Kiriman Buku dari Pulau Dewata, dan Sedikit Catatan Atasnya

.

WOW! Itu respon yang terlontar ketika beberapa hari yang lalu seorang senior di tempat kerja memberitahu saya bahwa ada kiriman dari Bali, dari seorang perempuan. Hmm…

Tak beberapa lama kemudian, sebuah bungkusan kertas berwarna linen dilapisi plastik terang sudah ada di tangan. Saya buka plastiknya perlahan, dan menyobek bungkusan kertas di salah satu ujungnya dengan santai. Hoo… terlihat, sebuah buku dengan cover menawan yang didominasi warna merah marun, dengan tebal kurang lebih 230-an halaman, berjudul… a, di bawah ini nih, fotonya. Silakan dinikmati.



Heumm… lumayan buat menambah daftar jumlah koleksi buku saya, hehe. Dan jelas, saya luar biasa senang. Bayangkan saja, seorang perempuan yang tinggal jauh 577 kilometer dari kota Bandung, Jawa Barat, sampai rela mengirimi saya sebuah buku! Sungguh baru kali ini saya mendapat semacam kehormatan seperti ini. Meski agak disesalkan, selama buku kiriman yang spesial ini berada di tangan saya beberapa hari ke belakang ini, saya tetap tak menemukan kalimat yang lebih baik sebagai ungkapan rasa senang kecuali dua kata yang tak ada istimewanya lantaran biasa didengar sepanjang zaman, yakni hanya… “terima kasih” (via e-mail).

Opini Personal atas Buku Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an

Saya tidak tahu, kenapa saya dikirimi buku tentang sains. Kok bukan buku tentang panduan untuk bertobat, contohnya? Atau kenapa saya tidak dikirimi saja buku tentang kiat-kiat menggaet pacar, misalnya?

Haha…, garing. Bercanda.

Oke. Terlepas dari begitu besarnya rasa terima kasih saya kepada pengirim buku ini (namanya sengaja saya rahasiakan) dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada yang bersangkutan, saya kemukakan sebagian pandangan pribadi berkenaan isi buku ini.

Buku ini… cukuplah bisa dibilang menarik perhatian, pertama-tama desain covernya yang cukup memukau. Kedua, di cover depan tertera endorse dari satu nama yang tak asing bagi saya, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, yang jujur, membuat saya percaya, sebagaimana ditestimonikan oleh beliau, bahwa buku ini memperkaya (khazanah) bagi pembacanya betapa ayat-ayat al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan iman memang saling menjelaskan dan memperkokoh, dalam artian selaras.

Di belakang cover, satu testimoni menyatakan, bahwa buku ini enak dibaca lantaran bahasanya mudah dimengerti. Sayang, yang mengatakan itu adalah seorang pemerhati budaya, andai yang mengatakan demikian adalah tukang krupuk, misalnya, saya akan bersuka cita. Apa sebab? Sebabnya adalah, buku ini memang mudah dimengerti oleh orang-orang intelek seperti ahli-ahli dan orang-orang dari kasta ilmu kelas atas lainnya, tapi tidak bagi orang-orang non-akademik. Intinya, buku ini bagi saya bahasanya malah terlampau kaku, tidak fun, dan kurang menghibur bagi pembaca kalangan awam yang tak berlatar-belakang sains ini.

Jika Anda ingin sekedar menilik, silakan tinjau sebagian isi buku ini secara online [ di sini ].

Sebuah Perbandingan

Saya menduga, bahwa pengirim mengirim kepada saya buku bertemakan sains yang penuh nuansa Qur’ani ini, adalah untuk memperlihatkan, atau setidaknya untuk berbagi ketakjuban, bahwa segala fenomena ilmiah sains, mendapat dukungan yang eksplisit dari sebagian ayat-ayat al-Qur’an. Nampaknya dia ingin membuat saya ikut takjub dan terpana dengan segala keajaiban bahwa al-Qur’an, yang, seperti diklaim dalam buku ini, selalu “one step ahead of science”.

Saya ingat, beberapa bulan ke belakang, dia dan saya berdiskusi seputar salah satu postingan di blog ini, hingga mengarah ke wacana ketuhanan, dan di akhir diskusi, pada saat itu saya dengan berterus-terang mengatakan bahwa saya berada dalam keraguan kalau Tuhan itu ada. Nah mungkin, dengan dikirimnya buku yang “wah” ini kepada saya, setidaknya saya bisa merevisi pandangan saya, bahwa banyak bukti-bukti yang mengarah pada keberadaan Tuhan.

Apakah dugaan saya ini betul atau tidak, saya tak tahu. Tapi di samping itu, saya hendak menunjukkan satu buku lain yang serupa, sekedar bahan perbandingan.

4 tahun lalu, tepatnya tahun 2005, saya pernah membaca sebuah buku unik yang membahas tentang isyarat-isyarat sains yang terserak dalam ayat-ayat al-Qur’an, berjudul “Percikan Sains dalam Al-Qur’an – Menggali Inspirasi Ilmiah”, terbitan Khazanah Intelektual Bandung karangan Bambang Pranggono. Anda bisa meninjau sebagian besar isinya [ di sini ]. Dan inilah covernya.

Bisa disimak satu sub-bab saja, betapa buku ini lebih renyah dibaca, dengan gaya bahasa yang dikemas santai, dan yang lebih utama dari buku ini adalah, kalimat-kalimatnya yang penuh dengan imajinasi liar. Lihat saja daftar isinya yang penuh dengan sub-subjudul yang menggelitik, seperti:

Ada Bakteri di Ruang Angkasa,
Gunung Es di Angkasa,
Pesawat Tempur di Atas Ka’bah,
Lubang Cacing di Langit,
Unta Masuk Lubang Jarum,
Siang Terus Malam Terus,
Alam Semesta Berbentuk Terompet,
Bepergian Sebagian dari Iman,
Dialog dengan Gunung,
Bumi Bolong,
Gunung Terbang,
Bicara dengan Pohon,
Bebek pun Mandi Junub,
Lebah Anti Bom,
Ada Mekah di California,
Kota Anti Tsunami,
Tata Kota Amerika dari Islam,
Teleportasi Nabi Sulaiman,
Bila Waktu Mundur,
Mari Menghilang,

dan sederet sub-judul yang aneh-aneh lainnya, yang bisa dipastikan bisa menarik rasa ingin tahu siapapun dari strata intelektual manapun. Berbeda dengan sub-judul “Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an” yang kurang menarik dan dalam prasangka saya hanya menyamai redaksi ayat-ayat al-Qur’an, semisal yang bisa dilihat dalam daftar isinya seperti:
Bumi Pernah Berpadu dengan Langit,
Besinya dari Langit,
Seperti Permadani Dihamparkan,
Bumi Pernah Mati Kemudian,
Tujuh Tugas Pasaknya,

dan beberapa lagi sub-judul yang terasa hambar. Diteruskan dengan isi bahasannya, saya merasa seperti menyimak ceramah yang monoton.

Di sinilah yang menurut saya yang membuat buku “Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an”-nya Ir. Agus Haryo Sudarmojo ini kalah dibanding buku “Percikan Sains dalam Al-Qur’an”-nya Ir. Bambang Pranggono, meski memang harus diakui bahwa buku Bambang Pranggono juga tidak luput dari cacat. Buku bergenre seperti ini memang seharusnya dikemas dalam gaya bahasa yang lebih memikat perhatian dan tidak membuat dahi berkerut dengan pemaparan yang serius sepanjang halaman tanpa diselingi sentilan argumen nyeleneh, sebab segmen buku-buku seperti ini tidak seluas pangsa pembaca model buku-buku motivasi atau how to.

