namanya, n ini juga bukan pembelaan dari profesi saya. saya hanya ingin anda mengerti.
Ada riwayat bengkak 3 hari sebelum anda cabut gigi. Ini menunjukkan sudah terjadi infeksi pada jaringan sekitar gigi anda. Infeksi disebabkan bakteri yang kemudian bersamaan dengan reaksi tubuh kita sendiri menghasilkan produk2 tertentu, antara lain racun bakteri dan pus (nanah) yang terkumpul di jaringan sekitar gigi tsb. Inilah yang menimbulkan bengkak pada gusi anda. Dengan kondisi demikian maka dokter anda menyarankan anda datang 3 hari lagi. Ini disebabkan 2 fakta bhw bila gigi di cabut dalam keadaan ini (infeksi) dapat menimbulkan penyebaran bakteri dan produknya ke tubuh anda melalui darah dan RASA SAKIT YANG LUAR BIASA (tidak mungkin dapat ditahan lagi) saat dilakukan pencabutan. Hal ini terjadi karena produk2 bakteri yang berkumpul di jaringan sekitar gigi tadi menghalangi masuknya obat bius ke jaringan sekitar gigi tsb, sehingga obat bius tidak bekerja (tidak dapat mencapai susunan syaraf yang dituju). Diharapkan setelah 3 hari infeksi sdh berkurang n produk bakteri pun sudah berkurang (ditandai dengan hilangnya bengkak), sehingga pencabutan bs lebuh aman dilakukan.
3 hari kemudian anda datang untuk cabut gigi, diperkirakan masih terdapat sisa2 infeksi n produk bakteri tadi. Hal ini dapat terjadi tergantung dari kondisi individu masing2. Pada keadaan rata2, 3 hari cukup untuk penyembuhan infeksi kecil. Ini yang dimaksud oleh dokter anda dengan “relatif”. krena dokter anda mungkin mengetahui ada tanda2 bekas infeksi pada gigi yang akan dicabut. Hal inilah yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa anda alami saat pencabutan gigi. Obat bius menjadi tidak bekerja dengan baik. Inilah yang terjadi pada diri anda.
Kemudian perihal obat bius yang dimasukkan, untuk pencabutan gigi pada rahang bawah, pada kondisi NORMAL (tanpa infeksi) efeknya tidak hanya pada gusi sebelah luar. Karena yang dibius adalah syaraf besar pada rahang anda dan syaraf sekitar gigi yang dicabut (oleh karena itu penyuntika dilakukan berkali2). Efeknya terjadi pada setengah rahang yang dibius + pada lidah + bibir pada sisi yang dibius. Ditandai dengan rasa hangat atau kesemutan pada daerah2 tsb diatas. Hal ini masih terasa sampai 4 jam setelah penyuntikan.Maka, SEKALI LAGI PADA KONDISI NORMAL, pasien tidak akan merasa sakit sama sekali sedalam apapun luka yang ditimbulkan saat pencabutan. Inilah yag terjadi pada orag lain yang memberikan testi positif kpd anda, mereka benar2 tdk berbohong lho,,,
Kemudian sebagai tambahan, hal lain yang dapat menyebabkan kegagalan pengaruh obat bius adalah pada pasien yang sering mengkonsumsi minuman beralkohol ataupun bahan2 lain yang mempengaruhi syaraf spt narkoba, shabu2, dsb. Makanya jauh2 deh y dr yg beginian, hehehe
Semoga penjelasan ini bs bermanfaat y, n bs menghilangkan kesalahpahaman lebih lanjut tentang rasa sakit saat pencabutan gigi…
wass
3 November, 2009 pada 2:53 pm
tau ga dimana alamat dokter gigi yang obat biusnya jago (di jakarta).
Kemarin aku juga ngalami hal serupa, dicabut sakit banget, aku suruh dokternya berhenti. dia bilang mungkin masih infeksi, seminggu lagi disuruh balik. Tapi aku ga balik…..
thx and God bless u
17 April, 2009 pada 1:35 pm
cepet sembuh y,,,,
17 April, 2009 pada 3:55 pm
*skip semua postingan dan gambar*
-_-
17 April, 2009 pada 4:14 pm
gak, kok rasanya buat saya, siapapun yang buat testimoni soal betapa tidak sakitnya cabut gigi itu, tetep aja saya khawatir untuk ke dokter gigi.
