Arsip untuk Asli Katarsis! kategori

Maharani Firdaus

Posted in Asli Katarsis! dengan kaitan (tags) , on 9 Oktober, 2009 by frozen

38973596_948956347

KAWAN, apa yang akan kau lakukan jika manakala dirimu sedang berdiri di sebuah trotoar menunggu kedatangan bis DAMRI ke tempat kerjamu, di suatu sore, di suatu hujan yang sederhana, tiba-tiba datang seorang gadis menawan yang tampaknya seusia denganmu, menghampirimu, dalam keadaan kuyup-menggigil dan raut cemas bukan kepalang, menawarimu sebuah tawaran sinting; “Maukah kau meniduriku, tapi dengannya aku mendapatkan bayaran? Aku sedang butuh uang…”

.
.
.
2 Oktober 2009, halte depan Gedung Pusda’i Bandung.

………..KULIRIK jam di ponsel, pukul 15.18, DAMRI belum juga muncul dari arah barat. Menunggu. Itu aktivitas membosankan yang bisa menjadikan seseorang yang kalem sekalipun keluar sifat buruknya; memaki keadaan. Belum lagi ditambah dengan hujan yang tak kunjung surut, gerimis tidak, kian deras pun tidak, datar, dan ritmis, tapi cukup membikin jengkel mereka yang hendak memulai perjalanan. Langit Bandung akhir-akhir ini memang sedang hobi-hobinya menangis menjelang senja. Entah ada masalah apa. Ah, pergantian musim, barangkali.

………..Kulihat beberapa orang yang ikut menunggu mulai gelisah, sebagian lagi ngedumel tak jelas, hingga akhirnya satu per satu lebih memilih angkutan umum biasa sebagai transportasi untuk membawanya ke tempat tujuan, yang mana mungkin dengannya harus beberapa kali berganti angkutan. Akhirnya yang bertahan hanya aku seorang diri. Cih! Kalau bukan karena ban sepedaku bocor dan para tukang tambal ban itu tak terlalu lama mudik, barangkali tak perlu aku menunggu seperti ini.

………..Hhh… dalam keadaan seperti ini barulah biasanya aku paling bisa khusyuk berdo’a meminta pertolongan dan, tentu saja, di kepala mulai teringat nama Tuhan. “Okey,” kataku sambil menghirup udara dan menghembuskannya perlahan, “Ya Rabb, hari ini aku hendak mencari penghidupan, yang tak lain merupakan perintah tersurat-Mu, jangan Kau jadikan aku tersendat dan terlambat tiba ke tempat di mana aku mengabdikan diri. Amiin…” — sebuah do’a yang bersahaja yang bahkan tak pernah diajarkan oleh Nabi sekalipun. Sebetulnya, aku bisa saja merangkai kalimat do’a yang lebih puitis, elegan, dan lebih romantis, tapi aku tak pernah membayangkan seorang Tuhan yang bisa dirayu, belum lagi kalimat-kalimat yang biasa kurangkai secara impromtu itu agaknya lebih cocok kuhadiahkan kepada seorang perempuan ketimbang kepada Tuhan. Sebab salah-salah nanti aku dijeboskan ke neraka karena mengimajinasikan Dia sebagai sosok yang feminin, sebab kata kaum eksoterik, itu dosa, katanya.

………..Wangi semerbak melati tiba-tiba tercium. Refleks kepala ini bergerak mencari muasal wangi tersebut. Puji Tuhan, aku meminta didatangkan DAMRI, Dia malah mendatangkanku bidadari. Seorang perempuan yang kuperkirakan seusia denganku, berdiri tepat di sampingku. Jaraknya sekira enam puluh senti dari tempatku berpijak, entah kapan dia datang. Yang pertama kutangkap darinya adalah raut wajahnya yang gelisah, bibir tipisnya yang pucat menggigil yang sesekali digigitnya, dan sepasang matanya yang sebening telaga yang tampak mau pecah menjadi tumpahan air mata. Tapi tak bisa kupastikan yang terakhir itu, mengingat dari ujung kepala hingga ujung kaki, hujan menguyupkan wajah dan tubuhnya. Dan kalau kau melihat bagaimana butir-butir air hujan yang menggantung di ujung rambutnya yang sehitam arang itu jatuh menuruni pelipis dan lekuk pipinya yang tampak selembut pasir sahara itu, kau pasti bakal terkesiap memandangi kreasi Tuhan yang satu ini.