Beberapa Kerisauan

Setelah mengenal watak apologetik muslim dalam hal sains, saya ada semacam kegusaran, bahwa sebetulnya buku-buku seperti ini cenderung mengklaim bahwa segala penemuan ilmiah yang “shahih” adalah yang similar dan senada dengan apa yang tertera dalam beberapa ayat al-Qur’an. Ini mengindikasikan bahwa penemuan-penemuan ilmiah lain yang tidak berkaitan dan sesuai dengan ayat-ayat isyarat sains, sebagai penemuan yang tidak ada apa-apanya. Satu contoh misalnya bisa kita lihat, teori pergerakan benua-nya Alfred Wegener, yang mana dalam buku ini dinyatakan bahwa teori Wegener sebetulnya sudah dijelaskan dalam al-Qur’an surah an-Naml [27] ayat 88.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan”

Sebelumnya perlu saya utarakan, bahwa al-Qur’an tak pernah secara ekstensif menjelaskan, hal-hal semacam ini karena al-Qur’an bukanlah sebuah kitab ensiklopedi yang komprehensif. Nah, kalaupun ada kesesuaian antara pesan eksplisit ayat dengan sebuah penemuan sains, secara legowo hendaknya kita mengakui, bahwa berbagai penemuan yang ada, yang kebanyakan (dan memang semuanya) diteliti dan ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan “kafir”, semuanya itu terjadi dalam serangkaian proses dan pemikiran yang panjang, bukan hasil sekali jadi.

Saya coba jelaskan dengan lebih mudah (dan maaf jika dirasa vulgar). Begini. Ada sebuah penemuan mutakhir yang menakjubkan, yang ditemukan oleh seorang ilmuwan Barat, hasil dari kerja-kerasnya meneliti sekian lama. Lha ternyata, kebetulan hasil penemuan si ilmuwan tersebut senada dengan salah satu ayat al-Qur’an, misalnya. Biasanya para kaum apologetik muslim akan sesumbar: “Tuh kan, apa ane bilang, al-Qur’an itu luar biasa! Salah satu ayatnya ternyata persis seperti penemuan sains baru-baru ini. Ini menandakan bahwa al-Qur’an itu selalu berada di garda terdepan sains. Sains tergopoh-gopoh, fren. Al-Qur’an yang duluan mengatakannya. Heh, makanya, mending masuk Islamlah, sebab ini sudah membuktikan kehebatan dan kebenaran al-Qur’an!”

Memalukan sekali model pendekatan seperti itu. Kaum muslim apologetik ini akan adem-ayem berdiam diri. Baru setelah dikabarkan ada penemuan baru, mereka mencari-cari persamaannya dengan ayat-ayat al-Qur’an, dan jika ada yang senada, mereka akan menepuk dada, membanggakan redaksi ayat yang selangkah lebih maju duluan dari penemuan yang berhasil ditemukan ilmuwan non-muslim lain yang mendapatkan hasil penemuannya dengan memeras otak, keringat, dan juga biaya. Tidakkah seharusnya malu umat Islam, jika bisanya hanya meng-gathuk-gathuk-kan alias mencocok-cocokkan penemuan sains dengan ayat-ayat al-Qur’an? Mungkin beberapa dari kita ada yang ingatannya terlempar pada sosok Harun Yahya, yang ambisius menampilkan Islam yang serba ilmiah.

Nah, selain semangat “meng-gathuk-gathuk-kan” tadi, kerisauan lain adalah berkenaan dengan ngototnya sebagian muslim yang beranggapan bahwa sesungguhnya al-Qur’an adalah sumber kemajuan ilmu pengetahuan. Berbagai argumen dikemukakan untuk meyakinkan bahwa al-Qur’an mengajarkan astronomi, farmasi, geografi, fisika, dan lain sebagainya. Lalu digalilah berbagai aspek al-Qur’an yang sekiranya mengandung unsur-unsur pengetahuan praktis dan teoritis, seperti penemuan-penemuan sains tadi. Padahal ilmu pengetahuan (dan teknologi) bersifat tentatif, berubah-ubah seiring dengan munculnya teori-teori baru yang meruntuhkan validitas teori yang ternyata terbukti salah di kemudian hari, di mana kalau demikian bisa diasumsikan bahwa berarti kebenaran al-Qur’an juga berubah-ubah. Apakah sopan jika al-Qur’an diperlakukan demikian? Belum lagi bahwa sains itu penuh dengan spekulasi ilmiah. Apakah hendak, Islam sebagai agama, dilibatkan dalam spekulasi ilmiah?

Penutup

Sepertinya saya terlampau berlebihan. Yah, niatnya cuma hendak mengabadikan kabar bahwa saya mendapat kiriman dari seseorang dari pulau seberang, malah kebablasan ke mana-mana. Ah, tak peduli lah. Yang jelas, apapun dan bagaimana pun isi sebuah buku, selama informatif dan membentangkan cakrawala wawasan, nampaknya oke-oke saja untuk diikuti.

Terakhir, well, ini adalah tulisan (sok) serius yang lain setelah beberapa hari ke belakang ini blog ini dipajangi tulisan-tulisan nggak genah dan mungkin tidak berfaedah.

Ala kulli hal, setelah mengetik postingan sependek ini, kepala saya berat, dan perut saya minta diisi. Lapar!

Mie Sedaap yang selalu maknyuss. Harus buru-buru diseduh!

[]
Bandung, 14 Juni 2009
03.03 dini hari

65 Tanggapan ke “Kiriman Buku dari Pulau Dewata, dan Sedikit Catatan Atasnya”

  1. Padahal ilmu pengetahuan (dan teknologi) bersifat tentatif, berubah-ubah seiring dengan munculnya teori-teori baru yang meruntuhkan validitas teori yang ternyata terbukti salah di kemudian hari, di mana kalau demikian bisa diasumsikan bahwa berarti kebenaran al-Qur’an juga berubah-ubah.

    :cool:
    Sudah bilang begitu ke pemberi buku?

  2. cieh Aris, bukunya dah nyampe ya…
    perhatian bener tuh cewek
    *uhuk-uhuk*

  3. dalam sains juga ada multi persepsi, multi intepretasi, dan asumsi (=spekulasi?). *belagak saintifik*

  4. hehehe.. diek Aries tolong sampaikan salam kangen saya buat mas Bambang Pranggono yaaaa.. dah lama enda ketemuan..
    Salam Sayang

  5. Aneh ga sih, bahwa sebuah buku agama & sains dianggap bisa menjelaskan manusia, alam & Tuhan?

    Untuk mampu menafsirkan Al-Qur’an dengan baik, seseorang harus menguasai 14 cabang ilmu (vocab, grammar, sains, hadith, fiqh, dsb.) – perjalanan yang memakan waktu seumur hidup. Untuk memahami semua ajaran Buddha, butuh waktu seumur hidup. Untuk bisa headstand ga pake tangan…

    Aneh ga sih, orang yang menganggap sebuah buku dapat menguak intisari pencarian kita? Atau menjawab semua argumentasinya?

    Kalau teman Anda benar-benar niat membelokkan pelajaran yang kepalang bertumpuk di otak & badan, dia mestinya mengirimkan lusinan buku & guru. Bukan cuma satu. Tolong sisanya dikirim ke sini, ya? :D

    • qarrobin Berkata

      yups, jika ingin headstand, science yang ada sekarang harus dikembangkan lebih jauh dengan bantuan quran, bukan hanya taqlid science yang pernah ada, kalo ga pernah belajar science, gimana mau ngembangin science dengan quran, bisa2 nanti ada yang salah ketika science berubah, apakah quran bisa salah, justru kita yang tidak berilmu yang salah.

      keluar kotak dong.
      Mari mulai dengan Rabbi Zidni Ilmi.