Ah, anw, perlu cabut dua gigi ya?
soal gigi “baru yang nyodok itu”, tenang aja, katanya baru muncul di umur2 21an gitu kok ^^
18 April, 2009 pada 3:46 am
*mengutuk empublog dan geddoe*
Kalo mabok dulu gimana? Ngeganja dulu gitu? Atau dengerin murottal? Atau pake painkiller? Atau pura-pura putus sama pacar? Rasa sakit itu semestinya bisa dibunuh kan? Loh, buktinya ada orang dioperasi, perutnya dibela-bela, enggak ada yang ribut-ribut dioperasi sakit. Lagian gak mesti dicabut. Ditambal aja kalo belum parah bener.
*berharap bisa ditambel*
*berdoa*
18 April, 2009 pada 7:38 am
@ ahgentole
Seperti testimoni Scrooge McDuck di atas, konon itu tergantung biusnya.
18 April, 2009 pada 8:54 am
@ ahgentole
Kalau gigi Anda masih bisa dipertahankan, saya juga menyarankan lebih baik ditambal saja, Mas. Saya pun, kalau berlubangnya gak parah-parah amat, minta ditambal. Dan sebetulnya kalau kemarin saya ngotot ditambal, pasti bisa ditambal. Tapi saya punya banyak alasan untuk tidak memilih opsi penambalan gigi, di antaranya:
» Sekarang proses tambal gigi (kebanyakan) tidak bisa hanya dengan sekali kunjungan, melainkan berkali-kali (atau minimal dua kali lah, tergantung kasus, dan tentu saja ini menyangkut biaya! dan kejenuhan waktu antri!).
» Saya khawatir ada kesalahan diagnosa, atau sembuh, tapi sembuh dengan komplikasi, yakni bila masih terselip kuman di dalam gigi yang ditambal, yang sewaktu-waktu bisa merusak gigi dari dalam, dan saya tidak mau itu terjadi karena hanya akan membuat semua perawatan menjadi sia-sia!
» Saya takut dibor! Apalagi kalau membayangkan bius tidak bekerja dengan baik, mampuslah saya kalau syaraf gigi tertekan berulang kali waktu pengeboran, secara paman saya yang tinggi besar itu pun sampai nangis njerit-njerit waktu giginya dibor. Pembersihan gigi berlubang memang tidak sederhana.
» Belum masalah lepasnya bahan tambal, atau pecah karena tekanan dan (sekali lagi), soal biaya (tentu saja!).
Saya ada beberapa klip bagus dari YouTube seputar proses penambalan gigi, tergantung klasifikasi karies yang diderita. Silakan dinikmati.
[link 1]
[link 2]
[link 3]
[link 4]
[link 5]
18 April, 2009 pada 11:44 am
@ frozen : ah.. Itu hanya pembenaran sepihak..
bukankah tidak semua kasus seperti itu?
Bener-bener paranoid sekali Frozen ini.. *dipentung*18 April, 2009 pada 3:47 pm
*Baca Disclaimer*
*lihat tanggal*
Gmn? Udah jernih pikirannya sekarang?
Prosedur kejadian hampir miriplah dgn yang saya alami bbrp waktu lalu. Termasuk kata ”tahan” itu.
Tapi saya GAK BOHONG kok.
*gak terima karena di sangka telah melakukan whitelie*
Saya dulu juga dicongkel-congkel gusinya buat ngeluarin tunggul gigi geraham saya, tp beneran gak berasa sakit.
Ngilu sih ada, waktu giginya udah selesai di angkat, tapi nggak sesakit seperti yang diceritakan di atas deh.
Satu kenyataan yang berat di hadapi saat cabut gigi adalah bahwa gigi kita sudah ngak utuh lagi. Karena tak kan ada lagi pengganti alami baginya.
Datang ke drg gigi itu pertama-pertamanya aja nakutin. Biasanya, untuk selanjutnya bakal lebih relax.
