Flash Fiction #4: Menunggu Bis
.
Lelaki tua itu, untuk yang ke-sekian ribu kalinya
kembali melirik jam di tangannya
gusar ia menunggu kedatangan bis yang hendak ia tumpangi,
namun belum jua tiba
padahal… ia tahu,
terakhir kali ada bis lewat halte tua ini
yaitu sekitar dua puluh tahun yang lalu…
.
.
[]
Parijs van Java, Bandung | 30 Mei 2009
18.59 PM, di sela-sela kerja.
30 Mei, 2009 pada 4:15 pm
Departemen Penerangan-nya manah!!!??? :-w
30 Mei, 2009 pada 5:00 pm
gak bisa komen….blom ngikuti dr awal….:D
31 Mei, 2009 pada 7:42 am
di sini, tanggungjawab kemanusiaan adalah:
1. memberitahukan bahwa tidak ada bis yang akan lewat
2. mengantarkan bapak tua itu sampai ke tujuan
3. lanjutkan.
31 Mei, 2009 pada 10:29 am
kayaknya nih… bus Si Bapak tua = khusyuknya Frozen.
Gusar ditunggu tak kunjung datang.
nah ntu, perlu cari halte lain kaleee
31 Mei, 2009 pada 12:40 pm
mampir halte saya saja…
31 Mei, 2009 pada 10:43 am
bapak itu udah pikun,dia lupa bhw sekarang udh ga ada bis lagi yang lewat halte itu
31 Mei, 2009 pada 9:08 pm
@ lambrtz
meneketehe!
@ m4stono
yo wis
@ denologis
yeah, lanjutkan™!
@ illuminationis
maxute™ halte perjalanan™ Ki Jenang?
Lha saya berkali-kali ke sana ndak ada penunggunya.
*tembusan ke yang bersangkutan*
@ almarhum emina
hee? itu interpretasi yah?
yah, silakan, silakan, ditafsirken.
ayo, ayo, cari maknanya, ntar yang kebetulan tepat saya kasih hadiah.
31 Mei, 2009 pada 10:32 pm
palingan urusan pacar
lagi1 Juni, 2009 pada 7:10 am
ooo.. mencari ditempat terang… padahal jatuhnya di mana embuuuh..
Salam Sayang
1 Juni, 2009 pada 10:06 am
Kenapa c KangBoed doyan nulis Salam Sayang.
1 Juni, 2009 pada 11:05 am
Nah, aku juga heran…
tanya aja beliau langsung
11 Juni, 2009 pada 3:12 pm
bego……