.
Teruntuk kamu, dan hanya untuk kamu
di sana…
.
I
Teman…
APAKAH harus, aku mengajari apa makna sebuah pertemanan itu, padamu? Jujur aku katakan, sedikit pun aku tak ada keberanian untuk itu, karena aku sadar, pengalaman bertemanku tak sejengkal pun mendekati besarnya jumlah pengalamanmu, banyaknya manis pahit persahabatanmu, atau apalah itu. Tapi pada akhirnya, ternyata mau tak mau aku mesti menebalkan nyali di hadapanmu, walau untuk sekedar merevisi definisi “teman” yang ada dalam kamus kehidupanmu.
Seorang teman, adalah dia yang selalu ada kala dibutuhkan. Ah, baik… Jika ini prasyarat yang kamu minta, maka aku mundur, karena sepertinya kamu lebih membutuhkan seorang pelayan 24 jam ketimbang seseorang yang disebut “teman”. Seorang teman, adalah dia yang selalu ada, dalam suka maupun duka. Oh, begitukah? Lalu, bagaimana dengan pelajaran pertemanan yang pernah kau berikan padaku dulu, bahwa katamu tak ada sedikit pun tempat bagi “egoisme” dalam sebuah pertemanan? Dan seorang teman, adalah dia yang paling tahu berbagai hal, sampai hal sekecil-kecilnya, tentang diri kita. O ya? Lalu bagaimana aku bisa memahamimu lebih dalam, sedangkan dirimu secara ketat membuat ukuran-ukuran dan kriteria tentang hal-hal yang bahkan tak bisa kupikirkan dengan cara apa aku mencapainya? Bagaimana pula aku bisa mengerti akan hal-hal yang bisa mendinginkan panasnya hatimu, sedangkan dirimu memasang tinggi-tinggi tembok pembatas yang bahkan tak sanggup kupanjat, sehingga aku tak bisa menengok serambi batinmu dan mengerti dengan segera segala penatnya harimu? Di sinilah nampaknya permasalahan kita bermuara.
.
II
Aku tahu aku bukanlah tipe laki-laki humoris yang bisa membuatmu tertawa lepas dan dengannya aku bisa meniup segala debu kejengkelanmu terhadap ketidakadilan hidup. Aku akui pula bahwa aku bukan laki-laki tampan yang dengannya bisa kamu banggakan eksistensiku kepada kawan-kawanmu yang lain bahwa kamu memiliki teman yang rupawan. Tapi pahamkah dirimu apa arti tampan itu untuk seorang laki-laki? Maka izinkan aku menguliahimu sesaat tentang apa kriteria tampan itu padamu.
Pernah dengar kisah tentang seorang Nabi bernama… Yusuf? Ya, Tuhan mengabadikannya di dalam kitab suci. Ia mendeskripsikan, betapa ketika Yusuf melewati sebarisan perempuan yang sedang mengupas buah, perempuan-perempuan itu terpana bukan kepalang, dan sampai berucap, “Demi Tuhan dia bukan manusia, tapi malaikat!”, dan tak sadar… mereka mengiris jari tangan mereka sendiri.
Nah, sekarang, jika dirimu menjumpai laki-laki yang kamu anggap tampan, entah itu di trotoar atau di jalanan, cobalah ambil sebilah benda tajam dan goreskan kuat-kuat pada jarimu, jika kamu tak merasakan sakit sedikit pun, beritahu aku, dan aku akan segera berbenah melipat semua sejarah yang kemarin kubangun bersama kamu, karena sudah ada manusia yang bisa memenuhi kriteriamu, meski itu untuk ukuran seorang teman sekalipun. Tapi jika sakit kemudian menjalar dan darah dari urat-urat tanganmu berhamburan-bercucuran dan kamu meringis menahan perih tak tertahankan, maka pahamilah, bahwa bagus-tidaknya seorang teman bukan dicari layaknya kontes Indonesian Idol, tapi kamu amati dengan segala kerendahan hatimu untuk mengerti akan segala keterbatasan yang dimilikinya, dan dengan keterbatasannya itulah dia senantiasa menuluskan hati untuk memberikan apa yang sekiranya baik bagimu, meski mungkin pandanganmu lain dan berlawanan akan apa yang telah berusaha dipersembahkannya itu.
.
III
Dan kemarin, adalah hari di mana aku nampaknya mengukir dosa terbesar yang pernah kubuat terhadap lawan jenisku; membuatmu me-na-ngis. Dan tahukah kamu, pesan pendek tentang warta isakmu kemarin itu tak ubahnya gada raksasa yang menghantam pikiranku. Dan hari setelahnya, di hari ketika aku menulis beberapa paragraf yang saat ini kamu baca, aku merasa bumi seperti tak bermentari.
.
IV
Mungkin aku terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya padamu, hanya berani menumpahkan sesal batin lewat tulisan. Maka sekarang akan kubuka saja kartuku padamu, dan selebihnya biar Tuhan yang memainkan dadu.
.
.
.