      Apakah kalian tahu bahwa kosmos adalah ‘yang tercabut dahsyat’
      an naazi’aati gharqan.

      Bahkan Science sekarang hanya sebatas teori ketidakpastian Heisenberg, juga Einstein membuat pembatasan untuk E=mc2 nya, dan tidak berani meneruskan teori tachyon.

      Baca dan wirid Rabbi Zidni ‘Ilmi
      May Allah increase your knowledge

      http://qarrobin.wordpress.com/2009/07/21/time-wars/

  6. @ rukia
    Jika benar dia perhatian pada saya, saya lega, karena pasti Tuhan milyaran kali lebih perhatian lagi kepada saya dari pada dia.

    Note: Maaf, lain kali setiap postingan yang disimpan dalam kategori Perspektif, jangan lagi OOT.

    .
    .
    .

    @ S™J
    *belagak sok intelek = ON*

    Ada yang perlu saya garis-bawahi, bahwa interpretasi dan persepsi yang pelangi, yang terjadi di dunia sains, pengaruh yang ditimbulkannya tak sehebat perbedaan pemahaman dalam agama. Agama sejauh yang kita ketahui, bukanlah sesuatu yang profan sebagaimana sains, yang jika terjadi perbedaan pendapat saja sudah saling menghujat dan kafir-mengkafirkan. Sains? Orang-orang di dalamnya justru lebih membawa spirit “agamis” ketika menghadapi multi-interpretasi dari lawan intelektualnya, di antaranya mereka menerapkan adabul khiwar, dialog dan debat dengan santun, disertai bukti-bukti ilmiah yang bisa diverifikasi, dan jika teori yang dikemukakannya terbukti tidak valid dan cacat, saintis yang bersangkutan akan menerima dengan lapang. Lha agama? Hoho… mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.

    .
    .
    .

    @ KangBoed
    Oh, insya Allah kalau bertemu. Dan satu hal, saya yakin kalau Anda ini adalah calon wakil presiden nomor urut 2, Anda pastilah Pak Boediono! Hormat, Pak cawapres!

    .
    .
    .

    @ Hning (nickname-nya bagus banget)
    A-, saya sependapat. :-D

    Kalau teman Anda benar-benar niat membelokkan pelajaran yang kepalang bertumpuk di otak & badan, dia mestinya mengirimkan lusinan buku & guru. Bukan cuma satu. Tolong sisanya dikirim ke sini, ya? :D

    Wah, ndak tau yah :lol:

    • maxut saya sains tidak bisa menjadi pembenaran mutlak hasil utak-atik ayat2. kalo besoknya gak valid kan pembenarannya jadi gagal… :mrgreen:

    • hehehe.. SIAAAAP Komandaaaaan.. bapak Presiden AS *Aries Sensie*.. salamnya jangan lupa ya buat mas Bambang Pranggono dari kangBoedi Kiara Condong.. di tunggu kehadirannya dah lama kangeeeeen..
      Salam Sayang

  7. yayaya, nanti saya kirimi kiat2 menggaet pacar.

    eh, sebenernya ndak usah, dink. saya sering nulis tentang itu di blog saya, kok. hahaha…

  8. maaf karena OOT, ndak marah kan :mrgreen:

    [serius]

    saya sih nggak pernah bermasalah kalau sains dijadikan media dakwah, cuma harus benar-benar paham dengan ilmunya dan ini sangat sulit (setidaknya buat saya)
    Dan soal buku itu, sejujurnya saya baru baca setengah, tapi entah kenapa saya merasa bahasanya kurang menarik

    [/serius]

    *bersiap dibacok si pengirim buku*

  9. Lha ternyata, kebetulan hasil penemuan si ilmuwan tersebut senada dengan salah satu ayat al-Qur’an, misalnya. Biasanya para kaum apologetik muslim akan sesumbar: “Tuh kan, apa ane bilang, al-Qur’an itu luar biasa!

    *untungnya saya dulu bolos kuliah muslim elementary seperti itu*

    • *untungnya saya nggak pernah kuliah*

    • Nah bener khan mas Lambang kalo umat islam itu seyogyanya membaca AQ semata untuk mendapat pahala. Jadi kita ndak usah menggali sesuatu darinya, toh tugas sayentis untuk menyingkap rahasia alam. Buat pres as nice posting, saya setuju dengan anda untuk melestarikan kemurnian islam.

  10. Hmm…harus diakui setiap org memang mpy intrepretasi yg berbeda
    Saia pribadi,stlh membaca buku tsb merasa bahwa :
    1.Penulis mngajak pmbaca (khususnya umat islam)untuk bersmangat agar bisa mjd pioneer.”Hey,boys n girls ..kita ini punya kitab yg one step ahead of science lho…why we can’t be pioneer???”Walaupun dlm pnyampainnya di blog ini dikatakan spt mendengar ceramah yg monoton bahkan terkesan “menggathuk-gathukkan”
    2.Penulis mgajak pembaca untuk lebih menghargai karunia Tuhan(bersyukur).Dg menceritakan proses awal terciptanya bumi hingga skr…mgkin penulis brharap bahwa pembaca akan merasa HOW AMAZING OUR EARTH,HOW OLD OUR EARTH…LETS SAVE OUR EARTH..
    GO GREEN!!! :mrgreen: *SEMANGAT IJO ROYO-ROYO*

    Mas Aris…,
    Drpd menerka-nerka,Why don’t you ask to sender about her reason???
    easy kan..drpd ntr missunderstanding :cool:

    Btw,anyway bussway…blognya Mas Aris ini…dikontrak brp yach ma wingsfood???Koq jadi ngiklanin produknya. :lol:

  11. ah…
    otak saya yang isinya cuman t@i nggak nyampe kalo baca buku beginian…

    *balikbacakomikdantabloid*

  12. Oh, kita pernah membicarakan ini. Dan… itu… bukunya Pak Bambang, kamu masih ingat yg halaman 13-15?

    » “Satu skuadron pesawat tempur negara Islam”
    » “Terjebak di abad ke-7″
    » “Kehabisan bahan bakar…”

    :lol:

    Imajinasi liar Pak Bambang ini yang membikin anak-anak SMAN 1 yang lain terpingkal-pingkal. Andai dulu baca buku itu waktu kelas 1, aku pasti masuk IPA.

    :lol:

    ::::::

    Maap, OOT dikit.
    Buatin jg dong header model refleksi seperti yang punya kamu di atas itu. Jadi pengen…

  13. numpang mampir nyari ide yah… skalian promo program pulsa gratis nehh

  14. el-khulq Berkata

    ini ciri khas tulisan pengikut neo-mu’tazilah, antek2 Jaringan Iblis Laknatullah, yang suka mengingkari ayat-ayat al qur’an.

  15. salam kenal,
    saya memang tidak tau banyak mengenai sains, tapi saya setuju dengan tulisan anda. Jangan sampai islam dituding sebagai agama yang mencla-mencle dan plin plan karena mudah klaim ini itu, dan mudah juga menarik kembali klaim tersebut. Lalu saling mengkafirkan dan bukannya saling intropeksi diri bahwa mungkin saja interpretasi manusia lah yang salah.
    Yang jelas menurut saya di kafirkan itu ga enak :mrgreen:

  16. Padahal ilmu pengetahuan (dan teknologi) bersifat tentatif, berubah-ubah seiring dengan munculnya teori-teori baru yang meruntuhkan validitas teori yang ternyata terbukti salah di kemudian hari, di mana kalau demikian bisa diasumsikan bahwa berarti kebenaran al-Qur’an juga berubah-ubah.