………..Tapi kekaguman itu menjadi kikis, karena ekspresi galau yang ditunjukkannya, yang sepertinya ada terselip keraguan hendak mengatakan sesuatu, memaksaku mengernyitkan alis dan menaikkannya ke atas; pertanda iba, dan bertanya-tanya dalam batin disertai isyarat dengan merendahkan kepala yang pastinya bisa ia cerna; ada apa?

………..Dan meluncurlah dari bibirnya sebuah kalimat, “Maukah kau meniduriku, tapi dengannya aku mendapatkan bayaran? Aku sedang membutuhkan uang…”

.
.
.
DI HALTE depan gedung Pusda’i Bandung. Hujan masih belum reda. Sekira belasan detik aku menjadi manekin, terpaku dengan kalimat yang tak pernah kudengar apalagi kubayangkan seumur hidupku, ditujukan buatku beberapa saat yang lalu.

………..Kuamati kembali tubuhnya dengan seksama. Lehernya yang jenjang, kemeja lengan-panjang tipis berwarna hitamnya yang basah oleh air hujan sehingga membuat dadanya yang padat dan mencuat kembar itu terlihat transparan, dan dengan tubuhnya yang sintal berisi itu, sudah cukup untuk membuat laki-laki waras manapun berpikir ngeres beberapa saat jika melihatnya.

………..“Hei…,” suaranya yang bening dan perlahan itu membuyarkan imajinasiku. “Ba, bagaimana…? Apakah kau bersedia? Kk… Kalau kau mau, aku bisa segera mengajakmu ke suatu tempat. Tolonglah bantu aku, aku benar-benar sedang butuh uang…”

………..Melihat raut mukanya dan gugupnya ia berkata-kata, aku berpikir tak perlu lagi ragu akan kesungguhannya. Ia nampaknya memang benar-benar serius.

………..Kuedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sekiranya ada beberapa orang yang memperhatikan dari kejauhan dengan kamera pengintai, berharap ini cuma sekedar acara reality-show, sehingga aku bisa menyiapkan taktik agar bisa menjadi pemenang, dan siapa tahu hadiahnya lumayan dan bisa kubelikan notebook ASUS model terbaru. Tapi tak ada indikasi ke arah itu. Nyaris tak ada orang lagi dalam radius puluhan meter, kecuali kendaraan yang sesekali lewat, dan sekat blur membentang bernama hujan.

………..Hujan kian deras, dan untuk ketiga kalinya gadis tersebut mengulang pertanyaannya, “Maukah…?”

.
.
.

………..“Jadi, sudah berapa lama menjajakan diri seperti tadi, hmm?” tanyaku sambil melahap mie ayam yang masih mengepul.

………..Beberapa menit yang lalu, kuajak dia menerobos hujan, berlari ke sebuah kedai mie ayam tak jauh dari sebelah timur Halte Gedung Pusda’i. Mulanya ia enggan, karena bukan untuk itu ia mencari orang yang sekiranya bisa menikmati tubuhnya dan kemudian dia mendapatkan bayaran. Tapi akhirnya ia bersedia kuajak makan bersama. Toh, jarang-jarang bisa duduk berdua dengan seorang gadis berparas ayu sambil menikmati semangkuk mie ayam hangat di bawah naungan tenda di kala hujan turun.

………..“…Baru kali ini…” jawabnya lirih.