Perlu kamu tahu, Teman… aku tak pernah berharap kamu bisa menjadi obor yang mampu menerangi kelamnya malamku, bahkan berharap dirimu bisa menjadi api lilin sebelum senja menggusur gelap pun tak pernah sekalipun terbersit. Aku hanya ingin memastikan sebuah kegamangan yang telah lama membayang walau sudah lama kucoba kukubur dalam-dalam bersama rimbunnya hitungan hari. Aku hanya ingin memecah sebuah tanda tanya besar yang selalu saja kujumpai ke manapun wajahku menghadap. Teman…, benarkah dirimu hanya hadir sejenak kala kamu butuh? Apakah benar, kamu membutuhkan kehadiranku hanya untuk mengisi kosongnya bunaken hatimu, dan setelah itu kamu lenyap bersama bayangmu layaknya gemintang yang berkelip yang, kemudian hilang tanpa jejak? Dan kamu baru mempertanyakan apa dan kenapa ketika aku merubah sikapku.
Ah…, tidak.
Tidak, Teman. Tidak. Aku tidak sedang mengeluh, apalagi sedih. Sekalipun tidak. Aku tetap senang bisa membantumu, untuk hal apapun yang, sekiranya bisa mengurangi beban yang menghimpit gerak hidupmu. Tak peduli walau itu memang caramu dalam berteman. Tak peduli pula mau sejarang apa kamu hadir, sebab dengan fakta demikian, aku masih bisa meyakinkan diri, bahwa kamu tak pernah lupa bahwa aku ini ada, bahwa kamu percaya aku selalu ada di barisan terakhir orang yang bisa kamu mintai pertolongan, lalu kamu akan bilang, “Makasi yaa” sebagaimana biasa, dan aku akan menjawab, “Get over it, that’s what a friends are for”, sebagaimana biasa juga. Tapi… masalahnya… ternyata aku tak pernah bisa melepas kodratku, Teman. Aku… Aku bukan Tuhan.
Ya… Aku bukan Tuhan yang, memiliki kesabaran sebesar langit semesta. Aku bukan Tuhan yang, sifat serba-pengertiannya melebihi luasnya samudera. Aku manusia yang, tentu saja, dalam batas-batas tertentu, bisa merasakan sesaknya sakit hati. Adakah dirimu sempat memikirkan hal kecil ini, dan kemudian menjenguk kondisiku yang telah berkali-kali terseok jatuh bangun berusaha memahami inginmu?
.
V
Apa yang aku tulis ini bukanlah sebuah sabda suci apalagi firman agung yang wajib kamu patuhi adanya. Toh sebagaimana yang kuyakini, bahwa “teman” adalah dia yang mengerti dan paham akan segala keterbatasan yang dimiliki orang yang dianggap dekat dengannya, maka aku pun akan mengerti bahwa mungkin hanya sampai situ saja keterbatasanmu dalam menghargai sebuah pertemanan, dan dari sana aku akan berusaha melapangkan hati ‘tuk menerima bahwa pertemanan kita mungkin memang mesti begini adanya.
Dan apa yang aku catat ini tak perlu kamu anggap sebagai sebuah tamparan. Tapi perlu kamu hafal juga bahwa seorang teman tak akan pernah membungkus peringatan dengan kecupan eufemisme, melainkan menyatakannya sejujur-jujurnya jika itu dirasa bisa memperbaiki beton pertemanan yang sudah timpang, karena seorang bijak pernah mengatakan bahwa besi bisa menajamkan besi, demikian pula seorang teman bisa menajamkan temannya.
Dan berjanjilah untuk menulis tebal-tebal dalam sanubarimu, Teman… Bahwa tak ada yang usai dalam sebuah pertemanan. Seberapapun sakitnya, seberapapun sedihnya, seberapapun kesal dan kecewanya dirimu terhadap dia yang kamu sebut teman, jangan pernah sekalipun berkata, “Aku menyesal berkenalan denganmu”, karena seperti yang pernah kuutarakan padamu, bahwa Tuhan pun tak pernah menyesal menciptakan makhluk terburuk sekalipun. Jangan pernah pula mengeluh dengan berkata, “Mungkin sebaiknya kita tak pernah bertemu saja”, karena pertemuan seorang manusia dengan manusia lainnya di bumi ini tak pernah direncakan sebagaimana Adam yang tak pernah menduga pertemuannya dengan Hawa. Tuhanlah yang ikut tangan di sini, maka tanyakanlah pada Tuhan kenapa kamu dipertemukan dengannya jika kamu menyesalkan takdir pertemuan tersebut. Dan jangan sekali-kali memutus sebuah pertemanan dengan melempar ucapan adieu, “Terima kasih telah menjadi teman selama ini, senang bisa mengenalmu”, karena apa, kukutip sepenggal kalimatmu, “Berteman [dengan dia] itu menyenangkan”, itu pun jika kamu berkenan menapak-tilasi rentang waktu yang telah kamu lalui bersama dia-temanmu, yang di setiap celah waktunya bisa diraih ribuan pelajaran hidup yang tak akan pernah kau dapatkan di buku-buku daras filsafat sosial manapun.
.
VI
Teman…
Aku tak pernah memintamu untuk menjadikanku orang yang paling penting buatmu. Karena kusadar, itu permintaan yang teramat besar. Aku hanya sekedar ingin, ketika ada orang lain menyebut namaku di depanmu, kamu melengkungkan bibir, tersenyum, dan berkata… “Dia adalah temanku…” ***
[]
Bandung, 25102009/23.02
Aris,