    Wah ini kok serupa betul dengan tulisan di JIL dua tahun yang lalu. Pasti penulis ini antek-antek neolib™! :evil:

    Bertaubatlah engkau nak. (ninja)

  17. Sebenarnya kalau kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi. Pasti kita tetap pada jalan yang benar. Hanya saja mungkin penegasan Syareat dab Aqidah di negri ini yang harus ditegakkan!!!!!!!!!

  18. buku yang menarik dan mencerahkan juga nih, mas ariss. terima kasih review-nya.

  19. Halloooo.. any body home… kamana waeeee bapak Presiden AS *Aries Sensie*..
    Salam Sayang

  20. wah, keren bukunya…

    *maap baru bisa kunjungannn dinasss*

  21. Guess_Me Berkata

    Sobat….
    Hanya ada satu kebenaran yang haqiqi….
    walaupun dalam proses pembuktian kebenaran tersebut akan banyak di temui “kebenaran yang semu”

    *Lyric Dewa*
    tiada kebenaran hakiki
    yg ada cuma hanya Kamu di sana
    dan aku lah milikMu

    Salam………… :)

  22. Kayaknya boleh nih baca buku ini…
    Bisa menambah keyakinan kita akan Islam…. :D

  23. :: lambrtz komen #1

    damare yo! Jangan ungkit luka lama.

    _______

    :: DISCLAIMER komen berikut hanya berlaku bagi muslim dan para apolog-nya.

    ….bahwa sebetulnya buku-buku seperti ini cendrung mengklaim bahwa segala penemuan ilmah yang “shahih” adalah yang similar dan senada dengan apa yang tertera dalam beberapa ayat al-Quran

    Saya meyakininya bahwa al-Quran itu datang dari Allah, yang menciptakan langit, bumi, beserta segala isinya. Jadi wajar aja toh kalo ada ayat-ayatnya yang menjelaskan atau ada hubungannya dengan penciptaan. Dan wajar aja kalo penemuan ilmuan yang “shahih” lah yang cocok.
    dan lagi, rasanya tak mungkin mengakui sesuatu yang tidak pernah ada atau tidak pernah terjadi. Seperti kunci, hanya yang paslah yang bisa membuka pintu.

    …kalaupun ada kesesuaian antara pesan eksplisit ayat dengan sebuah penemuan sains, secara legowo hendaknya kita mengakui bahwa berbagai penemuan yang ada …. diteliti dan ditemukan oleh ilmuwan “kafir”, semuanya itu terjadi dalam serangkaian proses dan pemikiran yang panjang, bukan hasil sekali jadi.

    Memang mereka tidak begitu saja mendapatkan hasil tersebut. dan juga mereka melakukannya demi kepentingan ilmu pengetahuan….. tapi kalo ternyata penelitian yang telah susuah payah dilakukan itu terbukti benar dan juga bisa digunakan untuk memahami ajaran agama yang berbeda dari yang dianut sang peneliti, apa salahnya? dia gak rugi toh? atau jangan-jangan para ilmuan tersebut minta ganti rugi atas penyalahgunaan temuannya?

    Dan lagi tidak semua orang dianugrahi kemampuan otak yang cerdas, dan keuletan seperti yang dimiliki para ilmuan itu.

    walau sangat disayangkan dijaman-jaman ini hampir-hampir tidak ada ilmuan muslim yang bergerak dibidang ilmu alam. sehingga harus menggunakan jerih payah para non muslim. atau jangan-jangan para Atheis lagi. Ah, pikiran saya terlalu berlebihan kali ini.

    Begini, ada sebuah penemuan mutakhir yang menakjubkan yang ditemukan oleh ilmuan Barat, hasil dari kerja kerasnya meneliti sekian lama. Lha ternyata, kebetulan hasil penemuan si ilmuwan tersebut senada dengan salah satu ayat al-Quran, misalnya. Biasanya para kaum apologetik muslim akan sesumbar: “Tuh kan apa ane bilang, al-Quran itu luar biasa!….

    Mungkin memang tidak sebaiknya mereka sesumbar begitu. dan memang juga tidak seharusnya. Saya mengatakan, mereka yang sesumbar dengan menggunakan jerih payah orang lain hanyalah orang tolol tak berguna. Dan apakah kamu memusingkan orang-orang tolol itu, Ris?

    ….tapi, after all, semua itu tidak bisa menafikan kebenaran dan kedasyatan al-Quran. Al-Quran itu dasyat, dan tak satupun bisa menyingkirkannya. Silahkan kalo gak terima. Ini hanya masalah iman saja, tidak lebih.

    …berkenaan dengan ngototnya sebagian muslim yang beranggapan bahwa sesungguhnya al-Quran adalah sumber kemajuan ilmu pengetahuan…..

    Memang benar. Seandainya saja para umat muslim jaman sekarang dan yang dulu juga mau sedikit menggunakan isi kepala mereka untuk memikirkan makna dari setiap ayat al-Quran yang ada hubungannya dengan ilmu alam.
    Bukankan sering diulang di setiap ayat yang berbunyi …tidakkah kamu memikirkannya? atau tidakkah kamu mengambil pelajaran
    Kurang apa lagi coba Allah dengan kitab-Nya itu? :cool:

    Padahal ilmu pengetahuan bersifat tentatif seiring dengan munculnya teori-teori baruyang meruntuhkan validitas teoti yang ternyata terbukti salah di kemudian hari, bisa diasumsikan bahwa berarti kebenarnan al-Quran berubah-ubah

    Bukan al-Quran nya yang berubah-ubah. tapi pemahaman terhadap ayat nya lah yang berubah. Mengenai ayat yang terkait dengan ilmu pengetahuan, Allah hanya meminta manusia untuk memikirkannya sebagai bukti kekuasaan-Nya. dan itu ditujukan pada orang-orang yang beriman.

    bagi yang tidak beriman? walau sudah jelas bukti yang nyata dihadapan mereka, toh mereka tidak akan juga beriman.

    BTW, teori-teori dalam fisika bukannya saling menjatuhkan tapi saling melengkapi. Bisa saja, teori yang pada satu jaman tertolak, lalu seratus tahun kemudian terbukti kebenarannya.

    P.S

    Seandainya saya adalah pengirim buku itu, dan kamu perlakukan begini, kali berikutnya saya akan mengirimi mu BOM.

    Saya harap dia tabah. Dan semoga Allah membalas niat baiknya dengan balasan kebaikan yang berlimpah. ^^

  24. @ Snowie

    Saya meyakininya bahwa al-Quran itu datang dari Allah, yang menciptakan langit, bumi, beserta segala isinya.
    [...]
    dan lagi, rasanya tak mungkin mengakui sesuatu yang tidak pernah ada atau tidak pernah terjadi. Seperti kunci, hanya yang paslah yang bisa membuka pintu.

    Saya menghormati keyakinan Anda.
    :roll:

    .
    .
    .

    Memang mereka tidak begitu saja mendapatkan hasil tersebut. dan juga mereka melakukannya demi kepentingan ilmu pengetahuan… tapi kalo ternyata penelitian yang telah susah payah dilakukan itu terbukti benar dan juga bisa digunakan untuk memahami ajaran agama yang berbeda dari yang dianut sang peneliti, apa salahnya?

    Salahnya karena hal itu dilakukan berkali-kali.
    :razz:

    .
    .
    .

    …dia gak rugi toh? atau jangan-jangan para ilmuan tersebut minta ganti rugi atas penyalahgunaan temuannya?