………..Ah, sudah kuduga… Tidak mungkin dia senista itu. Aku bisa melihatnya dari aura yang terpancar dari sorot matanya. Aku tahu klasifikasi perempuan dilihat dari bahasa mata dan nada suaranya, di mana dengannya, laki-laki bisa dengan segera menebak, apakah perempuan di depannya itu tipikal perempuan baik-baik, bersahaja, penyayang, mudah emosi, murahan, kampungan, tolol, dan sebagainya. Bukankah kau pasti pernah menemukan seorang gadis di mana kau pertama kali melihatnya, dirimu seketika langsung menaruh segan dan hormat padanya, terlepas apakah dia berwajah cantik ataukah tidak? Ada pula jenis perempuan yang bilamana kau pertama menatap dan mengamatinya, ada perasaan bahwa dia lebih pantas untuk ngangkang saja di tempat tidur. Aku ada e-book-nya. Kubuat sendiri versi digitalnya, hasil salinan dari sebuah manuskrip tua yang luar biasa tentang makhluk bernama wanita yang kutemukan terbawa hanyut di kali Cianjur, kota kelahiranku, beberapa tahun lalu. Kau bisa meminta link download-nya jika mau, nanti kuberi tahu lewat IM.

………..Nah, sekarang kembali ke si perempuan ayu di sampingku, apakah jawaban dari dia selanjutnya bakal terdengar klise? Akan kubuktikan.

………..“Kalau boleh aku tahu, ada masalah apa sampai kamu bisa berpikir dan hendak berbuat serendah itu? Dikejar-kejar rentenir? Orang tuamu sakit keras dan obat-obatnya perlu ditebus? Rumahmu digusur? Atau kamu terancam dikeluarkan sekolah? Hm?” kataku dengan nada serius, dan memandang ke arahnya dengan tegas, sebagai kamuflase dari hasrat ingin menikmati panorama keindahan Tuhan di wajahnya.

………..Tiba-tiba air matanya pecah, dan dengan bibir yang gemetar disertai nada getir, ia menjawab dengan terbata,
………..“Efh… Mm… Mungkin… Mungkin memang terdengar sepert… seperti sinet…ron, ya… Tapi… Tapi semua yang kamu sebutkan itu… benarr…”

………..O, o, oh… Tt… Tidak. Tidak. Bukan hal seperti ini yang kumau. Lebih baik aku memandangi Disturbing Picture di forum Kaskus yang berisi foto-foto mengerikan itu saja ketimbang melihat seorang perempuan menangis di depan mataku sendiri. Sumpah, aku lebih tidak tega melihat air mata. Ugh…

………..“O, oke, oke…! Aku mohon maaf, aku tak akan menginterogasimu lebih jauh lagi. Yang jelas, kamu pasti sedang ditimpa masalah besar sehingga kamu gelap mata, berpikiran pendek dan… Ah, salah lagi aku bicara. Jadi, be… A, hei… Aduh, jj, jangan menangis… stop…” Nah, giliran aku yang salah tingkah.

………..“Dd… Dimakan mie ayamnya…, keburu dingin. Insya Allah nanti aku bantu kamu…”  kataku lagi, dengan terbata. Dan ia tersenyum, terpaksa agaknya, sambil menyeka air mata dan mengusap pipinya yang basah. Ah, andai aku muhrimnya, tentu akulah yang bakal mengusap pipinya yang bak selembut beludru itu, dengan tanganku sendiri.

………..“Tadinya… aku juga tak pernah berpikiran sekeji itu,” ia kembali bersuara, setelah kami sama-sama hening beberapa saat. “Aku masih lebih memilih meminjam uang dari orang-orang yang kukenal. Tapi semuanya enggan memberi karena Ayahku punya tanggungan utang di mana-mana dan belum lunas semuanya. Dan dua hari yang lalu ia minggat dari rumah tak kembali. Tak peduli anak dan istri. Aku tak punya apa-apa untuk dijual, sedangkan Ibu sudah tiga bulan terbaring di Santo Yusup. Meski pihak RS sudah memberi keringanan biaya, tetap saja, cicilan yang tak kunjung terbayar itu jumlahnya kian membengkak. Sempat terpikir untuk mencuri, tapi resiko tertangkap pastilah begitu besar. Jadi aku memilih jalan nekat menjual harga diri. Tt… Tentu saja sebelumnya ada beberapa pria hidung belang yang mengiming-imingi aku segepok rupiah asalkan aku bersedia ditiduri, namun… aku tak berani. Bisa saja mereka membuangku setelah nafsu mereka terlampiaskan, atau mungkin menjualku ke seorang mucikari. Tidak… Aku tak mau”

………..Dari dekat aku hanya bisa menahan nafas, dan mengembuskannya perlahan. Hanya bisa mendengarkan dan menyimak.