Saran saya untuk ke depannya, kamu gak usah terlalu memikirkan soal proses pencabutan gigi mu itu. Apa lagi pake acara punya pikiran buruk soal alat-alatnya.
Mending alihkan pikiran ke yang lain. Dari pengalaman, It works.
Btw, tadi sore saya juga baru balik dari praktek drg. Tapi bukan untuk cabut gigi of course
19 April, 2009 pada 5:21 am
Lha siapa suruh kamu konsentrasi sama sakitnya. Mestinya kan kamu nikmati saja wajah ayu dokter sama susternya.
19 April, 2009 pada 5:22 am
Bayangkan saja gini : Wah dokternya cakep ya, suster2nya lumayan. Aku serasa dikelilingi para bidadari. Hi hi hi
19 April, 2009 pada 6:38 am
duh, selamat ya udah cabut gigi…btw, klo gigi geraham yang dicabut, ati-ati aja, soalnya itu katanya sangat sensitif. klo salah cabut bisa pengaruh ke saraf2 di kepala
19 April, 2009 pada 9:11 am
Kalau boleh kutebak… sekitar 250rb?
Tp berapapun uang yg habis, yg penting itu ‘kan uang hasil jerih payahmu sendiri, bukan minta dari orang tua atau apa, y kan? Dan mudah-mudahan dengan pengalamanmu ini, km makin menyadari pentingny menghargai setiap rupiah yg km punya, dengan pintar-pintar menjaga kesehatan. Hehe, kl g terbentur kendala geografis, udah aku bantu loh km, ris, biar g bokek2 amat. *julurin lidah*
teteup semangat krja y…
[zinnia]
19 April, 2009 pada 9:56 am
@ Oki
Wah…, terima kasih sekali atas penjelasannya, Pak. Sekarang saya jadi lebih paham apa yang terjadi.
Tapi HEI! Dari mana Anda tahu kalau saya ada riwayat bengkak 3 hari sebelum saya cabut gigi?! Padahal saya hanya menuliskan “beberapa hari”, dan tidak menyinggung jumlah hari. Anda… anda memang benar, sebelum ekstraksi, 3 hari sebelumnya gigi saya memang bengkak, benar sekali, tapi, tapi… bagaimana Anda tahu?! Tell me how do you know!
Ah, tapi sekali lagi, terima kasih, dok, atas konfirmasinya. Dan maaf kalau komentar anda sebelumnya terjaring akismet. Terima kasih sekali lagi. God Bless You.
.
.
.
@ Rasyeed
Anda juga benar! Saya memang paranoid.
.
.
.
@ Snowie
Sudah, tapi berhubung keadaan ekonomi saya memburuk akibat pengeluaran yang di luar perkiraan, pikiran saya sekarang kusut.
*lah, malah curhat*
Iya, dengan membaca cerita mbak selanjutnya, saya percaya, apalagi saya sudah mendapat penjelasan yang lebih rinci dari (komentar) drg. Oki di atas. Maafkan atas tuduhan saya.
.
.
.
@ lovepassword
DAMN! Saya melupakan itu!
.
.
.
@ Emina
FYI, hati saya lebih sensitif malah. Kalo duit habis sebelum akhir bulan, itu juga mempengaruhi syaraf-syaraf di kepala saya. Pusing saya!
.
.
.
@ zinnia|eglantine
Lebih dari yang kamu tebak, zinnia…
.
*terpana*
Iya, kamu benar. Wah… hari ini saya mendapat banyak sekali motivasi. Trims. *membungkuk*
.
Jyah, kan bisa dikirim lewat wesel. Kirimin gih…
.