    Soal para ilmuwan itu rugi apa ndak, ya mana saya tau. Yang jelas saya lihat sih, setelah kaum apologetik main gathuk tanpa sungkan dan malu, mereka kadang melanjutkannya dengan cemoohan, “Fir! Penemuan ente itu sudah membuktikan kebenaran kitab kami! Mending you pindah aja dah, ke Islam”, en su un. Saya sering mendapatinya di selebaran-selebaran Jum’at, paling banter waktu masih bocah dulu, di majalah Salibi, eh, Sabili.
    :roll:

    .
    .
    .

    Dan lagi tidak semua orang dianugrahi kemampuan otak yang cerdas, dan keuletan seperti yang dimiliki para ilmuan itu.

    Errr…, begini, Mbak. Kecerdasan itu bukankah salah satu jenis dari takdir mu’allaq, alias takdir yang bisa diubah (dengan kerja keras dan do’a), sebagaimana kemiskinan, penyakit, dll? Dan justru Allah sudah memberi lampu kuning, di surah Ar-Ra’d [13] ayat 11. Jadi kita mestinya berusaha dong, agar bisa secerdas dan, bahkan kalau bisa, melampaui kecerdasan para ilmuwan “kafir” itu.

    Nah, di poin (takdir) ini saja statemen Mbak sudah keropos, apalagi kalau saya bombardir dengan dengan statemen Islam yang notabene mengklaim sebagai agama yang katanya ya’lu wa la yu’la alaih (yang “mengungguli” dan bukan “diungguli”), tapi nyatanya omdo. Nah, tuh?

    Jadi statemen Mbak saya anggap kurang mantap.

    .
    .
    .

    Mungkin memang tidak sebaiknya mereka sesumbar begitu. dan memang juga tidak seharusnya.

    Yaa… katakanlah pada mereka.
    :roll:

    .
    .
    .

    Saya mengatakan, mereka yang sesumbar dengan menggunakan jerih payah orang lain hanyalah orang tolol tak berguna.

    Komentar saya sama dengan yang di atas. Ya katakanlah pada mereka.
    :roll:

    .
    .
    .

    Dan apakah kamu memusingkan orang-orang tolol itu, Ris?

    Kurang gawean. Tapi kalau jengah sih iya.

    .
    .
    .

    Memang benar. Seandainya saja para umat muslim jaman sekarang dan yang dulu juga mau sedikit menggunakan isi kepala mereka untuk memikirkan makna dari setiap ayat al-Quran yang ada hubungannya dengan ilmu alam.

    Jaga, ah, kata-kata Anda. Mau dikemanakan ilmuwan sekaliber Abu Rayhan al Biruni, Ja’far Muhammad ibn Musa ibn Shakir, Muhammad ibn Jabir al-Harrani as-Sabi al-Batani, Ali ibn Ridwan, Ibnu al-Haytham, al-Khawarizm, Ibn Miskawayh, Abd as-Salam, dan lain-lainnya yang masih bejibun lagi?

    .
    .
    .

    Bukan al-Quran nya yang berubah-ubah. tapi pemahaman terhadap ayat nya lah yang berubah.

    Saya belum bisa memberi respon untuk yang ini, tolong dielaborasi lagi.

    .
    .
    .

    Mengenai ayat yang terkait dengan ilmu pengetahuan, Allah hanya meminta manusia untuk memikirkannya sebagai bukti kekuasaan-Nya.

    Perlu saya tambahkan. Hasil dari men-tadabburi ayat-ayat semesta itu harus dilanjutkan dengan kreativitas konkret yang bisa menghasilkan kemaslahatan untuk umat, semisal teori yang memecahkan misteri yang berhubungan dengan alam, berikut penemuan-penemuan seputar itu.

    Lha kalau cuma mikir doang, sih, waktu saya masih bocah ingusan juga doyan mikirin ilmu pengetahuan (e.g fenomena alam) di sekitar, seperti; “eh, kok bisa turun hujan, yah?”, “whoa… ada yang kelap-kelip di angkasa kalo malam!”, “hayyah, itu ada warna-warni melengkung di langit apa yaa?”, dsb, dst, dll, dllaj. Udah, gitu aja. Habis bertanya dengan polos gitu, langsung mblayang dolan lagi, tanpa pernah sukses mengungkap tanda tanya yang dipikirkan.
    :lol:

    .
    .
    .

    BTW, teori-teori dalam fisika bukannya saling menjatuhkan tapi saling melengkapi. Bisa saja, teori yang pada satu jaman tertolak, lalu seratus tahun kemudian terbukti kebenarannya.

    Intinya itu-itu juga khan?
    :roll:

    .
    .
    .

    P.S
    Seandainya saya adalah pengirim buku itu, dan kamu perlakukan begini, kali berikutnya saya akan mengirimi mu BOM.

    :lol:

    Saya harap dia tabah

    Wah, entah ya…
    :lol:

    Dan semoga Allah membalas niat baiknya dengan balasan kebaikan yang berlimpah. ^^

    Ya, dan semoga Allah membalas saya dengan keburukan yang berlimpah, begitu ‘kan?
    :lol:

  25. Mbak Snowie,

    Sebetulnya yang dikeluhkan oleh si laknat ini ada betulnya juga. Praktek yang gemar dilakukan oleh apolog-apolog itu sebetulnya tidak ada manfaatnya, kecuali buat orang yang ragu-ragu akan apa yang dia imani dan masih membutuhkan konfirmasi-konfirmasi.

    Saya sarankan tidak usah ditulis buku-buku semacam ini, sebab membuang-buang kertas saja. :)

    Alasannya:

    1. Ilmu pengetahuan itu tentatif dan tidak statik. Contoh cepatnya, katakanlah dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa atom adalah substansi terkecil dalam alam semesta. Lalu para “apolog” ini mengklaim bahwa “itu sudah ada di Al-Qur’an.” Memang sampai di situ bagus-bagus saja, tapi beberapa tahun kemudian ditemukanlah partikel subatomik — yang lebih kecil daripada atom. Tiba-tiba klaim Al-Qur’an barusan menjadi “salah.” Jadi praktek ini berbahaya. Mbak sendiri bilang: “Bisa saja, teori yang pada satu jaman tertolak, lalu seratus tahun kemudian terbukti kebenarannya.” Ini bertentangan sekali dengan semangat menyelaraskan kitab dengan kanon sains.

    2. Bahasa teks itu bisa dipelintir-pelintir sesuka hati. Semua buku bisa dijadikan buku ramalan. Semua kitab suci punya mukjizat. Tidak bisa seenaknya memetaforakan yang bukan metafora dan meliteralkan yang bukan literal. Literalisme ini ada dan banyak baik di umat Kristen maupun Islam.

    3. Lagipula yang membikin heran, di kala para apolog tengah sibuk mencari-cari konfirmasi saintifik dalam Al-Qur’an, kok jarang sekali yang mau mencari jejak-jejak Evolusi? Evolusi ini titik balik raksasa dalam sains lho, mestinya ada di Al-Qur’an. (Lagipula, ada kok ayat-ayat yang bisa digathuk-gathuk, yaitu surah Al-Anbiya ayat 30 :mrgreen: )

    Oleh sebab itu, praktek mengilmiahkan Al-Qur’an ini tidak ilmiah, membahayakan sains, membahayakan agama, mengkorupsi makna ayat-ayat, ilmu semu, teologi semu, penuh dengan sentimen subyektif, terlalu selektif terhadap kanon sains, terlalu selektif terhadap ajaran agama, cherry-picking, misinformatif, makruh secara agama, makruh secara sains, contoh jelek untuk fisika, contoh jelek untuk kimia, contoh jelek untuk biologi, contoh jelek untuk teologi dan ilmu agama, dan, pendeknya, sangat tidak perlu.

    * * *

    walau sangat disayangkan dijaman-jaman ini hampir-hampir tidak ada ilmuan muslim yang bergerak dibidang ilmu alam.