………..“Setelah menimbang-nimbang lagi, lalu berakhir dengan bimbang dan akhirnya putus asa, akhirnya di hari ini aku menyerah. Aku benar-benar perlu sejumlah uang. Bukan untuk membayar cicilan perawatan, tapi untuk membayar sebuah obat eksklusif yang bisa membuat Ibuku bangun dan tersadar untuk beberapa saat. Dan ketika ia dalam keadaan terjaga itu, kami bisa saling bertegur sapa untuk yang terakhir kalinya, atau Ibu bisa mengucapkan kata-kata terakhir yang bisa kudengar. Dan ia pasti tersenyum melihat puterinya masih ada di sampingnya, lalu aku merangkulnya, lalu ia berkata, “kamu jaga diri baik-baik, Nak, Tuhan pasti menyertaimu”, lalu aku akan mengangguk perlahan, kemudian Ibu pergi dalam damai…”

………..“A,…?”
………..“Penyakit yang dideritanya membuatnya tak bisa apa-apa, tapi nyatanya tak juga membuat Ibu melepas nyawa. Hanya ini jalan satu-satunya, euthanasia…”

………..Aku menelan ludah.

………..“Tapi sebelum itu terjadi, aku ingin bisa mendengar suaranya untuk yang terakhir kali, dan akan kusimpan baik-baik dalam memori sehingga bisa kuperdengarkan kembali suara bijaknya kapan pun dan dimana pun. Persoalan biaya cicilan, itu bisa kupikirkan lagi lain kali. Sekarang hanya itu yang kuinginkan, toh dalam mimpi, Ibu sudah berkali-kali meminta agar dirinya tak usah lagi menjadi beban bagiku, dan jalan satu-satunya adalah lebih baik mengakhiri hidupnya di tangan medis…” ucap gadis jelita itu mengakhiri, dan… dengan berlian yang berjatuhan dari pelupuk matanya!

………..Arrgh! Ya Tuhan, kumohon tunjukkanlah kalau ini hanyalah reality-show, dan kru dari sebuah film swasta datang mengagetkanku dengan kalimat, “Smile! You are on the candid camera!” Tapi tak ada yang datang. Si bapak pedagang mie ayam pun entah pergi ke mana. Tak ada pembeli lain di sini, dan hujan tak juga kunjung reda.

.
.
.
Aku masih memandangi dewi ayu yang sesenggukan di depanku. Tak tahu harus berbuat apa. Meminjamkan bahuku padanya? Oh, tolong, berikan dulu aku satu skrip skenario yang paling bagus. Memberi tissue? Huah, aku tak pernah membawa benda semacam itu. Ah… Ckk…

………..“Apa kamu pernah berpikir, bahwa dengan caramu itu, Ibumu kelak akan tenang di alam sana?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulutku.

………..Dia tersentak, dan hanya menggigit bibir. Tak menjawab.

………..“Emm… Kalau boleh aku tanya lagi, tidakkah kamu punya seseorang yang mencintai dan menyayangimu, yang mana dia mengerti segala permasalahanmu dan akhirnya membantumu sepenuh hati? Perempuan-perempuan dengan wajah standar saja banyak yang memiliki pacar, tidak mungkin perempuan sejelita kamu tidak ada yang bersedia memacari…” kataku sambil menyeruput air teh yang masih hangat.

………..Untuk pertama kalinya dia mengangkat wajah, memandangku lekat-lekat, tersenyum perlahan, dan tiba-tiba tertawa kecil yang kemudian ia tahan. Aku bingung sekaligus senang memandangi apa yang kusaksikan di hadapanku. Bingung entah di bagian mananya yang lucu, sekaligus senang melihatnya tertawa seperti itu.

………..“Ada… yang lucu?” aku bertanya, sambil tersenyum kikuk. Dia diam sejenak, lalu menjawab,
………..“Apa… semua orang yang berjas dan berdasi pasti mempunyai mobil yang bisa mengantarnya ke mana-mana?” jawabnya sambil tertawa renyah, singkat.