Oke
19 April, 2009 pada 6:15 pm
terakhir cabut gigi 15 taon lalu dan sampe skr masih ogah ngulang
20 April, 2009 pada 1:35 am
Cabut gigi emang menyakitkan…
Tapi yang bikin tambah sakit kalo dokternya judes des des
ga senyum, cuma basa basi sebentar, langsung cabut
teringat dokter jutek di pusat pelayanan kesehatan mahasisasemoga cepat sembuh deh
20 April, 2009 pada 2:53 am
aris : jangan tanya saya, tanya aja sama dokternya, lhah wong giginya dah
dibawa dokternya
21 April, 2009 pada 7:04 pm
belajar sikat gigi yang benar abis ini Ris, biar ga perlu menderita lagi di kursi praktek drg. *saya juga baru belajar sikat gigi yang benar 1-2 tahun lalu karena diomelin ada plaque… sungguh memalukan sekali*
22 April, 2009 pada 1:40 am
@ illuminationis
masalahnya, standar “benar” versi mana yang harus saya pegang? tafsir kebenaran itu khan tidak tunggal, dan relatif ™ …
.
.
.
eh, ini soal sikat gigi yak
ah, bagaimana pula itu cara sikat gigi yang benar…? ~(-_-~) (~-_-)~
22 April, 2009 pada 10:03 am
coba lihat di sini: Cara Sikat Gigi yang Baik
25 April, 2009 pada 3:01 am
gigi saya masih baik-baik saja…
mas gentolenya, mana ya?
26 April, 2009 pada 6:04 am
[...] masih berlanjut. Penyakit yang lebih parah dari sakit gigi yang dibahas secara panjang lebar oleh dik Aris. Mudah-mudahan terminal terakhir di sekitar Plengkung Wijilan Jogja bisa menjadi milestone untuk [...]
1 Mei, 2009 pada 3:52 pm
Menurut gw, analogi cabut gigi itu ibaratnya dosa..
Waktu masih belum kerasa sakit kita masih larut dalam dosa,, tapi saat gigi itu udah makin sakit dan harus ke dokter,, barulah merasa dosa ini udah menumpuk.
2 Juli, 2009 pada 1:17 am
Assalam…
Salam kenal mas….
Search di mbah gugel menu blog sampean mas… tks banget…
sedikit mo tanya, mohon masukannya.. saiya sudah cabut gigi sekitar 1 thn yll di RS terkenal di KRWG, tetapi sejauh ini belum bisa saya gunakan untuk MENGUNYAH nah loh… minggu kemaren saya paksakan agar bisa saya gunakan untuk mengunyah… tapi hasilnya NIHIL… malah sampe hari ini masih snut snut euy… udah berobat dikasih obat Clindamycin dan Flamcy.. sebentar sembuh taoi 2-3 jam kambuh lagi…
gimana ya solusinya… apa meski berobat ke RS itu lagi… mahallllll…..hiks hiks…
hatur nuhun…
wassalam……
2 Juli, 2009 pada 2:47 am
1 tahun yang lalu??? o_O”
Wah, Mas, saya khawatirnya itu semacam infeksi, jadi lebih baik kembali ke dokter yang bersangkutan lagi. Atau jika masalah biaya menjadi momok, kiranya Mas cari dokter gigi dengan tarif sedang/murah tapi punya reputasi. Pasti ada.
PS: Saya pernah nemu kasus seperti ini juga. Kawan-kawan di Kaskus membikin thread soal ini. http://www.kaskus.us/showthread.php?p=74225138
2 Juli, 2009 pada 3:19 am
member kaskus juga ya mas… nanti deh ke TKP…
kaskus di saya lemot.. hiks…
Btw tks atas masukannya…
ada seh di daerah krw timur, kemarin kebetulan di rujuk dari Perusahaan..
emang di RS kemarin jengKELIN, mosok temen ada yang masuk angin habis cepek… cepek deh……
tks…….
28 September, 2009 pada 5:16 am
weee situ gak tanya saya sih sebelumnya
bravo, menjura buat Sang Maestro Frozen
29 September, 2009 pada 3:51 pm
gw lagi skit gigi, udh ke drg, dkasih rsep trus obtnya dimnum 3x/hari slma 5 hari, obatnya udah habis….. tp gua tdk jdi k drg…. ihhh serammmmm
5 Oktober, 2009 pada 10:08 pm
anjrittt… menyeramkan jg.. tp hrs dijalani uy.. gw mo ngadepin canut gigi jg, mdh2n kaga sakit…eghh.. thx bwt sharing nya gan…