    Memangnya kenapa, Mbak? Kemajuan umat manusia itu bukan kontes olahraga. Mau hitam, putih, Islam, Yahudi, agnostik, Jawa, Tamil, WASP, heteroseksual, homoseksual, Indonesia, Swedia, mestinya tidak masalah.

    Tidak perlu itu gengsi-gengsian.

    Seandainya saya adalah pengirim buku itu, dan kamu perlakukan begini, kali berikutnya saya akan mengirimi mu BOM.

    Bagus ini. Ancaman bom seperti ini, walau pura-pura, akan sangat membantu citra umat Islam yang semakin akrab disandingkan dengan bledak bleduk. :roll:

    .

    .

    .

    .

    .

    .

    .

    .

    Kurang apa lagi coba Allah dengan kitab-Nya itu?

    Kalau tidak ada yang kurang, maka tidak perlulah ditambah-tambah dengan relasi-relasi palsu ke penemuan sains. :mrgreen:

    Anda sendiri ternyata masih merasa kitab Tuhan Anda itu kurang.

  26. :: Presiden AS

    Saya menghormati keyakinan Anda

    Ya. Memang sudah seharusnya begitu.
    Akan lebih baik jika Anda juga menghormati usaha si penulis buku dalam membela agamanya.

    Salahnya karena hal itu dilakukan berkali-kali

    karena berkali-kali juga hasil penelitian dan penemuan yang “shahih” itu bisa di gunakan untuk memahami ayat Al-Quran.

    Soal para ilmuan itu rugi apa ndak, ya mana saya tau.

    Trus, kalo yang meneliti dan bersusah payah aja gak repot-repot bikin peryataan publik tentang “penggatuk-gatukan” terhadap hasil kerjanya, kenapa juga kamu yang ribut?

    …cemoohan, “Fir! penemuan ente itu sudah membuktikan kebenaran kitab kami! mending you pindah aja deh ke Islam”,…

    Kalo memang benar redaksinya persis seperti yang saya kutip, sesuai dengan yang sebagaimana dikatakan oleh para opologer itu, inilah yang saya maksud mereka itu tolol. Intinya mereka yang punya pikiran beginilah yang tolol. Siapapun yang memikirkannya. SIAPAPUN. Dia stupid.

    My reason to said so is
    Mengingat sejarah penyebaran Islam dari jaman para Nabi dan Rasul, dengan segala mukjizat yang mereka bawa, tidak juga membawa seluruh umat kedalam agama tauhid.
    Nabi Nuh, anaknya saja tidak mau mengikuti ajaran Agama yang dibawanya.
    Rasulullah, dengan segala bukti kebenarannya, reputasinya yang tak tercela, sopan-santunya yang sempurna, mukjizat, tidak mampu mengislamkan pamannya dan juga tidak membuat Kafir Quraish beriman.

    Apalagi dengan cara yang menggunakan penemuan sains yang bahkan ditemukan oleh para non muslim.
    CEMOOHAN adalah CARA PALING TOLOL yang digunakan jika ingin menyeru keagama tauhid. Enough said.

    Tapi, kok saya jadi gak percaya ya dengan adanya redaksi kalimat cemoohan tersebut muncul ditulisan para apologer Islam itu. Saya pikir, mungkin saja para opologer Islam berbangga hati karena penemuan ilmiah yang “shahih” bisa digunakan untuk menjelaskan isi ayat Al-Quran, dan juga bisa berarti bahwa Al-Quran itu memang datang dari Tuhan yang menciptakan manusia, tapi tidak bermaksud sinis dan mencemooh.

    Saya sering mendapatinya di selebaran-selebaran jum’at

    Oh! doesn’t it mean that the writing is supposed to be read by muslim? to convince that Ikhawahtifillah, you’ve been in the right path. See, the scientist has proven it to us. So, hold your faith tight.
    Oh, dear! :lol: :lol: :lol:

    BTW, Non-muslim mana yang pergi ke kawasan sholat jum’at untuk liburan? atau untuk sekedar mendapatinya di cemeeh?

    *krack*
    *makan potongan Apel*

  27. Kecerdasan itu bukankah salah satu jenis dari takdir yang bisa diubah? Dan justru Allah sudah memberi lampu kuning di surah Ar-Ra’d ayat 11. Jadi kita mestinya berusaha dong, agar bisa secerdas dan kalau bisa melampaui kecerdasan para ilmuan kafir itu.[...]
    Apalagi kalau saya bombardir dengan statemen Islam yang notabene mengklaim sebagai agama yang “mengungguli” dan bukan “diungguli”.

    Oh, Aris sayang. Tidak kah kamu tau kalo kecerdasan dan keberhasilan itu berbeda.
    Cerdas yang saya maksud diatas adalah kualitas IQ, dan IQ sulit untuk diubah. bukannya tidak bisa, tapi butuh usaha yang keras dan tidak sebentar.
    Kecerdasan lainya adalah EQ dan ESQ.
    Sementara untuk berhasil kita tidak bisa hanya mengandalkan IQ saja, tapi juga setidaknya memiliki EQ yang tinggi.

    Contoh. sejauh ini, biar bagaimana kerasnya saya berusaha, IQ saya tidak pernah bisa melampaui IQ adek saya (FYI dia cowok). Hasil tes IQ saya sekitar 20 poin di bawah dia. tapi, bisa dibilang dia gak pernah dapat juara waktu sekolah, dan di kuliah pun IPnya payah. Sementara saya, dengan IQ dibawah dia, hampir bisa dibilang gak pernah bergeser dari 3 besar waktu sekolah dan wisuda dengan IP di atas rata-rata.

    tapi, apa itu artinya saya lebih cerdas dari dia dalam IQ? Tidak. Dalam beberapa hal saya tidak bisa melebihi kemampuannya, terutama bidang analis masalah.
    tapi, dibidang EQ saya terbukti memang lebih cerdas dari dia.

    Itu yang saya maksud dengan tidak semua orang dianugrahi kecerdasan yang sama.

    Seorang Ilmuan harus memiliki setidaknya IQ, dan EQ yang tinggi, diimbangi dengan instuisi yang juga tajam, agar dapat menggali hal-hal yang tersembunyi.

    Islam adalah agama rahmatan lil alamin.
    Dan benar, seandainya saja manusia mengamalkan ajaran Islam, terlepas apakah ia muslim atau tidak, maka orang itu akan mengungguli.
    Dan tentu saja, seandainya umat Islam, manusia-manusia yang memeluk agama Islam melakukan SELURUH ajaran ISLAM dengan sempurna sampai ke hal terkecil, seperti kesungguhan dalam berbuat, kebersihan, keteraturan, kasih sayang, dll tentu saja Ia lebih unggul dari makhluk lainnya. Contoh konkrit adalah Rasulullah. Kesehatan, akhlak-budi pekerti, kecerdasan EQ dan ESQ beliau sempurna (saya gak dapat informasi soal kecerdasan IQ beliau).

    Tapi, walau berada di agama yang mengungguli tapi tindakan sang penganut tidak sesuai dengan ajaran agama tersebut, tentu saja hasilnya tidak mengungguli dan malah diungguli. Bukan agamanya yang salah. tapi pribadi umatnya. Do I make myself clear here?
    Agama telah menetapkan standar yang jelas, tinggal manusianya mau atau tidak mengikuti standar itu.
    tapi, kebanyakan manusia itu kan sudah sifatnya selalu ingin membantah.

    Yaaa.. katakanlah pada mereka

    Oui, I do and I have.
    Here.