………..Mataku membesar, sedikit terkejut. Aha… Rupanya gadis ini bisa bermain analogi juga. Hmm… itu artinya dia tidak pernah sekalipun berhubungan dengan yang namanya cowok. Tapi kok bisa-bisanya dia tadi… Ah, oke, oke… beban hidup kadang memang bisa membikin orang menjadi gila, berubah seratus delapan puluh derajat. Dan tadinya aku hendak bertanya dengan GR, “Kenapa memilihku untuk menidurimu, bukankah masih banyak laki-laki lain dengan wajah setampan malaikat dan puluhan lembar seratus ribu di dompetnya?”, tapi kuurungkan.

………..“O iya, tadi… aku menghampirimu, dan menawarimu… ehm…, itu karena… aku tak mungkin pulang dalam keadaan hujan seperti tadi. Dan aku kebetulan menemukan, hanya ada kamu sambil memegang ponsel di halte tak jauh dari tempatku berdiri. Aku beranggapan kamu punya sejumlah uang untuk bisa menolongku”. Lah, dia jawab sendiri ternyata.

………..“Yaa ya ya, tapi apa kamu pikir aku ini laki-laki murahan yang langsung nyangkut begitu diimingi tawaran gila semacam itu? Ha?” tanyaku dengan sedikit dengusan. Dan untuk kedua kalinya ia tertawa, lepas sekali, seolah lupa dengan kejadian beberapa saat lalu yang sebetulnya memalukan untuk dilakukan oleh perempuan semenawan dia.

………..“Ah, boleh kutahu, siapa namamu?” tanyaku. Sebuah pertanyaan basi memang, tapi peduli setan.
………..“Maharani Firdaus…”

………..Aku terkesiap. Nama yang benar-benar mewakili kecantikan dan keanggunan yang disandangnya.
………..“Maharani itu artinya ‘permaisuri’, sedangkan Firdaus itu surga yang paling tinggi. Wah, jangan-jangan kamu ini sebetulnya bidadari surga yang kepleset di sebuah sungai di surga sana dan jatuh ke Bandung?! Iya! Pasti! Pasti!” ucapku dengan penuh semangat. Dan, hei, bukankah yang barusan kukatakan itu sejenis gombalan?

………..Bahu gadis bernama Maharani Firdaus itu pun berguncang-guncang, ia tertawa. Seketika kulihat si butut DAMRI yang sudah tua dan karatan itu lewat dengan mulusnya, tak jauh dari tempatku berada. Haah… andai ada bis yang bisa secantik bidadari. Tapi besi tetaplah besi. Karatan, dan bakal lapuk dimakan zaman. Lebih menyenangkan menatap sosok di depanku ini ketimbang melihat bis DAM…

………..

………..Astaghfirullah!! jeritku dalam batin. Aku ‘kan hendak berangkat kerja! Oooo… damn! Tak akan ada DAMRI lagi sampai empat puluh lima menit ke depan. Mampuslah aku!

………..“…Kenapa?” suara bening itu kembali mengagetkanku.
………..“T… Tidak. Tak ada apa-apa. Hujan… tak kunjung reda ya…”

………..Mie ayam kami berdua sudah habis dari tadi. Tak ada lagi sepatah kata yang keluar dari masing-masing kami. Dan hujan tak kunjung reda. Aku bingung, ini anugerah apa musibah ya? Duduk berdua dengan seorang gadis ayu rupawan di bawah guyuran hujan, tentu saja itu anugerah bagi laki-laki normal mana pun. Tapi ketinggalan bis? Ooo… Nooo…

………..“Ah, baiklah,” kataku membelah jeda, menyela rintikan hujan, sambil merogoh dompet. Gadis bernama Maharani itu hanya diam memperhatikan.
………..“Ini, kamu ambil. Kalau kurang, besok kita bertemu lagi di sini, dan aku akan cairkan beberapa rupiah di bank. Semoga sedikit membantu”

………..Dia terpaku, tampak ragu sejenak, tapi kemudian segera mengambil lembaran-lembaran bergambar Soekarno-Hatta itu dengan perlahan, lalu berkata,
………..“Kita… cari tempat segera…”

………..Demi mendengar kalimat tersebut, seketika darah mengalir deras ke kepala, dan…
………..“BRAAAKKK!!!” kugebrak meja sekeras-kerasnya, berdiri, dan kubentak-bentak dia dengan suara menggelegar, menyaingi suara deras hujan yang kian bertambah sangar.