    Jaga ah, kata-kata Anda. Mau dikemanakan ilmuwan sekaliber Abu Rayhan al Biruni, Ja’far Muhammad ibn Musa ibn Shakir…..

    kalo begitu, kenapa nama-nama mereka tidak termasuk di 100 penemu terbesar di dunia atau penemu paling berpengaruh di dunia? dan kenapa pula bukan penemuan mereka yang digunakan para apologer itu?

    Snowie: Bukan Al-Quran nya yang berubah-ubah. Tapi pemahaman terhadap ayat nya lah yang berubah.
    Presiden AS : tolong dielaborasi lagi.

    Saya ambil dari contoh Mr. G (nama lain dan singkatan dari Pak Guru). tapi, sedikit saya perbaiki redaksinya.

    Awalnya, saat para ilmuan mengemukanan bahwa atom adalah substansi terkecil di alam semesta, maka umat muslim menggunakan istilah atom tersebut untuk menafsirkan biji zarrah.
    namun, kemudian ditemukannya istilah “partikel subatomik” untuk substansi terkecil, maka, secara otomatis pengertian biji zarrah tadi berubah menjadi partikel subatomik. Begitu.
    Nah, kalaupun suatu saat nanti ditemukan lagi sesuatu yang lebih kecil dari partikel subatomik dengan istilah barunya, maka istilah itulah yang nantinya digunakan untuk menjelaskan biji zarrah tersebut.

    Intinya, pada dasarnya, frase “biji zarrah” yang terdapat dalam Al-Quran digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terkecil.
    lalu, apakah substansi terkecil itu sebenarnya? apa maksud dan arti dari biji zarrah di sini? Kata apa yang bisa menjelaskannya? sesuai dengan apa yang dikenal dari kehidupan sehari-hari.
    Lalu, muncul lah hasil penelitian yang menggambarkan atom sebagai substansi terkecil maka orang-orang mulai beralih pada istilah itu untuk mengungkapkan makna biji zarrah. Atom, partikel subatomik, semua itu kan awalnya dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu yang paling kecil di masanya.

    So, tidak ada perubahan pada makna, hanya perubahan di istilah. That what I want to say. Thanks G, for your unsupposed help :mrgreen:

  28. Lha, kalo cuma mikir doang, sih, waktu saya masih bocah ingusan juga doyan mikir ilmu pengetahuan di sekitar, seperti; “eh, kok bisa turun hujan, yah?, “whoa… ada yang kelap-kelip di angkasa kalo malam!” [....] Udah, gitu aja. habis bertanya dengan polos gitu, langsung mblayang dolan lagi. tanpa pernah sukses mengungkap tanda tanya yang dipikirkan.

    itu. nama.nya.bukan.berfikir.
    Kamu hanya terpesona dengan apa yang kamu lihat. tapi kamu gak memikirkannya.
    yang berfikir itu, ya seperti Archimedes. Alkisah, pada suatu masa ia melihat bahwa jika dirinya memasuki bak mandi maka badannya akan memindahkan air sebanyak masa tertentu. Lalu ia memikirkannya, melakukan percobaan-bercobaan, menganalisis, membuat persamaan dan dari sana ia bisa menemukan hukum hidrostatika, juga berhasil menyelesaikan masalah Raja Hiero yang menuduh para pekerja logamnya telah mencuri emas miliknya.

    Jadi, Say, itulah yang namanya berfikir.
    Kalau kau berfikir, maka kau tak akan berhenti memikirkan pertanyaanmu sebelum kau menemukan jawabnya. Kau akan membawa pertanyaan itu kesetiap kesempatan di setiap gerak langkah mu.

    Snowie: semoga dia tabah.
    Presiden AS : Wah entah ya…

    Jadi, dia baik-baik saja. Syukurlah kalo begitu.

    dan semoga Allah membalas saya dengan keburukan yang berlimpah, begitu ‘kan?

    Saya tidak bermaksud berkata begitu. Dan saya berusaha untuk tidak menyumpah sesuatu yang buruk.
    Bagi saya, semoga Allah berkenan membukakan hati mu, untuk melihat jalan-Nya. That’s it!

    Have a nice day!
    .
    .
    .
    P.S
    BTW, Ris, kalo kamu bermaksud membuat saya terkesan, kamu tidak cukup berhasil. :cool:
    *diceburin ke sumur* xP

  29. :: Pak Guru untuk selanjutnya saya sebut Mr. G

    Praktek yang gemar dilakukan oleh apologers itu sebetulnya tidak ada manfaatnya, kecuali buat orang yang ragu-ragu akan apa yang dia imani dan masih membutuhkan konfirmasi-konfirmasi.

    That’s what I want to say G. Agree with you.

    saya sarankan tidak udah ditulis buku-buku semacam ini, sebab buang-buang kertas aja.

    No, G. Setidaknya ada umat Islam yang bertambah keimanannya. That’s worthy. G, honey.
    Itu semua untuk kepentingan dakwah. Berdakwahlah semampu mu. Gunakan cara dengan apa yang kau bisa.

    Alasan No.1

    Baca yang buat Presiden AS. di komen tepat sebelum ini.

    Alasan No.2

    Penggunaan Istilah sains dalam memahami ajaran Islam hanyalah sebuah usaha, G. Manusia, muslim khususnya, dituntut untuk memikirkan ayat-ayat Allah. Baik yang tertulis di Al-Quran maupun yang di alam. Dan yang di Al-Quran IMHO mutlak memberi hints tentang hasil tadabur ayat, sebagai bukti bahwa kitab tersebut benar memiliki Sumber yang sama dengan Pencipta alam semesta.

    Bisa aja seseorang mengaku-ngaku sebagai tuhan dan menciptakan kitabnya sendiri. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa beliau itu benar tuhan kalo ternyata apa yang dikatakannya dalam kitabnya tidak sesuai atau ada ketidak cocokan dengan apa yang ada di alam.

    Dan, seandainya kita tidak bisa membuktikannya sendiri, rasanya tidak salah bila kita menggunakan apa yang sudah ada. Asal bisa dipertanggung jawabkan saja.

    Yang penting adalah, yakini apa yang kau yakini. Dan buktikan bahwa kau telah meyakini sesuatu yang benar. Enough said.

    Alasan No.3 – surah Al-Anbiya ayat 30.

    Secara tidak langsung ada, G, honey.
    Saya menemukannya dalam buku Agus Mustafa yang berjudul Ternyata Adam dilahirkan.
    Betapa mengejutkannya! Beliau memang menyebut-nyebut ayat 30 surat Al-Anbiya tersebut.
    Memang beliau tidak degan jelas menyinggung-nyinggung soal evolusi. Tapi, membaca itu, dan mengaitkannya dengan apa yang saya baca di buku The Hidden messages in Water karya Masaru Emoto, dan sedikit “The Divine message of DNA” karya Kazuo Murakami,Ph.D. mau-gak-mau saya jadi mengait-ngaitkannya dengan teori Evolusi.
    But, You know who Pak Agus is, right? and how some people jujge his way of thinking and opinion? But, it doesn’t bother me at all.
    In my perspective, sebuah pernyataan yang tulus diungkapkan patut dipertimbangkan kebenarannya. Tidak perduli siapa yang mengatakannya, dan seberapa kontraversialnya pernyataan itu. :)

    enough for now.

  30. .
    .
    .

    Bagus ini. Ancaman bom seperti ini, walau pura-pura, akan sangat membantu citra umat islam yang semakin akrab disandingkan dengan bledak-bleduk.

    Why, G? What’s the matter with you?
    Merusak kaldu saja.