………..“Kamu ini goblok atau pekok haaah???!!! Kamu tidak mencerna setiap kalimat yang baru saja kukatakan?!!! Aku akan membantumu! Membantumuu!! Dan kamu tidak perlu sampai menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kehinaan!! Ngertiii?!!”

………..Dengan gemetar dan ketakutan dia menjawab,
………..“Aa… Aku mendengarkan itu! Tapi… Tapi itu biar menjadi urusanku! Aku ingin uang dari hasil jerih payahku sendiri, bukan dari hasil santunan atau pemberian! Biar kubayar engkau dengan tubuhku!”

………..Mataku kian membelalak, dan langsung kucengkeram erat bahunya,
………..“GUOBLOK! Mana mungkin aku meniduri seorang gadis tapi itu bukan menjadi urusanku?! JELAS ITU BAKAL MENJADI URUSAN TERBESARKU DI HARI PENGADILAN KELAK!!! DAN MENCEGAHMU JUGA ADALAH BAGIAN DARI URUSANKU! Dan… Dan kamu bilang… “hasil jerih payah sendiri”? Ha? HA?! Kamu hanya tinggal telentang dan ngangkang, itu KAMU SEBUT JERIH PAYAH?! HAH? Kamu sekolah di mana?! Agamamu mengajarkan apa?! HAH?!! JAWAB!!”

………..Bibirnya kulihat bergetar, dan air matanya mulai berhamburan kembali.
………..“HUAH! LIHATLAH DIRIMU!! LAKI-LAKI WARAS MANA YANG TEGA APALAGI BERSELERA MENGGERAYANGI TUBUH PEREMPUAN YANG SESENGGUKAN DAN BERLINANG AIR MATA, HAH??!! GOBLOOOOOOOOKKK!!!!”

………..Hujan masih deras, dan kian menderas…

.
.
.
Jam menunjukkan pukul 17.08 WIB. Alam sudah tenang, dan hujan telah surut lima belas menit yang lalu. Tapi awan mendung masih mewarnai langit Bandung Tengah.

………..“Jadi mie ayamnya sepuluh ribu, Den… Haduh, maafkan Bapak, ketiduran tadi di mushola. Terima kasih mau menunggu”
………..“Haha. Ah, iya, terima kasih juga atas mie ayamnya. Maknyus! Ini uangnya, Pak. Mari…”
………..“Mari, Den… hati-hati… Eh,”
………..“Ya?”
………..“Gadis yang Aden ajak tadi mana?”
………..“Oh, itu teman saya, dia sudah pergi duluan. Baru saja sebelum Bapak datang…”
………..“Ooo…”
………..“Mari, Pak”
………..“Oh? Ya, ya, ya… Mari, mari…”

.
.
.
Trotoar Jl. Ahmad Yani Bandung

………..Setelah beberapa puluh menit yang lalu menggoblok-gobloki orang, aku mulai sadar akan suatu hal, bahwa sebetulnya akulah yang paling goblok.

………..“Di zaman edan dan serba susah begini, memberikan hampir seluruh uang gaji kepada perempuan tak dikenal, itu adalah suatu kegoblokan yang paling goblok yang pernah dilakukan oleh manusia tergoblok yang pernah ada,” ucap salah satu egoku.
………..“Macam kau ini kelebihan duit saja, sok jadi pahlawan membantu orang lain,” ucap egoku yang lain dengan ketus.
………..“Dan bukan mustahil dia tadi hanya berpura-pura. Goblok sekali bisa kena tipuan murahan macam begitu,” ego yang lain ikut menimpali.

………..“Aaaaa! Berisiik! Berisiiik!!” umpatku sambil menyepak sebuah kaleng Cola, dan beberapa pejalan kaki di sekitarku  memandangi dengan tatapan bingung.

………..Hmh… Maharani Firdaus…

.
.
.
Sialan!

[]
Batununggal, Bandung Tengah.
9 Oktober 2009 | 00.39 WIB
Usai banting tulang, banting kambing, banting sepeda, banting…