    Oh, Saya lupa kalo saat ini Saya sedang memainkan peran sebagai Fundies. Dan fundies dikaitkan dengan ancaman bledak-bleduk. tapi tenang G, honey, Saya tidak akan melakukan itu. Dan tentu saja, bahkan saya tidak sama sekali berniat mengirimi apapun pada Presiden AS. :mrgreen:

    Anda sendiri ternyata masih merasa kitap Tuhan Anda itu kurang.

    Tidak. Saya sama sekali tidak merasa Al-Quran itu ada kurangnya. Bagi saya Al-Quran itu luar biasa. Makin saya mengetahui banyak tentang Al-Quran makin berasa betapa dasyatnya Al-Quran itu. Di setiap aspeknya ada hikmah. Tapi, tentu saja jika dilakukan dengan benar.

    BTW, itu tidak menambahkan relasi-relasi palsu. Hanya, untuk entah yang keberapa kali saya mengatakannya, cara itu digunakan untuk memahami Al-Quran dengan cara yang mungkin bisa digunakan. That’s all.
    _______

    Pak Guru : Mbak Snowie. Sebetulnya yang dikeluhkan oleh si laknat ini…
    Presiden As : Ente ini punya dendam kesumat ya…

    Mungkin dia hanya sedikit jealous karena kamu mendapat kiriman buku itu, terutama karenamembuat saya bermasalah disini. *percaya diri*

    BTW, G, kamu mau saya kirimi buku? bagaimana dengan buku Pak Agus diatas?
    Sepertinya, kirim-mengirim buku sedang tren di sini.

    :lol: :lol: :lol:

  31. uh… uh… seru banget!
    Koq gw baru sekarang numpang lwt lagi setelah sekian lama :mrgreen:

    *gelar tiker, kipas-kipas, nonton*

    • *ikut gelar tiker, nyeduh kopi, buka bungkus kripik singkong*

      mangstap juragan…
      *inget sebuah subforum bernama ‘fight club’ di sebuah ‘largest indonesian community’*

  32. yaaa… blum ada postingannn baru…. hmmm

  33. Sebuah perulangan abadi…

  34. Waaakaakakak.. kemana ARIEEESss..
    Salam Sayang

  35. seharusnya mulai saat ini orang islam tidak lagi mencari peneguhan ” ini lho, tuh kan islam benar..” entah pakai cara science, ekonomi, politik dan sejenisnya. baik lewat buku, ceramah atau dialog.
    tetapi alangkah enjoynya bila kita menikmati religiusitas islam seperti menikmati makanan terenak atau istri tercantik. Sehingga orang2 pada iri, lalu berkata” wah, mas itu kok nyaman bener hidupnya…ikut ah…”
    akhirnya semua berbondong2 mengikuti dengan sukarela dan senang hati tanpa perlu kita ancam dan ceramahi. setelah mereka ikut, pasti kan bertanya, apa sih rahasia mas ?
    kita jawab sederhana saja” yah..segala ilmu dan perolehan ini entah sedikit entah banyak langsung saya kembalikan kepada Sang Pemilik sehingga saya tak punya beban stress. wong saya ini sekedar bagian kecil dari Sistem Yang Tak terbantahkan…sekedar mencontek makna An Nashr 1-3

    • ^
      QUOTE OF THE YEAR

      Keren, Mas Dody! Inspiratif!

      *sholat taubat*

    • @Mas Dody
      Salam… :)
      *nice to see you here
      Setiap orang mempunyai cara sendiri dalam berdakwah,begitu juga dengan mas Dody…Let’s appreciate it all,coz that’s make life colorful.
      Life is just a choice,isn’t it?? :)
      Nothing gonna be useless,if we believe Him.Like you’ve write

      kembalikan kepada Sang Pemilik

  36. Tulisan barunya kok masih belum rilis, Mas?
    Nunggu tanggal 28, yah?

    *kedip2*

  37. Gentayangan dan mampir utk berkata bahwa saya sepakat dengan paduka jang mulia Ali Sastroamidjojo: Perulangan abadi.

    Apa itu istilah intelek-berkesan-ensiklopedik-nya utk daur-ulang macam itu? Meme? Macam MEME yg pakai K diujungnya, kesenangan yg direproduksi ulang utk syahwat akhirati…

    Di satu sisi, saya mencarut muslim2 ongkang-ongkang kaki dan perebut klaim macam itu tak lain hanya kumpulan pens Agama, tipikal tak mau pakai otak sendiri, maunya comot saja. Memuakkan. Apalagi kalo ujung2nya: Dengan begitu… mari kita tegakkan khilafah… bleh! :twisted:

    Di sisi lain, saya memaklumi, macam itulah jadi pens. Apapun dihalalkan, umpama pens Jacko mati2an bersumpah bahwa Jacko adalah humanis yg anti rasisme dgn kidung Black or White, meski ada yang sinis berkata: “Yaa… tentu saja: it dont matter if you’re black or white. Sungguh humanis, sehingga tak masalah ia ganti kulit jadi putih karena malu berkulit hitam” :lol:

      • Iya! Sudahlah telat, banyak pulaknya bacotnya si Anumerta itu. Pakek bawa-bawa Jacko pulak lagi. Bah! Macam SBY saja, cari-cari perumpamaan utk mengekspresikan sebuah penzaliman.

    • Sekalinya gentayangan dan almarhum, setan-setan memang banyak kalee lah berkomentar. Jangan2 koneksi macam neraka maka bisa macam itu pula?

      Bung Aris… biarpun telat, bolehlah saya berkata bahwa pemahaman anda pasal buku2 bergenre “Gunakan-apapun-untuk-dakwah” itu, adalah sama kiranya dengan pemahaman saya. Saya juga sering dapat ocehan begitu di mesjid hari jum’at. salah satunya dari buletin dari Jembut Tahrir yang membagikan kertas2 berayat-ayat makrifat, dan tertera: Jangan dibaca saat khatib sedang khutbah, tapi dibagikan di saat khutbah sudah dimulai. Sebuah ironi yg menjijikkan hati tapi cukup konyol, layak mereka main di Ekstrapaganja yang makin garing itu…

  38. @ Blogger Alkohol | Alex Koben

  39. tulisan yang luar biasaaa…
    salam kenal n sukses buat Presiden AS dr warga cicago eh cikaso :lol:

  40. @Presiden AS
    Tuh dicari sama mas haniifa. Lihat di blogku.

  41. [...] Esensi « Kiriman Buku dari Pulau Dewata, dan Sedikit Catatan Atasnya [...]

  42. Kasihan orang seperti presiden as ini,
    pasti dia otaknya yang cacat alias cuma bisa nyleneh sana sini,
    gue termasuk yg beli & baca dua buku diatas gara2 promosi diatas……isinya sah2 aja bro……, malah gue yg Insyaallah sdh yakin ttg Qur’an ikutan terperanjat juga, dan salut pada penulis buku MRSBDA & PSDA diatas.

    Paslah klo menamakan Presiden as, mmg kelakuannya mirip BUSSSH..UK, ttg buku MRSBDA seharusnya baca kt pengantar penulisnya dulu, baru baca dalam bukunya coy!

    Semuanya pasti terjawab…..presiden busshuk…he..he

    drpd nyeleneh…..buat aja buku yg isinya dakwah gitu…..pengen tahu isinya…..pasti….nyeleneh…….& bussssh..uk….orang spt anda ini pasti yg dukung kirim2an bom, ya harus ditembak mati atau dibom pake bomnya sendiri…..he…he…spt ibrohim mmg hrs ditembak mati atau nurdin top markotop…..

    salam salut buat teman anda yg kirim buku…
    pasti tujuannya ajak presiden as yg busssshuk ini insyaaf

  43. Sudah ucapkan terima kasih belum sama yg kirim buku boss presiden as?
    Orang Gini kok ngaku kenal sama isi al quran……..

Tinggalkan Balasan